NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Keluargadi titik nadir

Hari-hari setelah sidang terasa seperti berjalan di lorong tanpa ujung. Meski harapan mulai tumbuh, kenyataan hidup justru kian menekan. Proses hukum yang panjang menuntut biaya besar, sementara pemasukan keluarga hampir nol. Setiap lembar rupiah dihitung dengan cermat, setiap pengeluaran dipertimbangkan berkali-kali.

Keluarga Wijaya kini benar-benar berada di titik nadir.

Rumah yang dulu hangat oleh aroma manisan dan tawa kini dipenuhi keheningan. Lampu-lampu sering dimatikan untuk menghemat listrik. Ibu Bima memasak dengan bahan seadanya, memaksimalkan apa pun yang tersisa di dapur. Ayah Bima masih dalam masa pemulihan, belum diizinkan bekerja berat. Bima menjadi satu-satunya tumpuan.

Suatu pagi, Bima menemukan ibunya duduk di lantai kamar, menatap kotak perhiasan kecil yang terbuka. Di dalamnya, hanya tersisa sepasang anting sederhana.

“Ibu mau menjual cincin nikah,” katanya pelan, tanpa menatap Bima.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada fitnah mana pun.

“Tidak,” Bima menggeleng kuat. “Itu kenangan Ibu dan Ayah.”

Ibunya tersenyum pahit. “Kenangan tidak bisa membayar obat Ayahmu.”

Bima terdiam. Di titik ini, mentalitas menjadi kemewahan yang tak mampu mereka pertahankan.

Akhirnya, dengan hati remuk, cincin itu dijual. Hasilnya digunakan untuk membayar sebagian tagihan rumah sakit dan membeli obat-obatan. Setiap keping rupiah terasa seperti serpihan masa lalu yang terlepas.

Di sisi lain, tekanan dari penagih utang semakin agresif. Surat demi surat datang, disusul telepon bernada ancaman. Beberapa kali, orang-orang tak dikenal mendatangi rumah, menanyakan pembayaran dengan suara keras.

Bima berdiri di depan pintu, menghadapi mereka dengan tubuh tegang. “Kami tidak lari. Kami hanya butuh waktu,” katanya berulang kali.

Namun waktu terasa seperti barang paling langka.

Malam-malam menjadi saat paling berat. Saat kelelahan merayap dan pikiran tak lagi mampu menahan cemas, tangis ibu Bima kerap terdengar tertahan dari balik kamar. Ayahnya memalingkan wajah ke dinding, menyembunyikan air mata dan rasa bersalah.

Bima sering duduk di teras, memandangi jalan sepi, mencoba menenangkan diri. Di bawah langit malam, ia merasa begitu kecil, seolah seluruh beban dunia diletakkan di pundaknya.

“Aku tidak boleh runtuh,” bisiknya berkali-kali. “Kalau aku jatuh, mereka akan hancur.”

Ia mulai bekerja serabutan. Pagi mengantar barang di pasar, siang membantu bengkel, malam menjadi kurir makanan. Tubuhnya nyaris tak mengenal istirahat. Namun setiap lembar uang yang ia bawa pulang terasa seperti kemenangan kecil.

Suatu hari, saat mengantar pesanan, ia melihat papan reklame besar milik toko manisan saingan, kini semakin megah, semakin ramai. Hatinya berdenyut perih. Ketidakadilan itu terasa nyata, kasar, dan menyakitkan.

Namun ia menahan diri. Amarah tak akan mengubah apa pun.

Di tengah keterpurukan, satu peristiwa kecil mengubah suasana.

Seorang pelanggan lama, Ibu Ratna, datang membawa dua kantong besar berisi bahan makanan. “Saya tahu kalian sedang susah,” katanya lembut. “Terimalah ini.”

Bima menolak, tapi perempuan itu bersikeras. “Dulu, toko kalian sering memberi permen gratis pada anak-anak panti. Sekarang biarkan kami membalas sedikit kebaikan itu.”

Air mata Bima jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menyadari, kebaikan yang pernah ditanam tidak pernah benar-benar hilang.

Hari demi hari, bantuan kecil terus berdatangan. Tidak cukup untuk melunasi semua utang, namun cukup untuk membuat mereka bertahan. Lebih dari itu, bantuan itu mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.

Suatu malam, keluarga kecil itu duduk bersama di ruang tengah, hanya ditemani lampu temaram. Tak ada televisi, tak ada ponsel, hanya keheningan dan napas yang saling bersahutan.

“Kita mungkin jatuh sejauh ini,” kata ayah Bima lirih, “tapi selama kita bersama, kita belum kalah.”

Ibunya menggenggam tangan ayah, lalu menatap Bima dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih sudah menjadi kuat untuk kami.”

Bima menelan ludah. “Aku hanya anak yang mencoba menjaga keluarganya.”

Di titik nadir itu, mereka menemukan satu hal yang tak bisa dirampas siapa pun: ikatan.

Meski hidup terasa pahit, di sanalah makna manis yang sesungguhnya tumbuh—bukan dari permen, melainkan dari kebersamaan, pengorbanan, dan harapan yang enggan padam.

Dan di dasar jurang itulah, keluarga Wijaya mulai menyiapkan diri untuk satu-satunya arah yang tersisa: bangkit.

Tak ada rencana besar, tak ada strategi gemilang. Yang ada hanyalah langkah-langkah kecil yang diambil dengan tekad keras dan keyakinan rapuh. Bima tahu, kebangkitan tidak selalu dimulai dengan kemenangan. Sering kali, ia berawal dari keberanian untuk kembali berdiri setelah jatuh terlalu dalam.

Pagi itu, Bima bangun sebelum matahari terbit. Tubuhnya masih pegal akibat bekerja hingga larut malam, namun pikirannya terasa lebih jernih. Ia duduk di meja kayu kecil di dapur, membuka buku catatan usang yang dulu dipakai ayahnya mencatat resep manisan. Halaman demi halaman ia baca, seolah mencari kembali jejak semangat yang sempat hilang.

“Ibu,” panggilnya pelan.

Ibunya keluar dari kamar, rambutnya terikat sederhana, wajahnya pucat namun tegar. “Ada apa, Nak?”

“Aku ingin kita mulai lagi. Dari nol,” kata Bima mantap.

Ibunya terdiam sejenak. “Mulai apa?”

“Manisan. Kita buat lagi. Skala kecil. Dari dapur ini.”

Ibunya menatapnya, mata berkaca-kaca. “Tapi toko kita masih disegel.”

“Kita tidak butuh toko untuk memulai,” jawab Bima. “Kita punya tangan, resep, dan kemauan.”

Kalimat itu sederhana, namun mengandung keberanian besar.

Hari itu, dapur kembali hidup. Gula dipanaskan, pewarna alami dicampur, dan aroma karamel perlahan mengisi ruangan. Bima membantu ibunya dengan penuh semangat. Meski peralatan terbatas, mereka bekerja seolah sedang membangun kembali sebuah kerajaan kecil.

Ayah Bima, yang duduk di kursi roda dekat pintu dapur, mengawasi mereka dengan mata berbinar. “Sudah lama Ayah tidak mencium aroma ini,” katanya lirih.

“Doakan kami, Yah,” balas Bima sambil tersenyum.

Mereka mulai memproduksi manisan dalam jumlah kecil. Tidak untuk dijual bebas, melainkan ditawarkan pada pelanggan setia yang masih percaya. Bima menghubungi satu per satu, menjelaskan kondisi mereka dengan jujur.

Respons yang diterima di luar dugaan. Banyak yang bersedia memesan, bahkan membayar di muka. Beberapa menawarkan membantu memasarkan. Ada pula yang datang langsung ke rumah, membawa bahan baku atau sekadar memberi semangat.

Perlahan, kepercayaan yang sempat hancur mulai dirajut kembali.

Namun jalan bangkit tak pernah lurus.

Suatu siang, petugas datang ke rumah, memperingatkan bahwa produksi manisan tanpa izin usaha resmi bisa dianggap melanggar aturan. Bima menjelaskan bahwa ini hanya skala rumahan, bukan usaha komersial besar. Setelah diskusi panjang, mereka diberi kelonggaran, namun dengan pengawasan ketat.

Ancaman itu sempat membuat langkah mereka goyah. Tapi kali ini, mereka tidak mundur.

Di sela kesibukan, Bima terus mengikuti perkembangan kasus hukum. Sidang demi sidang berjalan. Bukti-bukti semakin menguat, namun pihak lawan juga semakin agresif. Tekanan politik terasa nyata, mencoba mempengaruhi jalannya proses.

Suatu sore, Nara datang membawa kabar. “Ada peluang besar. Hakim mulai condong pada bukti kita. Tapi kita harus tetap waspada.”

Bima mengangguk. “Aku tidak akan lengah.”

Di rumah, kondisi ayah perlahan membaik. Meski belum bisa kembali bekerja penuh, semangatnya bangkit. Ia mulai membantu memberi arahan, membagikan trik lama agar kualitas manisan tetap terjaga meski dengan alat sederhana.

“Rasa tidak boleh kalah,” katanya tegas. “Karena rasa adalah ingatan.”

Bima menyimpan kalimat itu dalam hati.

Setiap malam, mereka mengemas pesanan dengan hati-hati. Bungkus-bungkus kecil itu terasa seperti harapan yang dikirim ke luar rumah. Dan setiap kali ada pesan pelanggan yang puas, semangat mereka bertambah.

Namun utang masih mengintai.

Suatu hari, Bima dipanggil ke kantor penagihan. Ia duduk berhadapan dengan seorang pria berwajah dingin yang menatapnya tanpa ekspresi.

“Kami memberi waktu, tapi batas kesabaran kami ada,” kata pria itu.

Bima menghela napas. “Saya tidak lari. Saya hanya butuh kesempatan.”

Pria itu mengamati Bima lama, lalu berkata, “Kami dengar perjuanganmu. Kami beri waktu tiga bulan. Kalau dalam waktu itu tidak ada perkembangan, kami ambil tindakan.”

Tiga bulan. Waktu yang terasa singkat, namun sekaligus menjadi target yang jelas.

Sejak hari itu, Bima bekerja lebih keras. Ia memperluas jaringan penjualan daring, menggandeng reseller kecil, dan memanfaatkan media sosial dengan lebih kreatif. Ia menceritakan perjalanan mereka, bukan untuk mengemis simpati, melainkan untuk menunjukkan keteguhan.

Cerita itu menyentuh banyak hati.

Pesanan meningkat. Keuntungan masih tipis, tapi cukup untuk membayar kebutuhan pokok dan sedikit cicilan. Setiap keberhasilan kecil dirayakan dengan senyum sederhana.

Suatu malam, setelah menyelesaikan pengemasan, keluarga kecil itu duduk di lantai ruang tengah. Di luar, hujan turun pelan, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan.

“Kita belum menang,” kata ayah Bima pelan. “Tapi kita sudah tidak kalah.”

Ibunya mengangguk. “Selama kita melangkah, harapan itu ada.”

Bima memandang kedua orang tuanya, merasakan kehangatan yang lama hilang. “Aku janji,” katanya lirih, “aku akan membuka kembali toko itu. Dan saat hari itu tiba, kita akan memulai segalanya dengan cara yang lebih jujur, lebih kuat.”

Di tengah keterbatasan, mereka belajar bahwa bangkit bukan tentang kembali ke masa lalu, melainkan menciptakan masa depan baru dengan nilai yang lebih kokoh.

Dan dari dasar jurang itu, keluarga Wijaya mulai menapaki tangga demi tangga, perlahan namun pasti, menuju cahaya yang sempat hampir mereka lupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!