Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Tekanan di dalam kabin pesawat terasa menekan gendang telinga Felysha saat suara gemuruh dari roda pendaratan yang keluar mulai terdengar di bawah lantai kabin. Ia menoleh ke arah jendela kecil di samping kursi kelas bisnisnya, melihat hamparan awan putih yang perlahan-lahan menipis, menampakkan garis-garis daratan Eropa yang tertutup kabut tipis musim gugur. Di hadapannya, layar monitor kecil masih menampilkan peta penerbangan yang menunjukkan posisi pesawat kini berada tepat di atas wilayah udara Prancis.
Felysha meraba cincin berlian yang melingkar di jari manisnya, memutarnya perlahan-lahan seolah-olah tindakan itu bisa mengurangi rasa sesak di dadanya. Berlian itu memantulkan cahaya lampu kabin yang temaram, memberikan kilauan yang tajam dan dingin. Belasan jam penerbangan dari Jakarta dilewatkan Felysha dengan menatap kosong ke arah langit, menolak hampir semua tawaran makanan mewah dari pramugari karena perutnya terasa sangat kaku.
Guncangan keras saat ban pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Charles de Gaulle menyentak tubuhnya sedikit ke depan. Bunyi deru mesin yang melambat dan desisan sistem pengereman memenuhi seisi ruangan. Pesawat perlahan-lahan bergerak menuju garbarata, meninggalkan jejak air di atas aspal yang basah oleh sisa hujan. Felysha menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa udara kabin yang kering, namun yang ia rasakan hanyalah sensasi dingin yang merambat dari telapak kakinya.
Saat ia melangkah keluar dari pesawat, udara Paris yang tajam langsung menusuk pori-pori wajahnya yang hanya dilindungi oleh lapisan tipis makeup. Aroma bandara yang khas—perpaduan antara aroma bahan bakar jet, parfum mahal dari toko bebas bea, dan bau kopi yang kuat—menyambut indra penciumannya. Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju area imigrasi dengan langkah yang terasa agak limbung. Kakinya yang mengenakan bot kulit terasa kaku, setiap ketukan tumitnya di atas lantai marmer terdengar sangat nyaring di telinganya.
Setelah melewati pemeriksaan paspor yang sangat formal, Felysha berdiri di dekat ban berjalan untuk mengambil koper-kopernya. Ia melihat satu per satu koper penumpang lain lewat, hingga akhirnya koper besarnya yang berwarna biru dongker muncul. Baru saja ia hendak menarik pegangannya, sebuah tangan pria yang mengenakan lengan kemeja putih bersih sudah lebih dulu mengambil alih beban itu.
"Nona Felysha Anindhita?"
Felysha tersentak pelan dan menoleh. Di sampingnya berdiri seorang pria dengan perawakan tegap, mengenakan jas hitam kaku yang sangat rapi. Pria itu memiliki wajah tanpa ekspresi, dengan mata yang tajam namun profesional.
"Saya Andre. Tuan Julian menugaskan saya untuk menjemput Anda dan memastikan Anda sampai di apartemen dengan selamat," ucap pria itu sambil membungkuk sedikit, memberikan kesan yang sangat formal.
Felysha hanya mengangguk tipis sebagai jawaban. Ia tidak perlu bertanya bagaimana pria ini bisa mengenalinya di tengah kerumunan. Julian pasti sudah mengirimkan foto profilnya secara detail, mungkin beserta jadwal harian yang harus ia jalani mulai besok. Andre dengan sigap mengangkat semua koper Felysha seolah-olah beratnya tidak ada artinya, lalu memberi isyarat agar Felysha mengikutinya menuju area parkir.
Sebuah sedan hitam mewah dengan kaca yang sangat pekat sudah menunggu di sana. Andre membukakan pintu belakang untuk Felysha, menunggunya masuk sepenuhnya sebelum menutup pintu dengan suara deb yang solid dan kedap suara. Di dalam mobil, aroma parfum kayu cendana bercampur dengan aroma kulit kursi yang baru menyeruak, menciptakan atmosfer yang terasa sangat steril.
"Perjalanan ke apartemen akan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, Nona. Tergantung pada kemacetan di Périphérique," Andre berbicara dari kursi pengemudi tanpa menoleh.
Felysha menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin. Ia memperhatikan jalanan Paris yang mulai menampakkan wajahnya saat mereka keluar dari area bandara. Bangunan-bangunan tua dengan atap seng berwarna kelabu, balkon besi tempa yang indah di setiap jendela apartemen, hingga kafe-kafe kecil dengan kursi yang menghadap ke jalan raya. Semuanya terlihat sangat indah, seperti yang sering ia lihat di film-film romantis, namun bagi Felysha, keindahan itu terasa sangat jauh dan hampa.
Mobil melaju membelah jalanan kota, melewati arondisemen demi arondisemen hingga akhirnya memasuki kawasan arondisemen ke-16, daerah pemukiman elit yang tenang dan elegan di dekat sungai Seine. Andre menghentikan mobil di depan sebuah gedung apartemen bergaya kuno dengan pintu masuk terbuat dari kayu ek hitam yang besar. Seorang penjaga gedung berseragam menyapa mereka dengan ramah, memberikan kunci kepada Andre.
Mereka menaiki lift kecil menuju lantai lima. Saat Andre membuka pintu apartemen, Felysha terpaku di ambang pintu. Ruangannya jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Plafonnya tinggi dengan hiasan gips yang rumit di sekeliling lampu gantung kristal. Jendela-jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit menghadap langsung ke arah Menara Eiffel yang terlihat menjulang tinggi di kejauhan, puncaknya sedikit tertutup oleh awan abu-abu.
"Ini tempat tinggal Anda, Nona. Tuan Julian sudah memastikan semua fasilitas tersedia. Di dapur sudah ada stok makanan untuk seminggu, dan meja kerja di sudut sana sudah dilengkapi dengan peralatan desain terbaru," Andre meletakkan koper di kamar tidur, lalu kembali ke ruang tamu. "Saya akan pamit sekarang. Nomor saya sudah tersimpan di telepon rumah. Tekan angka satu jika Anda butuh sesuatu."
Setelah Andre pergi dan pintu apartemen tertutup rapat, Felysha merosot hingga terduduk di lantai beralaskan karpet tebal itu. Kesunyian ruangan mewah itu mendadak terasa sangat menekan ulu hatinya. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang indah ini—furnitur modern dengan sentuhan klasik, vas bunga mawar merah yang sudah ditata di atas meja makan, hingga lilin aroma terapi yang belum dinyalakan. Semuanya terlalu sempurna untuk seseorang yang merasa hancur di dalam.
Ia bangkit dengan langkah gontai, berjalan menuju jendela besar. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela yang dingin, menatap ke arah jalanan Paris di bawah sana. Ia melihat orang-orang berjalan dengan payung mereka, beberapa orang tertawa sambil bergandengan tangan menuju stasiun Metro. Kebebasan itu terasa hanya sebatas kaca tipis di hadapannya, namun ia tahu ia tidak bisa meraihnya.
Julian memberinya kemewahan ini bukan tanpa maksud. Setiap inci apartemen ini adalah bentuk pengawasan. Ia merasa ada ribuan mata yang menatapnya dari setiap sudut ruangan, melaporkan setiap embusan napasnya kepada Julian di Jakarta.
Felysha melangkah menuju meja kerja yang disebutkan Andre tadi. Di sana, sebuah laptop canggih dan tumpukan kertas sketsa mahal tertata rapi. Ia menyentuh permukaan meja kerja itu dengan jemarinya yang gemetar. Ia mencoba mengingat alasan mengapa ia sangat ingin datang ke kota ini dulu. Ia ingin menjadi desainer besar. Ia ingin karyanya dipakai oleh orang-orang hebat. Namun sekarang, impian itu terasa ternoda oleh fakta bahwa ia berada di sini sebagai hasil dari sebuah transaksi bisnis.
Ia merogoh ponselnya saat benda itu bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari Julian.
Felysha menarik napas panjang, merapikan rambutnya sebentar lewat pantulan layar ponsel, lalu menekan tombol terima. Wajah Julian muncul di layar, pria itu tampak sedang berada di kantornya di Jakarta, dengan latar belakang jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Sudirman yang mulai diterangi lampu kota.
"Selamat datang di Paris, Fely," ucap Julian dengan senyum tipis yang terlihat sangat puas. "Bagaimana apartemennya? Kamu suka pemandangannya?"
"Suka, Julian. Terima kasih banyak," jawab Felysha dengan suara yang diusahakan terdengar ceria.
"Bagus. Beristirahatlah. Besok Andre akan mengantarmu ke kampus untuk pendaftaran ulang. Jangan mencoba pergi sendirian, Paris bisa sangat membingungkan bagi orang baru. Dan ingat, kirimkan foto apa pun yang kamu beli besok kepadaku. Aku ingin memastikan seleramu tetap terjaga."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Felysha meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang lemas. Ia berjalan menuju balkon, membuka pintu kacanya perlahan hingga angin dingin Paris masuk menyerbu ruangan. Ia berdiri di sana, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Kota Cahaya ini sekarang menjadi rumahnya, sekaligus penjara barunya. Ia memejamkan mata, membiarkan dinginnya angin malam membasuh wajahnya, sambil bertanya-tanya di dalam hati; akankah ia tetap menjadi Felysha yang sama setelah melewati musim gugur pertamanya di kota ini?