罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Nakamura part III
...**...
...夕暮れの最後の光 ...
...-Yūgure no saigo no hikari-...
...'Cahaya Terakhir Di Senja'...
...⛩️🏮⛩️...
Pagi itu tak membawa kejutan—setidaknya, begitu yang Noa pikirkan. Ia bangun seperti biasa, dengan suara hujan yang membasuh genting rumah kecilnya. Ibunya masih tidur, napasnya berat, kulitnya pucat seperti kertas kusam yang terlalu lama disimpan di laci. Noa menyalakan kompor kecil di dapur, membuat sup sederhana sebelum berangkat bekerja di Nishikawa Grocery.
Toko Nishikawa adalah satu-satunya toko kelontong di desa Shugitani—deretan rak kayu dan aroma sayur segar yang menjadi denyut kecil di tengah pedesaan yang tenang. Letaknya di antara kios kecil lainnya, tak pernah benar-benar sepi, tapi hanya ramai di jam-jam tertentu ketika warga desa datang untuk belanja harian. Di sini, semua orang saling mengenal wajah, dan sebagian besar sudah hafal nama Noa—meski ia tak pernah berharap untuk diingat.
Pekerjaan serabutan ini tak membuatnya merasa istimewa, tapi setidaknya memberinya alasan untuk bangun setiap pagi. Hari ini, ada pengiriman barang. Noa bukan hanya berdiri di belakang meja kasir; ia ikut mengangkat kardus-kardus berat berisi produk baru, pundaknya sedikit nyeri tapi tangannya tetap cekatan. Di toko Nishikawa, hari berjalan lambat. Pintu kaca membuka dan menutup, pelanggan datang dan pergi, bunyi mesin kasir menjadi musik latar. Ia bahkan sempat melamun di balik meja kasir, menatap gerimis di luar toko.
Ia menatap kotak kayu berlabel beras, sayur segar dalam keranjang plastik, botol-botol kecap yang berderak di dalam kardus. Tangannya memerah karena dingin, punggungnya terasa pegal, tapi ia tetap tersenyum saat pelanggan bertanya di mana letak miso yang paling murah.
...⛩️🏮⛩️...
Selesai shift, Noa menutup buku catatan stok, melepas ikatan celemek, lalu berpamitan pada manajer.
"Sunmahen... osaki ni shitsurei sashite morōte." (Maaf... saya pamit dulu) Ucap Noa sambil membungkukkan badan.
"Yō ganbatte kurehatta na, Noa-chan," (Terima kasih sudah bekerja keras, Noa) ucap pemilik toko sambil balas mengangguk.
Noa melangkah keluar dengan kantong belanja berisi beberapa sisa bahan diskon yang diizinkan untuk dibawa pulang—sisa sayur yang sudah hampir layu tapi masih bisa dimasak.
Ia tidak memperhatikan banyak hal di jalan. Gerimis membuat semua terasa kabur, dan langkahnya terburu-buru karena ingin cepat sampai rumah.
Tiba-tiba...
Brak!
Ia menabrak seseorang di tikungan sempit dekat persimpangan jalan desa. Kantong belanjaan Noa terlepas, wortel dan daun bawang berguling ke aspal basah, sebuah lobak nyaris jatuh ke selokan.
"Ah—sunmasen na!" (maaf) Noa buru-buru berjongkok, dengan cekatan memunguti sayuran-sayurannya yang tercecer.
Pria itu tinggi, berjaket abu-abu dengan topi yang menutupi sebagian wajah—ikut berjongkok meraih botol kecap yang menggelinding hingga ke kaki tiang listrik. Suaranya tenang, hampir terdengar malas, tapi sopan. "Anta no sei ya arahen. Watemo mawari mitehen katta sakai na." (Bukan salahmu. Aku juga tidak lihat sekitar)
Noa merasa bersalah dengan gerakan cekatan membungkuk lebih dari sekali. "Mo ichido sunmasen na, danna-han..." (Sekali lagi maafkan saya, Tuan...)
"... Kimura," pria itu tersenyum tipis dan sangat ramah. "Tidak perlu khawatir nona... Anta jishin, daijoubu dosu ka?" (Apa kau sendiri baik-baik saja?)" Katanya memecah keheningan.
"Un, watemo daijoubu dosu... ookini." (Iya, saya baik-baik saja... terima kasih) Noa tersenyum singkat, masih sibuk memeriksa kantong plastiknya.
Noa hanya tahu lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Kimura—sebuah nama yang terdengar aman, biasa, tanpa sesuatu yang mencurigakan. Noa tidak tahu bahwa di balik mata pria yang tenang itu, ada pikiran yang lebih gelap.
Bagi Noa, itu hanya pertemuan singkat di jalan. Bagi Kimura—Hane, itu kejadian di luar rencana. Ia tak pernah berniat berinteraksi dengan gadis ini secara langsung. Namun, dengan profesionalitasnya dalam penyamaran, Hane spontan mengikuti dialek lokal agar terlihat alami, menjaga identitasnya tetap tersembunyi—tanpa sedikit pun menimbulkan kecurigaan pada Noa bahwa ia bukan warga Shugitani.
Tapi setelah melihatnya dari dekat, ia mulai berpikir...
'sayang sekali. Anak ini terlihat sangat baik, terlalu polos.'
Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Setelah saling memberi salam singkat, mereka berjalan ke arah berlawanan. Tapi langkah Hane melambat beberapa saat kemudian. Ia menoleh sebentar, memastikan punggung Noa menghilang di belokan perempatan ujung lainnya.
Dalam kepalanya—'Entah apa yang akan menimpa gadis itu nanti. Yang Hane tahu... klan tidak berencana melepaskannya.'
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu, saat Noa pulang dari toko, udara membawa aroma harum yang tak biasa—campuran teh hangat, kayu bakar, dan bunga kering dari rak di ruang tengah. Ia membuka pintu dan berseru pelan, "Mō kaeru wa." (Aku pulang)
Dari arah ruang tengah terdengar suara lembut, jernih seperti bisikan angin musim semi.
"Okaeri ya, anta. Mō kaette kita no?" (Selamat datang kembali, sayang. Kamu sudah pulang?)
Noa terhenti. Suara itu... begitu ringan. Perlahan ia melangkah ke dalam dan seketika matanya membesar.
Di alas duduk, tubuh yang biasanya lemah dan rapuh tampak berbeda. Ibunya—yang berbulan-bulan hanya terbaring di ranjang—duduk tegak, rambut hitamnya disisir rapi, walaupun tetap kurus tapi wajahnya berseri seperti masa lalu yang tak pernah Noa lihat sebelumnya. Cahaya lampu minyak menari di pipinya, membuat setiap garis lelah seakan memudar.
Noa terdiam sesaat, menahan kaget. Perlahan, senyum lebar merekah di wajahnya, dan ia berlari menghampiri.
"Okāsan...... mō genki ni mieharu na!"
(Ibu... kau tampak sudah sehat).
Ibunya menatap Noa dengan mata yang bening dan hangat. Tangannya yang lemah meraih tangan Noa, menggenggamnya dengan lembut, seolah mencoba menyampaikan semua kata yang tak sempat diucapkan—jangan takut, ibu masih di sini.
Mereka duduk bersama di dekat meja kayu kecil. Noa menaruh tas belanjaannya di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding kayu, dan memulai cerita hari itu.
"Hari ini cukup sibuk di toko, bu. Pengiriman barang datang lebih awal, jadi aku harus membantu mengangkat kardus berat dulu sebelum membuka kasir," kata Noa, tersenyum. "Kadang rasanya lelah... dan sekarang... pelanggan tetap sudah hafal wajahku. Mereka bahkan menyapaku dengan senyum, walau hanya beberapa yang ingat namaku." Jelas Noa dengan semangat dan senyum yang lebar hingga memperlihatkan deretan rapi giginya.
Misao mengangguk pelan, senyum tipis di bibirnya. "Kau... bekerja keras, ya. Tapi aku senang melihat senyummu meski lelah," jeda sejenak. "Maafkan ibu, sayang... sudah merepotkanmu selama ini."
Noa menggenggam tangan ibunya lebih erat, tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, bu. Aku senang bisa melakukan ini untukmu."
Noa tersenyum lebih lebar, menoleh ke jendela. Hujan di luar sudah mereda, menimbulkan aroma tanah basah yang menyegarkan. "Hujannya berhenti lebih cepat dari perkiraanku. Desa terlihat tenang... seperti hari-hari biasa, tapi... entah kenapa rasanya hangat malam ini."
Misao menarik nafas lembut, matanya bersinar. "Tamani wa na...... kō iu jikan ga, megumi ni naru koto mo arun e, anta.
Kokoro o attakō shite kureru chiisai mon, minogashitara akan yo."
(Kadang... momen seperti ini... adalah berkah, sayang. Jangan abaikan hal-hal kecil yang bisa membuat hati menjadi hangat)
Misao menatap Noa dengan mata yang sejuk dan tenang, senyum yang membuat Noa ingin menahan napas. Tangan yang lemah itu merangkul jemarinya, hangat dan penuh arti
Wajah Noa tiba-tiba bersemangat. "Ah iya, aku tadi... sempat menabrak seorang pria di jalan, Bu. Namanya... Tuan Kimura. Aku menjatuhkan semua belanjaannya... tapi dia tersenyum, membantu mengatur semuanya. Aku canggung sekali."
Ibunya menatapnya lebih lama, alisnya sedikit mengerut. "Kimura-han...... donai ya?
Ano ko...... buji yaroka."
(Kimura...? Bagaimana dia? Apa dia... baik?)
"Ee, ano ko na...... honma ni ee ko ya.
Mee wa surudoi kedo...... kowōnai." (Ya, dia... sangat baik. Matanya tajam, tapi... tidak menakutkan) Noa menunduk, tersipu kecil.
Ibunya tersenyum, tangan yang lemah tetap menggenggam tangan Noa. "Baik... itu yang penting. Kau... selalu menemukan kebaikan bahkan dalam kejadian kecil. Ingat itu, sayang. Hidup... kadang bisa memberikan hadiah tak terduga."
Noa menatap wajah ibunya, lalu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Un," gumamnya. (Huum)
...—つづく—...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍