NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Bayang-bayang di Isola del Sangue

​Isola del Sangue seharusnya menjadi surga, sebuah benteng tak tertembus di tengah birunya Samudra Mediterania. Namun bagi Aruna, setiap jengkal kemewahan di villa ini hanyalah perpanjangan dari tangan Dante yang membelit lehernya. Pagi itu, kabut tipis menyelimuti tebing karang, membuat laut di bawah sana tampak seperti hamparan perak yang tak berujung.

​Aruna berdiri di balkon kamar, menghirup udara asin yang tajam. Di bawah sana, ia bisa melihat Marco sedang memberikan instruksi kepada barisan penjaga baru. Sejak serangan di pesta, Dante mengganti hampir separuh staf keamanannya. Orang-orang baru ini tampak lebih dingin, lebih seperti mesin daripada manusia.

​Namun, ada satu pria yang menarik perhatian Aruna. Pria itu berdiri di dekat dermaga kecil, jauh dari barisan utama. Ia tidak mengenakan seragam taktis hitam seperti yang lain, melainkan kemeja linen sederhana. Saat pria itu menengadah, jantung Aruna seolah berhenti berdetak.

​Wajah itu. Ia mengenalnya.

​"Tidak mungkin..." bisik Aruna. Suaranya tertelan oleh suara deburan ombak.

​Sebelum ia bisa memastikan penglihatannya, sebuah tangan yang hangat dan besar mendarat di bahu telanjangnya. Aruna tersentak, hampir berteriak.

​"Kau sedang mencari apa, Aruna?" Dante berdiri di belakangnya, wajahnya tampak segar setelah berenang pagi di kolam pribadi, namun matanya tetap tajam memindai setiap ekspresi Aruna.

​Aruna segera menguasai diri. "Hanya... melihat laut. Terlalu luas untuk seseorang yang terkurung."

​Dante memutar tubuh Aruna, merapatkan tubuh gadis itu ke pagar balkon. Ia membungkuk, menatap dalam ke mata Aruna yang gelisah. "Laut ini adalah milikku. Pulau ini milikku. Dan kau adalah jantung dari semuanya. Berhenti mencari jalan keluar, karena satu-satunya jalan keluar dari Isola del Sangue adalah melalui aku."

​Dante mengusap bibir Aruna dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang kini terasa seperti rutinitas kepemilikan. "Pelayan akan membawakan sarapanmu. Pastikan kau makan semuanya. Hari ini aku harus memeriksa sistem pertahanan di sisi utara pulau."

​Dante mengecup kening Aruna—ciuman yang terasa seperti stempel pada properti berharga—lalu melangkah pergi. Begitu suara langkah kaki Dante menghilang, Aruna kembali menatap ke dermaga. Pria itu sudah tidak ada di sana.

​Siang hari di pulau itu terasa sangat panjang. Aruna menghabiskan waktunya di kamar bayi, menyusui Leonardo yang semakin kuat setiap harinya. Bayi itu adalah satu-satunya alasan Aruna masih memiliki kewarasan. Namun, ketenangan itu terus terusik oleh bayangan wajah pria di dermaga tadi.

​Apakah itu benar dia? Aris?

​Aris adalah kakak kelasnya di kampus, satu-satunya orang yang pernah mendekati hatinya sebelum bencana ini terjadi. Aris hilang kontak tepat seminggu sebelum kecelakaan ibunya. Bagaimana mungkin dia ada di sini, di pulau pribadi seorang gembong mafia?

​Sekitar pukul dua siang, seorang pelayan muda masuk untuk mengambil baki makanan. Saat pelayan itu membungkuk, ia menyelipkan sebuah gulungan kertas kecil ke bawah bantal sofa tempat Aruna duduk. Aruna membeku, namun ia segera menutupi kertas itu dengan tangannya.

​Begitu pelayan itu pergi, Aruna membuka kertas itu dengan tangan gemetar.

​"Pukul delapan malam. Di bawah pohon pinus dekat menara suar tua. Jangan bawa Leonardo. - A"

​Darah Aruna berdesir. Itu benar-benar Aris. Tapi bagaimana dia bisa masuk ke sini? Dan apakah ini jebakan?

​Malam tiba dengan cepat, membawa angin dingin yang menggigit. Dante masih sibuk dengan Marco di ruang kendali bawah tanah. Aruna tahu ini adalah satu-satunya celahnya. Ia memastikan Leonardo tertidur lelap dan dijaga oleh suster Elena yang setia.

​Dengan mengenakan jubah tidur tebal berwarna gelap, Aruna menyelinap keluar melalui pintu samping dapur. Ia menghindari lampu-lampu sorot yang menyapu halaman setiap tiga puluh detik. Langkah kakinya sangat ringan di atas rumput basah.

​Menara suar tua itu terletak di ujung tebing yang paling terpencil. Tempat itu gelap dan menyeramkan. Saat Aruna sampai di bawah pohon pinus yang besar, ia merasa seseorang memperhatikannya.

​"Aruna?"

​Sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan. Itu Aris. Wajahnya tampak lebih tirus, dan ada luka gores kecil di pipinya.

​"Aris! Bagaimana kau bisa ada di sini?" Aruna ingin memeluknya, namun ia menahan diri. Rasa takut pada Dante masih membekas kuat di kepalanya.

​"Aku menyusup sebagai staf logistik melalui Don Salieri," bisik Aris cepat, matanya terus waspada pada sekitar. "Aruna, kita harus pergi sekarang. Malam ini, kapal jemputan akan datang di sisi teluk tersembunyi. Aku sudah merencanakan ini sejak kau menghilang."

​"Salieri? Aris, Salieri adalah musuh Dante! Dia pria jahat!"

​"Siapa yang lebih jahat, Aruna? Pria yang ingin menjatuhkan mafia, atau pria yang mengurungmu dan menjadikanmu sapi perah untuk anaknya?" Aris mencengkeram bahu Aruna. "Aku tahu tentang ibumu. Salieri berjanji akan memindahkan ibumu ke tempat yang aman di luar negeri jika kau ikut denganku."

​Aruna bimbang. Tawaran itu terdengar seperti mimpi. Kebebasan. Ibunya. Aris. Namun, bayangan wajah Leonardo yang mungil tiba-tiba muncul di benaknya.

​"Aku tidak bisa meninggalkan Leonardo, Aris. Dia butuh aku."

​"Dia bukan anakmu, Aruna! Dia anak seorang monster!"

​Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang dingin dan berat memecah kegelapan, diikuti oleh cahaya lampu sorot yang sangat terang yang langsung mengarah ke posisi mereka.

​"Skenario yang sangat menyentuh," suara Dante menggelegar melalui speaker menara suar.

​Aruna dan Aris jatuh terduduk, menyipitkan mata karena silau. Di sana, di atas bukit kecil, Dante berdiri dikelilingi oleh sepuluh pria bersenjata lengkap. Marco berdiri di sampingnya dengan tangan di atas pistol.

​Dante melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya. Wajahnya tidak menunjukkan amarah yang meledak-ledak. Sebaliknya, ia tampak tenang—ketenangan seorang algojo yang sedang menunggu saat yang tepat.

​"Jadi, ini 'pahlawan' yang kau harapkan, Aruna?" Dante menatap Aris dengan jijik. "Seorang mata-mata amatir yang dikirim oleh Salieri untuk mencuri hartaku?"

​"Lepaskan dia, Valerius!" teriak Aris, mencoba meraih sesuatu dari balik bajunya, namun Marco lebih cepat menembak pergelangan tangan Aris hingga pria itu berteriak kesakitan.

​"Jangan!" jerit Aruna, ia berlari dan berlutut di depan Dante, memeluk kaki pria itu. "Tolong, Dante! Jangan bunuh dia! Dia tidak tahu apa-apa!"

​Dante menjambak rambut Aruna dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap ke arah Aris yang kini sedang dipaksa berlutut oleh para penjaga.

​"Dia tahu segalanya, Aruna. Dia tahu bagaimana cara masuk ke rumahku, dan dia tahu cara meracuni pikiranmu," Dante mengalihkan pandangannya pada Aris. "Kau pikir Salieri akan menyelamatkan ibu Aruna? Salieri baru saja menjual lokasi ibunya kepadaku sebagai jaminan hutang judinya pagi ini."

​Aruna ternganga. "Apa?"

​"Dunia ini tidak mengenal pahlawan, Aruna. Hanya ada pemenang dan pecundang," Dante mengeluarkan pistolnya sendiri, mengarahkannya tepat ke dahi Aris.

​"Dante, kumohon!" Aruna terisak, air matanya membasahi sepatu Dante. "Aku akan melakukan apa saja! Aku akan menjadi budakmu selamanya! Aku tidak akan pernah mencoba lari lagi! Hanya... jangan bunuh dia!"

​Dante terdiam sejenak. Ia melihat kehancuran di mata Aruna. Sebuah senyuman manipulatif muncul di bibirnya. "Apa saja, Aruna?"

​"Ya... apa saja."

​Dante menurunkan senjatanya. Ia memberi isyarat pada Marco. "Bawa tikus ini ke ruang bawah tanah. Jangan bunuh dia. Aku ingin dia melihat bagaimana Aruna menjadi Nyonya Valerius yang sebenarnya."

​Dante menarik Aruna berdiri, merangkul pinggangnya dengan sangat kuat hingga Aruna sulit bernapas. Ia membungkuk, berbisik di telinga Aruna yang sedang gemetar.

​"Kau baru saja membuat sumpah darah, mawar kecilku. Dan mulai malam ini, kau bukan lagi sekadar ibu susu. Kau akan melayaniku di tempat tidurku, setiap malam, sebagai bayaran atas nyawa pria ini."

​Aruna menatap Aris yang diseret pergi, lalu menatap Dante. Ia menyadari bahwa pelariannya malam ini justru mengunci pintu penjaranya jauh lebih rapat.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!