NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-31

Setelah melahirkan dan dua hari masa pemulihan Elisa dirumah sakit Akhirnya di perbolehkan pulang ke Rumah. Mansion yang biasanya sunyi dan berwibawa itu kini berubah menjadi medan perang perlengkapan bayi. Di setiap sudut terdapat tumpukan popok, botol susu yang sedang disterilkan, dan aroma minyak telon yang menyeruak hebat mengalahkan parfum mahal milik Kalandra.

Jika Kalandra Mahendra mengira bahwa memimpin ribuan karyawan di bawah tekanan krisis ekonomi adalah tantangan tersulit dalam hidupnya, maka ia salah besar. Tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai pada malam pertama mereka kembali ke mansion bersama tiga penghuni baru yang mungil.

Pukul 02.00 dini hari. Suasana yang tadinya tenang mendadak pecah dan riuh oleh suara lengkingan dari boks bayi di sudut kamar.

"Oeeekk! Oeeekk!"

Kalandra, yang baru saja memejamkan mata selama lima belas menit di sofa samping tempat tidur Elisa, langsung meloncat berdiri seolah ada alarm kebakaran. Matanya merah dengan rambutnya yang acak-acakan, dan kancing piyamanya pun tidak berurutan.

"El, El... itu si Abang bangun!" bisik Kalandra dengan nada panik yang tertahan.

Elisa mencoba membuka matanya, namun rasa kantuk dan kelelahan serta proses menyusui membuatnya sulit bergerak. "Mas... tolong di cek popoknya dulu..."

Kalandra mendekati boks. Baru saja ia hendak mengangkat si Abang dari dalam boksnya, tiba-tiba dari boks sebelah kiri, putri pertamanya ikut menyahut.

"Oeeekk! Oeeekk!"

Dan seolah tidak mau ikut kalah, putri kedua yang berada di boks kanan pun ikut meledak dalam tangisan.

"Tiga-tiganya, El! Mereka nangis barengan!" Kalandra berdiri di tengah tiga boks itu, tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti konduktor orkestra yang kehilangan tongkatnya. "Aduh, yang mana dulu? Abang? Adik Satu? Atau Adik Dua?"

Di luar kamar, Gery dan Bimo yang memang diminta siaga di sayap bangunan sebelah untuk urusan keamanan, ikut terjaga karena suara tangisan yang menembus dinding kamar mereka, padahal kedap suara kamar itu.

"Ger, lo denger itu? Kayaknya Bos lagi butuh bantuan," ujar Bimo sambil mengucek matanya.

Gery, yang masih mengenakan kaos oblong bergambar pahlawan super, langsung bangkit. "Iyaa, denger gue. Ayo kita lihat…Gue nggak tega denger tangisan tiga bayi sekaligus. Rasanya kayak denger alarm bank yang bobol."

Tanpa ketuk pintu sebagai formal, keduanya malah langsung membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar. Mereka melihat pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan, Kalandra yang biasanya dingin, kaku itu sedang mencoba menggendong dua bayi di tangan kanan dan kirinya, sementara kaki kanannya mencoba menggoyang-goyangkan boks bayi ketiga.

"Bos... butuh bantuan tangan tambahan, nggak?" tanya Gery sambil menahan tawa melihat wajah bosnya yang sudah pasrah.

"Gery! Bimo! Cepat ambilkan popok baru dan air hangat! Jangan cuma berdiri di situ!" seru Kalandra.

Maka dini hari ini terjadilah kekacauan yang sangat lucu. Gery, yang tangannya lebih terbiasa memegang senjata, kini harus belajar cara membedong bayi di bawah instruksi panik Kalandra.

"Pelan-pelan, Ger! Jangan terlalu kencang, nanti dia kayak lemper!" tegur Kalandra saat melihat Gery membungkus si Adik Dua dengan sangat rapat.

"Maaf, Bos! Gue biasanya bungkus barang bukti, bukan manusia mungil kayak gini!" sahut Gery keringat dingin.

Sementara itu, Bimo yang lebih kalem. Ia membantu Elisa duduk dan memberikan air minum. "Sabar ya, El. Lan, lo juga harus tenang. Bayi bisa ngerasain kalau lo panik."

...----------------...

Satu jam kemudian, badai kepanikan dan tangisan itu mereda. Ketiga bayi itu akhirnya tertidur kembali setelah diganti popok dan disusui. Gery dan Bimo memutuskan untuk tetap berjaga di ruang tengah kamar agar Kalandra dan Elisa bisa istirahat sejenak.

Kalandra duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. Ia mengatur napasnya. "Gila... ini lebih capek daripada rapat umum pemegang saham sepuluh jam nonstop."

Elisa mengusap bahu Kalandra. "Makasih ya, Mas. Mas hebat banget tadi, walaupun sempat bingung mau angkat yang mana dulu."

Kalandra menatap istrinya, lalu tersenyum tipis. "Aku baru sadar, El. Kekuasaan dan uangku nggak ada artinya di depan tiga manusia kecil ini. Mereka nggak peduli aku CEO atau bukan, kalau mereka laper ya mereka teriak."

Ia lalu menarik tangan Elisa dan menciumnya. "Tidur ya, Sayang. Biar aku yang jaga mereka sama Bimo dan Gery di sini."

"Mas juga harus tidur..."

"Nanti. Aku mau liat wajah mereka sebentar lagi," gumam Kalandra sambil menatap tiga boks itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku masih nggak percaya mereka beneran ada di sini bersama kita."

...----------------...

Pagi harinya, keriuhan berpindah ke ruang makan. Tuan Baskoro datang dengan membawa setumpuk mainan yang seharusnya untuk anak usia lima tahun, bukan untuk ukuran bayi yang baru lahir.

"Pa, mereka belum bisa main robot-robotan itu," tegur Kalandra saat melihat ayahnya sibuk mengeluarkan mainan dari kardus.

"Landra, ini buat investasi kesenangan mereka nanti! Kamu jangan kaku jadi orang," balas Baskoro. Ia lalu menghampiri Elisa yang sedang menggendong si Adik Satu. "Sini, biar Kakek yang gendong. Kamu makan dulu, Elisa. Kamu harus kuat makan karena kamu juga harus kasih ASI ke tiga jagoan papa ini, Nak."

Baskoro menggendong cucunya dengan sangat luwes. Ternyata, di balik ketegasannya sebagai pengusaha sukses, ia adalah seorang kakek yang sangat lembut. Ia bahkan mulai mengajak bicara cucu-cucunya dengan suara yang sengaja dicemprengkan.

"Halo Cantik... ini Kakek. Nanti kalau sudah besar, Kakek belikan toko boneka ya? Atau kita beli mal-nya sekalian?"

Nyonya Siska masuk membawa mangkuk sup kacang hijau. "Pa, jangan ajarkan mereka jadi konsumtif sejak umur tiga hari! Landra, liat Papa kamu, makin tua makin aneh."

Kalandra tertawa lepas. "Haha…Biarin aja, Ma. Yang penting Papa seneng."

Di sela-sela kebahagiaan itu, Kalandra mengajak Elisa bicara empat mata di balkon kamar saat bayi-bayi sedang tidur siang di bawah pengawasan ketat Bi Inah dan tim perawat.

Kalandra memeluk Elisa dari belakang, menumpukan dagunya di bahu istrinya. "El..."

"Ya, Mas?"

"Aku sudah putuskan. Aku akan ambil cuti panjang. Urusan operasional harian di kantor akan aku serahkan ke Bimo dan wakil direktur dulu. Aku mau ada di sini, di samping kamu, dan selalu liat mereka tumbuh setiap harinya."

Elisa tertegun. "Mas serius? Mahendra Group gimana?"

"Mahendra Group nggak akan bangkrut cuma karena aku nggak ngantor beberapa bulan. Tapi aku bakal nyesel seumur hidup kalau aku kehilangan momen pertama mereka merangkak atau panggil nama kita," Kalandra memutar tubuh Elisa agar menghadapnya.

Ia menatap mata Elisa dengan begitu dalam, tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan. "Aku mau kita bener-bener jadi keluarga, El. Bukan cuma di atas kertas, bukan cuma karena tanggung jawab. Aku mau kita mulai dari awal, tanpa bayang-bayang malam itu. Kamu... mau kan mulai semuanya sama aku?"

Elisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "Aku sudah memulainya sejak pertama kali Mas pegang tangan aku di rumah sakit waktu itu, Mas. Aku sayang sama kamu."

Kalandra tersenyum, lalu mengecup bibir Elisa dengan lembut. "Aku lebih sayang sama kamu. Dan terima kasih sudah jadi wanita yang paling kuat yang pernah aku kenal."

Namun, di tengah-tengah Suasan yang begitu manis itu tanpa mereka sadari kehidupan dengan bayi kembar tiga itu tidak akan pernah benar-benar tenang. Baru saja mereka ingin menikmati momen romantis itu, suara tangisan kembali pecah dari dalam kamar. Dan kali ini, suaranya lebih nyaring dari semalam.

“Oeeekk! Oeeekkk! Oeeeekk!”

"Satu... dua... tiga," Kalandra menghitung jumlah tangisan yang merusak suasana romantis itu secara bergantian. "Oke, Sayang. Waktu romantisnya habis. Pasukan sudah bangun."

Kalandra langsung berlari masuk, siap dengan popok di tangan kiri dan botol susu di tangan kanan. Gery yang sedang lewat di lorong langsung diseretnya masuk.

"Ger! Sini! Bantuin bedong lagi!"

"Aduh Bos, gue baru aja mau makan siang!" keluh Gery, namun kakinya tetap melangkah masuk dengan sigap.

Mansion Mahendra mungkin tidak lagi sesunyi dulu. Mungkin akan ada banyak malam tanpa tidur, banyak keriuhan, dan banyak kekacauan popok. Namun, di tengah semua hiruk pikuk itu, ada satu hal yang pasti, rumah ini sekarang memiliki nyawa. Tidak ada lagi gunung es yang membeku, yang ada hanyalah seorang ayah, seorang ibu, dan tiga malaikat kecil yang menyatukan mereka dalam sebuah melodi cinta yang paling indah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat Membaca guysss🥰☺️...

...Jangan lupaaa hadiaaanyaaa🙏🏻🌹😂...

1
Hari Saktiawan
lope lope lope author /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
memei
harusnya berusaha menemui apapun yg trjadi ,jangan ikutin kata teman2mu yg mlh kesannya kalandra biar gak bisa tanggungjwab dan mana mgkn masalah bisa selesai kalo gak dihadapi
memei
2 teman kalandra ini mkstnya gimana sih , kalandra mau tanggung jawab mlh kayak gak dukung gitu ... mereka ini temsn ato musuh sih kan elisa sudah terlanjur hamil mau gak mau harus tetap tanggungjwab .ini 2 temen kalandra emang profokator
memei
gak akan rumit ,tanggung jawab nikahi elisa
memei
ceritanya bagus tp kok sepi koment
falea sezi
sweet bgt sih ndra
falea sezi
sayang bgt ya paak ma anak duhh gemess.. q ksih hadiah lagi buat triple
falea sezi
suka deh lahir si triple jd keinget anak ku Thor kembar 3 jg tp cowok semua yg satu keguguran
Xyaz Dewi
seru banget
falea sezi
q ksih hadiah biar ending nya bagus
falea sezi
moga sehat ampe lahiran
fatih faa
Thor manggil nya jangan saya
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara is here
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!