Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
***
Alana langsung menyambut kedatangan rekan Rayan. Di ikuti Miska dan suaminya.
"Yogi."
"Rayan" Suami Miska dan Rayan saling bersalaman, di ikuti Miska yang juga memperkenalkan dirinya.
Rayan membawa tamu nya masuk ke dalam rumah mereka. Sementara Alana langsung di tahan oleh Miska. "Gile suami lo capek banget njirr. Lebih capek aslinya ketimbang foto yang lo kirim. " Alana langsung mendelik, melirik sahabatnya dengan sinis membuat Miska tergelak. "Jangan bilang lo cemburu."
Tak!
Alana langsung menoyor pelan kening sahabatnya itu membuat Miska mendengus.
Bilang aja lo cemburu, gengsi amat. batin Miska geleng kepala.
"Lauren mana sih."
"Di jalan, paling bentar lagi sampai dia. Ayo masuk dulu. " Ajak Alana
Kedua nya lantas masuk, namun baru saja mereka gabung dengan yang lain suara Lauren membuat mereka menoleh tanpa terkecuali.
"Kevin auntie is coming. " Serunya bersemangat, namun setelah itu dia meringis malu. Di mana para rekan Rayan ikut melihat ke arah nya. Wajah Lauren langsung memerah.
Sial gue malu maluin di depan cowok cowok tampan. Aghh bodo amat. Dumelnya dalam hati.
Namun bukan namanya Lauren jika tidak bisa mengendalikan dirinya meski pun sudah malu. Lauren berdehem. "Sorry gue telat. " Kata nya seraya mendekat pada semuanya.
"Nggak papa, santuy. " Sahut Alana langsung cipika cipiki dengan Lauren di ikuti Miska.
"Kenalin suami gue. " Kata Alana yang kebetulan sang suami berada di samping nya.
"Ommoo... cakep juga suami lo." Goda Lauren membuat mata Alana melotot garang. Lauren lantas tergelak. Sambil menyodorkan tangannya pada Rayan, ia menyampirkan rambutnya ke samping telinga. Sementara pria itu hanya menggaruk pelipisnya singkat mendengar ucapan sahabat istrinya itu.
"Saya Lauren sahabat baik Alana." Kata nya dengan tersenyum manis, berniat mengerjai Alana.
Tangan Rayan sudah di udara, namun tangan Alana lebih dulu menyalami tangan Lauren.
"Rayan namanya, loh udah tau kan." Tutur Alana.
Rayan mengulum bibirnya ke dalam, menahan rasa bahagia di dalam benak nya. Alana sepertinya mulai tertarik dengannya. Nampak sekali seperti sedang cemburu.
"Haissshhh... Ko lo sih, kan gue mau salaman sama suami lo" Kata nya dengan lembut, terdengar sangat menyebalkan di telinga Alana.
"Nggak usah kecentilan." Galak Alana tanpa sadar membuat Lauren terkekeh geli.
"Ohhh ok ok." Sahut Lauren menarik tangannya dari tangan Alana yang sedang meremas tangan nya.
"Dia cemburu. " Bisik Miska pada Lauren, yang di balas anggukan singkat dari sahabat nya itu.
"Uuuhh ponakan aunty." Lauren langsung mendekat ke arah Kevin yang sedang duduk di samping Ajril. Tanpa rasa malu Lauren langsung duduk di samping Kevin, di antara Ajril dan memeluk Kevin dengan erat.
"Om tolong." Kata Kevin merasa sesak. Anak Alana itu menatap Ajril dengan memelas. Sementara Ajril bingung sendiri pria itu menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Nona tolong lepas, kasian dia kegencet." Tutur Ajril.
Lauren langsung mengendurkan pelukannya. Dia menoleh ke kebelakang, seraya memperbaiki duduknya. Kevin menghembuskan nafas lega. Sahabat mommy nya memang yang satu ini agak laen jika sudah bertemu dengan nya. Heboh sendiri.
Jarak Lauren begitu dekat membuat Ajril gugup sendiri.
"Kita belum kenalan ya? Kenalin nama gue Lauren, umur 30 tahun, single alias jomblo. " Miska dan Alana menepok jidat mereka masing masing melihat kelakuan sahabat nya itu.
Sementara Ajril langsung menerima uluran tangan Lauren. Dan mengikuti gaya perkenalan Lauren barusan."Ajril, umur 35 tahun, duda tanpa anak. Masih sendiri, kalau mau PDKT boleh. Berapa nomor sepatu nya? " Lauren langsung tergelak dan memukul lengan Ajril cukup kuat. Sementara Ajril melotot tak percaya, karena tabokan Lauren lumayan berasa.
Agak laen ni cewek. Untung nya cantik.
Rayan yang mendengar sahabat nya itu meladeni Lauren, geleng kepala saja.
"Kok nomor sepatu sih, kenapa nggak no rek aja mas. " Kekeh nya di akhir kata.
Mas. Dio, Bobi dan Tomi saling pandang seakan mereka berbicara dengan tatapan.
Sementara Ajril sempat tertegun mendengar panggilan itu. Hanya sesaat, karena dia langsung merespon kembali ucapan Lauren.
"Ouhh boleh boleh, tapi jadi istri gue dulu."
Plak!
Ajril meringis karena tangan Lauren kembali berulah. Lengannya di geplak oleh gadis itu. Seketika Ajril bergeser ke samping, mendekati Dio.
"Kenapa lo bang. " Kekeh Dio mengejek. Suara Dio pelan hanya dapat di dengar oleh Ajril.
"Tangannya pedes banget, suka KDRT. " Bisik Ajril membuat Dio menahan tawa nya. Sementara yang lain hanya menjadi pendengar saja sejak tadi.
Rayan dan Alana mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah di sediakan.
"Mas mau makan apa?" Tanya Alana, membuat Rayan yang sedang berbicara dengan Yogi suami Miska menoleh.
"Apa aja yang kamu siapkan mas makan."
Oh dia nyebut dirinya mas di saat ramai saja. Batin Alana mengingat saat bertemu dengan Bian dan Caca, Rayan melakukan hal yang sama. Mengubah penyebutan yang biasa 'saya' jadi 'mas'.
Wanita itu lantas mengangguk. Menyusul Miska, dan Lauren yang sedang mengambil makanan.
Mereka menikmati makan malam bersama sambil berbincang bincang di selingi canda tawa.
***
Bian termenung di ruang kerja nya. Sambil membuka sosmed milik Alana yang lama. Tak ada informasi yang dia dapat di sana.
Setelah pertemuan nya kemarin, entah mengapa Bian terusik dengan kehadiran Alana.
Untuk ke kediaman tante nya juga Bian belum ada waktu ke sana. Setelah Alana tak ada memang Bian beberapa kali sudah datang ke sana. Papi Wibowo sama sekali tidak keberatan, lantaran memang tak ada Alana di sana kala itu.
Mengingat wajah Alana saat menatap nya kemarin, terlihat jelas bagaimana sepupunya itu menatap nya dengan terluka. Namun sebisa mungkin adik nya itu memberikan senyuman palsu. Sejak Alana dari kecil, ia sangat mengetahui karakter Alana seperti apa. Sangat mudah baginya menilai adiknya itu.
Bian kembali membuka sosmed Rayan berharap di sana dapat sesuatu yang bisa mengali informasi. Namun sama sekali tak membuahkan hasil.
Lantas pria itu kembali membuka akun profil instag*am Alana yang sempat ia buka tadi. Di sana hanya postingan Alana sepuluh tahun yang lalu. Tangan nya berselancar di layar persegi panjang itu.
Ada satu foto Alana dengan latar pantai. Gadis itu bergaya samping dan memberikan caption di bawah nya. 'Mencintai mu tak bisa ku hindari, meskipun sudah ku coba. Semakin ku ingin membuang rasa itu, justru yang terjadi perasaan ku semakin dalam.'
Bian meremat ponselnya, ada rasa bersalah yang luar biasa dengan apa yang sudah terjadi. Namun kembali lagi takdir menentukan jalan mereka seperti ini.
Bian juga tidak bisa mengontrol perasaan Alana yang begitu mencintai nya. Sampai di mana malam itu Alana dengan keadaan sangat sadar menyerahkan dirinya, bahkan sama sekali tak ada penyesalan.
Sungguh Bian sejak itu sulit untuk tidur nyenyak. Di tambah Alana yang pergi dari kota ini. Segala pikiran mengganjal di sana. Bian dengan setengah kesadaran saat itu, ia tidak tahu apa sudah mengeluarkan di dalam atau di luar. Dia tak ingat sama sekali.
Jujur pembahasan anak Alana yang di katakan Caca, sang istri sekilas mirip dirinya, membuat perasaan nya tak menentu.
Apa mungkin?
Sayang nya dia belum ada bertemu Alana, mungkin jika ada waktu luang dia ingin bicara dengan wanita itu.
***
"Enak juga brownis lo." Kata Miska yang di setujui oleh Lauren. Kedua nya itu menikmati makanan penutup yang di buat Alana.
"Kalian suka." Kedua nya mengangguk. "Entar gue bungkusin buat lo pada. Soalnya gue buat lumayan banyak. "
"Thank you bestoyy." Alana mengangguk kepala.
"By the way bang Ajril emang duda ya? " Tanya Lauren membuat Alana menatap sahabat nya itu.
"Gue nggak tahu. Nggak pernah tanya. Lo tertarik sama dia?" Tanya Alana balik dengan menyipitkan kedua matanya menatap curiga pada Lauren.
"Dia tampan sih." Alana dan Miska geleng kepala saja. Lauren memang mudah oleng kalau sudah melihat cowok tampan. Namun sayang, Lauren tak pernah mau serius menjalin hubungan sampai saat ini.
"Entar lah gue tanya mas Ray. "
"Ciee mas Ray nggak tuh. " Kekeh Lauren dan Miska menggoda sahabatnya membuat wajah Alana bersemu. "Lo sudah ada rasa ya sama paksu lo." Tanya Miska, membuat Alana terdiam.
Wanita itu tak dapat menjawab. Dia masih merasa abu abu dengan perasaannya bersama Rayan. Kalau di bilang dia nyaman, mungkin karena terbiasa.
"Lo belum sadar aja. Sepertinya bang Rayan mempunyai perasaan sama lo." Ucap Miska kembali.
"Ya, gue bisa liat dia sering curi pandang sama lo." Sambung Lauren.
"Masa sih? " Kata Alana . Mereka bertiga berada di kitchen , sehingga sangat santai mengobrol tanpa di dengar para lelaki. Karena yang lain ada di ruang keluarga.
"Ya, kita bukan anak kemarin sore kali." Sanggah Miska dengan malas.
"Ya tahu tahu, lo berdua banyak pengalaman, apalah gue ini yang minus hal itu." Lirih Alama.
"Sorry bukan kita ngecengin lo." Sahut Miska
"Gue tahu. " Sela Alana yang paham keduanya sama sekali tak membahas pengalaman percintaan nya dengan pria mana pun. Sehingga minus pengetahuan.
"Ya, elu minus karena hanya berjalan di tempat. Ayo lah Na, masa lo masih cinta sama orang yang bahkan sama sekali nggak tanggepin lo dari dulu. Liat noh dia sudah bahagia, lo sendiri cerita. " Kata Miska blak blakan. Miskah gemes sendiri dengan Alana yang masih terjebak sama perasaan nya sendiri.
Alana bungkam, dia hanya bisa diam. Karena apa yang di katakan Miska benar adanya.
"Apa lo masih cinta sama dia?" Tanya Lauren menatap lekat ke arah Alana. "Jangan mentang mentang dia ayah biologis nya Kevin membuat lo masih punya perasaan sama tu orang. Hayolah Na sadar. Dia sudah beristri, tembok kalian dari dulu tinggi." Sahut Lauren tak kalah gemes, menimpali kembali.
Jujur saja baik Miska dan Lauren ingin sekali menghantup kepala Alana ke dinding. Sangking gemesnya, agar wanita itu melupakan Bian yang jelas jelas sudah bahagia. Mana sudah tuir. Tapi emang sih Bian sudah kepala empat, tak bisa mereka elak memang Bian tampan bahkan semakin berkharisma di umurnya yang segitu.
"Hati hati lo Alana, kalau sampai menyia nyiakan bang Rayan . Saat ini gue siap mungut dia jadi suami gue." Sambung Lauren kembali, kali ini dengan serius membuat Alana menatap datar ke arah sahabatnya itu. Namun Lauren hanya membalas dengan mengedikan bahu acuh.
Biar sahabat nya itu sadar dan tak menyesal.