"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 (Perjanjian)
Fania keluar dari kamar untuk menemui suaminya. Jantungnya terus berdebar dipenuhi rasa takut. Dalam hatinya terus beristigfar agar selalu diberikan kekuatan. Sesampainya di bawah, Fania berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang tamu. Pria itu sendirian tanpa Zelina di sampingnya. "Ada apa, Mas?" tanya Fania dengan nada gemetar.
Raditya memberikan surat perjanjian pada istrinya. "Tandatangani surat itu, aku ingin kamu menyetujui aku menikahi Zelina. Di sana juga tertulis hak-hakmu sebagai istriku. Kamu tidak perlu khawatir soal nafkah, aku akan mencukupi semuanya. Kamu tidak akan kekurangan materi selama menjadi istriku. Hanya satu yang kuinginkan, tandatangani dan relakan aku menikah lagi."
Fania mencengkeram kuat gamisnya, dadanya terasa sesak sekali. "Jika begini akhirnya, kenapa Mas menikahiku? Seharusnya, Mas menolak saja jika pada akhirnya Mas memilih menikah lagi. Aku juga punya hati dan perasaan, Mas. Bagaimana bisa kamu melakukan ini sama aku? Jika kamu ingin menikah, ceraikan aku dulu. Aku akan pergi dari rumah ini."
Raditya tersenyum sinis, dia berdiri di hadapan istrinya dengan ekspresi penuh emosi. "Asal kamu tahu, tujuanku menikahimu adalah untuk mengambil saham 60% dari warisan Ayahku. Jika tidak, mana sudi aku menjalani pernikahan konyol ini. Tugasmu hanyalah mematuhiku, jangan berani membantah jika ingin hidup tenang."
"Jika aku menolak, apa yang Mas akan lakukan?" Fania masih bernegosiasi.
"Jika kamu menolak aku akan memberitahu Ibumu jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tahu jika Ibumu mempunyai riwayat penyakit jantung. Bagaimana, apa kamu mau mencobanya?" Raditya semakin menekankan keinginannya. Bahkan dia tega mengancam istrinya. Fania menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak diberikan kesempatan untuk memilih.
Raditya mengambil kertas yang ada di meja dan melemparkan pada istrinya. "Baca dan segera tandatangani.
Tangan Fania gemetar saat mengambil kertas yang berserakan di lantai itu. Lalu, Fania segra membacanya dengan sangat pelan. Dia menahan air mata yang hendak jatuh. Isi kertas tersebut semua memihak pada Zelina. Nasib Fania tragis sekali, dia tidak pernah menyangka akan disiksa oleh pria yang merupakan suaminya sendiri.
Fania sudah selesai membaca, dia menghela napas berat. "Baiklah, aku setuju dengan keputusanmu, Mas. Asal rumah ini menjadi milikku dan wanita itu tidak boleh ke sini ataupun semena-mena padaku. Jika Mas melanggarnya, aku juga tidak segan untuk membongkar pernikahan konyol ini pada keluargamu. Mas tinggal pilih saja, ceraikan aku atau menuruti permintaanku."
"Jadi kamu melakukan negoisasi denganku? Baiklah, aku setuju dengan permintaanmu. Aku akan memberikan nafkah lahir, tapi tidak untuk batin. Jadi tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Cepat tandatangani, karena sebentar lagi, Mama akan datang. Aku harap kamu bisa bersikap baik, dan berakting seperti tidak ada kejadian apa-apa," jelas Raditya tanpa ragu sedikitpun.
Fania mengambil pulpen yang ada meja. Dia menandatangani perjanjian itu dengan sangat tenang. Meski dadanya bergemuruh, dia berusaha untuk menyembunyikannya. Selesai menandatangani, Fania mengembuskan napas lega. Dia berharap tidak diganggu atau diperlakukan secara buruk lagi. "Sudah, Mas. Kita sepakat untuk menjaga rahasia dan privasi masing-masing. Aku harap Mas memberitahu wanita itu untuk tidak mengusikku. Katakan juga sama dia jika aku tidak ada perasaan apapun sama kamu. Untuk jaga-jaga jika dia cemburu sama aku."
Raditya terdiam sejenak, ada perasaan aneh saat istrinya berkata demikian. "Oke, baguslah jika kamu tahu batasannya. Jadi aku tidak perlu mengatakan hal yang tidak perlu. Sekarang bersiaplah, jam 6 nanti Mama akan berkunjung ke sini. Mama suka sekali masakan rumahan, sambut lah dia dengan baik."
Fania tidak merespon, tetapi langsung masuk ke dapur untuk bersiap memasak. Dia ingin terlihat baik sambil memikirkan cara untuk menjalani hubungan rumit itu ke depannya. Sementara itu, Raditya memeriksa lagi kertas perjanjian itu. Dia berharap keputusannya sudah tepat. "Ternyata dia cerdas juga. Tidak mau rugi adalah sifat alami seorang wanita."
Beberapa jam berlalu, semua maskan telah siap di meja makan. Fania segera bersiap-siap untuk menyambut kedatangan ibu mertuanya. Setelah sholat magrib, Fania memakai gamis seperti biasanya. Cadar yang senada pun tidak lupa. Meski sudah menikah, dia belum berniat untuk membuka cadarnya. Menurutnya tidaklah penting menunjukkan wajahnya pada pria hyang sama sekali tidak mencintainya. Selesai berhias memakai wangi-wangian, Fania keluar dari kamarnya. Dia mendengar seseorang berbicara dari ruang tamu.
Ternyata, suara itu berasal dari seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertuanya. Fania segera turun dan menyambut wanita tersebut dengan penuh hormat. "Assalamualaikum, Mama. Saya minta maaf sudah telat menyambut, tadi sholat dulu di kamar."
Wanita berhijab coklat itu langsung memeluk menantunya. Kesan pertama sangat membuatnya senang. "Tidak apa-apa, Nak. Mungkin Mama ke sini terlalu cepat. Kamu cantik sekali, Sayang."
"Mama terlalu memuji, padahal Mama belum pernah melihat wajah saya," balas Fania sangat ramah. Dia bisa berakting dan menyesuaikan dengan keadaan. "Oh, iya, Ma. Tadi saya sudah masak-masakan rumahan. Kata Mas Radit Mama suka sekali dengan maskan rumahan," lanjut Fania sambil menggandeng tangan mertuanya.
Rima menoleh ke arah putranya yang masih diam sejak tadi. Raditya pun mengikuti dua wanita itu ke meja makan. Ketiganya duduk di kursi masing-masing. Rima merasa kagum melihat banyaknya masakan di meja. "Nak, ini yang masak kamu sendiri? Pinter masak, ya, kamu. Tidak salah Raditya memilihmu sebagai istri."
Fania hanya tersenyum saja menanggapi pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. "Mama terlalu banyak memuji saya. Sudah menjadi kewajiban seorang istri bisa memasak untuk suaminya sendiri. Mama mau makan yang mana biar saya ambilkan."
Rima menjawab sembari tersenyum. "Mama ambil sendiri saja, kamu bisa layani suamimu. Mama pengen rasain gimana masakan menantu Mama. Kelihatannnya enak banget."
Fania mengambil piring, dia ingin melayani suaminya. "Mas mau makan yang mana? Nasinya sedikit atau banyak?"
Raditya menjawab dengan suara lembut. "Nasinya sedikit saja, aku pengen makan sayur asem-asem sama ayam goreng saja."
Fania segera mengambilkan untuk suaminya. Dia bisa bersikap seolah tidak ada masalah. Setelah itu, Fania meletakkan piring yang berisi makanan itu tepat di depan Raditya. "Silakan makan, Mas. Jika kurang kamu bisa bilang saja sama aku."
Rima terus tersenyum bahagia melihat keharmonisan pernikahan putranya itu. Dia merasa sayang pada Fania, dia merasa sangat beruntung sekali. "Fania, kamu tidak makan, Nak? Apa kamu juga memakai cadarmu jika ingin makan? Mama penasaran sekali bagaimana wajah menantu Mama. Apa Mama boleh melihatnya?"
Tubuh Fania membeku saat mendengar pertanyaan itu. Mau tidak mau dia harus menuruti permintaan Ibu mertuanya. "Maaf, Ma. Saya hampir lupa untuk melepaskannya. Saya akan lepas cadar ini kok."
Raditya menatap fokus istrinya, dia hampir lupa jika belum melihat wajah wanita yang telah dinikahinya itu. Fania menarik napas dalam, dia melepas tali cadarnya sambil menatap mata suaminya.
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡