NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Sang Mafia

Istri Kesayangan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mafia / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Mar Dani

Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.

Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.

Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.

Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.

Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.

Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kini Nabila hendak masuk ke kamar Reynaldo. Seperti yang Reynaldo katakan, Raden Wijaya dan Alisha akan tinggal di Istana Mahkota Perak mulai malam ini untuk beberapa hari ke depan.

"Wahhh.. wahhh.. wahhh.. mau kemana kau Gadis kecil!!" ucap Alisha dengan nada menggangu, membuat Nabila yang hendak membuka pintu kamar Reynaldo – yang memang memiliki kode sandi untuk masuk – terkejut.

"Mau tidurlah!" ucap Nabila dengan nada sinis.

"Apa seperti itu caramu berbicara dengan ibu mertuamu!"

"Kau sama sekali tidak pantas jadi orang tua..!" cetus Nabila tegas.

"Kauu beraninya bicara seperti itu padaku..!"

"Berani aja dong, kan tidak ada larangan bicara di istana ini! Kau cuma tamu di tempat ini, jadi jaga bahasa dan tingkahmu!!" teriak Alisha marah.

"Sadarr diri dong bisa gak sih!! Kau sudah melewati batas! Lantai tiga ini wilayah pribadi Reynaldo, bagaimana kaki busukmu berani menginjakkan kaki di sini!!" ucap Nabila menatap Alisha dengan tatapan tajam.

Nabila ingin segera tidur karena merasa sangat lelah – meskipun sudah melakukan perawatan, segala sesuatu hari ini membuatnya capek.

"Ini adalah istana milik keluarga Wijaya dan aku adalah nyonya besarnya, aku berhak pergi kemana saja!"

"Terserah kamu, pergilah sana aja kalau mau – kalau perlu hitung aja berapa banyak ubin marmer di koridor ini" ucap Nabila sambil menghentakkan kakinya ke lantai.

Alisha merasa sangat geram dan ingin menampar pipi putih Nabila, namun Nabila dengan cepat menyadari niatnya, menahan tangannya kemudian menepiskannya dengan kasar. "Ingatt! Aku adalah nyonya di rumah ini – kau siapa aja yang berani ingin menamparku! Pergilah dari sini sebelum suamiku menyuruhmu keluar dari istana ini!" ucap Nabila berteriak, kemudian cepat menekan kode akses kamar dan masuk dengan segera.

"Kaaauuu!!!" teriak Alisha saat pintu kamar dibanting keras oleh Nabila.

Alisha berjalan menjauh dari lantai tiga yang mewah itu sambil menghentakkan kakinya dengan keras. Ruangan di lantai tiga memang dirancang Reynaldo agar sangat pribadi dan terisolasi dari kebisingan luar, karena bagi dia ketenangan adalah segalanya.

Untungnya Alisha bertemu dengan Reynaldo saat berada di ruang tamu dasar istana. Reynaldo sengaja memberikan kamar di lantai bawah agar mereka tidak mengganggu ketenangannya.

"Sayang.. kau baru pulang ya??" ucap Alisha dengan suara lembut kepada Reynaldo.

Reynaldo hanya menatapnya dengan pandangan sinis dan tajam, tidak merespon sedikitpun pertanyaannya.

Pergerakan mereka terlihat oleh Raden Wijaya.

"Reyn, ibu mu sedang bicara padamu – mengapa kau malah mengabaikannya!!" teriak Raden Wijaya marah.

"Dia bukan keluarga aku!! Jadi berhentilah menyebutnya sebagai ibuku!!" ucap Reynaldo dengan nada dingin.

"Tidak apa-apa sayang, mungkin Reynaldo akan menerima aku nantinya.." ucap Alisha tersenyum manis.

"Kau mimpi terlalu jauh!!" ucap Reynaldo sinis, kemudian berniat pergi ke kamarnya dengan menggunakan tangga agar sekalian berolahraga.

"Tunggu Reyn!! Ayah ingin bicara denganmu!"

"Katakan saja apa yang kau inginkan!!"

"Tentang wanita itu!! Kau sebaiknya tinggalkan dia – masa depannya tidak jelas untuk jadi menantu keluarga Wijaya!"

"Hahah apa kau kira wanita jalangmu itu pantas jadi nyonya besar Istana Mahkota Perak?? Jadi berhentilah mengatakan wanita ku buruk! Kalau tidak, kau akan menyesal!"

"Reynaldo!!" teriak Raden Wijaya.

"Tutup mulutmu itu brengsek! Kau tidak punya hak memanggilku dengan nama itu!!"

"Kau anakku, jadi aku berhak memanggilmu dengan nama apa saja!"

"Sepertinya kau lupa – nama Reynaldo hanya boleh dipanggil oleh wanita yang benar-benar pantas disebut nyonya besar di rumah ini!" ucap Reynaldo menatap tajam ke arah sang ayah.

Ingin rasanya Alisha mengumpat lebih dalam, namun dia tahu bahwa Reynaldo adalah harta karun keluarga ini yang tidak bisa dia sangkal.

"Reynaldoooo!!! Reynaldo Wijaya Mahkota!!!" teriak Nabila dengan suara kencang dari atas kamar.

"Kalian sudah cukup membuat masalah dengan orang yang tidak seharusnya!" ucap Reynaldo sinis menatap mereka, kemudian segera naik ke kamarnya.

Terlihat Nabila sedang duduk di pinggiran tangga.

"Sedang apa kau!!?"

"Aku menunggumu dari tadi bangsat!"

"Aku sedang mengurus sesuatu.."

"Datang sini sekarang!!" ucap Nabila menarik tangan Reynaldo masuk ke kamar.

"Ada apaa sihhh!!"

"Kau lihat dong – bagaimana aku bisa tidur di sini??" ucap Nabila menatap ranjang besar yang hanya ada satu.

"Kau tidur di situ saja, itu kan mudah banget Nabila?!!" ucap Reynaldo dengan nada datar.

"Terus kamu dimana??"

"Aku akan tidur di sebelahmu!!"

"Diam!! Kita belum menikah lho bangsat!!" teriak Nabila menatapnya tajam.

"Hahaha.." tertawa Reynaldo melihat wajahnya yang kesal.

"Diamlah!! Aku sudah mengantuk parah!!" teriak Nabila sinis.

"Hahaha baiklah, tidurlah saja – aku akan tidur di ruang kerjaku!" ucap Reynaldo kepada Nabila.

"Syukurlah.." ucap Nabila langsung berbaring di atas ranjang kingsize itu dan tertidur pulas.

Kini sinar pagi menyinari Istana Mahkota Perak. Nabila terbangun dari tidurnya dengan rasa kantuk yang masih sedikit.

"Nyonya muda sudah bangun, nyonya harus segera bersiap karena akan ada makan bersama pagi ini.." ucap pelayan dengan sopan.

"Bawakan saja makanannya kesini aja.."

"Maaf nyonya, hari ini tuan besar meminta semua anggota keluarga untuk makan bersama di ruang makan utama.."

"What!! Aku lupa ada nenek lampiran dan kakek lampiran yang sedang menginap" ucap Nabila dengan pandangan malas.

"Reynaldo dimana?"

"Tuan Reynaldo pukul 1 dini hari sudah keluar nyonya, kemungkinan dia akan kembali sebentar lagi.."

"Kemana dia pergi pagi-pagi sekali?" gumam Nabila dalam hati.

"Yaudah deh, aku mau mandi dulu.. dimana pakaianku?"

"Pakaian nyonya sudah disiapkan di walk in-closet milik tuan Reynaldo"

"Dia sudah meletakkan semua barangku bersamanya, seolah-olah pernikahan ini akan bertahan lama.." gumam Nabila dalam hati.

Kini Nabila berjalan menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi, dia mencari pakaian yang akan dikenakan. Nabila sengaja memilih hotpants dan kaos oversize, kemudian hanya memoles sedikit perona bibir agar tidak terlihat pucat – sesuai dengan kata pelayan bahwa hari ini Raden Wijaya meminta semua orang makan bersama pagi.

Nabila berjalan menyusuri koridor istana yang luas. Setiap kali melewati pelayan, mereka semua menunduk untuk memberikan hormat, dan Nabila juga membalas dengan sopan. Hal itu membuat semua pelayan merasa senang – setidaknya kini ada nyonya yang bisa menghargai kerja mereka.

Nabila kemudian menuju ruang masak.

"Haii semuaaa.." ucap Nabila tersenyum manis menyapa para pelayan yang sedang sibuk bekerja.

"Nyonyaa sedang apa? Kami akan menyediakan semua makanan sebentar lagi.." ucap salah satu pelayan dengan khawatir – mereka takut jika Reynaldo melihat Nabila masuk ke ruang masak akan marah besar.

"Aku hanya ingin membuat sesuatu untuk diriku dan Reynaldo.." ucap Nabila mengambil beberapa jenis bahan makanan dari lemari pendingin.

"Tapi nyonya, disini berantakan – pasti akan membuat baju nyonya kotor lagi.." ucap mereka berusaha mencari alasan agar Nabila tidak masuk.

"Kalian mau melarangku ya? Kalau begitu aku akan bilang pada Reynaldo kalau kalian membuatku kesal..." ucap Nabila tetap tersenyum manis.

"Baiklah nyonya – jika ada yang perlu, kami akan bantu.." ucap mereka serentak karena takut akan kemarahan Reynaldo.

Kini Alisha dan Raden Wijaya sudah berada di meja makan utama. Sementara itu, Nabila baru saja menyelesaikan makanan yang dibuatnya sendiri untuk dirinya dan Reynaldo.

"Selamat pagi semuaa.." ucap Nabila tersenyum ramah saat memasuki ruangan.

Namun sapaan itu diabaikan oleh Raden Wijaya dan Alisha yang hanya menatapnya dengan pandangan sinis.

"Hahahah ada dua orang di meja tapi disapa malah diam-diam aja, bisu ya kayaknya.." ucap Nabila dengan nada menyindir.

"Siapa yang kau katakan bisu??" tanya Raden Wijaya menatapnya tajam.

"Ohh ternyata ada Ayah disini ya.." ucap Nabila dengan wajah datar.

"Aku bukan Ayahmu!"

"Ohh begitu – aku juga malas menganggapmu sebagai Ayah.." ujar Nabila datar.

"Kauuu beraninya berkata seperti itu pada orang tua!!" ucap Alisha dengan tatapan menyengat.

"Aku hanya bilang yang sebenarnya.." ucap Nabila kemudian mengambil gelas susu dari atas meja dan meneguknya.

"Kau sama sekali tidak pantas jadi istri Reynaldo!" teriak Alisha marah.

"Siapa kau untuk mengatakan aku tidak pantas!! Reynaldo yang memilihku – mengapa kamu yang bilang tidak pantas!!" ucap Nabila membalas dengan pandangan tajam.

"Jagaa etikamu saat berbicara dengan orang tua!!" teriak Raden Wijaya kepada Nabila.

"Aku sudah bertindak dengan baik! Kalian saja yang tidak suka dengan caraku!!" ucap Nabila sinis.

Tanpa diduga, Raden Wijaya melempar sebuah gelas kaca ke arah kaki Nabila.

"Traannkkkkk!!!"

Gelas pecah berkeping-keping, dan sebagian pecahan mengenai kaki Nabila yang hanya menggunakan hotpants.

"Aaauuuhhkk!!" teriak Nabila saat merasa sakit luar biasa, darah mulai mengalir dari bagian kaki yang terluka.

Tanpa disadari, kejadian itu dilihat oleh Reynaldo yang baru saja kembali ke istana.

"Beraninyaaa kauu melakukan itu di istanaku sendiri!!" ucap Reynaldo menatap tajam ke arah Raden Wijaya, kemudian segera mendekat ke sisi Nabila.

"Kau tak apa??" ucap Reynaldo dengan suara penuh perhatian kepada Nabila yang meringis kesakitan, melihat darah yang terus mengalir dari kaki mulusnya.

"Kakikuuu Reynaldo..." teriak Nabila menangis seperti anak kecil yang sedang kesakitan.

"Kaliann segera panggil dokterr!!" teriak Reynaldo kepada para pelayan yang berjaga.

"Cuma luka kecil aja harus manggil dokter!!" cetus Alisha dengan tidak acuh.

Reynaldo memilih mengabaikannya dan juga Raden Wijaya.

"Kalian bawa makanan Nabila ke kamar!!" ucap Reynaldo kemudian menggendong tubuh Nabila dengan gaya bridal style, menuju lift untuk kembali ke kamarnya.

"Sayangg.. itu terlalu berlebihan kan..!" ucap Alisha kepada Raden Wijaya.

"Aku harus segera menyingkirkan wanita itu!" ucap Raden Wijaya dengan wajah sinis, kemudian meninggalkan ruang makan itu dengan cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!