NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Kebangkitan Dewi Jatuh dan Awal Perjalanan Baru

“ratri bisakah kau merubah wujudmu yang bentuk remaja saja?” Tanyaku pada Ratri

Lalu Ratripun mengangguk, memahami kekhawatiranku. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan."

Dia menutup matanya sejenak, dan tubuhnya yang tinggi semampai serta... sangat memesona itu mulai diselubungi kabut perak tipis. Ketika kabut itu menghilang, yang berdiri di depanku kini adalah seorang gadis remaja dengan tinggi yang hampir sejajar denganku, sekitar 167 cm. Wajahnya masih sangat cantik, tapi dalam kesan yang lebih sederhana dan tidak terlalu menyilaukan. Rambut peraknya kini dipotong sebahu, dan dia mengenakan tunik dan celana panjang sederhana yang terbuat dari kain kasar, cocok untuk perjalanan.

"Gimana?" tanyanya, dengan suara yang sekarang lebih muda, cocok dengan penampilan barunya. "Masih mencolok?"

Aku menganggup, lega. "Ini jauh lebih baik. Perfect. Kecuali untuk rambut silver-nya sih, tapi gue rasa kita bisa tutupin pake hood atau sesuatu nanti."

Dengan formasi baru—aku di depan, diikuti Eveline dengan cadarnya, dan Ratri dalam wujud remajanya—kami mulai menjelajahi pulau lebih dalam. Yang kami temui hanyalah reruntuhan demi reruntuhan. Fondasi bangunan batu yang hancur, tiang-tiang patah, dan sisa-sisa dinding yang ditutupi lumut tebal dan akar pohon yang menjalar. Suasana sepi dan muram, hanya dipecah oleh langkah kaki kami dan desir angin yang menyusuri puing-puing.

"Pulau ini dulunya ramai," ucap Ratri tiba-tiba, suaranya lirih dan penuh kenangan pahit. "Sebelum Kekaisaran Aethelgard datang."

Dia berhenti di depan fondasi sebuah bangunan yang besar. "Mereka ingin mengontrol pulau ini. Katanya, pulau ini adalah 'titik lemah' dalam struktur realitas, tempat di mana kekuatan besar bisa disalurkan. Tapi leluhur kami menolak."

Dia menunduk, mengambil segenggam tanah. "Maka, datanglah pasukan Kekaisaran. Mereka tidak main-main. Mereka membumihanguskan segalanya. Mereka tidak ingin ada yang tersisa."

Aku bisa membayangkannya. Api membara, teriakan, dan denting pedang.

"Lalu... penduduknya?" tanyaku, hampir tidak ingin tahu jawabannya.

Ratri menghela napas panjang, matanya kosong. "Yang melawan, dibunuh di tempat. Laki-laki yang tidak melawan, ditangkap dan dikirim ke tambang di kadipaten terpencil untuk bekerja sampai mati." Suaranya bergetar. "Para wanita... dan gadis-gadis kecil... mereka... diperkosa berulang kali oleh para prajurit, lalu dijadikan budak atau dijual ke rumah bordil di seluruh kekaisaran."

Perutnya sendiri mual mendengarnya. Ini bukan lagi cerita sejarah. Ini adalah kekejaman yang nyata. Ratri, dalam wujud aslinya yang dewasa, mungkin telah menyaksikan semua itu. Atau bahkan... mengalami sendiri.

"Aku... satu-satunya yang tersisa," bisiknya, suara nyaris tak terdengar. "Karena aku adalah Penjaga. Aku terikat pada pulau ini. Mereka tidak bisa membawaku pergi, dan mereka tidak bisa membunuhku dengan mudah. Jadi, mereka mengurungku di sini, dengan cara mereka sendiri. Menjebakku dalam wujud anak kecil dan membiarkanku terkungkung dalam kesendirian, dikelilingi oleh hantu-hantu masa lalu."

Sekarang aku mengerti. Mengapa dia begitu kesepian. Mengapa dia begitu haus akan cerita dan hubungan dari dunia luar. Dia adalah satu-satunya saksi bisu dari sebuah pembantaian, terkurung di kuburan massal bangsanya sendiri selama berabad-abad.

"Kita akan temukan jawabannya, Ratri," ucapku, meletakkan tangan di bahunya yang sekarang tidak setinggi dulu. "Bukan cuma untuk gue, tapi juga untuk pulau ini. Untuk kenangan orang-orang yang mati di sini."

Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya, ada api kecil yang menyala di matanya—bukan api ilusi, tapi api tekad yang nyata.

Perjalanan kami terus berlanjut, menyusuri lorong-lorong yang dulu mungkin adalah jalanan ramai, melewati bangunan-bangunan yang dulu mungkin adalah rumah atau kuil. Setiap puing seakan bercerita tentang sebuah peradaban yang dihapus dengan kejam. Dan di tengah semua kehancuran itu, kami bertiga—si Pembangkit, sang Putri Mayat Hidup, dan sang Penjaga yang Terluka—berjalan mencari kebenaran yang bisa mengubah segalanya.

Setelah berjalan menyusuri reruntuhan yang semakin dalam, kami tiba di sebuah tebing. Di balik selembar akar gantung yang lebat, tersembunyi sebuah mulut gua yang gelap dan sempit, hampir tidak terlihat.

"Ini dia," bisik Ratri, suaranya bergetar campur gugup dan harap. "Tempat dimana 'jasad'-ku, wujud fisik asliku, disegel."

Aku mengerutkan kening. "Jasad? Tapi lo kan ada di sini, dalam wujud... apa ini?" Aku menunjuk tubuh remajanya.

"Ini hanyalah proyeksi, wujud jiwa ku yang bisa berubah-ubah. Inti dari keberadaanku, tubuh fisik yang membuatku terikat pada pulau ini, ada di dalam sana."

Masih waspada, aku memerintahkan Eveline untuk masuk lebih dulu. Dengan api kecil di ujung jarinya yang menerangi kegelapan, kami memasuki gua itu. Udara di dalamnya dingin dan berdebu. Gua itu tidak dalam, dan di ujungnya, di sebuah ruangan kecil, ada sebuah batu kristal besar berwarna biru pucat, setinggi dada manusia. Kristal itu tampak tua dan berdebu, dan di dalamnya, samar-samar terlihat siluet seorang wanita yang sedang meringkup dalam posisi tidur. Itu bukan tubuh fisik yang utuh, melainkan lebih seperti inti energi yang terbungkus dalam kristal.

"Jadi... ini 'tubuh'-mu yang asli?" tanyaku takjub.

Ratri mengangguk. "Ya. Untuk membawaku keluar dari pulau ini, segel pada kristal ini harus dibuka. Tapi..." dia menunduk, "begitu segel terbuka, kekuatanku yang sepenuhnya akan kembali. Dan aku tidak bisa menjamin... aku akan tetap menjadi 'Ratri' yang kau kenal sekarang. Mungkin ada sisi lain dari diriku yang selama ini terpendam."

Aku langsung tegang. "Jadi intinya, gue berisiko melepaskan 'monster' yang bisa mengancam dunia?"

"Bisa jadi," jawabnya jujur.

Sial. Ini pilihan yang sulit. Apakah aku percaya padanya? Atau lebih baik meninggalkannya di sini, mengutuknya untuk kesendirian abadi, demi keamanan dunia?

"Gue butuh jaminan," kataku akhirnya. "Perjanjian yang lebih kuat."

"Aku bersedia membuat Perjanjian Darah," usul Ratri dengan serius. "Dengan itu, aku akan terikat padamu sepenuhnya. Aku akan menuruti semua perintahmu, tanpa terkecuali. Bahkan..." dia melirikku, "...nafsu seksual manusia sekalipun, jika itu yang kau inginkan."

"WOI!" batinku langsung berteriak. Gambaran tubuh dewasanya yang sempurna tadi tiba-tiba melintas di pikiranku, dan godaan itu... sangat nyata. Tapi hampir seketika, nurani dan imanku berteriak lebih kencang. "JANGAN! Itu namanya nyalahin kepercayaan dan nafsu! Gila lo!"

Aku menarik napas dalam, mencoba tenang. "Ratri, janji-janji seperti itu... jangan diucapkan saat posisi kita tidak seimbang. Lo lagi putus asa, gue lagi punya kekuasaan. Itu nggak sehat. Dan gue nggak mau hubungan kita berdasarkan itu."

Aku memandangnya. "Gue cuma mau satu: janji bahwa lo nggak akan bikin ulang. Nggak akan menggunakan kekuatan lo untuk hal-hal jahat atau merugikan orang lain tanpa alasan yang jelas. Sederhana saja. Apa lo bisa janji itu?"

Ratri terdiam sejenak, lalu tersenyum, sebuah senyum tulus yang menghangatkan ruangan gua yang dingin. "Janji yang jauh lebih bijaksana. Ya, aku berjanji. Aku, Ratri Nirmayasha, berjanji untuk tidak akan membuat ulah atau menggunakan kekuatanku untuk kejahatan setelah segel ini terbuka."

"Oke. Sekarang, gimana caranya buka segel ini dan bikin Perjanjian Darah itu?"

"Langkahnya sederhana," jelas Ratri. "Pertama, ambil setetes darahmu dan tempelkan pada titik paling terang di permukaan kristal ini." Dia menunjuk sebuah titik yang berkilau lembut di tengah kristal. "Itu akan membuka segel. Lalu, sebelum kekuatanku benar-benar bebas, ambil lagi setetes darah yang sama, dan tempelkan di jari tengah tangan kananku. Ikatan perjanjian akan terbentuk saat itu juga."

Kedengarannya mudah. Tapi hatiku masih dag-dig-dug. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku?

Dengan jantung berdebar kencang, aku menggoreskan ujung pisau kecil di jari telunjukku. Sebuah tetes darah merah segar menetes. Dengan napas tertahan, kuulurkan tanganku, dan menempelkan darah itu ke titik terang di kristal biru itu.

BRRRRRRMMMM!

Getaran rendah mengguncang seluruh gua. Kristal biru pucat itu mulai retak, memancarkan cahaya keemasan dari dalam. Retakan itu melebar, dan cahaya itu semakin terang, memaksa aku untuk menyipitkan mata. Eveline langsung siaga, posisinya melindungi di depanku.

Lalu, kristal itu pecah berantakan, tapi serpihannya tidak berhamburan. Mereka menguap menjadi kabut emas yang berputar-putar. Di tengah pusaran cahaya itu, sosok siluet di dalam kristal perlahan turun dan berdiri.

Cahaya itu meredup, dan akhirnya, wujud asli Ratri Nirmayasha berdiri di hadapanku.

Dan... astaga.

Ini bahkan lebih dari yang kubayangkan. Wujud dewasanya tadi masih terasa seperti "manusia yang sangat cantik". Tapi yang ini... berbeda. Tingginya masih sekitar 180 cm, tapi sekarang dia terlihat lebih... permanen. Seolah-olah kecantikannya diukir langsung oleh alam semesta. Kulitnya benar-benar sempurna, rambut peraknya memancarkan kilauannya sendiri, dan yang paling membuatku terpana adalah matanya. Warna korneanya adalah emas murni yang berkilauan, seperti dua matahari kecil. Saat tatapan emas itu menemuiku, sebuah tekanan tak terlihat langsung menghantam diriku. Bukan ancaman, tapi sebuah wibawa yang begitu besar, begitu kuno, dan begitu suci, sehingga lututku hampir saja lunglai. Aku secara refleks menunduk, memalingkan wajahku, tidak sanggup menatapnya langsung.

Dia melayang mendekatiku, kakinya bahkan tidak menyentuh tanah. Suaranya, yang sebelumnya sudah merdu, kini terdengar seperti paduan suara surgawi yang lembut.

"Tuanku."

"Yooooooo! Kok gini?!" teriakku spontan, masih menunduk. "Tadi kan udah deal pake nama Rian! Kok tiba-tiba 'Tuanku'? Jangan bikin gue merinding gini!"

Ratri—atau sosok dewi di depanku—tersenyum. Senyuman itu masih hangat, tapi sekarang penuh dengan kesadaran dan kekuatan yang baru saja pulih.

"Kau adalah Pembebasku," ujarnya, suaranya penuh hormat. "Kekaisaran Aethelgard tidak bisa membunuhku, karena aku adalah Dewi Jatuh. Mereka hanya bisa menyegel kekuatanku dan mengurungku dalam wujud yang lemah. Dengan membebaskanku, kau telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan siapa pun selama berabad-abad. Panggilan 'Tuanku' adalah yang paling pantas."

 Dewi Jatuh?! Jadi selama ini gue ngobrol sama seorang dewi?!

"L-Lo... beneran dewi? Dan punya sekte dan segala macam?" tanyaku, masih setengah tidak percaya.

"Ya, dahulu," akuinya. "Tapi ajaranku sederhana: cinta damai, belas kasih, dan membela diri. Aku tidak mengajarkan perang ofensif atau penaklukan."

"Nah, itu bagus tuh! Kalau cuma defend, wajar dong. Melindungi diri dan rakyat sendiri itu hak."

"Tepat. Itulah yang terjadi. Kekaisaran menuntut kami tunduk dan menyerahkan kedaulatan pulau ini. Mereka ingin mengontrol 'titik lemah' realitas di sini. Rakyatku menolak. Aku, sebagai pemimpin dan pelindung mereka, tentu saja berdiri di garda terdepan. Perang yang terjadi adalah perang mempertahankan tanah air dan kebebasan, bukan perang agresi."

Mendengar penjelasannya, nalarku langsung memahami. "Ooooh, paham. Jadi lo dulu kayak... pemimpin spiritual dan politik sini yang anti dijajah. Bukan sekte aneh-aneh yang nyari masalah."

Ini masuk akal. Dalam sejarah dunia gue pun, perlawanan terhadap penjajah ya wajar. Alasannya jelas: mempertahankan kedaulatan. Nggak ada bangsa yang mau didikte sama bangsa lain, apalagi diserang seenaknya. Ratri, sebagai pemimpin, punya tanggung jawab untuk membela rakyatnya. Gabung sama kekaisaran yang jelas-jelas mau menjajah? Itu namanya bunuh diri pelan-pelan.

"Gue ngerti," ucapku akhirnya, memberanikan diri untuk menatapnya lagi. Wibawanya masih kuat, tapi sekarang aku bisa menahannya. "Lo cuma mau rakyat lo aman dan merdeka. Itu alasan yang bener. Nggak ada yang salah."

Ratri (atau harusnya gue panggil Dewi sekarang?) tersenyum lega, cahaya emas di matanya berkedip lembut. "Terima kasih, Tuanku, telah memahami."

Sekarang, kelompokku bertambah satu anggota lagi: seorang Dewi Jatuh yang baru saja dibebaskan. Perjalanan ini semakin gila saja. Tapi dengan kekuatan di pihakku, mungkin—hanya mungkin—aku punya kesempatan untuk menghadapi Kekaisaran Aethelgard dan menemukan jalan pulang.

Melihat wujud asli Ratri yang begitu agung dan penuh wibawa, aku merasa semakin kikuk. Bagaimana bisa aku, seorang mantan buruh pabrik, berbicara begitu saja dengan seorang dewi? Apalagi dengan dia memanggilku "Tuanku". Itu terasa... salah dan tidak natural.

"Ratri, dengar," ucapku, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku...aku nggak nyaman lo panggil gue 'Tuanku'. Dan wujud lo yang sekarang... terlalu... wah. Bisa narik perhatian yang nggak kita inginkan. Bisa lo balik lagi ke wujud remaja yang tadi? Yang sepantar sama gue. Biar kita lebih... low profile."

Ratri, atau Dewi Nirmayasha, memandangiku dengan tatapan emasnya yang dalam. Tidak ada tersinggung, justru ada understanding di sana. "Seperti yang kau perintahkan."

Dia menutup mata sebentar. Kali ini, tidak ada pancaran cahaya atau kabut dramatis. Tubuhnya yang tinggi dan agung seolah menyusut dengan halus, proporsional, dan dalam beberapa detik, yang berdiri di depanku kembali adalah gadis remaja dengan tinggi 170 cm, wajah cantik nan sederhana, dan rambut perak sebahu. Hanya satu yang tetap: matanya. Warna emasnya masih bersinar lembut, mengingatkanku pada siapa dia sebenarnya.

Aku mengamatinya dari ujung kepala sampai kaki. "Hmmm," gumamku, mengangguk pelan. "Masih cantik juga sih. Tapi aku jujur loh, ini lebih nyaman buat gue. Jadi kita kayak... temen seperjalanan aja, bukan majikan dan dewi."

Mendengar pujaanku yang jujur itu, senyuman merekah di bibir Ratri. Bukan senyuman dewi yang penuh wibawa, tapi senyuman gadis remaja yang tulus dan hangat, membuat matanya yang emas itu berbinar lebih cerah. "Pujian yang sederhana darimu terasa lebih tulus daripada pujian para penyembahku dulu. Terima kasih, Rian."

Dia tidak memanggilku 'Tuanku'. Aku lega.

Sekarang, giliran Eveline. Dia masih dalam mode tempur penuh, mata merah menyala dan aura mematikan yang terpancar kuat. Meski melindungiku, kehadirannya dalam kondisi seperti itu juga bisa memicu kepanikan.

"Eveline," panggilku. "Situasi sudah aman. Turunkan kewaspadaanmu ke mode biasa."

Eveline menoleh padaku, mata merahnya yang seperti bara itu berkedip sekali. Lalu, secara perlahan, warna merah itu meredup dan berubah kembali menjadi biru pucat yang biasa kulihat. Tubuhnya yang tegang pun melunak, kembali ke postur anggun namun datar yang kukenal. Aura mematikan itu menghilang, digantikan oleh kekosongan yang biasa.

"Mode biasa diaktifkan," ujarnya dengan suara datar.

Sekarang, kami bertiga berdiri dalam formasi yang lebih "normal". Aku, Rian, pemuda biasa. Ratri, gadis remaja bermata emas yang cantik tapi tidak mencolok. Dan Eveline, wanita dengan cadar dan tatapan biru yang kosong.

"Oke," ucapku, menarik napas lega. "Dengan begini, kita bisa keluar dari pulau ini tanpa bikin keonaran. Tujuan kita tetap sama: cari tahu tentang para Pendatang Celah lainnya, dan cari jalan buat gue pulang."

Ratri mengangguk antusias. Eveline hanya diam, siap mengikuti ke mana pun aku pergi.

Dengan dua "wanita" luar biasa di sampingku, aku merasa sedikit lebih percaya diri menghadapi dunia besar dan berbahaya di luar pulau kabut ini. Misi pencarian kebenaran dan jalan pulang resmi dimulai.

Dengan formasi baru yang sudah "dinormalisasi", kami bertiga akhirnya meninggalkan gua. Saat melangkah keluar, ada perbedaan yang langsung kurasakan. Kabut putih yang sebelumnya menyelimuti pulau seolah-olah hidup, kini terlihat lebih... tunduk. Mereka berpisah dengan sendirinya membentuk jalur jelas di depan kami, seakan menghormati kehadiran Ratri dalam wujud dewinya yang telah bebas.

"Luar biasa," gumamku, melihat fenomena itu.

"Itu karena sang Penjaga, inti dari pulau ini, kini telah berjalan di sampingmu," jelas Ratri dengan suara lembut. "Pulau ini mengenalinya."

Perjalanan menuju pantai terasa jauh lebih mudah dan cepat. Kami tidak lagi tersesat atau diganggu oleh bisikan-bisikan aneh. Saat sampai di tepi pantai, "Si Bandel", perahu tua kami, masih terikat di sana dengan aman. Ombak laut yang dulu kelabu dan berbahaya, kini terlihat lebih tenang.

"Kita akan kemana sekarang, Rian?" tanya Ratri saat kami membetulkan tali perahu.

Aku mengeluarkan peta kadipaten Lindenroth yang sudah usang. Mataku tertuju pada sebuah lokasi yang jauh di utara, berbatasan dengan lautan es.

"Ke sini," kataku, menunjuk sebuah daerah bernama Frostwind Expanse. "Menurut catatan yang kubaca di arsip, ini adalah daerah terpencil dan paling tidak ramah di kadipaten Lindenroth. Jika Budi Santoso atau Pendatang Celah lainnya ingin bersembunyi, tempat seperti inilah yang paling mungkin."

"Daerah itu dikuasai oleh suku-suku barbar dan makhluk buas," komentar Ratri, yang tampaknya masih ingat geografi wilayahnya. "Bahkan Kekaisaran pun kesulitan menancapkan kuku di sana."

"Justru itu bagus," jawabku. "Tempat yang sempurna untuk menghilang."

Eveline, yang sudah duduk di perahu dengan tenang, hanya mengangguk pelan. "Aku akan mengikutimu, Tuanku."

Dengan bantuan angin sepoi-sepoi yang seolah dikirimkan oleh pulau ini sendiri, kami mulai berlayar meninggalkan Pulau Yang Terlupakan. Aku berdiri di buritan, memandang pulau itu yang perlahan-lahan kembali diselimuti kabut, menyembunyikan kembali rahasia-rahasianya.

Di dalam hati, tekadku semakin membara. Aku akan menemukan kebenaran. Tentang para Pendatang Celah, tentang kekuatanku, dan tentang jalan pulang. Dengan seorang dewi dan seorang revenant di sampingku, perjalanan ini mungkin masih penuh bahaya, tapi setidaknya aku tidak lagi sendirian.

Perahu "Si Bandel" membelah ombak, membawa kami menuju petualangan baru dan bahaya yang lebih besar di daratan beku utara. Pencarian untuk menemukan sisa-sisa "orang sepertiku" telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!