Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di dalam kelas Seyra termenung, hubungan Elsa dan Ozil akan mulai membaik seminggu kemudian. Ozil mulai menunjukan ketertarikannya, namun masih belum terlalu jelas.
"Apa karena ini fiksi, sampe otak gue yang dangkal nggak bisa nelen alurnya? Awalnya Elsa jadi babu, lama-lama bakalan bucin juga." Gumam Seyra bingung.
Novel yang Kana tulis, bertema fiksi remaja. Namun, memiliki unsur rumit yang membuat Seyra kesal membaca novel tersebut.
Dimana kekesalannya di mulai, saat Ozil mulai mencintai Elsa namun berujung kecewa karena Elsa justru bermain api dengan orang lain, sampai membuat Ozil menjadi obsesi pada Elsa.
Seyra mendecakan lidah, "Harusnya sekarang adegan Valeri nampar wajah Elsa, kan? Kok belum muncul?"
Baru saja bergumam, suara teriakan membuat seorang gadis membuat Seyra mendongak. Seketika wajahnya berbinar-binar, di depan pintu kelas sosok Valeri sedang menarik rambut Elsa yang baru saja berniat masuk ke dalam kelas.
"Lo ngapain kegatelan sama Ozil hah? lo pikir lo siapa sampai berani deketin dia?!" sentak Valeri marah.
Di dalam kelas, suasana mendadak tegang. Seyra menahan napas, seolah-olah seluruh dunia terhenti saat Valeri berhadapan langsung dengan Elsa.
"Emang, ya. Kalo jadi antagonis emosinya meledak-ledak terus," gumam Seyra.
Rasa penasaran dan excited bercampur aduk di dalam hatinya. Dia sudah membayangkan momen ini, di mana semua drama akhirnya mengarah pada konfrontasi.
Elsa, meski rambutnya ditarik dengan kasar, berusaha tetap tenang. "Valeri, ini bukan urusan lo! Ozil dan gue—" kata Elsa, namun dipotong oleh Valeri yang semakin meluap amarahnya.
"Bukan urusan gue? heh sampah, lo tahu Ozil cuma milik gue! nggak ada yang boleh sama dia kecuali gue, paham?!" balas Valeri, suaranya menggema di dalam kelas.
Teman-teman yang lain mulai menoleh, merasakan ketegangan di udara. Seyra merasa hatinya berdebar, seakan-akan dia juga terlibat dalam drama tersebut.
Dalam pikirannya, dia sudah merencanakan berbagai skenario, tetapi tidak ada yang seintens ini. Dia berbisik pada dirinya sendiri, "Ini baru seru!"
Sementara itu, Elsa berusaha melepaskan diri dari pegangan Valeri. "Lo nggak berhak ngatur hidup gue! ini keputusan gue sama Ozil! dan lo nggak bisa seenaknya mengklaim Ozil milik lo, Val!" teriaknya, mencoba menunjukkan keberanian di balik ketakutannya.
Valeri tidak mundur. "Belagu banget lo, mentang-mentang sekarang lo deket sama anggota Ozil, lo jadi songong, ya!"
Seyra menikmati suasana di depannya dengan ekspresi berubah-ubah, seakan dia tengah berada di bioskop. "Gila, Valeri beringas juga, ya. Ucapannya bikin sakit hati."
Saat adu mulut kian menjadi, Ozil mendadak muncul dan menarik Valeri dengan kasar hingga membentur pintu. Sontak semua orang terkejut, begitu juga dengan Seyra.
"Lo apa-apaan hah?! Elsa nggak ada sangkut pautnya sama lo!" bentak Ozil.
Valeri mendongak, dia seakan sudah terbiasa dengan bentakan dan sikap kasar dari pemuda itu.
"Siapa pun yang deket sama lo, selalu ada urusannya sama gue, Zil!" sahut Valeri enteng.
Ozil menarik Elsa ke belakang tubuhnya, melindungi gadis itu dari tatapan ganas Valeri. Ketegangan di ruangan semakin memuncak, dan setiap detik terasa begitu berat.
Ozil yang sudah tidak mampu menahan emosinya, mendekati Valeri dengan langkah cepat.
"Cukup! lo sudah melampaui batas, Val!" teriaknya, suaranya menggema di antara dinding-dinding ruangan.
Valeri hanya tersenyum sinis, seolah provokasi Ozil justru membuatnya semakin bersemangat. "Sayangnya gue nggak peduli, selagi ada cewek yang deketin lo. Mereka harus berhadapan sama gue."
Namun, tanpa peringatan Ozil melayangkan tamparan keras ke pipi Valeri. Suara benturan itu keras dan tajam, membuat semua orang terdiam sejenak.
Valeri terhuyung, dan sudut bibirnya terbelah, darah segar mengalir dari luka itu. Wajahnya berubah, dari senyum menantang menjadi ekspresi terkejut dan kecewa.
Seyra terperanjat, tangannya menutupi mulut. Dia tidak pernah menyangka situasi akan berujung pada kekerasan seperti ini. Tidak ada adegan seperti itu dalam novel yang dia baca, tapi yang dia lihat sekarang sangat jauh dari novel tersebut.
"Gue nggak bisa pegangan terus sama novel, alurnya udah beda banget." Gumamnya pada diri sendiri.
Ozil terlihat tak menyesal sama sekali telah bermain tangan dengan seorang gadis. "Lo terus menerus mengganggu orang-orang di sekeliling gue! lo pikir gue barang yang bisa seenaknya lo atur? lo bukan siapa-siapa gue, Val. Lo cuma mantan pacar gue, nggak lebih dari itu."
Degh.
Bagaikan sebilah pisau yang di lempar pada jantung Valeri, gadis itu mendongak dan terkekeh miris.
"Apa lo pikir gue peduli? nggak sama sekali, mau lo anggap apa pun gue terserah. Tapi yang jelas, gue nggak bakal pernah lepasin lo!" jawab Valeri menantang balik.
Saat itu juga Ozil mengangkat kembali tangannya, membuat Valeri memejamkan mata. Namun, hingga beberapa detik berlalu tidak ada tamparan yang mendarat di wajahnya justru suara benda jatuh yang menghantam meja, membuat semua orang terdiam kaku.
Valeri membuka matanya, dia melihat Seyra baru saja menendang meja hingga terbelah menjadi dua.
"Berisik lo semua, gue mau tidur bangsat! keluar kalian, atau nasib kalian bakal kayak meja itu!" tunjuk Seyra pada meja yang bernasib naas di lantai.
Seketika semua murid bergegas pergi, mereka takut dengan tatapan tajam Seyra yang mengintimidasi. Kini hanya tersisa Valeri, Elsa, dan juga Ozil.
"Ngapain kalian masih di sini? mau uji coba jadi meja huh?" tanya Seyra di selingi ejekan.
"Lo adiknya Valeri, kan?" Tanya Ozil menatap Seyra.
Seyra memiringkan kepalanya sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya. "Kenapa kalo gue adiknya? Ada masalah?"
"Bilangin sama kakak lo, jangan ganggu Elsa lagi. Atau dia bakal nerima akibatnya!"
Mendengar itu, Seyra tertawa. Dia berdiri dari bangkunya lalu berjalan mendekati Ozil, sorot matanya begitu dingin seperti sedang menelanjangi pemuda itu.
"Bilang aja sendiri, orangnya ada di depan lo." Seyra menunjuk Valeri dengan dagunya.
Valeri menatap Seyra tidak percaya. "Lo di pihak siapa sih?"
Seyra mengangkat bahu santai. "Gue netral kok, nggak di pihak siapa pun."
Ucapan itu membuat wajah Valeri menegang. Sementara Ozil mendecih pelan, merasa mendapat celah untuk kembali menyerang.
"Bagus. Berarti lo masih punya otak. Suruh dia berhenti sebelum gue yang bikin dia berhenti," ujar Ozil dingin.
Seyra terkekeh pelan, lalu berhenti tepat di depan Ozil. Jarak mereka begitu dekat hingga hanya sejengkal. Namun, alih-alih terlihat terintimidasi, Seyra justru menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi meremehkan.
"Lo ini lucu banget," ucapnya ringan. "Baru aja nampar cewek aja, sekarang sok jadi pahlawan? Malu woi mana ada cowok gentleman yang main tangan sama cewek. Biasanya yang suka main tangan itu... Pecundang."
Rahang Ozil mengeras. "Lo nantang hah?!"
"Iya, mau ribut?" Jawab Seyra santai.
Elsa menggenggam lengan Ozil pelan. "Udah, Ozil. Kita pergi aja."
Namun Ozil tidak bergerak. Tatapannya masih terkunci pada Seyra. "Gue cuma nggak mau ada drama murahan lagi. Kakak lo udah kelewatan."
Seyra menoleh sekilas pada Valeri yang masih memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Lalu ia kembali menatap Ozil, kali ini dengan sorot mata lebih tajam.
"Kelewatan?" ulangnya pelan. "Lo yang nampar duluan."
"Itu karena dia—"
"Karena dia apa?" potong Seyra cepat. "Cemburu? Posesif? Nggak bisa move on? Lo pikir lo suci banget sampai bisa bertindak seenaknya begitu?"