NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hinaan Dan Makian Dari Para Tetangga part 2

"Kalian semua jangan main hakim sendiri! Kalian tahu tidak, tindakan merampas barang orang lain itu bisa dikenai pasal pencurian dengan ancaman hukuman penjara sampai lima tahun sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana? Akibatnya kalian akan mendapatkan sangsi hukum dan bukannya masalah yang terselesaikan!" tegur Pak RW dengan suara yang penuh otoritas.

Mereka semua terdiam seketika, wajah mereka mulai menunjukkan ekspresi khawatir dan ragu. Beberapa yang sudah masuk halaman mulai mundur perlahan ke luar. Kemudian Pak RW berbicara lagi kepada orang-orang itu dengan nada yang lebih lembut tapi tetap tegas.

"Semua persoalan pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik. Musyawarah untuk mencapai mufakat itulah cara kita menyelesaikan masalah di kampung ini, bukan dengan kekerasan atau mengambil hak sendiri. Mari kita semua duduk bersama di balai warga dan cari jalan keluar yang baik untuk semua pihak," ucap Ketua RW dengan tegas.

"Ayoo kita diskusikan di ruang balai warga aja. Saya sudah siapkan air putih dan tempat duduk yang nyaman," ajak Pak Heri kepada mereka semua sambil mengajak Bayu dan Susi untuk ikut menyusul.

"Terima kasih, Pak Harmoko, atas kedatangannya yang tepat waktu. Jika Pak Harmoko dan Pak Heri tidak datang, kami sekeluarga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kami sungguh menyesal tidak bisa membayar hutang tepat waktu," ucap Bayu dengan rasa lega yang luar biasa, tangannya masih gemetar karena ketakutan.

"Saya di sini hanya sebagai Ketua Rukun Warga yang harus bersikap adil dan pro-rakyat. Siapa pun yang bersalah harus mempertanggung jawabkannya, tapi kita juga harus melihat kondisi sebenarnya dari pihak yang berhutang. Nanti kita bicara dengan tenang ya," ucap Pak RW sambil menepuk bahu Bayu dengan ramah.

"SETUJU, Pak RW! Hidup Pak RW... hidup Pak RT... hidup Hansip!" jerit mereka dengan suara yang sudah tidak sekeras tadi, sebagian dari mereka sudah mulai merasa menyesal dengan tindakan yang hampir mereka lakukan.

Di dalam rumah, Romi yang masih bersembunyi di bawah meja belajar akhirnya keluar dan mendengar semua itu dari belakang pintu yang sedikit terbuka. Dia bingung harus berbuat apa, namun yang ada padanya adalah perasaan cinta yang tulus kepada bapak dan emaaknya serta tekad untuk bisa membantu mereka keluar dari kesusahan itu.

Keesokan paginya seperti biasa, matahari sudah mulai bersinar terik ketika Romi bangun dari tidurnya. Dia segera membantu ibunya mempersiapkan barang dagangan—sayuran segar seperti bayam, kubis, wortel, dan cabai yang sudah dibungkus rapi dalam keranjang bambu. Setelah siap, mereka berdua berjalan kaki menuju pasar Sewon yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah mereka.

"Sayuran segar! Sayuran sehat dari kebun sendiri! Ayoo dibeli, Ibu dan Bapak! Harganya murah meriah!" teriak Romi dengan suara yang lantang walau terkadang masih sedikit bergetar, dia berusaha menyapa setiap orang yang lewat di depan kios kecil mereka. Beberapa orang yang melihatnya merasa iba dengan usianya yang masih kecil tapi sudah membantu orang tuanya bekerja, akhirnya mereka membeli sayuran meskipun tidak terlalu banyak.

Tidak hanya berjualan, Romi juga sering membantu ibu-ibu tua yang kesusahan membawa belanjaan yang banyak. Kali ini dia membantu Bu Aminah—seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun—membawa tas belanjaannya yang penuh dengan beras dan minyak sampai ke becak yang akan mengantarnya pulang. "Terima kasih ya dek Romi. Kamu anak yang baik dan suka menolong orang," ucap Bu Aminah sambil memberikan satu buah permen karet padanya. Romi adalah bocah cilik yang ringan tangan dan selalu siap membantu orang lain.

Setelah selesai berjualan sekitar pukul sebelas pagi, mereka pulang ke rumah dengan keranjang yang sudah sebagian kosong. Ibunya langsung melanjutkan pekerjaannya memasak nasi dan lauk untuk makan siang, kemudian membersihkan pakaian yang akan dibawa ke cluster sebelah sebagai pekerja cuci pakaian. Sementara itu, Romi mengeluarkan uang yang dia hasilkan dari berjualan—sekitar dua ribu rupiah—dan menyimpannya di dalam celengan berbentuk kura-kura yang sudah penuh sebagian. Namun dia merasa itu belum cukup untuk membantu orang tuanya, jadi dia memutuskan untuk pergi ke tempat Pak Joko—pemilik usaha es mambo di ujung gang—untuk meminjam dagangan es yang akan dijualnya dengan berjalan kaki berkeliling kampung.

"Dijamin laku banget dek Romi. Es mambo yang aku bikin dengan bahan berkualitas, jadi pasti banyak yang mau beli. Kalau sudah habis, kamu bisa kembali ambil lagi," ucap Pak Joko dengan ramah saat memberikan rinjing termos berisi sekitar 50 es mambo yang sudah dibungkus rapi dengan plastik bening.

Romi membawa rinjing termos yang cukup berat itu di bawah tangannya, dia berjalan dengan langkah yang kecil tapi cepat sambil berteriak keras agar suaranya terdengar ke setiap rumah di kampung itu.

"Es... es... es mambo! Es mambo rasa coklat dan stroberi! Dingin dan segar! Es mambooo!"

Biasanya sih emaaknya Romi suka membuat Es Mambo untuk di jual tapi dalam jumlah yang sedikit, karena kerjaan emaaknya Romi sangat banyak jadi emaaknya tidak ada waktu lagi untuk membuat Es Mambo, jadi sementara ngambil es Mambo dan termos rinjing dari pak Joko.

Tidak lama kemudian, terlihat sekelompok anak SD yang sedang bermain sepak bola di lapangan kosong dekat balai warga berhenti bermain dan melihat ke arah Romi. "Lihat, ada bocil jualan es! Cuaca panas sekali, ayoo kita beli untuk menghilangkan dahaga!" ucap salah seorang anak SD yang mengenakan seragam sekolah merah putih itu. Mereka langsung menghampiri Romi dengan berlarian dan secara bergantian mengambil es mambo dari termosnya lalu meminumnya dengan lahap. Setelah habis menikmati es yang dingin dan segar itu, mereka berhamburan pergi ke arah rumah masing-masing dan hanya beberapa orang saja yang mengeluarkan uang untuk membayar.

Itu membuat Romi kesal dan sedih sekali. Air matanya sudah mulai mengumpul di sudut mata tapi dia berusaha untuk tidak menangis. "Heeey, kakak kaaak!!! Kalian belum bayar lho! Esnya dua ribu per buahnya!" teriak Romi sambil berlari mengejar mereka, tapi anak-anak SD itu hanya tertawa dan terus berlari tanpa menghiraukan panggilan serta teriakan dari Romi. Akhirnya dia harus berhenti karena sudah terlalu jauh dan kaki nya mulai terasa sakit karena berlari terlalu cepat.

Dengan sedih dan lesu, Romi terduduk di atas tepian jalan kecil yang ditutupi rerumputan tinggi. Dia menurunkan rinjing termos ke tanah dan menyendiri sambil menatap jauh-jauh. Tak lama kemudian, tiga anak SD yang tadi juga membeli es mendekatinya dengan langkah yang pelan.

"Maaf dek, kakak mau nanya—semuanya berapa ya?" tanya salah seorang anak SD dengan rambut keriting yang mengenakan topi olahraga itu.

Romi mengangkat kepala dan melihat ke arah ketiga anak itu dengan mata yang masih sedikit kemerahan. "Kalau yang kakak-kakak bertiga kan tiga buah, jadi 6.000 rupiah, Kak," jawabnya dengan suara pelan.

"Maksud kakak bukan kita yang bertiga saja, tapi juga yang berlarian kesana tanpa bayar. Ada berapa orang mereka semua?" ucap anak SD itu dengan wajah yang penuh rasa tidak senang terhadap teman-temannya yang tidak membayar.

"Ooh, kalau semuanya 10 orang kan 10 buah, jadi 20.000 saja, Kak," ucap Romi dengan wajah yang mulai bersinar sedikit karena melihat bahwa ada orang yang mau membantunya.

Lalu anak SD tersebut merogoh saku celananya dan memberikan uang sebesar 20.000 rupiah ke tangan Romi. Uangnya masih hangat karena berada di dalam saku yang dipanaskan oleh tubuhnya. "Ini ya dek, untuk bayaran semua es yang mereka beli. Lain kali adek harus berhati-hati ya, kadang nggak semua orang yang kita jumpai punya hati baik. Jangan begitu saja kasih barang sebelum mereka bayar," ucapnya dengan nada yang penuh perhatian.

"Ya, Kak... Makasih banyak ya Kak. Eeem, nama Kakak siapa?" tanya Romi sambil menerima uangnya dengan hati yang sangat senang.

"Aku Jody. Ini teman-temanku—Nawir yang kepalanya botak dan suka bermain sepak bola, dan yang di sebelahnya Udin yang jago matematika," ujar Jody sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang berdiri dengan wajah senyum.

"Panggil aku Romi aja, Kak. Senang bisa kenal dengan Kakak-kakak yang baik," ucap Romi sambil tersenyum tulus, matanya yang tadinya penuh sedih kini sudah kembali bersinar dengan harapan.

"Kalau begitu, kapan-kapan kita main bareng ya Romi. Kita bisa main layangan atau kelereng di lapangan itu nanti sore hari," ajak Nawir dengan ramah.

"Ya dong Kak, aku suka banget main layangan!" jawab Romi dengan senang hati.

Setelah itu, Jody dan teman-temannya melanjutkan jalan mereka pulang ke rumah. Sementara Romi kembali mengangkat rinjing termosnya dan melanjutkan perjalanannya menjual es mambo ke sudut lain kampung. Kali ini dia lebih hati-hati dan selalu meminta pembayaran sebelum memberikan esnya kepada pembeli. Tak lama kemudian, es mambo yang ada di termosnya mulai berkurang dan uang yang dia kumpulkan semakin banyak.

Ketika matahari mulai meredup menjelang sore, Romi pulang ke rumah dengan langkah yang ringan. Dia langsung pergi ke tempat Pak Joko untuk mengembalikan termos dan membayar sebagian hasil penjualan. Sisa uangnya—sekitar lima puluh ribu rupiah—dia serahkan kepada emaaknya, Susi, yang sedang memasak di dapur.

"Emaak, ini uang dari jualan es mambo tadi. Semoga bisa membantu bayar hutang kita," ucap Romi dengan wajah yang penuh kebanggaan.

Susi melihat uang yang diberikan anaknya itu, mata nya langsung berkaca-kaca. Dia segera memeluk Romi dengan erat. "Terima kasih ya sayang. Kamu sudah sangat membantu bapak dan emaak. Emaak bangga punya anak yang baik dan tanggung jawab seperti kamu," ucap Susi dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi.

Bayu Buana yang baru saja pulang dari bekerja di toko material juga melihatnya dan merasa sangat tersentuh. Dia merengkuh Romi dan Susi ke dalam pelukannya. "Kita pasti bisa melewati masa sulit ini bersama-sama keluarga kecil kita. Besok aku akan bekerja lebih giat lagi, dan kita akan bayar hutang kita satu per satu," ucap Bayu dengan penuh keyakinan.

Di luar rumah, langit sudah mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan menandakan bahwa malam akan segera tiba. Meskipun hidup mereka masih penuh dengan kesulitan, tapi keluarga kecil Romi itu merasa lebih kuat karena mereka saling mencintai dan membantu satu sama lain. Dan Romi sendiri sudah membuat janji di dalam hati bahwa dia akan terus bekerja keras untuk membantu orang tuanya hingga mereka bisa keluar dari kesusahan dan hidup bahagia bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!