NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Bunda Dadakan

Abi merasa keadaan dipaksa menikah lagi dulu dan saat ini, sangat berbeda. Dulu saat mendiang istrinya menikahkan dirinya dengan Anjani, keadaan terasa canggung. Sedang saat ini keadaan terasa panas dan penuh ketegangan. Apalagi keadaan batinnya. Entah mengapa Zella selalu memancing emosinya.

Sesekali tatap mata Abi tertuju pada Anjani. Abi tak habis pikir, apa yang menarik dari perempuan itu sehingga Anjani sangat yakin dengan pilihannya. Dilihat dari foto, terkesan anggun dan sangat ramah. Namun setelah bertemu dan berbincang, hanya kekesalan yang Abi rasa.

"Nggak bisa siri aja Zella?" sela Arumi.

"Tidak, aku ingin masyarakat luas tahu aku menjadi istri kedua atas izin istri sah. Menikah sesuai hukum yang berlaku dan atas restu istri sah, ini lah poligami yang benar. Aku tak mau dikira pelakor yang dikira masuk diam-diam dalam biduk rumah tangga orang."

Anjani berusaha memasang wajah santai. Sedang keadaan batinnya seakan menabuh genderang perang. Rencananya mendepak Zella setelah rencanya selesai dengan menuduh Zella sebagai pelakor menjadi tak bisa dia gunakan.

"Aku ingin masyarakat melihat, seperti ini lah pernikahan poligami, ada restu istri sah, dihadiri semua keluarga dan istri sah. Bukan nikah diam-diam menutupinya dari semua orang. Belum lagi pernikahan sekarang dasarnya tidak disetujui istri sah. Pernikahan diam-diam itu seperti mencuri milik orang lain." ungkap Zella.

Ternyata wanita ini cerdik. Dia tak ingin masalah dikemudian hari, sehingga dia memintaku hadir di akad nikah nanti. Tapi sepintar apa pun dirimu, Zella. Kau sudah masuk dalam kendaliku! Anjani berusaha tetap tenang.

"Hanya itu syaratmu?" tanya Anjani.

"Ya hanya itu, menikah di mana silakan kau atur. Saat pernikahan aku akan membawa keluargaku." sahut Zella.

"Mas Abi, bagaimana?" Anjani meminta pendapat Abi.

"Aku ingin perjanjian tertulis sebelum nikah, dia belum nikah saja memikirkan cerai, aku curiga jika setelah nikah dia akan meminta cerai dan minta harta gono-gini." ucap Abi sinis pada Zella.

"Aku tak tertarik dengan hartamu Tuan! Walau hartamu berkilau, aku lebih menyukai hasil kerja kerasku sendiri. Tapi terima kasih sudah mengingatkan. Aku jadi ingin mengajukan permintaan lagi." Zella menatap kearah Arumi. "Aku tetap diizinkan bekerja setelah nikah. Karena aku ada seorang anak yang tengah aku perjuangkan masa depannya. Aku tak ingin masa depan anakku di usik karena dikira dia menikmati harta Ayah sambungnya."

"Nggak bisa Zella. Aku butuh kamu agar ada yang menjaga mas Abi. Kalau kamu kerja kamu akan ninggalin mas Abi dong?" protes Anjani.

"Aku akan menyesuaikan pekerjaan apa yang akan aku kerjakan. Yang penting aku dapat izin dulu."

"Ada lagi? Kalau sudah tak ada aku ingin mengirim catatan ini untuk dicetak," sela Arumi.

"Peraturan lain akan menyusul. Tambahkan poin itu!" tambah Abi.

"Apa semua sudah selesai? Kalau sudah aku ingin kembali ke penginapan." ucap Zella.

"Belum. Sebaiknya malam ini kamu menginap di sini, karena kami mengundang orang tua Abi untuk bertemu denganmu," sahut Anjani.

Zella membuang kasar napasnya. "Sepertinya diriku sudah tergadai di tangan kalian. Menolak tentu juga tak bisa kan?"

"Santai saja Zella. Anggap saja proses adaptasi dengan rumah ini. Malam ini anak-anak mas Abi juga datang, anak-anak mas Abi itu sulit untuk menerima orang baru. Aku saja masih tak diterima mereka. Jika nanti si bungsu melakukan hal yang tak nyaman, jangan diambil hati ya."

Zella merespon perkataan Anjani barusan dengan senyum yang dipaksakan. Kata-katanya seolah memintanya untuk memahami, namun tersimpan suatu ledekan dan peringatan akan prilaku anak pria asing yang akan menjadi suaminya itu.

"Bi Fifi, tolong antarkan tamu kita ke kamar yang sudah disiapkan," pinta Anjani pada sosok perempuan yang terlihat berusia 50 tahunan.

"Kamu istirahat dengan nyaman ya Zella. Silakan mandi dan ganti baju jika perlu. Kami sudah mempersiapkan kebutuhan kamu." ucap Arumi.

"Wow, semua kalian persiapkan dengan baik, seakan semua sudah diatur sedemikian rupa, bahkan sebelum mendapat jawaban dariku."

Anjani dan Arumi saling tatap. Namun mereka pura-pura tak mengerti dengan ucapan Zella.

Zella merasa waktu siang dan malam menjadi kacau. Rasanya baru saja dia membuka mata di pagi hari, kini malam sudah menyelimuti kota itu. Zella mengamati baju gamis yang tergantung di sisi ruangan. Jelas itu baju yang disiapkan Kakak-beradik itu untuknya. Zella segera mengenakan baju itu dan berdandan ala kadarnya.

Suara notifikasi dari handphonenya menarik perhatian Zella. Terlihat laporan transfer pada salah satu aplikasi. Senyuman terukir di wajah Zella, dia teringat pertemuan dengan gadis remaja saat di caffe itu. "Pasti dari dia."

Zella menaruh handphonenya. Namun benda pipih persegi panjang itu kembali bersuara. Di layar terlihat nomor asing sebagai pemanggil. Zella langsung menerima panggilan itu.

"Pasti ini anak dadakannya bunda." Tawa Zella lepas begitu saja mengingat kekonyolannya bersama gadis remaja itu.

"Ih ketahuan bunda dadakan, insting seorang ibu tuh kuat banget ya!" sambar sosok di ujung telepon sana.

"Transferan kamu sudah masuk. Lain kali lebih teliti ya." ucap Zella.

"Iya tante. Makasih bantuannya tadi siang. Aku merasa harga diri aku terselamatkan dengan drama bunda dan anak tadi."

"Tante juga senang bisa bantu kamu. Terima kasih cantik." ucap Zella.

Obrolan telepon itu berlangsung kilat. Baru saja selesai menyudahi panggilannya dengan gadis itu, kini suara ketukan pintu terdengar.

Zella segera membuka pintu, terlihat bi Fifi yang berdiri di sana. "Ada apa bi?"

"Nona diminta turun, kata Nyonya Anjani semua harus bersiap menyambut kedatangan ibu Melvina, beliau ibunya Tuan Abi."

"Baiklah. Lagian saya sudah selesai bi." Zella segera meninggalkan kamar itu, dan berjalan menuju pintu utama.

Ternyata di sana 3 orang terlihat rapi menunggunya.

"Waw, Kak Zella terlihat cantik." puji Arumi.

"Gamis pilihan kalian yang cantik, aku saja terpesona melihatnya. Berasa mimpi saat aku mengenakannya." balas Zella.

Abi menatap sekilas penampilan Zella. Tapi dia langsung membuang pandangan kearah lain. Dia tak mau ada yang menangkap kekagumannya pada Zella.

Suara mobil yang mendekat menarik perhatian mereka, akhirnya sosok yang mereka tunggu muncul juga.

Abi mengoperasikan kendali kursi rodanya, perlahan kursi roda itu mendekat kearah mobil yang parkir di depan sana. Saat pintu perlahan bergeser, terlihat sosok cantik berusia lebih dari 50 tahun muncul.

"Selamat datang ibu." sambut Abi.

"Mana calon istri kedua kamu?" todong wanita itu langsung.

"Disini tante. Namanya Zella." Anjani mengisyarat kearah Zella dengan gerak matanya.

"Wah, cantik! Sopan, manis. Sangat meneduhkan hati bagi yang memandang."

"Salam kenal bu. Senang bisa bertemu ibu." Zella menyalami wanita itu dan mencium punggung telapak tangan wanita itu.

"Wah Anjani. Jika madumu seperti ini, jangankan cinta dan perhatian Abi, perhatian seluruh dunia ini pun bisa dia dapatkan dengan mudah." Ibu Abi memandangi penampilan Zella dari atas sampai bawah.

"Untuk Mas Abi, aku ingin mencari yang terbaik. Walau aku menemukan yang terbaik, tapi tak ada yang mampu menandingi mendiang Kak Fatma." ucap Anjani.

"Dimana kamu menemukan wanita peneduh jiwa ini Anjani? Aku mau satu lagi buat Rusthom! Jika Rusthom mendapat istri dengan aura menangkan seperti ini aku yakin dia akan betah di rumah!"

Anjani merasa kesal dengan ucapan ibu Abi. Namun dia berusaha memasang senyum ceria merespon perkataan mertuanya itu.

"Nenek, kita di mana?" Seorang anak laki-laki berusia 5 tahunan baru saja keluar dari mobil. Dia terus menguap dan berusaha mengamati keadaan sekitar.

"Owh ... cucu tampan Nenek dah bangun." Wanita itu langsung mendekati cucunya. "Kita di rumah Ayah kamu sayang. Kita mau kenalan sama calon mama baru."

"Aku nggak mau mama! Aku cuma mau nenek aja!" protes anak laki-laki itu.

"Kak Rihana mana? Kok belum turun?" Abi memandangi kearah mobil itu.

"Emang penting keberadaanku?" sahutan dari dalam mobil.

"Rihana sayang, ayok turun yok ...." pinta ibu Abi.

"Iya! Iya! Aku turun demi nenek!"

Pemilik suara itu keluar dari mobil, dia memandang bete orang-orang yang di sana. Namun saat matanya terarah pada Zella, dia langsung kaget. "Hei Bunda-- Eh maksudku tante Zella!"

Sontak semua orang terkejut melihat respon Rihana saat melihat Zella.

1
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!