Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kabut Putih
Ledakan putih dari tabung pemadam api itu menciptakan dinding asap instan yang memerihkan mata. Serbuk kimia kering menyembur dengan tekanan tinggi, memenuhi koridor sempit di depan kamar jenazah itu dengan kabut tebal yang menyesakkan napas. Suara teriakan marah Dr. Arisandi terdengar tenggelam di balik kepulan asap, disusul oleh suara batuk-batuk yang keras dan benda berat yang terjatuh ke lantai keramik.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Pak Darto menarik lengan Elara dengan cengkeraman yang mengejutkan kuatnya untuk ukuran seorang pria tua. Mereka berdua menerobos sisa-sisa kabut putih itu, meninggalkan kekacauan di belakang mereka, sementara suara langkah kaki yang terhuyung-huyung terdengar berusaha mengejar. Adrenalin membanjiri pembuluh darah Elara, membuat rasa sakit di kakinya yang sempat terkilir tadi seolah lenyap tak berbekas.
"Lewat sini, Neng! Jangan berhenti apa pun yang terjadi!" seru Pak Darto dengan napas memburu.
Pria tua itu membawa Elara berbelok tajam ke arah kanan, menuju sebuah lorong yang penerangannya jauh lebih redup dibandingkan koridor utama. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan efek stroboskopik yang membuat bayangan mereka di dinding tampak menari-nari dengan mengerikan. Dinding di bagian ini tidak lagi berlapis cat putih bersih khas rumah sakit, melainkan beton telanjang yang lembap dan ditumbuhi lumut hitam di sudut-sudutnya.
Elara bisa merasakan perubahan suhu yang drastis saat mereka melangkah semakin jauh ke dalam perut RSU Cakra Buana. Udara di sini terasa berat, berbau tanah basah bercampur dengan aroma logam berkarat yang menyengat hidung. Ini adalah wilayah Basement Level 4, area yang menurut rumor para perawat senior tidak pernah tersentuh renovasi sejak zaman kolonial Belanda dulu.
"Pak, kita mau ke mana? Ini jalan buntu!" tanya Elara dengan panik saat melihat ujung lorong yang gelap.
"Bukan buntu, Neng. Ini jalan tikus yang cuma diketahui petugas kamar mayat lama," balas Pak Darto tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Di belakang mereka, suara langkah sepatu pantofel yang beradu dengan lantai semen terdengar semakin jelas dan berirama. Dr. Arisandi tidak lagi berlari dengan panik; dia berjalan dengan tempo yang stabil namun cepat, seolah dia adalah predator yang tahu bahwa mangsanya tidak memiliki jalan keluar. Suara tawa dingin dokter itu menggema, memantul di dinding-dinding lorong yang sempit, menciptakan teror psikologis yang jauh lebih menakutkan daripada ancaman fisik.
Pak Darto berhenti di depan sebuah lemari besi tua yang sudah berkarat parah, yang sepertinya dulunya digunakan untuk menyimpan peralatan kebersihan. Dengan tangan gemetar namun cekatan, dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci berbentuk pipih yang terlihat sangat kuno. Dia tidak memasukkan kunci itu ke lubang kunci lemari, melainkan mencongkel sebuah panel kayu lapuk di dinding samping lemari tersebut.
"Cepat, Neng, bantu Bapak geser ini!" perintah Pak Darto sambil menekan bahunya ke sisi lemari.
Elara segera memposisikan dirinya di samping Pak Darto, mendorong benda berat itu sekuat tenaga. Besi berkarat itu berdecit memilukan saat bergesekan dengan lantai, suara gesekannya terdengar seperti jeritan panjang yang menyakitkan telinga. Perlahan namun pasti, lemari itu bergeser, mengungkapkan sebuah celah gelap di dinding yang cukup untuk dilewati satu orang dewasa dengan cara menyamping.
"Kalian tidak bisa lari selamanya, Elara!" suara Dr. Arisandi terdengar meledak dari ujung lorong, kini dia sudah terlihat di bawah sorotan lampu yang remang-remang.
Sosok dokter itu tampak berantakan; jas putihnya dipenuhi serbuk kimia dari APAR, rambutnya acak-acakan, dan di tangannya tergenggam sebuah benda berkilauan—sebuah skalpel bedah yang tajam. Wajahnya tidak lagi menyiratkan ketenangan seorang profesional medis, melainkan kegilaan murni dari seseorang yang obsesinya telah terganggu. Dia mempercepat langkahnya saat melihat celah rahasia yang baru saja terbuka.
"Masuk, Neng! Cepat!" dorong Pak Darto dengan kasar.
Elara menyelipkan tubuhnya ke dalam celah dinding itu. Di dalamnya ternyata ada sebuah tangga besi spiral yang menuju ke bawah, ke kedalaman pondasi kota Arcapura yang mungkin terhubung dengan sistem drainase kuno. Bau busuk yang lebih tajam langsung menyergapnya, campuran antara bau limbah dan sesuatu yang manis memualkan seperti bunga kamboja yang layu.
Pak Darto hendak menyusul masuk, namun kakinya tersandung puing lantai yang retak. Dia jatuh berlutut tepat saat Dr. Arisandi mencapai jarak jangkauan serangan. Dokter gila itu mengayunkan skalpelnya ke arah punggung Pak Darto, namun penjaga kamar jenazah itu berguling ke samping di detik terakhir, membuat mata pisau itu hanya menggores lantai semen dan memercikkan bunga api.
"Bapak!" jerit Elara dari balik celah dinding.
"Jangan pedulikan saya! Turun ke bawah dan kunci pintunya dari dalam!" bentak Pak Darto sambil menendang kaki Dr. Arisandi.
Tendangan itu mengenai tulang kering sang dokter, membuatnya terhuyung mundur sejenak. Kesempatan emas itu digunakan Pak Darto untuk melompat masuk ke dalam celah dinding menyusul Elara. Dengan sisa tenaga terakhirnya, Pak Darto menarik sebuah tuas besi berkarat yang ada di dinding bagian dalam. Terdengar suara rantai berat yang bergerak, dan sebuah panel beton perlahan turun menutup celah tersebut.
Dr. Arisandi menerjang maju, tangannya berusaha menahan panel beton yang sedang turun, namun terlambat. Panel itu menutup dengan suara dentuman keras, memisahkan mereka dari sang dokter gila. Dari balik dinding tebal itu, Elara masih bisa mendengar teriakan frustrasi Dr. Arisandi dan hantaman benda keras berkali-kali ke permukaan beton.
"Kita... kita selamat?" tanya Elara dengan suara gemetar, tubuhnya merosot ke lantai besi yang dingin.
Pak Darto mengatur napasnya yang terdengar bengek, dia memegang dadanya yang terasa nyeri. Dia menatap Elara dengan sorot mata yang serius, diterangi oleh cahaya senter kecil yang baru saja dia keluarkan dari sakunya. Wajah tua itu tampak pucat, namun ada determinasi yang kuat di sana.
"Untuk sementara, Neng. Tapi kita belum keluar dari bahaya," jawab Pak Darto lirih.
Dia mengarahkan senternya ke bawah, menyoroti tangga spiral yang berkarat dan tampak rapuh. Kegelapan di bawah sana tampak begitu pekat, seolah-olah cahaya senter itu ditelan oleh kehampaan. Suara tetesan air terdengar menggema dari dasar, memberikan kesan bahwa mereka sedang menuruni tenggorokan raksasa yang siap menelan mereka bulat-bulat.
"Ini jalur pembuangan limbah medis zaman dulu. Tembusnya ke sungai di belakang benteng kota tua," jelas Pak Darto sambil mencoba berdiri, meski lututnya gemetar. "Tapi kita harus hati-hati. Di bawah sana bukan cuma tikus yang hidup. Ada hal-hal yang dibuang rumah sakit ini... yang tidak seharusnya dilihat manusia."
Elara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dia teringat kembali pada dokumen-dokumen yang sempat dia lihat sekilas di ruangan Dr. Arisandi sebelum kekacauan terjadi. Tentang eksperimen ilegal dan perjanjian dengan entitas tak kasat mata. Jika Dr. Arisandi begitu takut mereka lolos, pasti ada bukti yang lebih mengerikan yang tersembunyi di rute pelarian ini.
"Saya siap, Pak. Asal kita bisa keluar dari sini dan membongkar semuanya," ucap Elara, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
Mereka pun mulai menuruni tangga spiral itu, langkah demi langkah, menuju kegelapan yang menjanjikan rahasia kelam Kota Arcapura yang selama ini terkubur di bawah fondasi modernitas.