NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai kandidat YAAW 2026 periode 1 kategori 2 🥳 🎉 🎉

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Begitu pintu tertutup di belakangnya, dunia Arsy seolah langsung berubah. Suara bising di luar menghilang, digantikan oleh bunyi alat medis yang berdetak monoton.

Bip… bip… bip…

Suara itu terdengar asing, dingin, dan menakutkan. Pandangan Arsy langsung tertuju pada satu sosok di tengah ruangan.

Ayahnya.

Pak Rahman terbaring tak berdaya di atas ranjang IGD. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang Arsy ingat. Wajahnya pucat, nyaris tak berwarna. Selang oksigen terpasang di hidungnya, naik turun mengikuti napas yang tampak berat dan tidak teratur. Di dadanya menempel beberapa elektroda yang tersambung ke monitor jantung. Di satu tangannya terpasang infus. Kabel-kabel dan selang medis menjalar ke berbagai arah, membuat tubuh ayahnya tampak seperti terikat oleh mesin-mesin asing.

Membuat Arsy menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Ayah…” bisiknya nyaris tak bersuara.

Matanya terasa panas. Air mata langsung menggenang, tapi ia memaksa dirinya untuk tidak menangis keras. Dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya bergetar. Ia berdiri terpaku di dekat pintu, seolah kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri lebih lama.

Ini ayahnya.

Ayah yang selalu terlihat kuat. Ayah yang jarang mengeluh. Ayah yang selalu berdiri paling depan saat hidupnya terasa sulit. Dan sekarang, pria itu terbaring lemah, bergantung pada alat-alat medis hanya untuk bernapas. Arsy melangkah pelan mendekati ranjang itu. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Hatinya sakit. Kepalanya penuh dengan rasa bersalah yang menekan tanpa ampun.

Ia berdiri di sisi ranjang ayahnya. Menatap wajah orang tuanya lebih dekat. Garis-garis kelelahan tampak jelas. Bibir ayahnya sedikit kering. Dahi yang biasanya terasa hangat kini terlihat dingin dan pucat. Dadanya bergerak naik turun pelan, seolah setiap tarikan napas membutuhkan usaha yang besar. Arsy kembali menutup mulutnya, kali ini dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar. Air mata akhirnya jatuh, menetes satu per satu ke lantai putih rumah sakit.

“Ayah…” suaranya pecah. Lirih. Hampir tak terdengar.

Ia mencoba bertahan. Mencoba berdiri. Tapi semakin lama menatap ayahnya, semakin runtuh pertahanannya. Kakinya gemetar hebat. Lututnya terasa lemas. Pandangannya buram oleh air mata.

Dan akhirnya, Arsy tak kuat lagi. Ia jatuh berlutut di samping ranjang ayahnya. Suara lututnya yang menyentuh lantai terdengar pelan, namun cukup untuk mengguncang hatinya sendiri. Tangis yang tadi ditahannya pecah begitu saja. Sesenggukan keluar dari dadanya karena tak bisa dibendung lagi.

Arsy mengulurkan tangannya perlahan, ragu-ragu, seolah takut menyentuh. Namun pada akhirnya, Arsy mengambil satu tangan ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangan itu terasa dingin dan auh lebih dingin dari yang ia ingat. Arsy menggenggamnya dengan kedua tangannya. Jarinya gemetar. Ia menunduk, lalu mencium punggung tangan ayahnya dengan penuh sesenggukan.

“Ayah…” Arsy mencium tangan itu sekali lagi. “Maafin Arsy…”

Tangisnya semakin kencang. Kepalanya menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan ayahnya.

“Maafin Arsy, Yah…” suaranya bergetar hebat. “Arsy nggak bisa jadi anak yang baik untuk ayah, Arsy selalu bikin ayah sedih dan kecewa.”

Air matanya jatuh membasahi tangan ayahnya. Arsy buru-buru mengusapnya, seolah takut air matanya akan menyakiti ayahnya.

“Maafin Arsy, ayah. Arsy nggak kuat lihat keadaan ayah yang seperti ini.” lanjut Arsy dengan terbata-bata. “Arsy nggak sanggup lihat Ayah kayak gini.”

Ingatan-ingatan itu menyerbu Arsy tanpa ampun. Wajah ayahnya yang marah dan kecewa saat mengetahui pengkhianatan Radit. Momen ayahnya yang memegangi dadanya sebelum akhirnya ambruk. Semua itu berputar di kepala Arsy dan membuat rasa bersalahnya semakin menghimpit.

“Kalau Arsy lebih peka dan tahu semua pengkhianatan yang dilakukan Radit, Ayah nggak akan dalam kondisi seperti ini.” Arsy terisak. “Ini salah Arsy, Yah…”

Arsy menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan itu, tapi air matanya terus mengalir.

“Ayah selalu bilang Arsy harus jadi anak yang kuat, anak yang sabar, anak yang nggak gampang nyerah…” Arsy tersenyum getir di sela tangisnya. “Tapi sekarang Arsy nggak kuat, Yah… Arsy takut…”

Tangannya semakin erat menggenggam tangan ayahnya, seolah takut tangan itu akan menghilang jika dilepas.

“Jangan tinggalin Arsy, Yah…” pintanya lirih. “Arsy cuma punya Ayah, Arsy belum siap hidup sendirian…”

Tangis Arsy mereda perlahan, berganti dengan isak yang lebih pelan namun menyayat. Ia mengusap wajahnya, mencoba menarik napas dalam-dalam, meski dadanya masih terasa sesak. Perlahan, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap wajah ayahnya lagi.

“Ayah…” suaranya kini lebih pelan dan pasrah. “Kalau selama ini Arsy banyak bikin salah, banyak bikin Ayah sedih, tolong maafin Arsy ya, Yah.” Arsy mengusap punggung tangan ayahnya dengan ibu jarinya, gerakan pelan dan penuh kasih. “Arsy belum bisa jadi anak yang bisa ayah banggakan…” katanya pelan. “Arsy belum bisa balas semua pengorbanan Ayah, dan belum bisa bikin Ayah tenang.”

Air mata kembali jatuh, tapi kali ini Arsy tak lagi berusaha menghapusnya.

“Kalau Ayah masih dikasih waktu sama Allah,” lanjutnya lirih. “Arsy janji bakal berubah… Arsy janji bakal jadi anak yang lebih baik, anak yang lebih nurut dan bisa membahagiakan ayah.” Arsy terdiam sejenak. Dadanya naik turun. Lalu ia menunduk dan masih menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

“Ya Allah… Hamba mohon tolong beri Ayah hamba kesembuhan.” Tangis Arsy kembali pecah, yang kali ini bercampur dengan kepasrahan. “Kalau masih ada umur untuk Ayah…” lanjutnya. “Kalau masih ada kesempatan untuk hamba berbakti, tolong panjangkan usia Ayah hamba.” Arsy mengusap wajahnya dengan punggung tangannya, lalu kembali menunduk.

“Hamba ikhlas, Ya Allah, hamba pasrah.” katanya lirih. “Apa pun keputusan-Mu, tapi tolong beri hamba kekuatan.”

Arsy menempelkan keningnya ke tepi ranjang ayahnya, matanya terpejam. Tangannya masih menggenggam tangan ayahnya erat, seolah doa itu mengalir lewat sentuhan. Di dalam ruang IGD itu, waktu terasa berjalan lambat. Hanya ada suara alat medis, isak tangis Arsy, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan hati yang remuk. Arsy tak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Ia tak tahu apakah esok ia masih bisa mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya atau tidak. Tapi satu hal yang ia tahu, di detik itu, ia telah menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.

Dengan cinta, penyesalan dan harapan yang tersisa.

Lorong IGD kembali sunyi setelah doa Arsy perlahan mereda. Di dalam ruangan itu, seorang anak perempuan masih berlutut di sisi ranjang ayahnya, menggenggam tangan yang tak lagi hangat seperti dulu. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, ribuan kilometer dari tempatnya berdiri, takdir sedang bergerak mendekat.

Langit malam di atas awan tampak gelap kebiruan. Sebuah pesawat pribadi membelah udara dengan anggun, stabil, dan nyaris tanpa suara. Di dalam kabin kelas eksekutif yang luas dan mewah itu, suasananya tenang. Lampu temaram menyala lembut. Aroma khas kabin bercampur dengan wangi maskulin mahal yang samar.

1
Johanah Tata
asli najiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis
Naning Ning
lanjut terus ya.saya suka sama ceritanya yg semangat ta thor nulisnya
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
Naning Ning
lanjut terus ya.saya suka sama ceritanya yg semangat ta thor nulisnya
tris tanto
bagus pemlsnnya tp tll memaksa pemecatan dgn arsy ataopun syakil gk dibikin natural ,krna kalo itu dibhs pdhl rs tdk prlu ikut campur urusan pribadi
Misaza Sumiati
nyesek banget bacanya, ingin nonjok si Radit sama selingkuhan nya
Siti Naimah
beruntung banget Arsy mendapat ganti yg lebih baik..bila dibanding sama Radit..udah dibantu abis2an tapi gak merasa...juga sombong banget dengan alasan gak cinta sama Arsy...prett lah
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: maklum kak, si Radit itu udah kayak kacang yang lupa sama kulitnya.
total 1 replies
Hasriani Tato
bagus alurnya Thor, tapi sekedar saran munculkan juga sisi religinya. sebagai agamais. misalnya melakukan shalat subuh berjamaah githu. Jangan begitu bangun, mandi dan langsung sarapan 🤭
Kukun Sabarno
rasain Lo radit
Kukun Sabarno
imammu sidah datang arsy
Kukun Sabarno
rasain Lo radit hancur sama Nadira juga
Kukun Sabarno
shakil jodoh Arsy...keren
Kukun Sabarno
radit orang berpendidikan gak punya adab
Kukun Sabarno
mereka akan terima karmanya sekalipun akhirnya menikah tetap hukum karma berlaku
Nurma Sadiah
❤❤❤
milda Fatmawati
gereget woiii
🗿🗿🗿🗿🗿🗿
dokumen pindah negaranya gimana tuh?
🗿🗿🗿🗿🗿🗿
pernikahan yg batal gimana ? kan udah tinggal hitungan hari
Surati Surati
lanjuttt
Lies Atikah
sedih boleh tapi jangan lemah dan bodoh jadilah wanita kuat dan pintar 👍
Lies Atikah
Radut lebih kau cintai dan jelas2 dia tak mencintaimu ufah disakiti dan di tolak masih ngarep ujubuneng kemana harga dirimu euyyyy paling juga si Radut mah jadiin kamu hanya jadi keset kaki nya sadar lah cinta tak dapat di paksakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!