Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Detektif Jas Hitam dan Jarum Pentul
Sisa-sisa kegembiraan dari acara memasak kemarin masih terasa di ujung lidah Nika, namun suasana itu menguap seketika saat ia menginjakkan kaki di butiknya pagi ini. Pintu kaca yang biasanya bersih mengkilap kini penuh dengan coretan lipstik merah, dan yang lebih menyakitkan, manekin utama di etalase depan—yang mengenakan gaun mahakarya untuk koleksi musim depan—telah digunting-gunting kainnya hingga menjadi rumbai-rumbai tak beraturan.
"Mbak Nika..." Maya, asistennya, mendekat dengan mata sembab. "Bukan cuma di depan. Sistem komputer kita juga kena hack. Semua desain digital Mbak yang belum rilis... hilang."
Nika terdiam di tengah ruangan. Ia tidak menangis. Kemarahannya sudah melampaui air mata. Ia menyentuh sisa kain sutra yang hancur itu dengan tangan bergetar. Ini bukan sekadar vandalisme; ini adalah upaya untuk membunuh jiwanya sebagai seniman.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar. Devan masuk dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Ia tidak bertanya apa yang terjadi, ia cukup melihat kerusakan di sekelilingnya untuk mengerti.
"Siska sudah melacak alamat IP yang masuk ke sistemmu semalam," ucap Devan tanpa basa-basi, ia menarik Nika ke dalam pelukannya sebentar untuk memberikan kekuatan. "Ini dilakukan secara profesional. Sangat rapi."
"Papa..." bisik Nika di dada Devan. "Atau Rendy. Mereka tahu butik ini adalah hidupku."
Devan melepaskan pelukannya, menatap mata Nika dengan intensitas yang membuat Nika merasa aman. "Kalau begitu, kita tidak bisa membiarkan polisi saja yang bekerja. Hari ini, aku akan jadi asisten pribadimu. Aku ingin melihat siapa saja yang masuk dan keluar dari gedung ini dalam tiga hari terakhir melalui rekaman CCTV cadangan yang tidak mereka ketahui."
Maka, dimulailah hari yang sangat tidak lazim di butik "Arunika". Devan, sang CEO yang biasanya duduk di kursi kulit empuk sambil menandatangani kontrak triliunan rupiah, kini duduk di sebuah kursi mungil berwarna merah jambu di sudut ruang jahit. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung, dengan sebuah laptop di pangkuannya dan segelas kopi pahit di sampingnya.
"Mas, kamu yakin mau di sini seharian?" tanya Nika sambil mencoba merapikan kain yang tersisa.
"Aku asistenmu hari ini, ingat?" Devan melirik ke arah Maya yang sedang sibuk. "Maya, tolong bawakan draf inventaris kain bulan ini. Aku mau mencocokkan kode barangnya."
Maya melongo, menatap Nika seolah bertanya: Apakah bos besar ini serius? Nika hanya mengangguk pasrah.
Kehadiran Devan di butik menciptakan situasi komedi tersendiri. Setiap kali ada pelanggan yang masuk—yang tidak tahu siapa Devan—mereka akan menatap pria itu dengan kagum sekaligus bingung.
"Mbak, asisten barunya ganteng sekali, tapi kenapa auranya seperti mau memecat orang?" bisik salah satu pelanggan tetap Nika saat Devan menatapnya dengan pandangan mengintimidasi karena ia terlalu lama memegang-megang kain sutra mahal.
"Mas! Jangan menatap pelanggan seperti itu! Kamu membuat mereka takut!" tegur Nika sambil mencubit pinggang Devan diam-diam.
"Dia sudah memegang kain itu selama lima belas menit tanpa niat membeli, Ni. Itu tidak efisien," jawab Devan dengan wajah datar.
Puncaknya adalah ketika Nika kesulitan mengukur panjang kain pada manekin karena tangannya penuh dengan jarum pentul. Devan berdiri, meletakkan laptopnya, dan mendekat.
"Sini, biar aku bantu," ucap Devan.
"Mas, ini bukan pasang fondasi jembatan. Harus pelan-pelan," Nika memperingatkan.
Devan berlutut di lantai, memegang ujung kain dengan sangat hati-hati. Pemandangan itu sangat kontras: pria setinggi 185 cm dengan bahu lebar, sedang fokus memegang kain sifon tipis sambil mengerutkan kening seolah sedang memecahkan kode nuklir.
"Ini namanya draperi, Mas. Bukan tarik tambang," goda Nika saat melihat Devan menarik kainnya terlalu kencang.
"Diamlah. Aku sedang menghitung sudut kemiringan kain ini agar jatuh secara simetris menurut hukum gravitasi," balas Devan serius.
Nika tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang. Di tengah sabotase yang menghancurkan hatinya, Devan ada di sana—bukan hanya sebagai pelindung, tapi sebagai sahabat yang rela melakukan hal-hal konyol untuknya.
Sore harinya, saat suasana butik mulai sepi, Devan memanggil Nika ke meja komputernya. Wajahnya berubah menjadi mode detektif yang sangat tajam.
"Aku menemukannya," ucap Devan pelan. "Ada satu kurir yang masuk membawa paket bunga kemarin sore. Dia tidak terekam di buku tamu, tapi dia sempat berhenti lama di dekat server Wi-Fi kalian. Lihat ini."
Devan menunjukkan rekaman CCTV yang sudah diperbesar. Si kurir memang memakai seragam resmi, namun ada satu detail yang tidak luput dari mata teliti Devan. "Dia pakai sepatu boots proyek standar internasional, Ni. Sepatu yang sama dengan yang dipakai anak buah Rendy di pelabuhan waktu itu."
Nika menutup mulutnya. "Jadi benar... ini Rendy."
"Dia sengaja menyerang butikmu agar perhatianku teralih dari proyek Bali yang sedang mereka sabotase besar-besaran sore ini," Devan berdiri, ia mengambil jasnya yang tersampir di kursi. "Tapi dia salah perhitungan. Dia pikir aku akan membiarkanmu menangis sendirian di sini sementara dia beraksi di sana."
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Nika cemas.
Devan mendekat, mencium dahi Nika dengan sangat lama. "Aku akan menyelesaikan ini, Sayang. Kamu tetaplah di sini, jaga 'kerajaan' kecilmu. Biarkan aku mengurus tikus-tikus itu."
Sebelum pergi, Devan menoleh ke arah manekin yang rusak tadi. "Dan Ni... soal gaun itu. Jangan dibuang. Rumbai-rumbai yang digunting itu... kalau kamu tambahkan beberapa payet perak di ujungnya, aku rasa akan jadi tren baru yang sangat berani. Seperti istrimu."
Nika terpaku melihat suaminya pergi. Ia menatap manekin yang rusak itu, lalu tersenyum tipis. Devan benar. Apa yang dimaksudkan untuk menghancurkannya, justru bisa ia ubah menjadi sesuatu yang baru dan lebih kuat.
Nika mengambil jarum dan benangnya. "Maya! Jangan sedih lagi. Ambilkan aku payet perak yang paling berkilau. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa 'Arunika' tidak bisa dihancurkan hanya dengan gunting karatan!"