"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
Gaun satin putih itu terasa sangat licin di kulit Ghea, tapi hatinya justru terasa sekaku batu. Ia berdiri di depan cermin, sementara Adrian berada di belakangnya, dengan tenang mengikat tali-tali gaun yang rumit di punggung Ghea. Ghea hanya bisa menatap pantulan dirinya yang nampak pucat dan rapuh, kontras dengan Adrian yang terlihat sangat berkuasa dengan kemeja hitamnya.
Ghea teringat lencana polisi yang ia temukan di bawah bantal tempo hari. Lencana itu adalah satu-satunya pegangannya, tapi ternyata Adrian sudah mengetahuinya. Pria itu bukan hanya penculik; dia adalah manipulator yang menikmati ketakutan korbannya.
"Selesai," bisik Adrian. Ia mencium bahu Ghea yang terbuka sebelum mendorong kursi roda Ghea keluar kamar.
Sepanjang koridor menuju ruang makan, Ghea tetap diam. Ia mencoba mempertahankan wajah datarnya, meskipun otaknya secara otomatis memindai setiap jengkal villa ini. Insting detektifnya—yang menurut Adrian adalah hasil didikan sekolah kepolisian—bekerja di luar kendalinya. Ia menghitung ada empat kamera CCTV di lorong ini, semuanya memiliki lampu merah kecil yang berkedip, menandakan mereka aktif merekam.
Mereka tiba di ruang makan yang diterangi cahaya lilin. Di atas meja kayu jati yang panjang, dua piring steak sudah tersaji dengan aroma yang seharusnya menggugah selera, tapi bagi Ghea, itu tercium seperti aroma kematian.
Adrian membantu Ghea pindah ke kursi makan dengan gerakan yang seolah sangat penuh kasih sayang. Namun, setiap sentuhannya membuat kulit Ghea meremang ngeri.
"Makanlah, Detektif," ujar Adrian sambil duduk di hadapan Ghea. Ia memberikan penekanan khusus pada kata 'Detektif' yang membuat Ghea hampir menjatuhkan garpunya.
Bi Inah keluar dari dapur dengan nampan berisi botol anggur. Langkahnya sangat pelan, kepalanya tertunduk sampai-sampai dagunya hampir menyentuh dada. Ghea langsung memperhatikan tangan wanita tua itu. Bekas merah di pergelangan tangannya kini nampak semakin membiru, seolah seseorang baru saja mencengkeramnya tanpa ampun.
"Bi Inah," panggil Adrian tanpa menoleh.
"Tuangkan anggurnya untuk Nona Ghea."
Bi Inah mendekat. Tangannya yang memegang botol bergetar hebat sampai bunyi kaca beradu dengan gelas terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Cairan merah tua itu mengalir, mengisi gelas Ghea hingga hampir penuh.
"Ma-maaf, Tuan... maaf," bisik Bi Inah ketakutan saat sedikit anggur tumpah di atas meja.
"Bersihkan," perintah Adrian singkat, nadanya sedingin es.
Ghea tidak tahan melihatnya. Saat Bi Inah membungkuk dengan kain lap, Ghea mencoba menangkap tangan wanita itu. Ia ingin memberikan dukungan, atau mungkin mencari sedikit informasi. Namun, Bi Inah dengan kasar menarik tangannya kembali. Ia menatap Ghea sekilas mata tua itu penuh dengan air mata dan permohonan agar Ghea tidak melibatkannya lebih jauh.
"Kenapa, Ghea? Kau ingin bertanya tentang luka di tangannya?" Adrian bertanya sambil mulai memotong steaknya dengan tenang. "Dia hanya sedikit lalai dalam menjaga rahasia rumah ini, jadi aku memberinya sedikit pengingat."
Ghea meletakkan alat makannya dengan bunyi denting yang keras. "Kau menyiksanya karena dia bicara padaku?"
"Aku mendidiknya, Sayang. Sama seperti aku akan mendidikmu jika kau tidak segera melepaskan wajah 'amnesia' palsumu itu," Adrian menyuapkan potongan daging ke mulutnya, mengunyahnya perlahan sambil menatap tajam ke arah Ghea.
Ghea terdiam. Ia merasa sesak. Adrian benar-benar sudah menutup semua aksesnya. "Kau bilang aku sudah dianggap mati oleh dunia luar. Jika kau begitu yakin, kenapa kau masih mengurungku dengan puluhan kamera dan pelayan yang ketakutan?"
Adrian terkekeh. Suara tawanya terdengar kering. "Karena kau adalah detektif yang cerdas, Ghea Zanna. Meskipun ingatanmu sedang bersembunyi di balik trauma, instingmu tetaplah seekor pemangsa. Aku tidak bisa membiarkan asetku yang paling berharga ini berjalan keluar dan merusak permainan yang sudah kususun dengan susah payah."
"Permainan apa, Adrian? Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Adrian meletakkan pisaunya, lalu menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Ghea dengan sorot mata obsesif yang mengerikan. "Aku ingin kau melihat dunia dari mataku. Kau selama ini mengejar penjahat, membela hukum yang bahkan tidak peduli saat kau hampir mati di jurang itu. Polisi-polisi yang kau sebut rekan itu... mereka yang membuatmu seperti ini. Mereka yang menjual lokasimu malam itu."
Ghea mengerutkan kening.
Potongan-potongan ingatan yang samar mulai muncul di kepalanya—suara sirine, silau lampu mobil, dan suara ledakan. Apakah Adrian jujur, atau ini hanya bagian dari pencucian otaknya?
"Aku tidak percaya padamu," desis Ghea.
"Kau tidak punya pilihan selain percaya," sahut Adrian. "Upacara pemakamanmu dilakukan tiga hari lalu. Nisanmu sudah berdiri tegak di pemakaman kota. Tidak ada lagi Detektif Ghea Zanna di dunia luar. Yang ada hanya Ghea, milik Adrian, di villa ini."
Adrian bangkit dari kursinya, berjalan memutar meja, dan berdiri di belakang Ghea. Ia membungkuk, menghirup aroma rambut Ghea. "Jangan mencoba meminta bantuan pada Bi Inah lagi. Setiap kali kau mencoba melakukannya, dia yang akan menanggung akibatnya. Kau tidak ingin wanita tua ini menderita lebih jauh karena ulahmu, kan?"
Ghea mengepalkan tangannya di bawah meja. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih. Ia merasa sangat tidak berdaya. Adrian menggunakan rasa kemanusiaannya untuk mengunci pergerakannya.
"Habiskan steakmu," bisik Adrian di telinganya. "Besok, aku akan membawamu berkeliling. Aku akan menunjukkan padamu sensor-sensor keamanan dan pintu-pintu yang hanya bisa dibuka dengan sidik jariku. Aku ingin kau sadar, Ghea... bahwa sangkar ini tidak punya celah."
Adrian kemudian mencium pelipis Ghea dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Ghea sendirian di meja makan yang luas itu.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Bi Inah sudah menghilang ke dapur. Ghea menatap piringnya yang masih penuh. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Di dekat kaki meja, ada sebuah garpu kecil yang jatuh—mungkin terjatuh saat Bi Inah panik tadi.
Ghea membungkuk perlahan, meski kakinya terasa nyeri. Dengan gerakan cepat, ia memungut garpu kecil itu dan menyembunyikannya di balik lipatan gaun satinnya yang lebar.
Mungkin sangkar ini memang tidak punya celah untuk kabur secara fisik, tapi Ghea mulai mengerti satu hal: Adrian sangat mencintainya—atau setidaknya, sangat terobsesi padanya. Dan obsesi adalah kelemahan terbesar seorang monster.
Jika ia tidak bisa keluar melalui pintu, maka ia akan menghancurkan sang pemilik rumah dari dalam.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....