Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahu semuanya
"Sampai kapan saya harus berpura pura jadi Anjas Mbah? saya tidak tahan mendengar Triana terus menyebut nama itu di depan saya" tanya Hengki
"Sampai bayi itu lahir Hengki, kamu tahu kan kalau kita membutuhkan bayi itu sebagai jembatan kita bisa menjadi lebih kuat" jawab Kunto
"Triana sepertinya tidak akan bisa lepas dari Pelet itu, bahkan semakin parah, semoga saja saat dia meregang nyawa nanti bayi kalian sudah bisa kita ambil" ungkap Kunto
"Lilis juga sudah satu bulan ini tidak mengabari apapun pada saya Mbah, apa dia mengkhianati kita dan mengatakan kalau dia di bayar oleh kita untuk bekerja di rumah Anjas?"
"Aku tidak yakin, Lilis itu anak angkatku tidak mungkin dia berkhianat padaku" jawab Kunto
"Tapi handphone miliknya juga tidak bisa di hubungi Mbah"
"Aku akan meminta Khal yang agung untuk memeriksa rumah Anjas, mungkin Lilis tidak bisa menghubungi kita karena pernikahan Anjas"
"Mungkin juga karena berita pernikahan Anjas memang membuat seluruh kota jadi heboh"
Lilis yang sudah bekerja di rumah Anjas selama dua tahun ternyata selalu mengabari Hengki setiap kali Anjas pergi ke luar kota, perbincangan dengan Juno juga selalu dia bocorkan pada Hengki bahkan setiap gerak gerik Anjas juga Lilis foto dan kirim pada Hengki.
Teluh yang selama ini menempel pada Anjas juga adalah karena bantuan Lilis, dia yang memasukkan semua guna guna itu melalui makanan dan minuman yang di makan Anjas saat di rumah.
××××××××
Di rumah Anjas.
"Sayang, nanti kalau di sekolah kamu tetap panggil mama ibu guru ya, hari ini katanya mama akan mulai tinggal dengan kita" ucap Anjas
"Iya pa, Adis akan jadi anak baik supaya mama tidak malah pada Adis" jawab Adisti
"Mama tidak akan marah nak, kalau Adis tidak nakal sering minta permen dan sering mengganggu pak Ujang" jawab Anjas meledek
"Hehe... habisnya pak Ujang seling ngantuk kalau jaga pos satpam, jadi Adis ganggu supaya tidak ngantuk lagi" jawab Adisti
"Nakal, ayo kita berangkat sebelum kesiangan" ajak Anjas
"Let's go!" jawab Adisti semangat
"Pak, ini kopi bapak belum di minum" ucap Lilis
"Oh iya, saya lupa, saya minum di kantor saja, saya buru buru" jawab Anjas langsung menggendong Adisti dan pergi keluar rumahnya.
Lilis menatap cangkir kopi itu dengan tatapan datar, itu adalah kali ke sepuluh Anjas tidak lagi meminum kopi yang dia buat, bahkan Lilis bisa merasakan kalau Anjas tidak seramah dulu padanya, berbeda dengan perlakuannya pada Tari, Anjas tetap menghormati wanita paruh baya itu seperti pada seorang keluarga.
"Apa pak Anjas tahu.." gumam Lilis segera pergi dari sana menuju ke dalam kamarnya untuk menelpon Kunto.
Di perjalanan ke sekolah Adisti, Anjas terus mengepalkan tangannya karena dia kesal ternyata asisten rumah tangga yang di pekerjakan dia selama dua tahun ini adalah anak dari Kunto, bahkan dia juga yang membuat Anjas terkena teluh.
"Nak.. apa yang akan kamu lakukan? biar Aisyah nanti yang mengurus perempuan itu" bisik Suro dan Anjas mengangguk
"Pa, bi Lilis sekalang seling malah malah sama Adis pa, kalau Adis tanya selalu bilang belisik katanya" adu Adisti
"Tidak apa nak, nanti papa dan mama tegur bi Lilis" jawab Anjas mengusap kepala Adisti
"Pak Jaka, apa Juno sudah sampai di kantor?" tanya Anjas
"Kata Jamal sudah sampai pak" jawab Jaka supir dari Anjas.
"Ayo nak kita masuk, sudah sampai"
"Iya pa"
Anjas menggendong Adisti, di depan sudah menunggu Aisyah yang langsung di kecup keningnya oleh Anjas. Dia sengaja melakukan itu karena dia melihat Sofyan ada di seberang jalan memastikan berita yang ada di internet itu benar, dan dengan mengecup kening Aisyah, harusnya sudah cukup untuk membuat Sofyan tahu kalau Aisyah sudah dia miliki.
"Mas, kenapa ko sedikit terlambat?" tanya Aisyah
"Tadi di rumah ada masalah sedikit, aku meminta beberapa orang menambahkan lemari baru untuk pakaian milikmu" jawab Anjas
"Lemalinya besal ma" ucap Adisti
"Benarkah? pakaian mama hanya sedikit, harusnya di gabung saja dengan pakaian Adis" ucap Aisyah
"Semua pakaian kamu sudah tersedia di sana, kamu tidak perlu beli lagi, setiap ada model baru di butik, kamu yang akan pertama memakainya" ungkap Anjas
"Itu berlebihan mas, aku tidak suka berlebihan" ungkap Aisyah
"Itu kasih sayangku Aisyah, kalau pakaian yang sudah tidak kamu pakai sebaiknya di sumbangkan saja ke yang membutuhkan, supaya tidak menumpuk di lemari" jawab Anjas
"Terserah mas saja, aku akan menurut" jawab Aisyah kembali di kecup Anjas.
Cup.
"Adis juga halus kecup mama" ucap Adisti tak mau kalah mengecup pipi Aisyah
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, Sofyan yang melihat itu kembali marah dan memukul stir mobilnya. Tadinya dia ingin membuat Aisyah tidak bisa menolaknya lagi setelah dia menculiknya tapi dia gagal, rencananya gagal total setelah membaca berita-berita pernikahan Aisyah dan Anjas.
"Papa berangkat kerja ya, nanti papa jemput lagi karena hari ini kalian akan papa ajak ke kantor" ucap Anjas
"Iya, papa hati hati, di jalan banyak janda" jawab Adisti membuat Aisyah terkekeh
"Pasti Juno ini yang mengajari dia" keluh Anjas
"Tidak apa mas, nanti aku awasi supaya bahasa Adisti tidak mengatakan sesuatu yang tidak pantas di depan teman temannya" bujuk Aisyah
"Terima kasih ya, aku kerja dulu" ungkap Anjas merasa bahagia karena kehangatan memiliki pasangan sekarang mulai dia rasakan lagi.
Anjas berangkat ke kantor, tapi sebelum itu dia meminta beberapa bodyguard untuk menjaga Aisyah dan Adisti supaya tidak di ganggu Sofyan lagi, meskipun Sofyan punya pegangan ilmu halus, tapi Anjas yakin Sofyan tidak akan berani mendekat setelah tahu Aisyah jadi istri Anjas.
Sampai di kantor.
"Selamat pagi pak" sapa Sintia
"Kamu sudah ke tempat pak Gunawan?" tanya Anjas
"Sudah pak, itu sebabnya saya mau bicara dengan anda, kalau boleh tahu apa kesalahan saya sampaikan sampai anda memecat saya pak?" tanya Sintia
"Jangan berpura pura tidak tahu Sintia, dari sejak pertama berkerja di kantor ini, kamu terus menggoda saya bahkan kamu sengaja makan makanan milik saya saat saya tidak di kantor, kamu juga sudah kurang ajar mengoleskan sesuatu di kursi kerja saya dan itu membuat saya terganggu, semuanya terekam di CCTV ruangan saya" jawab Anjas membuat Sintia terkejut karena setahunya ruangan Anjas tidak memiliki CCTV.
"Tapi pak, bagaimana dengan semua jadwal bapak yang sudah saya atur? semuanya hanya saya yang hafal" tanya Sintia
"Ada Zayn, dia yang akan bertugas jadi sekertaris saya sekarang, dan semuanya sudah saya urus, kamu berikan saja jadwal saya selama satu bulan ini pada Zayn" jawab Anjas tidak mau melihat ke arah Sintia sama sekali.