NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Satu

"DOORR!!"

Ilham hampir saja menjatuhkan gelas-gelas di tangannya kalau saja ia tidak langsung mengimbanginya. Kakinya refleks menendang betis Haris hingga membuat cowok itu meringis keras.

"Bangke, lo. Gimana kalo nih gelas jatuh semua." cecar Ilham.

Haris memegangi betisnya yang terasa ngilu akibat tendangan Ilham. "Sakit anjir!" timpalnya. "Gue gak tau lo bawa gituan, makanya gue..." Haris tak melanjutkan ucapannya, tatapannya fokus pada Meira yang berdiri di samping Ilham. ".. Meira?"

Haris menatap Meira dari kepala hingga ujung kaki. Membuat Meira langsung mengerutkan keningnya heran.

"Ternyata lo cakep banget kalo gak pake seragam, Mei." Haris berdecak kagum. Rasa nyeri di kakinya mendadak hilang, tatapannya tak luput dari wajah Meira.

Ilham memutar bola matanya sebal mendengarnya. Ia mengakui bahwa Meira memang cantik, apalagi saat memakai overall berwarna toska seperti sekarang ini. Namun, entah kenapa Ilham menjadi kesal melihat tatapan kagum yang Haris berikan pada Meira.

Dengan sebuah isyarat kecil pada Lana yang kebetulan menghampirinya, Ilham berhasil memindahkan nampan di tangannya ke pangkuan Lana. Sedetik kemudian, ia langsung meraup wajah Haris. "Gila, ternyata radar playboy lo emang kuat ya, Ris!" kata Ilham. "Udah berapa banyak cewek yang ada di asrama lo?" lanjutnya, yang langsung mendapat lirikan cepat dari Haris.

"Asrama apaan, gue gak suka koleksi cewek kali!" Haris menghempas tangan Ilham di mukanya.

"Wah, ada apa nih rame-rame."

Percakapan Ilham dan Haris terjeda ketika seorang pria muncul dari balik pintu masuk, yang langsung menyita perhatian semua orang. Pria itu membuka sepatunya kemudian masuk, tangannya sibuk menggulung lengan kemeja yang dikenakannya.

"Kalian teman-temannya Ara dan Meira?" tanya pria itu, menatap satu persatu orang di ruang tamu.

"Eh, iya, Om. Kami temannya Meira dan Ayara." sahut Ilham.

Pria itu manggut-manggut saja. "Kalian tinggal di asrama?" tanya pria itu lagi.

Semua orang mendadak mengerutkan kening seketika. Tetapi selanjutnya, Ilham langsung tersadar. Pria yang merupakan Ayah dari Ayara ini pasti sempat mendengar percakapannya tadi bersama Haris. Ia kemudian menoleh pada Rey yang baru saja bergabung, entah habis dari mana.

Dengan santai, Ilham menarik lengan Rey cepat, memposisikan cowok itu tepat di hadapan pria itu.

"Betul, Om. Kebetulan dia yang punya asramanya." jawab Ilham asal sambil berusaha tersenyum alami.

Perkataan yang terlontar dari mulut Ilham sontak membuat semua orang menolehkan kepala ke arahnya, termasuk Rey yang terlihat bingung.

"Oh begitu, ya." lagi-lagi pria itu hanya mengangguk. "Kalau begitu kenapa kamu dan Ayara tidak tinggal disana saja?" tanyanya sambil menatap Meira.

Spontan semuanya menahan tawa mendengarnya. Begitupun Meira, ia menatap Rey sekilas kemudian tersenyum kecil. Sebelah alis pria itu terangkat, pertanda kebingungan.

"Om, sebenarnya..." Rey bersuara, namun sepertinya ia kesulitan mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Ilham katakan.

Beruntung, kehadiran Ayara membuat pembahasan mereka teralihkan. Ayara mengenakan overall yang sama seperti yang Meira kenakan, hanya berbeda warna.

"Papa, kok gak kabarin Ara mau datang kesini." sambutnya.

"Iya, Ra. Pagi tadi ada kerjaan mendadak yang kebetulan lokasinya di kota Lampung. Jadi Papa mampir kesini, sekalian ketemu kamu sama Meira."

"Ya sudah kalian lanjutkan saja, Ayah ke belakang dulu." Pria itu kembali menatap Meira. "Mei, ikut Om sebentar, ada yang ingin Om bicarakan." ajaknya pada Meira.

"Baik, Om."

Ilham langsung sigap menerima dua buah gelas dari tangan Meira, sebelum cewek itu ikut pergi bersama Ayah Ayara.

"Untung lo datang, Ra." katanya pada Ayara, setelah memastikan bahwa Ayahnya sudah benar-benar menjauh. "Gue hampir aja kehabisan akal buat nyari alasan kalau nggak ada lo."

"Lagian lo ada-ada aja, Ham. Pake bilang Rey punya asrama segala." kekeh Hesty.

"Oh iya, lo disuruh daftar tuh, Ra, di asramanya Rey." Lana menyenggol bahu Ayara.

Terlihat kerutan di kening Ayara. "Kalian ngomong apa sih? Asrama apaan?"

Haris mendekat lalu berbisik di telinga Ayara. "Asrama hati." tawanya pecah usai mengatakannya.

"Ogah, mending jomblo seumur hidup dari pada sama kutub es." Ayara menggeleng geli.

"Siapa juga yang mau sama lo!" timpal Rey dengan nada datar, mengundang tawa diantara mereka. Sementara Ayara menghentakkan kakinya ke lantai, membalas tatapan Rey tak kalah tajam.

Tawa mereka terhenti ketika terdengar suara nada dering ponsel menggema. Ilham, si empunya refleks mengambil benda pipih itu dari dalam saku celananya. Sesaat setelah ia melihat layar ponselnya, nama yang tampil sebagai penelepon disana membuat cowok itu sedikit cemas.

Ilham segera menjawab panggilan itu. "Iya, halo?"

"Dek Ilham, bisa ke rumah sakit sekarang? Ibu sadar!" suara seseorang dari ujung ponsel terdengar tergesa-gesa.

"Oke, aku kesana."

"Ada apa?" tanya Hesty cemas saat menangkap raut wajah Ilham berubah.

...\~\~\~...

Panti Asuhan Pelita Kasih.

Keberadaan dirinya di sini bukan sepenuhnya karena desakan dari si pengirim pesan misterius itu kemarin. Meira terdorong oleh selembar kertas dari dalam kardus yang sempat diberikan Bu Resma, yang katanya peninggalan Mamanya semasa mengajar dulu. Dalam kertas itu tertulis alamat yang sama dengan si pengirim misterius berikan padanya. Perkataan Ayara juga sempat membuatnya merasa yakin bahwa dirinya perlu membuktikan sesuatu. Si pengirim pesan itu pasti ada hubungannya dengan menghilangnya Mama.

"Orang itu pasti ada hubungannya sama Mama lo, Mei." kata Ayara. "Kalau nggak, dia gak mungkin bisa tahu dimana aja Mama lo ninggalin jejak. Buktinya pas lo pergi ke Kafe terus nemuin informasi baru tentang Mama lo, itu juga berkat arahan dari dia kan?" ujarnya. "Dan, sekarang dia juga ngarahin lo ke alamat yang sama persis dengan yang lo temuin di kumpulan barang punya Mama lo."

"Besok lo nurut aja apa kata dia. Nggak usah mikir-mikir lagi. Siapa tahu Mama lo emang masih hidup dan tinggal disana tanpa sepengetahuan orang lain."

Dan di sinilah Meira berada. Berdiri di depan pintu gerbang sebuah bangunan dengan papan Panti Asuhan Pelita Kasih terpampang besar di atasnya. Meira mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan satpam yang tadi sempat menyuruhnya menunggu. Namun, yang ia temui hanyalah sekumpulan anak-anak kecil yang berhamburan keluar dari dalam pintu masuk menuju taman bermain.

"Meira?"

Meira tersentak di tempatnya. Ia lalu menolehkan kepala pada seseorang yang baru saja memanggil namanya.

"Abil?"

"Lo ngapain disini?"

"Eh?" Meira terkesiap. Ia menatap Abil yang berdiri di hadapannya, alis cowok itu terangkat sebelah menunggu jawaban. "Kamu kenapa ada disini?"

Abil menatap Meira lekat-lekat. "Kok malah balik nanya. Rumah gue disini."

Meira mengerutkan keningnya bingung. "Panti ini?"

Abil berjalan lebih dekat ke arah Meira, yang balas menatapnya penuh tanya. Keduanya saling pandang cukup lama tanpa kata-kata. Abil menyadari kalau Meira sedang mencari sesuatu, entah apa itu.

"Kamu tinggal di Panti ini?" Meira mengulang pertanyaannya. Tatapan Abil yang tidak pernah lepas dari matanya membuat Meira justru semakin penasaran dengan jawaban cowok itu.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!