NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Begitu pintu tertutup di belakangnya, dunia Arsy seolah langsung berubah. Suara bising di luar menghilang, digantikan oleh bunyi alat medis yang berdetak monoton.

Bip… bip… bip…

Suara itu terdengar asing, dingin, dan menakutkan. Pandangan Arsy langsung tertuju pada satu sosok di tengah ruangan.

Ayahnya.

Pak Rahman terbaring tak berdaya di atas ranjang IGD. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang Arsy ingat. Wajahnya pucat, nyaris tak berwarna. Selang oksigen terpasang di hidungnya, naik turun mengikuti napas yang tampak berat dan tidak teratur. Di dadanya menempel beberapa elektroda yang tersambung ke monitor jantung. Di satu tangannya terpasang infus. Kabel-kabel dan selang medis menjalar ke berbagai arah, membuat tubuh ayahnya tampak seperti terikat oleh mesin-mesin asing.

Membuat Arsy menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Ayah…” bisiknya nyaris tak bersuara.

Matanya terasa panas. Air mata langsung menggenang, tapi ia memaksa dirinya untuk tidak menangis keras. Dadanya naik turun dengan cepat. Napasnya bergetar. Ia berdiri terpaku di dekat pintu, seolah kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri lebih lama.

Ini ayahnya.

Ayah yang selalu terlihat kuat. Ayah yang jarang mengeluh. Ayah yang selalu berdiri paling depan saat hidupnya terasa sulit. Dan sekarang, pria itu terbaring lemah, bergantung pada alat-alat medis hanya untuk bernapas. Arsy melangkah pelan mendekati ranjang itu. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Hatinya sakit. Kepalanya penuh dengan rasa bersalah yang menekan tanpa ampun.

Ia berdiri di sisi ranjang ayahnya. Menatap wajah orang tuanya lebih dekat. Garis-garis kelelahan tampak jelas. Bibir ayahnya sedikit kering. Dahi yang biasanya terasa hangat kini terlihat dingin dan pucat. Dadanya bergerak naik turun pelan, seolah setiap tarikan napas membutuhkan usaha yang besar. Arsy kembali menutup mulutnya, kali ini dengan kedua tangannya. Bahunya mulai bergetar. Air mata akhirnya jatuh, menetes satu per satu ke lantai putih rumah sakit.

“Ayah…” suaranya pecah. Lirih. Hampir tak terdengar.

Ia mencoba bertahan. Mencoba berdiri. Tapi semakin lama menatap ayahnya, semakin runtuh pertahanannya. Kakinya gemetar hebat. Lututnya terasa lemas. Pandangannya buram oleh air mata.

Dan akhirnya, Arsy tak kuat lagi. Ia jatuh berlutut di samping ranjang ayahnya. Suara lututnya yang menyentuh lantai terdengar pelan, namun cukup untuk mengguncang hatinya sendiri. Tangis yang tadi ditahannya pecah begitu saja. Sesenggukan keluar dari dadanya karena tak bisa dibendung lagi.

Arsy mengulurkan tangannya perlahan, ragu-ragu, seolah takut menyentuh. Namun pada akhirnya, Arsy mengambil satu tangan ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangan itu terasa dingin dan auh lebih dingin dari yang ia ingat. Arsy menggenggamnya dengan kedua tangannya. Jarinya gemetar. Ia menunduk, lalu mencium punggung tangan ayahnya dengan penuh sesenggukan.

“Ayah…” Arsy mencium tangan itu sekali lagi. “Maafin Arsy…”

Tangisnya semakin kencang. Kepalanya menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan ayahnya.

“Maafin Arsy, Yah…” suaranya bergetar hebat. “Arsy nggak bisa jadi anak yang baik untuk ayah, Arsy selalu bikin ayah sedih dan kecewa.”

Air matanya jatuh membasahi tangan ayahnya. Arsy buru-buru mengusapnya, seolah takut air matanya akan menyakiti ayahnya.

“Maafin Arsy, ayah. Arsy nggak kuat lihat keadaan ayah yang seperti ini.” lanjut Arsy dengan terbata-bata. “Arsy nggak sanggup lihat Ayah kayak gini.”

Ingatan-ingatan itu menyerbu Arsy tanpa ampun. Wajah ayahnya yang marah dan kecewa saat mengetahui pengkhianatan Radit. Momen ayahnya yang memegangi dadanya sebelum akhirnya ambruk. Semua itu berputar di kepala Arsy dan membuat rasa bersalahnya semakin menghimpit.

“Kalau Arsy lebih peka dan tahu semua pengkhianatan yang dilakukan Radit, Ayah nggak akan dalam kondisi seperti ini.” Arsy terisak. “Ini salah Arsy, Yah…”

Arsy menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan itu, tapi air matanya terus mengalir.

“Ayah selalu bilang Arsy harus jadi anak yang kuat, anak yang sabar, anak yang nggak gampang nyerah…” Arsy tersenyum getir di sela tangisnya. “Tapi sekarang Arsy nggak kuat, Yah… Arsy takut…”

Tangannya semakin erat menggenggam tangan ayahnya, seolah takut tangan itu akan menghilang jika dilepas.

“Jangan tinggalin Arsy, Yah…” pintanya lirih. “Arsy cuma punya Ayah, Arsy belum siap hidup sendirian…”

Tangis Arsy mereda perlahan, berganti dengan isak yang lebih pelan namun menyayat. Ia mengusap wajahnya, mencoba menarik napas dalam-dalam, meski dadanya masih terasa sesak. Perlahan, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap wajah ayahnya lagi.

“Ayah…” suaranya kini lebih pelan dan pasrah. “Kalau selama ini Arsy banyak bikin salah, banyak bikin Ayah sedih, tolong maafin Arsy ya, Yah.” Arsy mengusap punggung tangan ayahnya dengan ibu jarinya, gerakan pelan dan penuh kasih. “Arsy belum bisa jadi anak yang bisa ayah banggakan…” katanya pelan. “Arsy belum bisa balas semua pengorbanan Ayah, dan belum bisa bikin Ayah tenang.”

Air mata kembali jatuh, tapi kali ini Arsy tak lagi berusaha menghapusnya.

“Kalau Ayah masih dikasih waktu sama Allah,” lanjutnya lirih. “Arsy janji bakal berubah… Arsy janji bakal jadi anak yang lebih baik, anak yang lebih nurut dan bisa membahagiakan ayah.” Arsy terdiam sejenak. Dadanya naik turun. Lalu ia menunduk dan masih menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

“Ya Allah… Hamba mohon tolong beri Ayah hamba kesembuhan.” Tangis Arsy kembali pecah, yang kali ini bercampur dengan kepasrahan. “Kalau masih ada umur untuk Ayah…” lanjutnya. “Kalau masih ada kesempatan untuk hamba berbakti, tolong panjangkan usia Ayah hamba.” Arsy mengusap wajahnya dengan punggung tangannya, lalu kembali menunduk.

“Hamba ikhlas, Ya Allah, hamba pasrah.” katanya lirih. “Apa pun keputusan-Mu, tapi tolong beri hamba kekuatan.”

Arsy menempelkan keningnya ke tepi ranjang ayahnya, matanya terpejam. Tangannya masih menggenggam tangan ayahnya erat, seolah doa itu mengalir lewat sentuhan. Di dalam ruang IGD itu, waktu terasa berjalan lambat. Hanya ada suara alat medis, isak tangis Arsy, dan doa-doa yang dipanjatkan dengan hati yang remuk. Arsy tak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Ia tak tahu apakah esok ia masih bisa mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya atau tidak. Tapi satu hal yang ia tahu, di detik itu, ia telah menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.

Dengan cinta, penyesalan dan harapan yang tersisa.

Lorong IGD kembali sunyi setelah doa Arsy perlahan mereda. Di dalam ruangan itu, seorang anak perempuan masih berlutut di sisi ranjang ayahnya, menggenggam tangan yang tak lagi hangat seperti dulu. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, ribuan kilometer dari tempatnya berdiri, takdir sedang bergerak mendekat.

Langit malam di atas awan tampak gelap kebiruan. Sebuah pesawat pribadi membelah udara dengan anggun, stabil, dan nyaris tanpa suara. Di dalam kabin kelas eksekutif yang luas dan mewah itu, suasananya tenang. Lampu temaram menyala lembut. Aroma khas kabin bercampur dengan wangi maskulin mahal yang samar.

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!