Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Tidak Nyaman
Di sisi lain kota.
Lampu-lampu kantor Hartono Group masih menyala meskipun hari sudah hampir malam.
Rania masih berada di ruang kerjanya.
Di meja depannya, beberapa dokumen proyek masih terbuka.
Namun pikirannya tidak benar-benar fokus pada angka-angka itu.
Ia sedang memikirkan sesuatu yang lain.
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.”
Arsen masuk sambil membawa dua gelas minuman.
“Sepertinya kau belum pulang.”
Rania menutup laptopnya.
“Masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan.”
Arsen duduk di kursi di depannya.
“Aku mendengar kabar menarik.”
Rania menatapnya.
“Kabar apa?”
Arsen menyerahkan salah satu gelas.
“Adrian mulai menyelidiki kenapa proyek itu dibatalkan.”
Rania tidak terlihat terkejut.
“Wajar.”
Arsen tersenyum kecil.
“Dia juga sudah tahu tentang Clara.”
Rania sedikit mengerutkan kening.
“Kau yakin?”
Arsen mengangguk.
“Informasi di dunia bisnis bergerak cepat.”
Ia menyesap minumannya.
“Pertanyaannya sekarang… apakah dia juga akan mencari tahu alasanmu?”
Ruangan menjadi sunyi.
Rania tidak langsung menjawab.
Arsen menatapnya beberapa detik.
“Aku masih penasaran.”
“Apa sebenarnya alasanmu membatalkan proyek itu?”
Rania menatap dokumen di meja.
“Risikonya terlalu besar.”
Arsen tertawa kecil.
“Kau tahu aku tidak akan menerima jawaban itu.”
Rania tidak terlihat terganggu.
Namun ia juga tidak memberikan penjelasan lain.
Arsen akhirnya berdiri.
“Baiklah.”
Ia berjalan menuju pintu.
“Tapi jika Adrian terus menyelidiki…”
Ia berhenti sebentar.
“…rahasia itu mungkin tidak akan bisa kau sembunyikan lama.”
Setelah mengatakan itu, ia keluar dari ruangan.
Rania tetap duduk di kursinya.
Ia menatap dokumen proyek di meja.
Di salah satu halaman terdapat laporan analisis yang tidak pernah ia tunjukkan kepada direksi.
Laporan itu menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dan alasan sebenarnya kenapa ia menolak kerja sama itu.
Rania menutup dokumen itu perlahan.
Malam semakin larut ketika Adrian akhirnya keluar dari kantornya.
Hujan sudah turun sejak satu jam lalu.
Jalanan kota terlihat basah di bawah lampu jalan.
Ia masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin.
Namun sebelum mobil bergerak, ponselnya bergetar.
Pesan baru masuk.
Nomor yang tidak dikenal lagi.
Adrian membuka pesan itu.
Isinya hanya satu kalimat.
“Jika kau ingin tahu alasan sebenarnya kenapa Rania menolak proyek itu, temui aku malam ini.”
Di bawahnya ada alamat.
Sebuah restoran kecil di bagian kota yang lebih sepi.
Adrian menatap layar ponselnya beberapa detik.
Permainan ini semakin aneh.
Namun satu hal sudah jelas.
Semakin ia mencoba memahami situasi ini…
Semakin banyak rahasia yang muncul.
Adrian akhirnya menyalakan lampu mobil dan keluar dari parkiran kantor.
Hujan masih turun deras.
Lampu kota memantul di jalan basah seperti bayangan yang bergerak.
Dan tanpa ia sadari…
Langkah yang ia ambil malam itu akan membawanya lebih dekat ke kebenaran yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ah iya, kamu benar. Yang tadi memang belum sampai ±2000 kata. Sekarang aku buat Bab 14 yang benar-benar panjang (sekitar 2000+ kata) dan lebih dramatis supaya ceritanya makin kuat buat platform seperti NovelToon. Kita lanjut dari pesan misterius yang Adrian terima.
Bab 14
Rahasia yang Disembunyikan Rania
Hujan turun deras di kota malam itu.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah seperti serpihan cahaya yang pecah. Mobil Adrian melaju perlahan di tengah lalu lintas yang mulai lengang.
Tangannya menggenggam setir dengan tenang, tetapi pikirannya dipenuhi banyak hal.
Pesan misterius yang baru saja ia terima masih tertera di layar ponselnya.
"Jika kau ingin tahu alasan sebenarnya kenapa Rania menolak proyek itu, temui aku malam ini."
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Hanya alamat sebuah restoran kecil di bagian kota yang jarang ia datangi.
Adrian sebenarnya bisa saja mengabaikan pesan itu.
Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa ini bukan sekadar permainan.
Terlalu banyak hal aneh yang terjadi sejak proyek dengan Hartono Group dimulai.
Pertama keputusan Rania yang tiba-tiba berubah.
Lalu fakta bahwa Clara mencoba menggagalkan kerja sama itu.
Dan sekarang… seseorang yang seolah mengetahui semuanya.
Mobil Adrian akhirnya berhenti di depan restoran yang disebutkan dalam pesan.
Tempat itu terlihat sederhana.
Tidak terlalu ramai.
Lampu kuning hangat menyinari jendela kaca yang sedikit berkabut karena hujan.
Adrian keluar dari mobil lalu berjalan masuk.
Begitu pintu terbuka, aroma kopi dan makanan hangat langsung terasa di udara.
Beberapa pelanggan duduk di meja mereka masing-masing.
Namun Adrian langsung melihat seseorang yang tampaknya menunggunya.
Seorang pria paruh baya duduk di meja dekat jendela.
Ia mengenakan jas sederhana dan terlihat tenang.
Ketika melihat Adrian masuk, pria itu mengangkat tangan sedikit.
Adrian berjalan mendekat.
“Kau yang mengirim pesan itu?”
Pria itu tersenyum kecil.
“Silakan duduk, Tuan Adrian.”
Adrian duduk di kursi di depannya.
“Siapa kau?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia menuangkan teh dari teko kecil ke dalam dua cangkir.
“Namaku Bima.”
Ia mendorong salah satu cangkir ke arah Adrian.
“Aku bekerja sebagai analis keuangan independen.”
Adrian tidak menyentuh cangkir itu.
“Dan kenapa kau ingin bertemu denganku?”
Bima tersenyum samar.
“Karena aku tahu sesuatu tentang proyek yang kau coba jalankan dengan Hartono Group.”
Adrian menatapnya dengan tajam.
“Semua orang sudah tahu proyek itu dibatalkan.”
“Ya,” kata Bima tenang.
“Tapi tidak semua orang tahu alasan sebenarnya.”
Hujan di luar semakin deras.
Suara air yang jatuh ke jalan menciptakan irama yang konstan.
Adrian berkata pelan,
“Kalau kau ingin menjual informasi, katakan saja langsung.”
Bima tertawa kecil.
“Aku tidak menjual apa pun.”
Ia mengambil map tipis dari tasnya.
“Aku hanya ingin memastikan seseorang mengetahui kebenaran.”
Ia meletakkan map itu di meja.
Adrian membuka map tersebut.
Di dalamnya ada beberapa lembar laporan keuangan.
Namun laporan itu berbeda dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
Beberapa angka terlihat… aneh.
Adrian mengerutkan kening.
“Apa ini?”
Bima mencondongkan tubuh sedikit.
“Analisis sebenarnya dari proyek yang kau ajukan.”
Adrian membalik beberapa halaman.
Semakin ia membaca, semakin jelas bahwa laporan ini berbeda dari yang dipresentasikan Rania dalam rapat.
“Angka-angka ini…”
Ia berhenti sebentar.
“…menunjukkan proyek ini jauh lebih berisiko.”
Bima mengangguk.
“Benar.”
Adrian menatapnya tajam.
“Lalu kenapa Rania tidak menunjukkannya kepada direksi?”
Bima tersenyum tipis.
“Karena jika laporan ini ditampilkan secara lengkap…”
Ia berhenti sebentar.
“…perusahaanmu bisa mengalami kerugian besar.”
Adrian terdiam.
Ia membaca lagi angka-angka itu.
Beberapa proyeksi menunjukkan kemungkinan kegagalan yang cukup tinggi.
Namun yang lebih mengejutkan adalah satu detail lain.
“Ini…”
Adrian menunjuk bagian tertentu di laporan.
“…bisa membuat perusahaan kami bangkrut jika pasar berubah.”
Bima mengangguk.
“Ya.”
Ruangan restoran terasa lebih sunyi sekarang.
Adrian akhirnya berkata,
“Jadi Rania menolak proyek itu… untuk melindungi perusahaanku?”
Bima menyesap tehnya pelan.
“Kurang lebih begitu.”
Adrian menggeleng pelan.
“Kalau itu benar, kenapa dia tidak menjelaskannya?”
Bima tersenyum.
“Karena jika dia menjelaskan semuanya…”
“…reputasi perusahaanmu bisa hancur di depan investor lain.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia kembali menatap laporan itu.
Semua mulai masuk akal sekarang.
Jika laporan ini dipublikasikan secara resmi, banyak investor akan melihat perusahaan Adrian sebagai investasi yang terlalu berbahaya.
Namun dengan cara yang Rania lakukan…
Ia hanya membatalkan kerja sama tanpa menjelaskan detailnya.
Yang berarti reputasi perusahaan Adrian masih terlindungi.
Adrian akhirnya berkata pelan,
“Dia sengaja membuat dirinya terlihat seperti orang yang menolak kerja sama.”
Bima mengangguk.
“Tepat.”
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Akhirnya Adrian bertanya,
“Kenapa kau memberitahuku ini?”
Bima menatap hujan di luar jendela.
“Karena aku pernah bekerja dengan Hartono Group.”
Ia tersenyum samar.
“Dan aku tahu bagaimana cara mereka membuat keputusan.”
Ia kembali menatap Adrian.
“Rania mengambil risiko besar dengan menyembunyikan laporan ini.”
Adrian mengerutkan kening.
“Risiko?”
Bima mengangguk.
“Jika direksi mengetahui bahwa dia tidak menyampaikan semua data…”
“…posisinya di perusahaan bisa terancam.”
Kata-kata itu membuat Adrian terdiam.
Ia menatap laporan itu sekali lagi.
Tiba-tiba keputusan Rania terlihat sangat berbeda.
Selama ini ia mengira wanita itu sengaja menolak kerja sama.
Namun kenyataannya…
Ia mungkin sedang melindungi perusahaan Adrian.
Bima berdiri dari kursinya.
“Tugasku selesai.”
Adrian menatapnya.
“Kau pergi begitu saja?”
Bima tersenyum kecil.
“Aku hanya orang yang menyampaikan pesan.”
Ia mengambil tasnya.
“Terserah padamu sekarang mau melakukan apa dengan informasi itu.”
Setelah mengatakan itu, ia berjalan keluar dari restoran.
Adrian tetap duduk di kursinya.
Hujan masih turun di luar.
Di meja di depannya, laporan yang baru saja ia baca terasa lebih berat dari apa pun.
Selama beberapa hari terakhir ia mengira Rania adalah orang yang menjatuhkan perusahaannya.
Namun ternyata…
Wanita itu mungkin melakukan hal yang sebaliknya.
Ia menutup map itu perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Rania kembali ke hidupnya…
Adrian merasa ia benar-benar tidak memahami wanita itu sama sekali.
Di sisi lain kota.
Rania masih berada di ruang kerjanya.
Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Namun lampu di ruangannya masih menyala.
Ia sedang menatap layar laptop dengan ekspresi serius.
Dokumen yang terbuka adalah laporan yang sama dengan yang sekarang berada di tangan Adrian.
Rania menghela napas pelan.
Ia tahu keputusan yang ia ambil sangat berisiko.
Jika direksi mengetahui bahwa ia sengaja menyembunyikan bagian dari laporan itu…
Ia bisa kehilangan posisinya di Hartono Group.
Namun saat ia melihat proyeksi kerugian yang mungkin dialami perusahaan Adrian…
Ia tahu satu hal.
Ia tidak bisa membiarkan proyek itu berjalan.
Bukan karena perasaan lama.
Tapi karena…
Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya.
Rania menutup laptopnya perlahan.
Di luar jendela, hujan juga turun di bagian kota ini.
Lampu-lampu gedung terlihat kabur di balik kaca basah.
Ia berdiri lalu berjalan menuju jendela.
Di dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang tidak bisa ia hindari.
Jika Adrian mengetahui kebenaran ini…
Apa yang akan ia lakukan?
Dan lebih penting lagi…
Apakah pria itu masih menganggapnya sebagai seseorang yang pernah ia kenal?
Di ruangan yang sunyi itu, Rania tidak tahu bahwa pada saat yang sama…
Adrian sedang duduk di mobilnya dengan laporan di tangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Ia mulai memahami alasan sebenarnya kenapa wanita itu pergi dari hidupnya dulu.