Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tamu Pertama dan Tangan Pertama
Pagi menyingsing, sinarnya menembus celah jendela dan menyinari ruang batu yang kini telah kembali tenang. Jiang Chen membuka matanya. Tidak ada lagi kelelahan di wajahnya, hanya energi yang melimpah dan aura yang tajam. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya, dan mendengar suara ledakan kecil seperti petasan dari persendiannya.
"Tingkat empat Alam Pengumpul Qi," bisiknya sambil mengepalkan tangan. "Kekuatan ini... setidaknya dua puluh kali lipat dari sebelumnya."
Namun, ia tahu bahwa level kultivasi hanyalah satu bagian dari kekuatan seorang seniman bela diri. Tanpa teknik yang sesuai, kekuatan itu seperti air bah tanpa saluran—liar dan tidak efisien. Tubuh ini tidak pernah berlatih seni bela diri apa pun.
"Aku tidak bisa menggunakan 'Tangan Pemusnah Surga' atau 'Pedang Pemotong Galaksi' dengan tubuh fana ini," pikirnya. Teknik-teknik ilahi itu akan langsung menghancurkan meridiannya. "Aku butuh sesuatu yang sederhana, fundamental, tetapi sempurna."
Ia berjalan ke halaman yang luas. Di bawah tatapan bingung Qing'er, ia mulai bergerak. Gerakannya sangat lambat, hanya sebuah pukulan lurus yang sederhana. Ia mengulanginya lagi dan lagi. Pukulan, tarikan napas, pukulan.
Bagi orang awam, itu tampak seperti latihan orang tua di pagi hari. Tetapi jika seorang master sejati ada di sini, mereka akan terkejut hingga pingsan. Setiap pukulan Jiang Chen selaras sempurna dengan napasnya, setiap otot di tubuhnya bergerak dalam harmoni yang absolut. Tidak ada satu ons pun energi yang terbuang. Itu adalah perwujudan dari efisiensi yang paling murni. Ini adalah "Pukulan Fondasi Agung", sebuah teknik dasar yang ia ajarkan kepada prajurit dewa tingkat terendah, disempurnakan melalui jutaan pertempuran.
BAM!
Tiba-tiba, suara tendangan keras menggelegar dari gerbang depan, diikuti oleh tawa arogan.
"Jiang Chen, kau sampah! Keluar kau! Aku dengar kau pindah ke rumah hantu ini. Apa kau berencana menjadi raja hantu?"
Wajah Qing'er langsung pucat. Ia mengenali suara itu. Itu adalah Zhang Lie, tuan muda dari keluarga Zhang, salah satu keluarga terkuat di Kota Awan Bambu dan pengejar nomor satu Hong Mengyao.
Jiang Chen berhenti berlatih. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menjadi sedingin es. "Tamu pertama sudah tiba."
Ia berjalan ke gerbang depan, diikuti oleh Qing'er yang gemetar.
Di luar, Zhang Lie berdiri dengan angkuh, tangannya di belakang punggung. Di sisinya, berdiri Hong Mengyao dengan ekspresi dingin. Di belakang mereka, empat atau lima pengikut keluarga Zhang tertawa mengejek. Rupanya, Zhang Lie ingin pamer kekuatan di depan wanita yang disukainya dengan menginjak-injak mantan tunangannya yang terkenal sampah.
Gerbang kayu itu sudah retak karena tendangannya.
"Oh, kau berani keluar juga rupanya," cibir Zhang Lie saat melihat Jiang Chen. "Aku kira kau akan bersembunyi di bawah tempat tidur seperti kura-kura."
Hong Mengyao melirik Jiang Chen sekilas, lalu membuang muka seolah melihatnya saja sudah mengotori matanya.
Jiang Chen mengabaikan mereka semua. Pandangannya jatuh pada gerbang yang rusak. "Gerbang ini baru dipasang kemarin. Harganya tiga puluh koin perak."
Zhang Lie tertawa terbahak-bahak. "Kau khawatir tentang gerbang? Sampah tetaplah sampah, hanya peduli pada uang receh! Aku akan menghancurkan seluruh rumahmu, apa yang bisa kau lakukan?"
"Perbaiki gerbangnya, lalu berlutut dan minta maaf. Setelah itu, enyah dari hadapanku. Aku akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa," kata Jiang Chen dengan nada datar.
Pernyataan itu membuat tawa mereka berhenti. Mereka menatap Jiang Chen seolah dia sudah gila.
"Apa aku tidak salah dengar?" Zhang Lie menatap Hong Mengyao. "Mengyao, lihatlah sampah yang pernah kau bela ini. Dia benar-benar sudah gila. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran agar dia tahu di mana tempatnya."
Zhang Lie adalah seorang jenius yang diakui di Kota Awan Bambu. Di usianya yang baru delapan belas tahun, ia sudah berada di puncak tingkat empat Alam Pengumpul Qi, selangkah lagi menuju tingkat lima.
"Bunuh dia!"
"Hajar dia, Tuan Muda Zhang!"
Para pengikutnya berteriak-teriak.
Zhang Lie tersenyum puas dan berjalan mendekati Jiang Chen. "Aku akan memberimu kehormatan. Aku akan melumpuhkan kedua tanganmu agar kau tidak perlu lagi khawatir tentang uang receh."
Ia mengumpulkan Qi di telapak tangannya, menciptakan cahaya biru samar. Ini adalah teknik keluarga Zhang, "Tangan Gelombang Biru", yang terkenal karena kekuatannya yang mampu menghancurkan batu.
Qing'er menutup matanya karena takut.
Tepat saat tangan Zhang Lie hendak mengenai dada Jiang Chen, Jiang Chen bergerak.
Gerakannya tidak cepat. Ia hanya melangkah ke samping—sebuah langkah kecil yang aneh—dan melayangkan pukulan lurus yang sederhana. Pukulan yang sama persis dengan yang ia latih di halaman tadi.
Pukulan Fondasi Agung.
Bagi Zhang Lie, pukulan itu terlihat sangat lambat dan penuh dengan celah. Ia tersenyum sinis, yakin bisa menghindarinya dengan mudah sambil tetap mendaratkan pukulannya sendiri.
Tapi saat ia mencoba bergerak, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Pukulan Jiang Chen sepertinya telah mengunci semua jalur menghindarnya. Ke kiri, ke kanan, mundur—semua terasa salah. Seolah-olah seluruh dunia menyusut, hanya menyisakan tinju itu yang datang lurus ke arahnya.
Mustahil! batinnya berteriak panik.
Tidak punya pilihan, ia terpaksa menghentikan serangannya dan menyilangkan tangan di depan dada untuk menahan pukulan itu.
PLAK!
Suara yang terdengar tidak keras, seperti memukul sepotong kayu basah.
Tinju Jiang Chen mendarat tepat di lengan Zhang Lie yang bersilangan.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Senyum kemenangan bahkan sempat terukir di wajah Zhang Lie. Ia berhasil menahannya!
Tapi kemudian, ekspresinya berubah menjadi horor. Sebuah kekuatan aneh, padat, dan tak terhentikan menembus pertahanan *Qi*-nya seolah itu hanyalah kertas, lalu merasuk ke dalam tulangnya.
KRAKK! KREKK!
Suara patah tulang yang mengerikan terdengar jelas. Kedua lengan Zhang Lie patah seketika, terpelintir ke sudut yang tidak wajar.
"AAAAAAAAARGH!"
Jeritan kesakitan yang melengking keluar dari mulutnya saat tubuhnya terlempar ke belakang seperti karung pasir, menabrak para pengikutnya dan jatuh bergulingan di tanah. Debu mengepul.
Keheningan total menyelimuti jalanan.
Para pengikut Zhang Lie membeku, mulut mereka ternganga.
Qing'er membuka matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Wajah angkuh Hong Mengyao akhirnya pecah. Matanya membelalak, dipenuhi keterkejutan mutlak.
Satu pukulan.
Jiang Chen, si sampah yang terkenal di seluruh kota, telah mengalahkan Zhang Lie, seorang jenius tingkat empat, hanya dengan satu pukulan sederhana.
Jiang Chen perlahan menurunkan tinjunya, bahkan tidak melirik Zhang Lie yang sedang meraung kesakitan di tanah. Matanya yang dingin kini tertuju pada Hong Mengyao.
"Sekarang," katanya dengan suara tenang yang membuat semua orang merinding. "Apa kau masih berpikir bahwa membatalkan pertunangan denganku adalah keputusan yang bijaksana?"