Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bule dari Rusia
Ibu kota, tempat dimana kebanyakan orang berkumpul dan pusat semua kesibukan dalam satu negara.
Setiap harinya, di ibukota itu selalu saja terjadi hal-hal yang menguji emosi para warganya.
Dan salah satu di antaranya adalah....
Kemacetan.
Rasa-rasanya, macet-macetan di jalanan adalah kebiasaan pasti yang di lakukan penduduk ibukota tiap harinya.
Suara mesin yang di geber, suara klakson yang terus berbunyi hingga menimbulkan irama yang membuat amarah meningkat.
Serta orang-orang rese yang tidak sabaran dan emosian selalu muncul dimanapun di ibukota ini.
Di antara lautan motor dan mobil, di antaranya ada MC cerita ini yang ikut macet-macetan bersama semuanya.
Ia adalah Wawan.
Seorang Ojol yang menaiki sebuah motor Supra legen yang kini sudah mulai tidak pernah menampakkan dirinya lagi di ibukota ini.
Berbeda dengan semua orang yang ada di jalan itu.
Wawan tampak sangat tenang dan memasang wajah datar meskipun suasana di sekitarnya sangat membuat emosi.
Tatapannya selalu tertuju ke depan dan tidak pernah sekalipun menengok ke kiri ataupun kanana.
Ia adalah pria yang selalu lurus...
Hingga di jalan menikung pun ia tetap berkendara lurus dan akhirnya mengalami kecelakaan konyol.
Tapi yah...
Itu dulu. Sekarang, Wawan sudah agak mendingan karena bisa berbelok bilamana di hadapannya ada tikungan.
Tak lama, tiba-tiba saja Wawan mendengar sebuah suara yang terdengar dari alat yang terpasang di telinganya yang ada di dalam helm.
"Agen Wawan!!" Ucap pihak lain dengan serius.
Dari suaranya, pihak lain ini adalah seorang perempuan muda dengan nada bicara yang kaku dan formal.
"Ya, aku di sini!" Jawab Wawan dengan nada yang datar tanpa sedikitpun merubah ekspresinya.
Pihak lain lanjut berkata... "Aku tahu ini misi yang penting, tapi... Mukamu itu tolong di kondisikan, itu lebih datar dari papan triplek!"
"Kalau kamu memasang ekspresi seperti itu ketika sedang melakukan penyamaran dan pengintaian, kamu pasti akan langsung ketahuan!" Pihak lain seakan ingin menepuk jidatnya.
Ia tak habis pikir.
Bagiamana bisa seorang agen bisa begitu tegang ketika menjalankan misi penting yang mana itu tentu saja berpotensi ketahuan.
Meksipun begitu, Wawan tak sedikitpun merubah ekspresinya.
Ia tetep datar dan malah menjawab.
"Seperti inilah caraku bekerja, tolong jangan banyak komplain!" Nada yang terucap itu membuat pihak lain terdiam.
Pihak lain selaku rekan baru Wawan tampak terkejut sekaligus kagum.
Karena baginya, perkataan Wawan tadi terdengar seperti seorang agen yang sangat profesional dan penuh kepercayaan diri.
Padahal...
Aslinya tidak seperti itu, Wawan sama sekali bukan agen profesional.
Ia hanya agen amatiran yang baru bertugas selama beberapa bulan saja.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, karena target kita kali ini adalah orang yang sangat berbahaya!" Pembicaraan pun di tutup.
Lanjut Wawam berkendara sambil memasang ekspresi yang sama sepanjang jalan.
Hingga akhirnya, ia tiba di lokasi yang ia tuju...
Yaitu sebuah Warteg.
Wawan turun dari motornya dan kemudian memesan makanan di warteg yang ia singgahi sekarang. "Bu! Nasi, tempe sama tahu!" Ucapnya singkat.
Si ibu pemilik Warteg sampai terdiam ketika Wawan tiba-tiba datang dan memesan makanan dengan wajah datar.
"Oh... Baik!" Ia pun segera mengambil piring dan menyiapkan pesanan Wawam tadi.
"Ini...!" Ia memberikan makanan itu pada Wawan dan sejenak terdiam sambil menatap wajah datar Wawan.
Wawan pun terdiam sambil menatap datar si ibu pemilik Warteg.
Cukup lama mereka terdiam sambil tatap-tatapan.
Tatapan datar yang di tunjukan oleh Wawan itu membuat si ibu pemilik Warteg tampak tak tenang.
Ia merasa aneh pada Wawan yang tidak sedikitpun menunjukan emosi ataupun berbicara apa-apa.
Karena itu, si ibu segera pergi ke belakang untuk menyiapkan sesuatu.
Ia berusaha membuat dirinya terlihat sibuk agar tidak berhadap-hadapan dengan Wawan lagi.
Wawan sendiri kemudian makan.
Namun, tak lama pupil matanya bergeser, melirik ke arah orang yang duduk di sampingnya.
Di sana, ada seorang bule betkuli putih dan menggunakan baju jas rapi sedang duduk sambil makan.
Dari caranya makan saja sudah terlihat jelas kalau ia tidak cocok dengan makanan di sini, tapi, meksipun begitu ia tetap saja lanjut makan.
Tanpa melepas helmnya Wawan pun makan dan bersikap normal seperti pelanggan lainnya.
Tak lama kemudian, si bule yang duduk di sebelah Wawan mendapatkan panggilan dari seseorang.
Entah apa yang ia bicarakan pada saat itu.
Ia bicara pakai bahasa Rusia jadi Wawan sama sekali tidak mengerti.
Namun, ada satu perkataan yang dapat di tangkap oleh Wawan.
Yaitu sebuah nama dari seseorang.
Kipli.
Kipli sendiri adalah Pimpinan dari sebuah geng kartel yang sekarang sedang di selidiki oleh Wawan.
Tampaknya, si bule dan orang bernama Kipli akan melakukan sebuah transaksi.
Ketika pembicaraan telah selesai, bule itu kemudian pergi setelah membayar makanannya dengan mata uang dari negaranya.
Ia meletakan uangnya di atas meja kemudian pergi dari sana tanpa mengucapakan sepatah katapun ataupun menunggu kembalian.
"... Raisya! Kamu di sana!?" Tanya Wawan yang bertanya pada pihak yang tadi berbicara dengannya.
Pihak lain pun menjawab. "Ya, aku di sini!"
"Target telah aku temukan dan sekarang ia sedang pergi untuk melakukan transaksi... Mungkin!"
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang!?" Wawan terus memperhatikan bule itu hingga si bule masuk ke dalam mobil mewah.
"Apalagi? Tentu saja ikuti dia secara diam-diam!" Segera Wawan bangkit dari tempat duduknya dan pergi.
Tentu, sebelum itu ia meninggalkan uang merah di atas meja...
Tapi Wawan kembali lagi ke Warteg karena merasa memberikan uang merah itu tidak sepadan untuk tempe dan tahu.
Ia pun mengganti uangnya dengan yang lebih kecil yang setara dengan harga nasi, tempel sama tahu.
Baru setelah itu ia mulai mengikuti bule Rusia tadi menggunakan motor Supra miliknya.
Seorang beberapa saat.
Si bule merasa ada yang salah karena terus melihat seorang Ojol yang mengikutinya dari belakang. "Siapa itu?... " Dalam bahasa Rusia.
Merasa ada yang janggal, ia langsung menginjak pedal gas dan melaju cepat di jalanan.
Wawan terdiam sejenak ketika melihat orang itu menjauh. ".... Raisya! Target menyadari kehadiranku, dan sekarang sedang melarikan diri!"
Pihak lain seketika panik. "Apa!!?"
"Kalau begitu segera kejar dan tangkap dia. Kalau sekarang dia lolos maka akan lebih sulit bagi kita untuk menangkapnya!"
"Kita abaikan dulu si Kipli, kita bisa urus dia nanti kalau kita sudah menangkap bule itu!" Wawan terdam sesaat.
Tap tak lama ia mematikan pembicaraan dan langsung memacu montor Supranya hingga kecepatan maksimal.
Di jalan yang agak ramai Wawan tampak melesat menyapi banya sekali motor hingga akhirnya ia semakin dekat dengan targetnya.
Pada saat itu... Wawan terlihat sangat keren.
Ia tampak tenang dan datar seakan sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
Melihat Ojol yang mengikutinya sudah danga dekat, itu membuat si bule menjadi sangat terkejut.
Dalam bahasa Rusia ia mengumpat dan memacu mobilnya lebih cepat lagi, tapi... Ia tidak bisa melakukan itu sekarang karena...
Jalan di depannya sedang macet parah.