Setelah dua puluh dua tahun berlalu, Gavin dan Aretha bertemu kembali. Namun Gavin tidak menyadari bahwa gadis cantik tersebut adalah orang dari masa kecilnya, ke duanya bekerja di perusahaan yang sama. Aretha tak pernah lupa dengan Gavin, sekalipun mereka sudah tidak ada komunikasi sejak terakhir bertemu. Lalu bagaimana dengan Gavin? Akankah dia ingat dengan Aretha? Apakah Aretha akan menagih janji om Leo padanya untuk menjadikan Gavin suami Aretha?
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama, tiga tahun lalu ke duanya sempat bertemu dan Aretha salah paham dengan status Gavin.
“Dasar papa tidak bertanggung jawab. Nitip anak tapi tidak ingat,” ucap Aretha sadis.
“Haah! Anak? Kapan kamu nikah, Vin?” ucap Langit dan Raja bersamaan.
Gavin mengerutkan dahinya, dia termangu menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Lalu bagaimana kisah dan hari-hari mereka nantinya?
cover by pinterest & canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanapra
Gavin pagi itu langsung menuju Hanapra, pasalnya om Dio dan papi Leo sudah menunggunya. Mereka harus membahas beberapa hal terkait dengan pekerjaan Gavin, putra sulung Arshaka dan Aruna tersebut harus membantu dua om gesreknya itu.
Gavin cukup pintar untuk mengetahui akal bulus dua sahabat ayahnya tersebut, atau...ayahnya juga ikut andil dalam rencana itu? Hanya satu itu yang Gavin belum tahu. Sebenarnya ada alasan apa mereka mengirimnya ke Bandung, Gavin masih menerka-nerka. Di tambah lagi untuk ke dua kalinya Gavin bertemu dengan Aretha di Bandara, sayangnya dia tidak bisa melihat wajah gadis yang menancapkan luka di hatinya itu.
Gavin melangkahkan kakinya masuk ke lobi perusahaan, dia menuju resepsionis. “Pagi mbak, saya Gavin. Pak Leo atau pak Dio sudah datang?” tanyanya pada resepsionis.
“Sudah pak. Pak Gavin sudah di tunggu ke duanya, mari saya antar!” resepsionis tersebut mengantar Gavin ke ruangan Leo dan Dio.
Gavin mengamati seluk beluk perusahaan tersebut, bukan kali pertama untuknya datang ke Hanapra. Namun saat itu dia hanya membantu Dio sesaat, dan tidak turun langsung. Namun kali ini Gavin di minta untuk turun langsung membantu, Gavin akan di beri tanggung jawab langsung untuk dua proyek.
“Pagi mbak Fitri,” sapa resepsionis pada sekertaris Leo dan Dio.
“Pagi mbak, ada perlu?”
“Saya kemari mengantar pak Gavin, mbak.”
“Oke, terimakasih. Kamu bisa kembali ke resepsionis,”
Petugas resepsionis mengagguk dan kembali ke tempatnya, Fitri kemudian mengantarkan Gavin menuju ruangan Leo. “Mari pak Gavin!”
Gavin mengangguk, dia lantas mengikuti Fitri menuju ruangan Leo.
“Tok...Tok”
Fitri membuka pintu sedikit. “Pak Gavin sudah datang,” ucapnya pada Leo dan Dio.
“Suruh Gavin masuk, Fit!” pinta Dio diangguki sekertarisnya tersebut. “Satu jam lagi kamu masuk kemari, kita meeting!” titah Leo kembali diangguki Fitri.
Gavin kemudian masuk ke dalam, dia menatap dua omnya yang sedang tersenyum penuh arti. Gavin menatap malas dua pria paruh baya tersebut.
“Aku tahu akal bulus kalian,” ucap Gavin.
Leo dan Dio tertawa mendengar ucapan Gavin, keponakan mereka itu memang tidak bisa di kibuli sama sekali.
“Mau protes? Waktu dan bicara di persilahkan, tapi langsung ke bundamu saja ya! Aku dan Dio hanya menjalankan titah bunda Kia,” jawab Leo santai.
“Bunda?” heran Gavin.
Dio mengangguk. “Coba ingat-ingat, Vin! Apa kamu pernah melakukan kesalahan? Sampai Kia mengirimmu ke Hanapra,”
Gavin mengerutkan dahinya, hanya satu yang membuat sang bunda melakukannya. Dia menolak saat Aruna memintanya untuk segera menikah, Gavin sudah di langkahi 3 adiknya. Xabiru dan Jingga yang tidak lain adalah adik sepupu sekaligus adik satu susuan, juga Attar adik kandung Gavin yang menikah muda.
Alvin menghela napas. “Sepertinya aku melukai hati bunda, sedikit. Apa ini termasuk huluman bunda untukku pi, om?” tanya Gavin kemudian pada ke dua pria di hadapannya tersebut.
Beberapa waktu lalu memang terjadi obrolan serius dengan antara Alvin dengan sang bunda, Aruna meminta Gavin untuk serius mencari pendamping hidup. Aruna bahkan tidak memaksa Gavin harus menikah dengan siapa, selama Gavin yakin bahwa wanita yang dia nikahi adalah wanita yang baik dan bisa menjadi pendamping hidupnya.
Bukan tanpa alasan sang bunda meminta Gavin untuk segera menikah, bukan tentang adik-adiknya yang sudah menikah. Melainkan Gavin adalah penerus Pradipta Company, Aruna sudah melihat bibit-bibit penggoda mulai mendekati Gavin.
Menikah memang bukan jaminan putranya bebas dari godaan di luar sana, hanya saja Gavin akan lebih terjaga saat dia sudah menikah. Namun hari itu Gavin sedikit menaikkan suaranya pada sang bunda, hingga membuat Aruna setelah itu diam dan tidak menanyakan lagi tentang hal tersebut. Ternyata semua itu ada konsekuensinya, dan itu membuat Gavin pagi itu ada di Hanapra.
“Sudahlah! Anggap saja ospek dari bundamu, dulu ayahmu juga diospek di sini. Aku jadi merasa mengulang masa lalu, kalau dulu mama Naura mengirim ayahmu ke mari agar bertemu dengan istrinya yang menghilang. Kalau kamu di kirim bunda Kia mu itu untuk apa, Vin?” Leo menatap penuh makna sang keponakan.
Dio terkekeh. “Kalau Arka dulu sudah pasti ngejar Kia karena mereka sudah menikah. Gavin? Siapa yang dia mau kejar, Leo?”
Mereka menertawakan Gavin, sementara yang di tertawakan hanya bisa menghela napas dan menerima nasip.
“Tok...Tok”
“Ada apa Fit?”
“Tamu pak Leo yang dari Universitas Kaist sudah tiba,” Fitri memberi tahu.
Leo mengangguk. “Suruh dia masuk, Fit!”
“Baik pak,” Fitri kembali ke mejanya untuk memanggil tamu Leo.
Leo tersenyum menatap Gavin, lalu beralih pada Dio. “Semesta atau lebih tepatnya Kia dan Rena sudah beraksi,” lirih Leo.
“Siapa?” balas Dio lirih. “Aretha,” ucap Leo tanpa suara diangguki Dio.
Di tengah-tengah sibuknya pikiran mereka masing-masing, suara ketukan pintu membuyarkan mereka.
“Tok...Tok”
“Masuk!” ucap Leo.
Pintu ruangan Leo terbuka, dari sana masuk perempuan mengenakan pakaian formal berwarna cream senada dengan pashmina yang dia kenakan.
“Selamat pagi om eh pak Leo,”
Leo, Dio dan Gavin menoleh ke sumber suara, Gavin dan Aretha bersitatap.
Deg
“Kenapa ada Gavin di sini?” batin Aretha, kemudian dia mengalihakan pandangan pada Leo. Aretha tidak ingin fokusnya terganggu karena ada Gavin di sana, terlebih pagi ini dia tahu tentang satu fakta bahwa Gavin belum menikah.
“Selamat pagi A...” ucapan Leo menggantung begitu saja karena Gavin menyerobot.
“Saffa? Kamu Saffa kan? Tiga tahun lalu kita pernah bertemu,” ucap Gavin, Leo dan Dio hanya bisa melongo. Gavin tidak mengenali perempuan di hadapannya tersebut sebagai Aretha, melainkan sebagai Saffa.
Aretha tersenyum kikuk, dia lantas menatap Leo dan Dio yang terkekeh tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Iya, saya Saffa. Saya kemari untuk bertemu pak Leo,” jawabnya kemudian dengan ekspresi sungkan pada Leo dan Dio.
“Silahkan duduk, Saffa?” Leo memastikan dan Aretha mengangguk.
Aretha duduk di sofa berhadapan dengan Leo, sedangkan Dio dan Gavin duduk di sofa samping kanan dan kiri Leo.
Drrt...drrt
Ponsel Gavin dari tadi berbunyi, mau tidak mau dia harus mengangkatnya. Dia berdiri dan sedikit menjauh dari sana.
“Hallo! Ada apa, Ru?”
“Abang di bandung?”
“Iya, sedang di Hanapra.”
“Bisa tolong ke rumah sakit a? Alesya masuk rumah sakit, asam lambungnya kambuh. Aku sama mas Langit belum bisa ke sana,”
“Oke,”
Gavin kembali duduk di sofa, bergabung dengan mereka kembali. Tatapan mata Gavin tidak beralih dari Aretha, Leo dan juga Dio tersenyum tipis.
“Sibo doh ini. Sebelas dua belas dengan ayahnya,” batin Dio.
Gavin dan Dio mendengarkan obrolan Leo dengan Aretha, mereka berbincang tentang pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawab Aretha nantinya.
“Pi,” panggil Gavin.
“Ada apa?”
“Meetingnya tunda sebentar bagaimana?” tanya Gavin pada Leo.
“Kamu ada perlu atau bagaimana?” bukan Leo tapi Dio yang bertanya dan Aretha memperhatikan mereka bertiga secara bergantian.
“Aku dapat kabar dari Xabiru kalau Alesya masuk rumah sakit, aku harus ke RS sebentar sampai Xabiru dan Langit sampai. Dia tidak ada keluarga di sini,” jawabnya.
“Siapa Alesya, Vin?” tanya Leo.
“Teman kuliahku dan Xabiru, dia yang membantu Xabiru dulu. Alesya juga pernah mengurus cafe milik Xabiru dan Jingga,”
Leo mengangguk. “Kembali jam dua siang! Kita ketemu di restoran x, makan siang sekaligus meeting. Kalian berdua bisa langsung ketemu klien,” ucap Leo diangguki Gavin.
Gavin lantas berdiri, dia menatap Aretha sejenak. “Boleh pinjam karyawan barunya, pi? Aku butuh teman,” pintanya.
“Haa? Kenapa harus aku? Kita bukan teman,” ucap Aretha.
“Nanti jadi teman. Kita akan jadi rekan kerja nantinya,” jawab Gavin.
Leo dan Dio terkekeh. “Apa bisa om minta tolong padamu, Ar eh Saffa? Keponakan om ini penakut kalau sama perempuan, jadi harus di temani. Takut grogi,” ucap Leo.
“Lhah! Tapi Saffa kan perempuan juga om? Memangnya dia tidak takut sama aku,”
“Khusus sama kamu sepertinya tidak,” sahut Dio. “Anggap saja latihan jadi partner kerja,” imbuh Dio seolah membuka jalan untuk Gavin.
cibe -cibe kalau ga salah