di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Rina melompat dari kasur seolah-olah alas tidurnya itu baru saja dialiri listrik ribuan volt. Tanpa memedulikan Salsa yang melongo, ia menyambar kerudungnya yang sedikit miring dan lari keluar kamar.
"Lho, Dek? Kok keluar lagi? Mau ngomel lagi?" tanya Imron yang baru saja hendak menyuap gorengan. Ia heran melihat adiknya yang tadinya nge-reog sekarang malah terlihat seperti orang yang sedang mengejar kereta api.
Rina tidak menjawab kakaknya. Matanya tertuju tajam pada Rohman yang sedang menyesap teh dengan ekspresi luar biasa tenang—seolah-olah pria itu baru saja tidak mengirimkan bom atom lewat pesan singkat.
"Kamu! Ikut aku ke luar!" tunjuk Rina tepat ke hidung Rohman. "Ada yang harus kita bicarakan sekarang juga!"
Ayah hampir saja bangkit untuk memarahi Rina, namun Rohman memberikan isyarat tangan agar Ayah tetap tenang. "Biar saya urus, Pak RT. Sepertinya ada 'masalah teknis' yang harus kami selesaikan," ucap Rohman santun sebelum bangkit berdiri.
Mereka berdua berjalan menuju teras depan, jauh dari jangkauan telinga Ayah dan Imron, meski Rina tahu kakaknya itu pasti sedang mengintip dari balik gorden.
Begitu sampai di teras, Rina berbalik, matanya berkaca-kaca antara marah dan malu yang luar biasa.
"Sebenarnya kamu orang itu?! Si 'Arab' di HelloTalk itu?" semprot Rina dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai ke dalam. "Tapi kenapa kamu jahat banget?! Kenapa malah menghilang dan meninggalkan aku yang menunggu pesanmu setiap hari? Pokoknya aku kesal sama kamu!"
Rohman menyandarkan tubuh tingginya pada pilar teras, menatap Rina dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Saya tidak menghilang, Rina. Saya sedang mempersiapkan semuanya. Saya bilang kan, saya sedang di Mesir untuk urusan ekspor sekaligus menyelesaikan beberapa hal agar bisa segera pulang ke sini."
"Halah! Alasan!" Rina menghentakkan kakinya. "Kalau aku tahu siapa kamu dari awal, aku nggak akan sekasar ini tadi! Lagian, aku maunya nunggu orang yang aku sayang... tapi ternyata orang itu malah datang dengan cara begini! Kamu sengaja ya mau mengerjai aku? Mau lihat aku malu di depan Ayah?"
Rohman melangkah satu tindak mendekat, membuat Rina terpaksa mendongak maksimal. "Rina, dengar. Saya sengaja tidak memakai foto asli karena saya ingin tahu siapa Rina yang sebenarnya. Rina yang cerdas di aplikasi itu, atau Rina yang galak di dunia nyata. Dan ternyata..." Rohman tersenyum tipis, "keduanya sama-sama menarik."
"Menarik apanya! Aku tadi bilang kamu bau! Aku tadi teriak soal... soal barang itu! Kamu pasti sekarang mikir aku cewek aneh kan?" Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya ia tenggelam ke dasar bumi saat itu juga.
"Justru itu," bisik Rohman, suaranya terdengar sangat tulus. "Setelah melihat kamu marah-marah tadi, saya makin yakin kalau kamu orang yang jujur. Jadi, bagaimana? Masih mau memecat Cak Imron? Atau mau lanjut memanggil saya 'Sayang' seperti di pesan bulan lalu?"
Rina langsung menurunkan tangannya, wajahnya memerah sempurna. "Jangan keras-keras! Pokoknya aku masih marah! Dan jangan harap aku panggil kamu begitu lagi sebelum kamu bayar mahar 2 miliar itu!"
Rohman terkekeh, suara tawanya kali ini terdengar sangat lepas. " Tenang saja, Rina. Maharnya sudah siap, rumahnya sudah ada, dan kitab Hilyatul Aulia itu? Sudah saya simpan di mobil sejak saya berangkat dari Jawa Tengah."
Rina tertegun. Jadi, pria ini memang sudah merencanakan segalanya?