NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

Gimana bisa gadis SMA bunuh diri di atap, tapi bukan mati krn jatuh?

Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.

- - -

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.

- - -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT V—{Chapter2}

   Pak Edwin menutup lembar terakhir berkas laporan praktikum tersebut. Kemudian tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Irene, ia beranjak pergi, melewati tim anggota piket dan terus berjalan menuju pintu kelas. “Karina,” panggilnya dengan suara lantang. Semua siswi yang mendengarnya berdecak takut. “Bawa Giselle ke ruang guru.”

   Para siswi bersorak lagi. “Huuuu~” Lalu mereka tertawa kecil sambil melayangkan macam-macam serangan berupa jempol terbalik, wajah menyebalkan, dan lemparan bola-bola kertas. Giselle tak dapat membalas apa-apa, hanya memicingkan mata sambil mengekor di belakang Karina.

   “Sekarang, ayo kita pergi.” Fally mengangkat tangannya ke belakang, merangkul pundak anggotanya dan membawa mereka pergi untuk menjalani hukuman. Widya dan Vira buru-buru menepisnya sambil menutup hidung, bergumam sinis bahwa kardigan yang dikenakannya selama lebih dari seminggu itu sudah berbau busuk. Demi keselamatan diri, akhirnya mereka berdua pun memelesatkan kaki lebih dulu. Tahu-tahu saja tubuh mereka sudah menghilang di kelokan pintu.

   Di bawah rangkulan lengan Fally, Irene diam-diam menolehkan kepala, menatap gadis di sebelahnya dengan lekat. “Erica, apa yang terjadi padamu hari ini?”  

...• • • • • ...

   Menjelang tengah hari, langit tampak kosong. Kanvas berwarna biru cerah membentang luas dari timur ke barat tanpa batas. Tidak ada awan, tidak ada pula yang dapat menahan panasnya cahaya matahari yang menyengat. Panas itu membuat udara seolah bergetar dan naik, membentuk arus hangat yang dikenal sebagai termal. Beberapa jenis burung seringkali memanfaatkan kondisi itu untuk melintas karena mereka dapat terbang tanpa harus banyak mengepak, menghemat energi dalam menempuh perjalanan jauh bagi sekoloni burung yang hendak bermigrasi. Dari kejauhan mata memandang, udara bergelombang samar di atas aspal, memburamkan garis horizon seperti bayangan di dalam air. Pohon-pohon di tepi jalan berdiri kaku, daun-daunnya berguguran satu demi satu sementara bayangannya jatuh rapat di tanah, menampakkan kontras jelas antara cahaya yang menyilaukan dan gelap yang meredup.

   Seorang pria tua berjongkok di tanah dekat pos satpam. Lengan bajunya digulung sampai ke siku, topinya dipasang terbalik menutupi rambut lepeknya, sementara keringatnya bercucuran membasahi leher dan punggungnya. “Kebetulan kelas 12-5 sedang pelajaran olahraga di gimnasium, jadi tidak terlalu ketat bila kau mau menemuinya, nak.” Pak John berujar dengan ramah, keriput di dahinya tampak jelas saat ia mendongakkan kepala pada sang tamu. 

   Berjarak dua meter darinya, berdiri seorang gadis muda berumur sekitar dua puluhan mengenakan setelan kaos dan celana denim. Dia menggenggam sejumlah buku dengan satu tangan, sepertinya baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. “Ah, tidak perlu, pak. Saya hanya sebentar di sini karena satu jam lagi saya harus menghadiri kelas.”

   Pak John yang semula menyibukkan diri dengan mengecat pot tanaman, segera bangkit untuk berhenti. Dia menepuk-nepuk seragamnya, berharap cat yang menempel di tubuhnya dapat lenyap dengan mudah seperti debu. “Rupanya kau sibuk, ya. Baiklah, kalau begitu akan kupanggilkan gadis yang kau cari. Mari duduk di sini untuk menunggu, jangan berdiri di sana. Mataharinya cukup panas, nanti bajumu jadi bau.”

   Gadis itu tersenyum canggung saat Pak John buru-buru menyeret kursi dari dalam pos dan membawakannya untuk dirinya. Dia bahkan meletakkannya di bawah atap yang memiliki bayangan supaya teduh. Baru setelah si gadis mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena telah merepotkan, Pak John pergi. Pos jaganya yang kosong kemudian dialihkan sementara kepada petugas asrama yang kebetulan lewat tidak jauh dari pandangannya. Kelihatannya pria itu juga sedang menganggur, jadi dia memintanya untuk menggantikan dirinya sampai kembali.

    Pohon-pohon magnolia berjajar rapi di atas tanah. Bunga merah mudanya mekar sempurna dengan kelopak yang sedikit melengkung, bergoyang pelan saat angin sepoi bertiup melalui celah dahan. Bila embusannya kuat, kapsul-kapsul surat yang terbuat dari bahan kaca itu berdenting, menghasilkan melodi alam yang merdu. Indah, tetapi juga rapuh. Kadang-kadang embusannya datang terlalu kuat, membuat kapsul saling bertabrakan dan akhirnya retak—atau kemungkinan terbesarnya adalah pecah. Ini sudah terjadi bahkan sehari setelah kapsul digantung. Maka kemudian, Riyan pun memberi usulan untuk membungkus kapsul menggunakan anyaman tali makrame. Lapisan itu berfungsi sebagai peredam, sehingga benturan tidak langsung mengenai permukaan kaca. Pemberat berupa batu kecil juga dipasangkan di bagian bawah, supaya kapsul tidak mudah terayun dibawa gelombang angin. 

   Tugas menyiapkan batu pemberat diserahkan kepada setiap wali kelas. Maka itu pagi-pagi sekali sekitar dua puluh menit sebelum bel berbunyi, mereka datang sambil membawa dus berisikan batu steatit—batu sabun. Warnanya bervariasi dari abu-abu, hijau gelap, cokelat jasper, biru, hitam, putih transparan, juga ada yang memiliki motif berupa guratan halus yang samar. Begitu dipamerkan, para gadis langsung jatuh cinta. Mereka kemudian mengambilnya satu per satu lalu kembali ke tempat duduk untuk mengukir nama mereka. Beberapa ada juga yang memolesnya demi mendapatkan bentuk yang diinginkan. 

   “Selamat pagi, Bu Kaila.” 

   Si pemilik nama yang sedang berdiri di bawah pohon untuk memeriksa keadaan setiap kapsul, menolehkan kepala. “Ah, pagi juga, Pak John.” Dia membalas sapaan dengan senyum, sembari membungkukkan badan karena pria itu lebih tua darinya. 

   “Kau sendiri? Di mana Bu Tiara?”

   “Dia sudah kembali ke kelas.”

   Pak John mengangguk-angguk, hanya ber-oh lirih.

   Dari kejauhan, tepatnya dari pintu keluar gimnasium, seorang gadis berlari menghampiri. Dagu dan kerah baju olahraganya tampak basah, sepertinya ia habis menegak air mineral dalam jumlah banyak. “Pak John,” panggilnya.

   Pak John berkata lagi kepada Bu Kaila. “Aku harus bekerja. Sampai nanti, bu.” Setelah obrolan berakhir dalam kurang dari dua menit, ia pun berlalu bersama gadis itu.  

   Mereka berdua berjalan sampai kemudian kembali ke pos jaga, tempat di mana sang tamu menunggu. Lalu demi memberikan ruang yang nyaman untuk berbincang, Pak John memilih menyingkir ke area lain untuk melanjutkan pekerjaannya mengecat pot. 

   “...Kak Serena,”

   Mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang, si pemilik nama segera bangkit dari kursi. 

   “Apa kau datang kemari karena kemarin aku mengajukan cuti? Aku minta maaf, tapi aku sungguhan sedang tidak enak badan. Kepalaku pusing dan ada sesuatu yang—”

   Tidak membiarkan Chloe menyelesaikan ucapannya, Serena menyela dengan mengulurkan tangan kanannya, menyodorkan sebuah kotak kecil bermotif bintang. “Aku datang untuk ini,” ujarnya dengan senyum lembut di bibirnya. 

   Chloe terpaku sejenak, tidak langsung menerima pemberiannya. Fokusnya hilang beberapa saat sampai kemudian ia pun tak punya pilihan selain menerimanya dengan ragu.

   “Kau meninggalkannya di kedai. Untung Camilia memberitahuku, jadi aku bisa mengembalikannya padamu.”

   “...Ya, terima kasih, kak.”

   Buku-buku yang dipegangnya nyaris jatuh, Serena segera memperbaiki posisinya sambil berkata, “Urusanku sudah selesai di sini. Aku harus pergi. Sampai nanti.” Dia berbalik badan, beranjak pergi.

   “Kak Serena, tunggu.” Chloe hendak mengejar, namun belum sampai langkah keduanya diambil, Serena sudah berhenti—seperti sudah menduga ia akan mengejarnya. “Aku tahu kau datang kemari bukan hanya untuk ini, pasti ada hal lain.”

   Serena membalikkan badan, hanya mengangkat sudut bibirnya sekilas lalu menghapusnya.

   “Apa ada masalah dengan kedai bakpao? Terakhir kali, pelanggan sangat ramai sampai membuat kita kerepotan. Aku merasa bersalah karena mengambil cuti tanpa—”

   “Tidak ada apa-apa dengan kedai.” Serena menyela lagi, telak membuat Chloe kembali mengatupkan mulutnya. “Aku sedang menghadapi masalah baru-baru ini, jadi aku menutup kedai untuk sementara waktu. Kau bisa cuti sampai aku mengabarimu.”

   Chloe mengangguk.

   “Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Maudy?”

   Bahu Chloe tersentak, sedikit tak menyangka akan mendapat pertanyaan di luar perkiraannya. “..Hu? Kenapa tiba-tiba ... kau menanyakan tentang itu?”

   “Ponselnya tidak aktif sejak dua hari lalu. Bagaimana denganmu? Apa dia menghubungimu?”

   Chloe menggeleng ragu-ragu, tetapi dalam hatinya ia sepenuhnya yakin karena itu memang benar adanya.

   “Kau luang setelah pulang sekolah?”

   “...Jika kau butuh sesuatu, aku bisa luangkan waktu untumu, kak.”

   “Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Aku tahu ... di mana Maudy berada.”

   Pak John membuka sebuah buku tebal yang tampak sudah lusuh. Warna kertasnya bahkan sudah menguning dan beberapa lembarnya ada yang sudah rusak dimakan rayap. Meski begitu, benda itu cukup berharga baginya. Di dalamnya memuat banyak informasi penting tentang semua tamu yang pernah datang berkunjung ke SMA Putri Endley. Selain untuk kenangan pribadi selama ia mengabdi hampir sepuluh tahun di sana, ia juga bersyukur karena buku tersebut sering berguna di saat-saat tertentu—walaupun sedikit dan tak banyak yang menyadarinya. 

   “Kau tidak bohong, kan?” Pak John mengernyitkan dahi, menatap penuh kecurigaan pada seorang pria di hadapannya. Dia mengedarkan pandangannya dari atas rambutnya sampai ke ujung kaki; benar-benar pria yang sempurna. 

   “Aku berkata jujur, pak. Aku putra Bu Kaila, bukan selingkuhan mudanya.”

   “Dasar, kau. Kenapa kau menganggapku seolah aku berpikir begitu?”

   “Kau mencurigaiku terlalu banyak, pak.”

   “Yah, mana kutahu Bu Kaila punya seorang putra.” Pak John membuka lembar kertas baru, kemudian menuliskan nama pria tersebut beserta jam kedatangannya. “Dia tak pernah membahasnya. Terlebih lagi, kau tinggi dan wajahmu, ..cukup tampan. Tiba-tiba aku penasaran bagaimana rupa ayahmu.”

   Tidak ada yang salah dengan ucapan Pak John. Jusrtu karena ia kenal betul dengan Bu Kaila-lah dia bisa berkata begitu. Dia merasa tak menemukan hasil pahatan wajahnya di wajah si pria selain bentuk matanya yang menyerupai kacang almond. Pikirnya pasti sebagian besar ayahnya yang berperan penting dalam menciptakan bibit unggul ini. Namun entah mengapa, pria itu malah bereaksi masam, lalu memalingkan wajahnya seolah beralih untuk menatap hal lain.  

   “Sekarang kau sudah boleh masuk, nak.” Pak John membukakan pintu gerbang, mempersilakan si pria.

   Setelah langkah kakinya melewati batas pintu, pria itu berjalan dengan tatapan kosong. Tampaknya ia sedikit merasa bersalah pada Pak John karena tanpa sadar ia memberikan reaksi tidak enak, padahal Pak John sedang memuji dirinya. Lebih lagi dia hanya tersinggung oleh perasaannya sendiri, lawan bicaranya jelas tidak tahu apa-apa. Hahh, sekarang dia menyesalinya.

   Tuk..! Pria itu mendapatkan kesadarannya kembali setelah ia mendengar bunyi sesuatu di tanah, seperti kakinya baru saja menendangnya. “..Permisi.” Dia mempercepat langkahnya, menghampiri seorang gadis. “Kau menjatuhkan ini.”

   Si gadis tampak linglung, tampak tak fokus saat seorang pria tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia hanya menatap datar tanpa mengatakan apa pun, namun atensinya tertuju pada sebuah kotak bermotif bintang di tangan si pria. 

   “Apa ini milikmu? Aku menemukannya di tanah dan kebetulan kau berjalan tidak jauh dariku.” 

   “...Ah, ya. Ini milikku.” Si gadis mengambil dengan ragu-ragu, seolah tidak yakin dengan kepemilikan benda tersebut. Dia menundukkan kepala sebagai isyarat ucapan terima kasih, lalu pergi.

   Si pria yang masih berdiri di tempat semula hanya menatap nanar punggung gadis itu yang kemudian hilang dari pandangannya. Beberapa saat ia hampir masuk kembali ke dalam lamunannya, seseorang berteriak memanggil namanya. 

   “Loui!”

   Si Pria menoleh secara spontan. Di bawah salah satu pohon magnolia yang rindang, seorang wanita dewasa melambaikan tangan ke arahnya. Wajahnya tampak bersinar hangat saat cahaya matahari menerpanya, meninggalkan semburat halus di pipinya.

   Loui berlari menghampirinya. Tanpa sadar bibirnya membentuk gelombang senyum, membalas sapaan ibunya dari kejauhan. 

   “Kau di sini?” Tangan Bu Kaila secara otomatis terangkat ke udara, merapikan rambut hitam Loui yang sedikit berantakan. “Ini bukan hari libur, kau tidak bekerja?”

   Loui menggeleng. “Aku dipecat dua hari lalu. Aku kemari untuk mencari pekerjaan lain.” 

   “Kau tidak pernah cerita pada ibu bila kau mengalami kesulitan. Sejujurnya ibu terkejut mendengar berita ini. Apa yang telah terjadi? Kau baik-baik saja?”

   Kali ini Loui mengangguk. “Aku hanya...” Belum selesai semua kalimatnya diucapkan, tiba-tiba atensinya beralih menatap dua gadis di kejauhan. Salah satu gadis tampak mengarahkan busur panahnya kepada gadis lain di depannya dengan dahi berkerut dan mata tajam—seperti sedang mencoba memberi pelajaran pada gadis yang meledeknya dengan kata-kata yang tidak dapat didengarnya. Dia tersenyum tipis, bukan tanpa alasan selain ia mengenali kedua gadis itu. 

   Dua hari lalu, di bioskop tempat bekerjanya, dia mendapati keributan sekelompok gadis remaja dengan tiga orang pria dewasa. Mereka berdebat hebat sampai-sampai membuat pengunjung sekitar ketakutan dan akhirnya pemutaran film pun ditunda. Para staf di belakang layar dan juga staf kebersihan buru-buru datang untuk melerai, termasuk dirinya yang saat itu sedang sibuk mengatur para penonton memasuki ruangan. Saat salah satu gadis mencekik pria itu dengan tangan lainnya menggenggam sebuah bolpoin, ia melarang rekannya untuk datang. Menurutnya, para pria itu pantas mendapatnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka ucapkan. Oleh sebab inilah, ia akhirnya dipecat karena dianggap lalai telah membiarkan keributan terjadi.

   “Hanya apa?” tanya Bu Kaila, mengulangi kalimat terakhir putranya yang belum selesai.

   “Ah, bukan apa-apa. Itu bukan hal besar. Aku memang sudah berniat ingin berhenti sejak lama, tapi baru sekarang bisa terwujud. Tidak masalah, kalau aku bekerja di dekat sini, aku bisa lebih sering bertemu ibu.”

   Bu Kaila mencolek ujung hidung Loui, tertawa kecil. “Kau memang benar anakku, suka berbuat sesuka hati.”

   Dalam kehangatan senyumnya, Loui merasakan perubahan ekspresi wajah sang ibu. Secara perlahan garis melengkung di bibirnya memudar, tergantikan oleh kerutan yang tak berarti. 

   “Loui,”

   “Ya, bu.”

   “Ibu menemukan satu orang lagi. Kebetulan, dia adalah seorang guru dan merupakan rekan ibu juga.”

   Loui menatap ibunya dengan lekat, tidak bertanya apa pun, hanya menunggu kalimat berikutnya terucap.

   “Maukah kau tinggal bersamanya menggantikan putranya yang telah tiada?”

   Setengah jam lalu, di bawah cantiknya pohon magnolia yang rindang, berdiri dua wanita dewasa—Bu Kaila dan Bu Tiara. Sebenarnya ada lebih banyak, tetapi kemudian mereka pergi satu per satu karena harus memulai kelas. Maka tinggallah keduanya yang masih erat bercengkrama sambil berbincang. Kelihatannya obrolan mereka serius. Sejak Bu Tiara meminta izin menyita waktu Bu Kaila untuk mengatakan sesuatu, Bu Kaila langsung menghentikan kesibukannya pada kapsul surat. Dia pun membalas bahwa sudah merasakan ada yang aneh darinya selama beberapa hari.  

   Bu Tiara mengangkat kepalanya, menemukan sepasang mata lawan bicaranya yang menunggunya. “Bu Kaila.” Suaranya terdengar parau, seperti sedang berusaha menahan sesuatu di dadanya. “Panti Jompo Evening yang kita bicarakan tempo hari sebenarnya untuk Ibuku.”

   Bu Kaila mengangguk. “Ya, aku tahu. Aku ingat kau sudah mengatakannya padaku.” Dia mengambil beberapa langkah kakinya, mendekatkan jarak di antara mereka. “Bu Tiara, kalau kau hendak berterus terang, katakanlah tanpa keraguan. Tubuhmu akan sakit bila kau menahannya terlalu lama. Tidak apa-apa.”

   “Bu Kaila, ...kau ingat putraku yang pernah kuceritakan padamu?”

   “..James? Ah, benar juga. Kau sudah tidak lagi membicarakannya. Bagaimana dengan gambar-gambar yang dibuatnya? Kau sudah menepati janjimu untuk membukukannya? Aku penasaran. Aku tidak sabar melihatnya.” Bu Kaila tersenyum pada dirinya sendiri, teringat pada terakhir kali ia bertemu James. 

   Anak itu punya senyum manis dan suara yang lembut. Setiap kali melihatnya, ia selalu menitikkan air mata. Dulu, tepatnya saat pertemuan pertama mereka, James sangat galak. Dia memelotot tajam lalu kabur ke belakang ibunya untuk menghindar. Setelah itu dia akan meraung dan berteriak meminta dirinya keluar dari rumah. Bu Kaila tak bisa berbuat apa-apa. Meski sedikit sakit menerima pukulan di kepala dan lengannya, ia tetap bersabar karena memahami bagaimana James memaksudkan hal itu. Lambat laun seiring mereka sering bertemu, James melunak secara perlahan. Sikap-sikapnya mulai membaik dan ia pun mulai percaya bahwa Bu Kaila bukanlah seseorang yang berbahaya. 

   James kini berusia 15 tahun, namun masih belum bisa menulis dan membaca, bahkan berbicara pun baginya adalah hal tersulit. Dia hanya mampu mengekspresikan perasaannya melalui gambar, tak peduli alat apa yang digunakannya untuk membentuk goresan demi goresan. Dari sanalah dia akhirnya dapat membangun dunia miliknya sendiri, lukisan-lukisan yang  menyimpan berbagai emosi; senang, sedih, kesal, hampa, dan takut. 

   Bu Tiara menundukkan kepalanya, sudut matanya tampak memerah oleh semburat halus, membuat dadanya makin terasa sesak. “Aku tidak sempat membukukannya, bu. Aku terlambat.” Kakinya mendadak kehilangan kekuatan, tiba-tiba saja tubuhnya jatuh ke tanah.

   Beruntungnya Bu Kaila berhasil menangkapnya, tetapi dalam sesaat wajahnya menunjukkan kekhawatiran.  

   “Di malam Permainan Kelompok Asrama, saat kita pergi untuk memeriksa keributan di depan gerbang, aku melihat tubuh gadis itu. Gadis yang malang. Dia berkeringat banyak, tetapi telapak tangannya sangat dingin, ...m-mengingatkanku pada saat aku menemukan putraku.”

...• • • • • ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!