NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suasana kantor lantai 15 sore ini terasa begitu mencekam bagi sebagian staf, tapi tidak bagiku. Di balik meja kaca ini, aku adalah wanita yang mereka juluki "Si Ratu Es". Dingin, kaku, dan hanya bicara seperlunya tentang target perusahaan.

Aku menyesap kopi pahitku sambil menatap layar monitor. Tiba-tiba, suara pintu ruang rapat terbuka. Atasanku, Pak Bram, masuk bersama seorang pria yang mengenakan kemeja biru navy yang sangat pas di tubuhnya.

"Semuanya, perkenalkan ini rekan kerja baru kita yang akan bergabung di tim proyek besar ini. Dia baru pindah dari cabang Yogyakarta," ujar Pak Bram ramah.

Deg.

Jantungku yang biasanya berdetak stabil, tiba-tiba berdegup tidak keruan. Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan.

"Halo semuanya, saya Arlan. Mohon kerja samanya," suara berat itu terdengar. Suara yang dulu selalu membisikkan janji manis di telingaku setiap kali kami pulang sekolah.

Aku tidak bergeming. Aku tetap menatap layar monitor seolah ada laporan yang sangat mendesak, padahal fokusku sudah hancur berantakan.

"Rania?" Pak Bram memanggilku. "Kamu sebagai kepala tim, tolong arahkan Arlan, ya."

Aku mendongak. Perlahan, tatapanku bertemu dengan matanya. Ada kilatan keterkejutan di sana. Dia mematung. Arlan yang dulu kaku saat ketahuan berselingkuh di kostnya, kini berdiri di hadapanku dengan wajah yang sedikit lebih dewasa, namun tetap dengan pengecutnya yang sama—dia hanya diam menatapku tanpa kata.

"Selamat datang," ucapku datar, suaraku sedingin udara AC di ruangan ini. Tidak ada senyum, tidak ada binar di mataku seperti tiga tahun lalu.

Tiga tahun lalu di Jogja...

"Aku bawain gudeg favorit kamu, Lan!" seruku ceria sambil membuka pintu kostnya yang tidak terkunci.

Senyumku luntur seketika. Bau parfum wanita yang menyengat dan pemandangan dua orang di atas ranjang yang terburu-buru merapikan pakaian membuat duniaku runtuh saat itu juga. Arlan hanya diam. Dia tidak mengejarku saat aku berlari keluar. Dia membiarkan aku hancur sendiri di tengah riuhnya kota Jogja malam itu.

Masa Kini.

"Rania, bisa kita bicara?" suara Arlan membuyarkan lamunanku saat ruangan kantor mulai sepi karena jam pulang.

Aku merapikan tas kantorku, berdiri dengan tegak tanpa sedikit pun melirik ke arahnya.

"Di kantor ini, aku adalah atasanmu dalam proyek ini, Arlan. Gunakan nama jabatan atau panggil aku dengan sopan," jawabku tanpa emosi.

"Kamu berubah banyak, Ran... aku nggak menyangka kita akan ketemu lagi di sini," gumamnya, langkahnya mendekat.

Aku mundur selangkah, menjaga jarak yang sangat lebar. "Tiga tahun cukup untuk mematikan perasaan yang salah, Arlan. Jangan berharap apa pun. Kita mungkin kembali bertemu di ruang yang sama, tapi jangan pernah bermimpi hatiku akan kembali bersatu denganmu."

Aku melangkah pergi, meninggalkan dia yang masih mematung. Namun, saat aku sampai di lobi kantor, langkahku terhenti. Di sana, berdiri seorang wanita yang sedang menunggu seseorang. Wajah itu... wajah yang sama dengan wanita yang ada di kost Arlan tiga tahun lalu.

Rasa mual itu kembali menyerang. Lebih hebat dari sebelumnya.

Wanita itu berdiri dengan angkuh di dekat pintu putar lobi. Pakaiannya modis, sangat kontras dengan penampilanku yang serba tertutup dan formal. Namanya Siska—aku tidak akan pernah lupa nama yang menghancurkan masa remajaku.

Langkahku tertahan. Tanganku mengepal kuat di tali tas, berusaha meredam getaran hebat yang mulai menjalar dari ujung jari.

"Sayang! Lama banget sih?" suara manja itu menggema di lobi yang mulai sepi.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja keluar dari lift di belakangku. Langkah kaki Arlan terdengar terburu-buru, lalu berhenti tepat di sampingku. Dia mematung saat menyadari aku berada di jalur yang sama dengannya menuju pintu keluar.

"Siska? Kamu ngapain di sini?" suara Arlan terdengar panik, matanya bergerak gelisah antara aku dan wanita itu.

Siska melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi tuk.. tuk.. tuk.. yang terasa seperti detak bom waktu di telingaku. Saat jarak kami hanya terpaut dua meter, dia menghentikan langkahnya. Matanya memicing, menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Loh, ini... Rania, kan?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Wah, pangling banget ya. Sekarang jadi mbak-mbak kantoran yang... kaku?"

Aku menarik napas panjang, menghirup aroma parfumnya yang masih sama menyengatnya dengan aroma di kost terkutuk itu. Rasa mual itu memuncak, tapi aku menelannya bulat-bulat. Aku tidak boleh terlihat lemah di depan mereka.

"Arlan, ini beneran Rania yang dulu sering bawain kamu makanan itu? Yang dulu penampilannya... ya, kamu tahu sendiri lah," Siska tertawa kecil sambil menggandeng lengan Arlan dengan posesif.

Arlan tampak sangat tidak nyaman. "Sis, cukup. Ayo pergi."

"Kenapa buru-buru? Kita baru aja ketemu lagi setelah tiga tahun. Oh iya, Ran, dengar-dengar kamu sukses ya di sini? Tapi sayang, muka cantik kalau dingin begitu mana ada laki-laki yang tahan," sindirnya lagi, semakin sengaja mempererat pelukannya di lengan Arlan seolah sedang memamerkan kemenangannya.

Aku menoleh perlahan. Tatapanku jatuh tepat di mata Arlan yang terlihat penuh rasa bersalah, lalu beralih ke Siska dengan sorot mata sedingin es yang sanggup membekukan siapa pun.

"Siska," ucapku tenang, hampir berbisik namun tajam. "Terima kasih sudah membawa sampah ini keluar dari hidupku tiga tahun lalu. Aku tidak menyangka kamu masih sudi menyimpannya sampai sekarang."

Senyum Siska hilang seketika. Wajahnya memerah padam.

"Kamu—!"

"Arlan," aku memotong kalimatnya sambil menatap Arlan dengan jijik. "Besok jangan terlambat. Proyek ini tidak butuh drama masa lalu yang menjijikkan. Simpan kemesraan kalian untuk di luar kantor. Di sini, aku tidak sudi melihatnya."

Aku melangkah melewati mereka begitu saja. Angin malam yang menerpa wajahku saat keluar dari gedung terasa sedikit melegakan, meski dadaku masih terasa sesak.

Saat aku berjalan menuju parkiran, aku bisa mendengar suara perdebatan mereka dari kejauhan. Aku masuk ke dalam mobil, mengunci pintu, dan akhirnya... aku membiarkan setetes air mata jatuh. Bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena aku benci fakta bahwa kehadirannya masih bisa membuatku merasa semual ini.

Aku harus tetap menjadi "Si Ratu Es". Karena jika tembok ini runtuh, aku takut aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!