Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Gugup?
Yumna sudah siap memasang wajah angkuh ala ratu sejagat, tangannya sudah bersiap dipinggang, dan dadanya sudah dibusungkan. Namun, tepat saat sistem 'Vera' mengumumkan kedatangan para pengganggu itu, sebuah gejolak dahsyat terjadi di perut bagian bawahnya.
Kruyuuuk... blubuk... blubuk...
Wajah Yumna yang tadi penuh dendam membara, mendadak berubah pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya. Sosis premium yang ia makan dengan penuh kemenangan saat sarapan tadi sepertinya sedang melakukan demo anarkis di dalam ususnya.
"Tunggu Mas..." Yumna meremas lengan kemeja Evander dengan kuat.
Evander mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Ada apa? Kamu gugup?"
"Bukan gugup Mas... tapi sepertinya panggilan alam lebih utama saat ini. Tadi kebanyakan makan sosis, sekarang semesta benar-benar tak memihak perutku! Tolong pending dulu pertemuan dengan mereka, suruh mereka tunggu di taman atau di bagasi sekalian!"
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya yang masih mematung, Yumna langsung ngacir dengan gaya lari yang sangat aneh, setengah jinjit sambil menahan sesuatu yang sudah di ujung tanduk.
"Yumna! Kamar mandi tamu ada di sebelah kanan!" teriak Evander.
Tapi Yumna sudah tidak mendengar. Otaknya sudah kehilangan fungsi navigasi. Ia hanya melihat sebuah pintu besar di ujung lorong yang tampak sangat kokoh. Dalam pikirannya, pintu mewah pasti punya toilet mewah.
Brakk!
Yumna mendorong pintu itu dan langsung lari ke dalam. Ia tidak melihat sekeliling, yang ada di pikirannya hanyalah sebuah singgasana porselen putih. Ia berhasil menemukan pintu kamar mandi di dalam ruangan itu dan langsung masuk dengan kecepatan cahaya.
Sepuluh menit kemudian...
"Aaaaah... lega..." gumam Yumna sambil menyandarkan kepalanya di dinding kamar mandi. Keheningan melanda sejenak, sampai akhirnya ia mulai tersadar akan sesuatu.
Yumna keluar dari kamar mandi dan baru menyadari bahwa ia tidak sedang berada di kamar mandi tamu. Ia berada di sebuah kamar tidur yang sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam. Wangi parfum Evander menyeruak di setiap sudut.
Di atas tempat tidur, ada beberapa dokumen bisnis yang berserakan dan sebuah jam tangan mewah yang diletakkan sembarangan.
"Mati aku... ini kan kamar Mas Kulkas!" bisik Yumna panik.
Ia baru saja ingin mengendap-endap keluar, namun telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. Bukan hanya satu orang, tapi beberapa orang.
"Vera, di mana Yumna?" suara bariton Evander terdengar tepat di depan pintu kamar.
"Nyonya Yumna terdeteksi berada di dalam kamar pribadi Anda, Tuan," jawab suara AI itu dengan polosnya.
Yumna membelalakkan mata. "Woi Vera! Kenapa kamu jujur banget sih?!" umpatnya pelan.
Pintu kamar terbuka. Evander masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah menghadapi kelakuan ajaib istrinya. Di belakangnya, Cindy dan Desta malah mengekor dengan wajah penuh rasa ingin tahu dan cibiran yang sudah siap dilontarkan.
"Lho? Kok Yumna di sini?" Cindy langsung nyeletuk dengan nada sinis. "Baru pindah sehari sudah berani masuk ke kamar pribadi Kak Evander? Kamu lagi cari brankas ya?"
Desta menatap sekeliling kamar mewah itu dengan tatapan iri yang tidak bisa disembunyikan. Namun, melihat Yumna berdiri di tengah kamar Evander dengan wajah yang masih agak pucat, ia merasa punya kesempatan untuk menjatuhkan mental mantan tunangannya itu.
"Yumna, kamu jangan lancang. Kamu itu cuma orang luar yang beruntung. Jangan sok merasa memiliki rumah ini," ucap Desta sok menasihati.
Yumna, yang sosisnya sudah berhasil "dievakuasi", kini mentalnya kembali pulih seratus persen. Ia menegakkan punggungnya, menatap Cindy dan Desta bergantian, lalu berjalan perlahan menuju ranjang Evander dan duduk di pinggirnya dengan santai, seolah itu adalah hal paling normal di dunia.
"Lancang? Maaf ya Mas Desta dan Adik Ipar," Yumna menekankan kata 'Adik Ipar' dengan sangat tajam. "Saya ini istrinya. Kalau saya mau guling-guling di atas ranjang ini, mau bongkar brankas, atau mau ganti sprei ini jadi motif beruang kuning pun, itu hak saya. Mas Evander saja nggak keberatan, kok kalian yang repot?"
Evander hanya diam, namun satu sudut bibirnya berkedut menahan tawa melihat Yumna yang kembali "beraksi".
"Kak! Lihat dia! Benar-benar nggak tahu diri!" adu Cindy pada Evander.
Evander berjalan mendekat ke arah Yumna, lalu di depan mata Desta yang melotot, ia mengusap puncak kepala Yumna dengan lembut. "Biarkan saja, Cindy. Kamar saya adalah kamarnya juga. Kalau dia mau nyasar di sini setiap hari pun, saya akan dengan senang hati menemaninya agar tidak tersesat lagi."
Wajah Desta seketika berubah hijau karena cemburu dan malu. Yumna tersenyum penuh kemenangan dari atas singgasana barunya.
"Jadi... ada perlu apa kalian ke sini? Mengganggu waktu istirahat pengantin baru saja," ucap Yumna sambil pura-pura merapikan bantal Evander.
Cindy melangkah maju dengan dagu terangkat, seolah-olah pengumuman yang akan ia sampaikan adalah berita paling membahagiakan bagi umat manusia. Ia merangkul lengan Desta dengan posesif, sementara Desta berusaha memasang wajah seserius mungkin agar terlihat berwibawa di hadapan CEO besarnya.
"Kak Evander, kedatangan kami ke sini sebenarnya bukan sekadar bertamu," ujar Cindy dengan nada yang dibuat semanis mungkin. "Aku dan Desta sudah sepakat untuk meresmikan hubungan kami. Kami sudah resmi pacaran, dan kami berencana tunangan bulan depan, lalu segera menikah."
Yumna yang masih duduk di pinggir ranjang Evander nyaris tersedak ludahnya sendiri. Wah, gerak cepat juga ya amuba satu ini, batinnya.
"Jadi," Cindy melanjutkan dengan mata berbinar-binar penuh ambisi, "aku punya dua permohonan kecil untuk Kakak. Pertama, tolong bantu bicarakan dengan Kakek. Kakak tahu sendiri kan Kakek sangat menghormati pendapat Kakak? Kalau Kakak yang bicara, Kakek pasti langsung setuju dan memberikan restu, sekaligus dana pesta yang pantas untuk cucu perempuan satu-satunya."
Evander hanya diam, wajahnya sedatar papan penggilesan, namun sorot matanya yang dingin mulai berpindah ke arah Desta yang kini berkeringat dingin.
"Dan yang kedua..." Cindy melirik Desta penuh bangga. "Aku mau posisi Desta dinaikkan. Supaya kami seimbang dan nggak jadi omongan orang di kantor. Kalau aku manajer, Desta juga harus manajer. Nggak lucu kan kalau calon suamiku cuma staf biasa yang bisa disuruh-suruh?"
Mendengar permintaan kedua itu, pertahanan Yumna runtuh. Bayangan Desta, yang biasanya hanya sibuk membuat laporan bulanan sambil mengeluh, tiba-tiba melompat jadi manajer hanya bermodalkan "jalur orang dalam" terasa sangat komedi baginya.
Yumna spontan cekikikan. Suaranya kecil, ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang-guncang menahan tawa yang nyaris meledak. Ia mencoba mengalihkan wajahnya ke arah bantal besar di ranjang Evander, tapi bunyi hi-hi-hi yang tertahan itu tetap lolos.
Telinga Evander yang sangat tajam segera menangkap frekuensi suara aneh itu. Ia menoleh sedikit, melirik istrinya yang sedang berjuang keras melawan tawa di atas ranjangnya.
"Ada yang lucu, Yumna?" tanya Evander dengan suara rendah yang terdengar sangat berwibawa.
Yumna langsung menegakkan duduknya, wajahnya memerah karena menahan tawa, matanya sampai sedikit berair.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...