NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 24

Sore itu tetap mendung ketika Alden datang menemui Aura. Tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Tidak juga cemburu yang berlebihan. Justru ketenangan itu yang membuat Aura sedikit gelisah.

Mereka duduk di taman kecil dekat rumah Aura. Angin bergerak pelan, menggoyangkan ujung rambut panjang Aura yang terurai.

“Aku tahu kamu sering bareng Harry,” ucap Alden akhirnya, memecah hening.

Aura menoleh perlahan. Ia tidak mengelak. “Dia satu kelas sama aku.”

Alden mengangguk. “Dan dia suka kamu.”

Aura terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Dia tahu aku punya kamu.”

Alden tersenyum tipis. Tidak ada nada menyindir. Tidak ada nada marah.

“Aku nggak datang buat marah,” katanya pelan. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal.”

Aura menatapnya, menunggu.

“Aku nggak akan ngelepas kamu.”

Jantung Aura bergetar halus.

“Tapi aku juga nggak akan ngatur kamu harus dekat sama siapa,” lanjut Alden. “Kalau kamu nyaman berteman sama Harry, ya lakukan sesuka kamu.”

Aura mengerutkan kening kecil. “Kamu serius?”

“Iya.” Alden menatap lurus ke depan. “Aku percaya kamu. Dan aku percaya apa yang kita punya.”

Hening sebentar.

“Tapi jangan salah paham,” tambahnya pelan, suaranya lebih dalam. “Aku nggak ngelepas kamu. Kamu tetap pacar aku.”

Aura bisa merasakan ketegasan di kalimat itu. Bukan posesif. Tapi jelas. Ada batas yang tidak bisa dilewati.

“Lakukan sesuka kamu,” ucap Alden lagi. “Aku bakal tetap sayang kamu sampai kapan pun. Selama kamu masih milih buat ada di sini.”

Kalimat terakhir itu membuat Aura menunduk.

Jadi ini bukan tentang melepaskan.

Ini tentang kepercayaan.

Alden berdiri lebih dulu. “Aku cuma jarang ada, bukan berarti aku nggak peduli.”

Aura ikut berdiri. Untuk pertama kalinya sore itu, Alden menariknya ke dalam pelukan. Tidak lama. Tapi cukup untuk membuat Aura sadar—ia masih menjadi bagian dari hidup laki-laki itu.

Di sisi lain kampus, Harry duduk di taman dekat parkiran seperti biasanya. Motor Aura terparkir tidak jauh dari situ, tapi kursinya kosong.

Ia menyalakan rokok, mengembuskan asap pelan. Pikirannya tidak tenang.

Ia tahu Aura sedang bersama Alden.

Harry tersenyum tipis sendiri. “Ya wajar,” gumamnya pelan. “Dia pacarnya.”

Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa berbeda akhir-akhir ini.

Tak lama, ponselnya bergetar.

Dari Aura.

*“Udah selesai ketemu Alden.”*

Harry membaca pesan itu beberapa detik sebelum membalas.

*“Oh ya? Gimana?”*

Balasan Aura tidak langsung datang.

Beberapa menit kemudian.

*“Dia nggak marah.”*

*“Dia bilang aku bebas dekat sama siapa pun.”*

Harry terdiam.

Bebas.

Tapi tetap pacarnya.

Ia mematikan rokoknya di samping bangku. Hatinya campur aduk. Di satu sisi, ada ruang yang terasa terbuka. Di sisi lain, batasnya tetap jelas.

Harry berdiri, berjalan pelan ke arah parkiran.

Malam makin turun.

Dan tanpa mereka sadari, hubungan ini bukan lagi tentang siapa yang datang lebih dulu.

Tapi tentang siapa yang benar-benar hadir saat dibutuhkan.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, semuanya terlihat normal. Terlalu normal, malah.

Aura tetap duduk di bangku yang sama di kelas. Harry tetap di sebelahnya, sesekali bercanda, sesekali diam ketika dosen mulai menjelaskan materi. Tidak ada yang berubah secara kasat mata.

Tapi di antara mereka, ada garis tipis yang kini terasa lebih jelas.

Hari itu kelas selesai lebih cepat. Putri dan Ica sudah lebih dulu keluar karena beda jadwal. Aura merapikan bukunya, lalu berdiri.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!