Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutus Rantai Parasit
Kabar mengenai lamaran Mas Aris menyebar dengan cepat di antara jejaring keluarga besar, seolah-olah ditiupkan oleh angin yang membawa aroma keberuntungan. Namun, seperti yang sudah-sudah, bagi keluarga Ayah terutama paman-pamanku kabar bahagia dariku bukanlah sesuatu yang patut disyukuri, melainkan sebuah peluang yang harus dieksploitasi. Rumah baru yang megah dan calon suami yang memiliki jabatan mapan di kantor cabang adalah kombinasi yang membuat mata mereka hijau karena iri sekaligus serakah.
Persiapan pernikahan mulai dirancang. Aku dan Aris sepakat untuk mengadakan pesta yang elegan namun intim. Kami tidak ingin kemegahan yang kosong; kami ingin sebuah perayaan atas kemenangan kami melewati badai. Dan yang paling penting bagiku, aku ingin membiayai pernikahan ini sepenuhnya dengan uangku sendiri, dibantu oleh Aris. Aku tidak ingin ada satu rupiah pun dari "sumbangan" keluarga besar yang nantinya akan dijadikan senjata untuk mengungkit budi atau mencampuri urusan rumah tanggaku.
Sore itu, saat aku sedang meninjau daftar vendor katering di ruang tamu, pintu pagar diketuk dengan keras. Tanpa menunggu dipersilakan, ketiga pamanku masuk dengan gaya seolah-olah mereka adalah pemilik sah dari tanah ini. Ayah, yang masih memiliki sifat "nggak enakan", mempersilakan mereka duduk.
"Jadi, Maya mau menikah?" tanya Paman tertua sambil menyulut rokok, abunya sengaja dijatuhkan di atas lantai keramik bersih yang setiap pagi kusapu. "Kabarnya calon suamimu orang kaya. Baguslah, sudah saatnya keluarga kita punya nama besar lagi."
Aku menutup laptopku perlahan. "Pernikahannya sederhana saja, Paman. Yang penting sah."
"Sederhana bagaimana?" sela paman yang lain dengan nada tinggi. "Kamu itu sekarang orang sukses, rumahmu paling bagus di antara kita semua. Malu-maluin keluarga kalau pestanya cuma kecil-kecilan. Kami sudah bicara, sebaiknya panitianya dari keluarga kita saja. Paman yang akan atur tenda, katering dari kenalan Paman, dan adik-adik sepupumu bisa jadi penerima tamu."
Aku menarik napas panjang. Aku sudah bisa membaca arah pembicaraan ini. Mereka ingin menjadi "panitia" agar bisa mencakup harga, mengambil keuntungan dari uang pernikahan yang kusisihkan dengan susah payah dari sisa cicilan bank. Mereka ingin tampil sebagai pahlawan di depan tamu undangan, padahal saat kami butuh sesuap nasi dulu, mereka menutup pintu rapat-rapat.
"Terima kasih atas tawarannya, Paman," kataku dengan suara yang sangat stabil, mataku menatap mereka satu per satu tanpa berkedip. "Tapi semua sudah diatur oleh saya dan Mas Aris. Kami sudah membayar uang muka untuk Wedding Organizer profesional. Kami tidak ingin merepotkan keluarga."
Suasana mendadak tegang. Paman tertua menggebrak meja kayu jati yang kubeli dari gaji lemburku tahun lalu. "Repot? Kami ini keluargamu! Kamu mau memutus tali silaturahmi karena merasa sudah kaya? Ingat ya, Maya, tanpa darah kami yang mengalir di tubuhmu, kamu bukan siapa-siapa!"
"Darah?" aku berdiri, rasa perih di jemariku saat mengupas bawang di masa SMP seolah kembali terasa. "Waktu saya diusir dari rumah Nenek, ke mana darah itu? Waktu saya cari besi tua buat makan, di mana darah itu? Darah yang Paman maksud adalah darah yang dulu Paman peras lewat tenaga saya dan Bayu tanpa bayaran."
Ibu mencoba menenangkan, "Sudah, May... jangan bicara begitu sama orang tua."
"Nggak, Bu. Kali ini Maya nggak akan mengalah," aku menoleh ke arah Ibu, lalu kembali ke Paman. "Pernikahan ini saya yang bayar. Rumah ini saya yang cicil. Ayah saya yang rawat. Jadi, saya yang berhak menentukan siapa yang boleh ikut campur. Paman dan keluarga lainnya dipersilakan datang sebagai tamu. Duduk, makan, dan doakan kami. Tapi jangan harap bisa memegang satu rupiah pun dari anggaran pernikahan saya."
Paman tertua berdiri, wajahnya merah padam. "Anak tidak tahu diuntung! Kamu sombong karena punya calon suami manajer! Lihat saja, pernikahanmu tidak akan berkah kalau berani melawan orang tua!"
Mereka melangkah keluar dengan caci maki yang masih terdengar sampai ke jalanan. Ayah tertunduk lesu, wajahnya menunjukkan ketakutan akan "omongan orang". Namun aku mendekati Ayah, menggenggam tangannya yang sudah mulai berkeriput.
"Yah, keberkahan itu datang dari kejujuran dan kerja keras, bukan dari menuruti orang-orang yang mau memeras kita. Maya ingin memulai hidup baru dengan bersih, tanpa utang budi pada mereka," bisikku meyakinkan.
Konflik di rumah membawa pengaruh pada konsentrasiku di kantor. Apalagi, keluarga besar mulai melakukan serangan lewat jalur lain. Mereka mulai menghubungi Bayu, mencoba menghasutnya dengan mengatakan bahwa aku telah berubah menjadi sombong sejak mengenal Aris. Beruntung, Bayu adalah tameng yang kokoh. Ia sudah cukup kenyang dengan kelakuan paman-pamannya.
Namun, di kantor, aku mulai menghadapi tantangan baru. Aris, yang kini menjadi tunanganku, tetap menjaga profesionalitas. Kami tidak menunjukkan kemesraan yang berlebihan. Tapi, ada beberapa rekan kerja yang mulai berbisik-bisik, menganggap posisiku naik karena hubunganku dengan Aris.
Gosip itu menyakitkan, terutama bagiku yang selalu membanggakan kemandirian. Aku merasa seolah-olah seluruh pencapaianku dari mulai menjadi buruh bawang hingga menjadi karyawan teladan dihapus begitu saja oleh label "calon istri manajer".
"Kamu nggak perlu dengerin mereka, Maya," ujar Aris saat kami sedang lembur berdua di ruangannya. "Mereka cuma melihat puncaknya, tanpa pernah tahu seberapa dalam kamu harus menggali untuk sampai ke sini. Fokus saja pada sisa cicilan rumah kita dan hari besar kita nanti."
Untuk memastikan semuanya berjalan lancar tanpa campur tangan parasit keluarga, aku mengambil keputusan ekstrim. Aku mencairkan sebagian kecil tabungan daruratku untuk membayar lunas sisa biaya pernikahan di awal. Aku tidak mau ada celah bagi Paman untuk mengklaim mereka membantu secara finansial.
Malam-malamku kembali diisi dengan kerja keras. Aku memastikan semua dokumen administrasi pernikahan lengkap. Aku juga mulai membereskan satu per satu barang di rumah, karena setelah menikah nanti, aku dan Aris akan tetap tinggal di sini untuk menjaga Ayah dan Ibu, namun dengan aturan yang baru. Aku tidak akan membiarkan rumah ini menjadi "terminal" bagi keluarga besar yang hanya datang untuk meminta.
Di sela-sela kelelahan itu, aku sering duduk di teras depan. Aku menatap pagar rumahku yang kokoh. Aku teringat masa kecilku yang rapuh, yang tak punya pagar pelindung dari kejahatan tetangga. Kini, pagar ini bukan hanya melindungi fisikku, tapi juga melindungi harga diriku.
Aku menyadari bahwa perjuangan ini belum selesai. Memutus rantai parasit keluarga membutuhkan keberanian untuk menjadi "si jahat" di mata orang lain. Aku harus rela dicap sombong, angkuh, atau anak durhaka oleh mereka yang tidak pernah tahu rasa sakitnya terusir. Tapi bagiku, lebih baik dicap jahat daripada terus menjadi korban yang dimanfaatkan.
Aku adalah Maya. Wanita yang membangun rumahnya dari air mata dan keringat. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan mereka yang memiliki pertalian darah, meruntuhkan apa yang sudah kubangun dengan susah payah. Pernikahanku harus menjadi awal dari kemerdekaan yang sesungguhnya, sebuah kehidupan di mana aku tidak lagi berutang apa pun kepada masa lalu.
Cicilan di bank mungkin masih tersisa beberapa tahun lagi, tapi utang mentalku kepada keluarga besar telah kucoret hari ini. Aku siap melangkah ke pelaminan dengan kepala tegak, bukan sebagai gadis kecil yang malang, melainkan sebagai ratu di istanaku sendiri.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..