NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Slice of Life
Popularitas:283
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.

Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”

Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.

Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”

Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Keluarga Besar

Malam itu restoran yang dipilih oleh keluarga Bayu terlihat jauh lebih ramai dari biasanya. Lampu gantung yang hangat menerangi ruangan, suara orang-orang bercakap-cakap memenuhi udara, dan aroma makanan dari dapur membuat siapa pun yang lewat langsung lapar.

Namun bagi Raka, malam itu tidak terasa seperti makan malam.

Lebih seperti sidang pengadilan keluarga besar.

Ia berdiri di depan restoran bersama Bayu dan Nadia.

Bayu mondar-mandir seperti ayam kehilangan arah.

"Ada dua puluh orang di dalam."

Raka menatapnya datar.

"Kau yakin bukan dua puluh lima?"

Bayu menelan ludah.

"Aku bahkan melihat sepupuku yang biasanya cuma muncul saat lebaran."

Raka menghela napas panjang.

"Aku harusnya tinggal di rumah saja."

Nadia berdiri di antara mereka dengan wajah jauh lebih tenang.

"Tenang saja."

Bayu menatapnya seperti orang tenggelam melihat pelampung.

"Bagaimana bisa tenang?!"

Nadia menjawab santai,

"Karena ini cuma makan malam."

Raka bergumam,

"Ini bukan makan malam. Ini audisi menantu nasional."

Bayu akhirnya menarik napas panjang.

"Oke… kita masuk."

Begitu mereka membuka pintu restoran…

Semua mata langsung menoleh.

Benar saja.

Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi orang.

Paman.

Bibi.

Sepupu.

Bahkan ada seorang nenek dengan rambut putih yang memegang tongkat.

Bayu langsung kaku.

"Itu nenekku."

Raka berbisik,

"Kenapa nenekmu ikut?"

Bayu menjawab pelan,

"Nenek selalu ikut kalau ada drama."

Raka memandang langit-langit.

"Tentu saja."

Ayah Bayu berdiri dari kursinya.

"Bayu."

Bayu berjalan mendekat seperti tahanan yang dipanggil hakim.

"Iya Yah."

Ibunya Bayu tersenyum.

"Nadia, sini duduk di sini."

Ia menepuk kursi di sampingnya.

Nadia berjalan dengan tenang dan duduk di sana.

Raka duduk di ujung meja lagi.

Tempat langganannya.

Tempat figuran.

Seorang paman besar dengan suara keras langsung bertanya,

"Jadi ini pacarnya Bayu?"

Bayu mengangguk.

"Iya."

Paman itu tertawa.

"Wah akhirnya!"

Sepupu perempuan Bayu langsung mendekat.

"Namanya Nadia ya?"

Nadia tersenyum sopan.

"Iya."

Sepupu itu memandang Bayu.

"Aku tidak percaya kau bisa punya pacar secantik ini."

Raka langsung tertawa kecil.

Bayu menendang kaki Raka di bawah meja.

Nenek Bayu yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

Suaranya pelan tapi semua orang langsung diam.

"Nadia."

Nadia menoleh dengan hormat.

"Iya Nek."

Nenek itu menatapnya lama.

Sangat lama.

Raka bahkan berhenti makan.

Lalu nenek berkata,

"Kamu suka Bayu?"

Seluruh meja langsung sunyi.

Bayu hampir jatuh dari kursinya.

Nadia tidak langsung menjawab.

Ia menatap Bayu sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

"Iya."

Meja itu langsung ramai.

"Wah!"

"Akhirnya!"

"Tahun depan nikah!"

Bayu menutup wajahnya.

Raka meminum air dengan cepat.

Tiba-tiba sepupu Bayu yang paling usil bertanya,

"Kalau begitu… kalian pernah bertengkar?"

Bayu membeku.

"..."

Nadia menoleh ke arahnya.

Raka langsung berbisik,

"Ini bagian yang tidak kita latih."

Sepupu itu menyeringai.

"Pasangan pasti pernah bertengkar."

Bayu berkata gugup,

"Tentu saja pernah!"

"Kenapa?"

Bayu berpikir keras.

Raka berbisik pelan,

"Katakan kau lupa ulang tahunnya."

Bayu langsung berkata,

"Aku lupa ulang tahunnya."

Nadia menoleh tajam.

"Kapan?"

Bayu membeku lagi.

"..."

Raka menepuk dahinya.

Nadia menjawab dengan tenang,

"Tanggal 14."

Sepupu itu mengangguk.

"Lalu bagaimana kalian baikan?"

Bayu benar-benar panik sekarang.

Raka menunduk ke arah meja.

"Peluk saja."

Bayu langsung berkata,

"Aku memeluknya."

Semua orang tersenyum.

Ibunya Bayu terlihat sangat bahagia.

Tapi tiba-tiba…

Nenek Bayu berkata lagi.

"Kalian cocok."

Bayu langsung tersenyum lega.

Namun nenek melanjutkan,

"Karena itu aku ingin melihat sesuatu."

Bayu mengernyit.

"Apa Nek?"

Nenek menunjuk mereka berdua.

"Coba kalian berdiri."

Bayu dan Nadia berdiri.

Semua orang menatap.

Raka merasakan firasat buruk.

Nenek tersenyum.

"Pegangan tangan."

Bayu dan Nadia langsung membeku.

Raka hampir tertawa tapi menahannya.

Bayu menatap Nadia panik.

Nadia terlihat berpikir beberapa detik.

Lalu…

Ia menggenggam tangan Bayu.

Meja itu langsung riuh.

"Lucu sekali!"

"Cocok!"

Raka tiba-tiba merasa tenggorokannya kering.

Entah kenapa melihat mereka begitu…

perasaannya terasa tidak enak.

Nadia lalu berkata,

"Sudah, Nek?"

Nenek tertawa kecil.

"Iya."

Mereka duduk kembali.

Raka menatap piringnya.

Makanan yang tadi terasa enak sekarang tiba-tiba hambar.

Makan malam itu akhirnya selesai tanpa rahasia terbongkar.

Setidaknya… untuk saat ini.

Keluarga Bayu mulai pulang satu per satu.

Nenek Bayu bahkan menepuk bahu Nadia.

"Kamu gadis baik."

Nadia tersenyum.

"Terima kasih, Nek."

Di luar restoran, udara malam terasa lebih dingin.

Bayu langsung melonjak kegirangan.

"KITA SELAMAT!"

Ia memeluk Raka.

Raka mendorongnya.

"Jangan peluk aku."

Bayu tertawa lega.

"Aku hampir mati tadi."

Nadia tersenyum kecil.

"Berlebihan."

Bayu menatapnya dengan penuh terima kasih.

"Kau luar biasa."

Raka hanya diam.

Ia menatap jalan.

Nadia memperhatikannya.

"Kau kenapa?"

Raka mengangkat bahu.

"Tidak apa-apa."

"Yakin?"

Raka tersenyum kecil.

"Iya."

Tapi senyum itu tidak sepenuhnya tulus.

Karena malam itu…

untuk pertama kalinya…

Raka mulai merasa benar-benar cemburu.

Dan tanpa mereka sadari…

seseorang sebenarnya sudah mulai mencurigai sandiwara mereka.

Seseorang yang diam-diam memperhatikan sepanjang makan malam tadi.

Seseorang yang tidak mudah dibohongi.

Nenek Bayu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!