Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Sah Sebagai Suami-istri
Sesuai dengan kesepakatan, orang suruhan Zaky sudah datang menjemput pihak Kenzie sekitar jam setengah 3 sore.
Pukul 16.00 WIB Laras dan Kenzie sudah berada di mobil untuk menuju kediaman Kenzo. Tidak ada yang mereka bicarakan, Kenzie menatap kendaraan yang berlalu-lalang dengan pipinya yang basah. Semakin ia seka, semakin deras airmatanya mengalir.
"Kak Vito, maafkan aku, maaf." bathin Kenzie.
"Setelah selesai semua ini, aku akan kembali padamu. Cuma kamu yang menjadi tujuanku," lanjutnya.
Laras memperhatikan putrinya pun ikut bersedih. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti alur. Ia menyadari bukan ibu yang sempurna, bukan ibu yang tegas dan berprinsip. Tetapi ia juga ingin memastikan masa depan putrinya akan hidup dengan layak, dan hidup dalam keluarga yang jelas.
"Seharusnya kamu pulang ke rumah untuk menikmati hari liburmu, nak. Tapi, justru membuat kamu dalam tekanan batin yang Ibu buat, maaf." bathin Laras.
Laras pun juga tidak kuasa menahan air matanya, ia juga memalingkan wajahnya ke arah jalan agar tidak ada yang melihatnya menangis.
Sementara itu, sore ini Mia sudah sangat sibuk untuk menyambut kedatangan calon besan dan menantunya. Meskipun keputusannya hanya menikah siri, tetapi Mia tetap ingin membuat acara makan bersama keluarga.
"Banyak banget masaknya, Ma." ujar Kenzo lalu mengambil air minum dingin dari kulkas.
"Namanya juga mau mantu," jawab Mia sumringah.
Kenzo langsung meneguk air itu lebih banyak. Senyum Mia membuatnya semakin kesal, namun, hanya ia simpan dalam pikiran dan hati. Jika bukan demi cita-cita, sudah pasti Kenzo memberontak keras dan memilih pergi jauh.
"Apa sih istimewanya anak itu?!" bathin Kenzo.
"Rekan kerja papa 'kan banyak! kenapa harus dia yang cuma anaknya anak buah mama! dasar orangtua aneh!" lanjutnya.
"Mandi sana! ganti baju yang rapi!" ujar Mia menyadarkan lamunan putranya.
"Sebentar lagi Kenzie datang, awas kalau mereka datang kamu belum mandi!"
"Iya Nyonya, iyaaa!" jawab Kenzo berteriak.
Kenzo langsung menyiapkan air pada bath up untuk berendam agar lebih bisa menenangkan pikirannya.
"Gue harus mengkhianati Gita, gue harus membohonginya! maaf, semua itu kulakukan demi masa depan kita."
"Sekarang kamu hanya tau aku pemilik bengkel dan toko itu, semua ku persiapkan tanpa sepengetahuan kamu agar menjadi kejutan nantinya,"
Kenzo memejamkan matanya seraya membayangkan tingkah manja sang kekasih. Namun, saat sedang membayangkan wajah Gita, tiba-tiba bayangan itu berubah menjadi wajah Kenzie yang sedang marah-marah padanya sehingga senyum itu langsung hilang.
"Kenapa dia lagi ikut-ikutan muncul!" protes Kenzo langsung membuka mata.
Karena tokoh dalam bayangannya berubah, Kenzo langsung mempercepat untuk mandi sebelum pintu kamarnya digedor-gedor oleh Mia.
...
Pukul 17.45 WIB akhirnya Laras dan Kenzie tiba dikediaman Kenzo. Mereka langsung disambut dengan hangat. Tak hanya mereka berdua, sebagai warga yang menghargai aparat, Laras membawa ketua RT untuk sebagai saksi dan juga sudah mengetahui cerita keluarga dari warganya itu.
"Akhirnya sampai juga di sini, gimana? lancar perjalanannya?" sambut Mia seraya memeluk Kenzie dengan hangat.
"Alhamdulillah lancar, Tan." jawab Kenzie.
"Mari-mari, silahkan duduk." ujar Zaky dengan ramah.
Kedua pihak keluarga itu membawa total 6 orang. Sebelum tiba pada acara inti nanti malam, mereka mengobrol lebih dulu untuk membahas acara yang sebentar lagi dilaksanakan.
"Pantesan tengil! ternyata dia anak orang kaya!" bathin Kenzie setelah mengitari pandangannya.
Rumah tersebut Kenzie tebak telah mengalami renovasi, dari bangunan model lama yang diperbarui agar terkesan lebih modern. Tetapi akan terlihat model lama di bagian dalamnya. Rumah model lama yang memiliki dua lantai.
"Mari kita makan dulu, karena setengah 7 nanti Kenzie harus make-up," ujar Mia yang sudah mendapatkan kode dari asisten rumah tangga bahwa persiapan sudah selesai.
"Nggak perlu dandan kok, Tan. Gini aja nggak papa," tolak Kenzie yang merasa hal itu sangat tidak penting.
"Sstt, harus tetap maksimal untuk momen seumur hidup." jawab Mia.
"Seumur hidup?" bathin Kenzie.
"Berarti aku juga nggak cantik, jadi, harus didandani?" lanjutnya.
Kenzie langsung menarik napas dalam-dalam agar tidak terlalu tersinggung dengan kalimat itu.
"Haha! pasti dia sadar diri kalau nggak cantik!" bathin Kenzo setelah melirik untuk melihat reaksi calon istrinya itu.
Untuk mengatur waktu yang serba mepet, jam 6 sore mereka sudah selesai makan.
Pukul 18.30 WIB
Mia mengundang MUA yang sudah menjadi langganannya. Pria kemayu itu sangat lentik memoles wajah Kenzie. Meskipun pegawainya di beberapa salonnya sangat banyak, tetapi Mia tidak ingin melibatkan mereka, dan memilih untuk menggunakan orang lain.
"Sehat sekali kulitnya," puji mua.
"Dirawat, Mas." jawab Kenzie.
"Mas? OH MY GOD!" protes sang mua merasa sia-sia karena sudah berdandan ala perempuan.
"Iya Bang, maaf." ucap Kenzie.
"Ihhh kesel deh! kalau bukan karena jeng Mia, sudah ku potel nih mulut kau yang comel!"
Meskipun sedang dalam suasana hati yang tidak karuan, berkomunikasi dengan mua ini cukup menghibur Kenzie.
"Ayo tarik napas pelan-pelan, dilarang emosi ... istighfar tiga kali ... keluarkan pelan-pelan, yups pintar." tuntun Kenzie sembari menahan tawa.
Mua tersebut bisa-bisanya menuruti apa yang dikatakan oleh Kenzie.
"Cukup lega ya sist, pinter deh." pujinya.
Kenzie langsung menutup mulutnya karena semakin ingin tertawa.
...
Semakin mendekati waktu ijab qobul, Kenzie semakin tidak bisa menahan air matanya. Mereka sudah berkumpul di kediaman penghulu yang menerima pernikahan siri.
"Ibu pasrah, kalau kamu mau membatalkan pernikahan ini, tegas saja, nak." bisik Laras.
Kenzie menggelengkan kepalanya, ia tidak akan membatalkan apa yang sudah disepakatinya.
"Ibu jangan khawatir," balas Kenzie mengusap punggung tangan Laras.
Penghulu dan Kenzo sudah duduk saling berhadapan, Kenzie pun duduk di sebelah calon suaminya itu. Ia tidak melihat kegugupan pada diri Kenzo.
"Saudara Kenzo Wibowo bin Zaky Wibowo!"
Tak banyak orang di sana, namun, tetap terasa khidmat. Kenzo dengan lantang menjalani proses ijab qobul.
"Bagaimana saksi?"
"SAAAHHH!"
Semua kompak menangkupkan kedua tangannya dengan rasa syukur, kecuali Kenzie yang semakin tersedu-sedu saat pembacaan do'a. Setelah menarik napas panjang, sesak di dadanya cukup bisa terkendali.
"Kalian memang sudah sah sebagai suami-istri, tetapi, saya tetap menganjurkan kepada kalian untuk meresmikan secara sah negara. Kalau memang tidak suka ribet, menikah di KUA saja cukup mudah dan gratis."
"Selain itu, kalian sudah memantapkan menikah siri seharusnya sudah mempertimbangkan berbagai macam konsekuensinya, terutama pihak wanita. Sehingga tidak akan saling menyalahkan di kemudian hari, apalagi menyalahkan saya."
Penghulu tersebut tetap memberikan nasehat agar mampu direnungkan oleh pasangan baru yang baru saja ia nikahkan itu. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai penghulu, sudah banyak pasangan yang ia resmikan, namun, banyak yang kembali datang dengan calon pasangan lainnya.
"Iya Pak," jawab Kenzo dan Kenzie bersamaan.
Meskipun pernikahan secara siri, tetap saja ada dokumen yang mereka tandatangani untuk bukti bahwa mereka telah sah sebagai suami-istri.
"Silahkan bersalaman dulu,"
Setelah selesai membubuhkan tandatangan, penghulu meminta pasangan baru itu untuk berjabat tangan. Dengan tangan gemetaran dan ragu, keduanya saling berhadapan.
"Ya Allah, tolooooong!" seru Kenzie dalam hati.
Kenzo langsung menarik tangan Kenzie karena terlalu lama.
Tidak hanya berjabat tangan, Mia telah mempersiapkan cincin pernikahan yang membuat mereka terpaksa harus memakainya.
"Tahan dulu, buat dokumentasi."
"Senyum!" bisik Kenzo pada Kenzie.
"Cium keningnya dulu," goda fotografer yang juga anggota keluarga Kenzo.
"NGGAK MAU!" tolak Kenzo dan Kenzie bersamaan.
Mereka langsung tertawa karena menganggap keduanya masih malu-malu.
"Ya sudah, nanti di kamar saja." sahut penghulu.
Meskipun sedikit lega, kata kamar membuat detak jantung Kenzie semakin berdegup kencang.
"Pada ngawur semua!" bathin Kenzie.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍