NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback

Helena—

Adalah siswi yang terkenal pendiam di kelasnya.

Ketika semua murid sibuk dengan aktivitas dan atribut masa remajanya, Helena hanya sibuk dengan buku-buku pengetahuannya.

Mengejar nilai tertinggi dan peringkat terbaik adalah impiannya.

Entah sudah berapa banyak buku yang ia habiskan, sampai akhirnya penglihatannya tak lagi sebaik dulu, memaksanya memakai kacamata minus sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Si kutu buku.

Julukan itu sudah terdengar biasa di telinganya.

Ia tak lagi peduli pada omongan teman-temannya.

Ia hanya punya satu atau dua teman dekat. Baginya, terlalu banyak bergaul justru akan mengganggu waktu belajarnya.

Sebagian dari mereka bahkan memilih menjauh.

Helena dianggap membosankan—terlalu diam, terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri.

Sampai kemudian pria itu datang.

Mengulurkan tangan disaat yang lain menjauhi.

Gavin—

Ketua OSIS di SMA itu.

Ia dikenal ramah dan cukup pintar.

Gavin adalah kakak kelas Helena.

Pria itu selalu mencuri pandang kepada gadis kutu buku itu.

Awalnya Helena mengabaikannya, sampai...

"Berhenti menatapku."

Ucap Helena yang sedang membaca buku di perpustakaan.

Dari kejauhan terlihat Gavin hanya berpura-pura membaca padahal ia sedang memperhatikan gadis kaca mata itu.

Gavin langsung menundukkan kepalanya kembali pada buku di mejanya.

Helena melangkah ke belakang, mencari buku yang berada di deretan lemari yang berjejer.

Tangannya ingin meraih buku yang berada dibagian atas lemari.

Kakinya menjinjit untuk mengambil buku itu.

Tiba-tiba sosok laki-laki berdiri disampingnya, wajahnya sangat dekat hingga mereka bisa saling merasakan nafas satu sama lain.

Gavin meraih buku itu lalu memberikan pada Helena.

Helena tersipu malu, "makasih."

Ucapnya singkat.

Ia lalu melangkah pergi, namun belum sempat kaki itu melangkah lebih jauh, tangannya ditarik dari belakang.

Membuat tubuh Helena mendekap dada Gavin.

"Tali sepatu kamu."

Ia tiba-tiba berjongkok di hadapannya, membuat Helena sedikit terkejut. Tanpa meminta izin, jemarinya meraih tali sepatu Helena yang terlepas.

Dengan gerakan tenang, ia mengikatnya satu per satu, rapi dan hati-hati—seolah hal kecil itu adalah sesuatu yang berharga.

Itu adalah momen yang menjadi awal hubungan mereka menjadi lebih serius.

Helena merasa nyaman selama berada di sisi Gavin, karena laki-laki itu cukup pintar—Helana merasa beruntung karena bisa banyak belajar padanya.

Gavin sangat menyayangi gadis itu.

Baginya Helena adalah cinta pertamanya yang terlalu indah jika sekedar disebut cinta monyet.

Hubungan mereka terus berlanjut hingga berpisah karena Gavin lulus dari SMA.

Ia melanjutkan kuliah di universitas negeri di Bandung.

Mereka saling berjanji akan berada di universitas yang sama.

Sampai tiba masa kelulusan Helena.

Ia mendapatkan peringkat tertinggi, dan meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di universitas Gadjah Mada, Jogja.

Saat itu, hubungan mereka terjebak dalam dilema yang tak menemukan jalan keluar.

Berada di universitas ternama adalah impian Helena. Namun terus berpisah dengan Gavin adalah bentuk luka yang paling dalam.

Sampai akhirnya keputusan itu datang.

Helena tetap memilih mengambil beasiswa itu, dan untuk sementara waktu mereka berpisah untuk kembali bertemu lagi di masa mendatang.

Hubungan yang mereka pikir bisa tetap berjalan dengan baik melalui ponsel.

Ternyata tidak semulus harapannya.

Seiring berjalannya waktu.

Gavin lebih sulit untuk dihubungi, kadang-kadang Helena juga terlalu sibuk untuk memberikan kabar.

Sampai hari dimana Gavin akhirnya lulus S1.

Helena sengaja datang ke Bandung untuk menghadiri acara wisuda Gavin.

Ia ingin membuat kejutan untuk kekasihnya, datang tanpa memberi kabar.

Namun alih-alih ingin memberikan kejutan—

Justru dirinyalah yang mendapatkan kejutan paling menyakitkan.

Di sesi momen pemotretan dengan para keluarga dari wisudawan.

Ada perempuan yang berdiri di samping Gavin.

Tangan Gavin memeluk pinggang perempuan itu, begitupun sebaliknya.

Saat sesi pemotretan selesai, Gavin mencium kening perempuan itu.

Di sanalah waktu seolah berhenti—tepat ketika Helena menyadari, bahwa dirinya bukan lagi satu-satunya.

Jadi… semudah itu ya?

Helena menatap tanpa benar-benar melihat.

Senyum di wajah Gavin, yang dulu terasa begitu hangat, kini seperti sesuatu yang asing—bukan untuknya, tapi untuk orang lain.

Padahal kita belum selesai…

Tidak ada kata putus.

Tidak ada perpisahan.

Tidak ada penjelasan.

Tapi kenapa rasanya… semuanya sudah benar-benar berakhir?

Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang diremas pelan namun terus-menerus.

Ia ingin marah.

Ingin menghampiri.

Ingin menuntut penjelasan.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Apa aku yang terlalu diam… sampai kamu merasa bebas pergi tanpa pamit?

Atau memang sejak awal… ia hanya tempat singgah?

Helena menunduk, menahan sesuatu yang perlahan naik ke matanya.

Namun air itu tidak jatuh.

Lucu ya…

Yang seharusnya jadi milikku… kini berdiri di sana, mencium kening orang lain, seolah aku tidak pernah ada.

Dan yang paling menyakitkan bukanlah pemandangan itu—

melainkan kenyataan bahwa ia masih berdiri di tempat yang sama…

sementara Gavin sudah melangkah jauh, tanpa pernah menoleh lagi.

Sejak saat itu, Helena melangkah pergi meninggalkan semua kenangannya di sana.

Beberapa tahun kemudian.

Ia terperanjat ketika melihat perempuan yang dulu pernah menjadi lukanya.

Adalah seorang senior ditempat ia bekerja.

Awalnya ia penasaran apakah perempuan masih memiliki hubungan dengan Gavin.

Ia lalu mendekatinya, dan menawarkan diri untuk menjadi partner kerja sekaligus sahabat.

Sampai kemudian, di suatu malam…

Helena berdiri di depan rumah perempuan itu.

Ia tidak benar-benar tahu apa yang ia cari.

Mungkin hanya ingin memastikan bahwa semua ini tidak seburuk yang ia pikirkan.

Bahwa laki-laki itu… bukan dia.

Dengan langkah ragu, ia masuk.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencoba mencari jawaban yang sejak tadi ia hindari.

Hingga langkahnya terhenti.

Di dinding itu—

berjejer rapi beberapa foto pernikahan.

Dan di sana…

Terpampang jelas sebuah foto.

Gavin.

Berdiri di samping Aluna, mengenakan pakaian pengantin, tersenyum seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Saat melihat kenyataan itu, Helena berusaha ikhlas.

Karena ia menemukan sosok pria yang mirip dengan Gavin—

Revan.

Atasan tim kreatif.

Sikap humoris Revan dan cara ia memperlakukan Helena dengan hati-hati, mampu membuatnya jatuh hati.

Namun lagi-lagi...

Aluna.

Mengacaukan semua hal yang ia sukai.

Lagi-lagi… dia.

Helena tersenyum tipis, namun matanya dingin.

Kenapa harus Aluna?

Dari dulu…

apapun yang ia inginkan, yang ia perjuangkan

selalu berakhir di tangan perempuan itu.

Apa aku kurang berusaha?

Atau memang… aku tidak pernah cukup?

Tangannya mengepal perlahan.

Ia sudah mencoba mengalah.

Sudah mencoba berpura-pura tidak peduli.

Tapi kenyataannya…

semua itu tetap kembali padanya.

Selalu Aluna.

Tawa kecil keluar dari bibirnya, hambar.

Lucu.

Seolah dunia ini dengan sengaja mempermainkannya—memberinya harapan,

hanya untuk melihatnya direbut begitu saja.

Dan kali ini…

bukan hanya hal kecil.

Orang yang ia inginkan…

perasaan yang ia jaga…

Semua kembali jatuh ke tangan yang sama.

Matanya menajam.

Tidak.

Kali ini ia tidak akan diam.

Kalau dunia terus memilih Aluna—

maka untuk sekali ini saja…

biar aku yang mengambilnya kembali.

Bibirnya melengkung tipis.

Bukan lagi senyuman.

Tapi awal dari sesuatu yang perlahan berubah…

menjadi dendam.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!