“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Alasanku Pulang
...“Satu hal yang pasti. Aku akan selalu pulang mencarimu.” — Elios Leopold...
Setelah Lea terlelap dengan nyenyak, Elios menyelimut tubuh gadis itu. Kemudian ia mengusap pelan kepala gadis itu dan pergi meninggalkan kamar dalam diam.
“Elios...,” Martin terlihat sedang berjalan mendekat ke arah kamar Lea.
Melihat Martin mendekat, Elios memilih lebih dulu mendekat ke arah Martin. Ia mencium sesuatu yang tak beres saat melihat kegelisahan di wajah pria tua itu.
“Ada apa, Papa?”
“Aku sudah mendengar semuanya dari Andrew.” Martin menghela nafas penuh sesal. “Seharusnya aku hadir di kamar menemani Lea. Tapi tadi Steven menemuiku. Untunglah kau tepat waktu menemaninya.”
“Steven?” Elios mengerutkan keningnya. “Steven Sanchez?”
Martin mengangguk pelan. Kemudian ia meminta Elios mengikutinya ke ruang kerja.
Saat di ruang kerja, Martin membuka jendela dan menyalakan cerutunya. Kemudian ia memberikan cigar case—kotak penyimpanan cerutu—kepada Elios.
Elios menggeleng sambil tangannya memberi isyarat menolak.
Martin menghembuskan kepulan asap cerutu dengan segenap kegundahan yang ia miliki. Kemudian ia memijat pelan dahinya.
“Jadi, bagaimana cara kau meninggalkan wanita itu?”
“Entahlah. Langkahku terlalu berat saat masuk ke dalam kamar.” Elios menaikkan kedua alisnya sesaat. Kemudian ia menghela nafas. “Dan sebelum kami berciuman, aku mendengar dentuman guruh. Saat itu... aku teringat Lea.”
“Dia sangat ketakutan jika mendengarnya,” imbuh Elios dengan tatapan nelangsa yang tulus dan tak dibuat-buat.
“Dua tahun ini... aku sudah melihat semuanya,” ucap Martin dengan suara yang serius. Ia berjalan menghampiri Elios yang sedang duduk di sofa. Lalu ia pun duduk di sofa yang berseberangan dengan pria itu.
Elios menatap kedua bola mata kakek tua itu.
“Kau memegang amanah itu dengan baik. Aku melihat ketulusanmu.”
“Itu kewajibanku, Papa.”
“Elios, anakku... besok, pagi-pagi sekali... pergilah bersama Lea. Tinggalkan tempat ini sampai aku menyuruh kalian pulang.”
Elios tak mengerti dengan perintah Martin kali ini. Ia duduk dengan tegap dan mendengarkan dengan serius ucapan Martin.
“Pria yang kau bunuh waktu itu, dia adalah adik kandung Robert. Pemimpin Klan Ferguso. Dan kedatangan Steven malam ini, ia menyampaikan bahwa Robert mendeklarasikan perang. Mereka akan menyerbu tempat ini dan mengincar Lea.”
“Kalau begitu, biar aku yang menyerang mereka lebih dulu.”
“Tidak. Aku tak ingin lagi merasakan kehilangan. Kau bukan lagi seorang anak buah di mataku. Kau anakku, Elios.”
“Percaya padaku, Papa. Aku akan pulang dengan selamat.”
“Tanggal sial tak pernah ada di kalender. Bagaimana jika—”
Elios berdiri dan mendekat ke arah Martin. Kemudian ia duduk di depan Martin dan memegang kedua lutut pria tua itu. “Papa, percaya padaku. Aku akan menyelesaikan ini dan kembali dengan selamat.”
Martin tak langsung menjawab. Tapi ia berfikir selama beberapa detik. Cerutu ditangannya terus menemaninya untuk mencari jalan keluar yang sesuai dengan kemauannya. Tapi sayangnya... ia terlalu takut untuk kehilangan Elios dan Eleanore.
Kedua manusia itu sangat berarti baginya.
“Tidak.” Martin membulatkan tekadnya. Ia berdiri dari duduknya, kemudian melangkah menuju ke jendela. Angin malam dengan tempias hujan menyentuh mesra tubuh rentanya. “Pergi selamatkan dirimu dan Lea.”
“Masa depan kalian masih panjang, aku tak ingin masa depan kalian berantakan. Sudah seharusnya aku di sini, menjaga tempat yang sudah susah payah aku bangun selama ini,” imbuhnya keras kepala.
Elios mengepalkan tinjunya. Karena ia tahu, jika Martin sudah membulatkan tekadnya... maka semua keputusan tak akan pernah berubah sampai titik darah penghabisan.
...****************...
Selang beberapa jam kemudian, pagi pun tiba. Matahari masih terlalu malas menampakkan diri meski hujan sudah tak lagi membasahi bumi.
Beberapa mobil Jeep sudah standby di pekarangan kediaman De Guelle. Martin melepaskan kepergian Elios dan Lea lengkap dengan sepertiga dari anak buah yang ia miliki. Sisanya akan standby dengannya untuk menghadapi Klan Ferguso.
“El... kita mau kemana?” Lea yang masih setengah sadar menatap ke arah Elios yang sibuk mencarikan pakaian hangat untuk ia kenakan. Sementara beberapa pelayan sudah siap memasukkan pakaian-pakaian dan keperluan Lea ke dalam beberapa koper besar.
“Nanti akan aku jelaskan.” Elios memasangkan mantel coklat berbulu beruang ke tubuh Lea. Kemudian, ia memasangkan kupluk rajut yang tebal ke kepala gadis itu. Kemudian ia duduk di sisi ranjang dan membuka selimut.
“A—aku akan memakai sendiri.” Lea mengambil kaos kaki dari tangan Elios. Ia masih kebingungan. Ada hal genting apa sampai-sampai ia harus keluar dengan tubuh yang masih berbalut piyama satinnya. Untung sekali saat itu ia mengenakan piyama dengan model celana. Bagaimana jika piyamanya model gaun?
Setelah semua siap, Lea melihat sekeliling. Tak ia temukan Elios. Kemana perginya pria itu? Padahal, tadi dia yang terlalu sibuk. Lalu sekarang menghilang? Begitu pula pelayan. Sejak kapan mereka keluar membawa koper-kopernya?
Ia pun turun dari kasur dan berjalan menuju ke pintu kamarnya.
“Jaga Lea. Dan jaga dirimu.” Suara Martin terdengar pilu.
“Papa... bagaimana kalau aku saja yang menyerbu Klan Ferguso?”
“Jangan. Lea akan memarahiku kalau sampai kau terluka. Apalagi sampai kehilangan nyawa.”
“Tapi aku tak akan bisa memaafkan diriku kalau Papa yang terluka.”
Lea menutup mulutnya yang menganga karena terkejut dengan pembicaraan dua orang pria itu. Kenapa semua orang menyembunyikan hal penting itu padanya? Padahal ia sudah tahu seperti apa kehidupan yang Martin dan Elios lalui selama ini.
Derap langkah terdengar mendekat. Lea berusaha untuk terlihat tak tahu apa-apa. Ia berpura-pura ingin bersiap-siap keluar dari kamar. Dan saat itu Martin datang memeluknya dengan sangat erat.
“Lea... aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu,” ucap Martin dengan suara yang tertahan. Pria tua yang kejam itu ternyata punya sisi hello kitty juga di depan cucunya. “Apapun yang kau mau, aku akan selalu mendukungnya.”
“Ingat satu hal. Kakek selalu mencintaimu,” imbuhnya.
Perpisahan itu berlalu begitu saja. Kurang lebih 7 mobil Jeep bergerak meninggalkan Residence itu di pagi hari. Tiga mobil Jeep anak buah De Guelle menempati posisi depan. Kemudian mobil Jeep yang Lea dan Elios tumpangi. Lalu 3 lagi mobil Jeep yang berjaga di posisi belakang.
Pengawasan berlapis sudah dilakukan. Tapi sayangnya, Elios memiliki rencana B. Karena rencana A yang dibuat oleh Martin sangat tidak bisa ia terima. Lea dan Martin sama penting dalam hidupnya. Jadi... ia memilih untuk menyelamatkan kedua orang tersebut.
“Lea... dengarkan aku.” Elios mulai memberi perintah.
Brad yang sedang mengendarai mobil, matanya melirik spion. Ia sudah tahu dengan rencana B yang Elios buat. Begitupun Frank. Ia melirik ponselnya, menerima pesan singkat yang dikirimkan oleh Sovia.
“Standby.” Begitulah pesan yang Frank terima dari Sovia.
Lea menatap Elios dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Terlebih lagi pria itu menggenggam kedua tangannya seolah ingin melakukan pernyataan cinta.
“Apapun yang terjadi, ikuti Frank dan Brad. Nanti akan ada Sovia juga yang datang menjemputmu.”
“Lalu—”
“Ikuti kataku Lea.” Elios memohon dengan memelas. Karena waktu sudah mepet dan sebentar lagi rencana yang sudah ia susun akan dimulai.
“Tapi... aku tak ingin kau terluka,” suara Lea mendadak parau. Ia seakan tahu, Elios akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Elios memeluk tubuh Lea dengan sangat erat. Kemudian ia mengusap pelan kepala gadis itu dan mengecup lembut pucuk kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. Di mata Elios, Brad dan Frank, perlakuan itu semua hanya berlandaskan rasa kasih sayang seorang kakak untuk adiknya.
“Satu hal yang pasti. Aku akan selalu pulang mencarimu.”
...****************...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok