Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TETAPLAH DISISIKU
Riko lebih dulu sampai di rumah sakit. Ia menunggu dalam mobil di parkiran dan saat melihat mobilnya Maya datang, ia pun keluar mobil.
Maya keluar dari mobilnya juga. Wajahnya sudah terlihat pucat. Bajunya banyak noda darah. Tadi Maya sempat mencuci tangannya namun tidak terpikir untuk ganti baju dulu.
"Kamu gapapa? Apa yang terjadi?" tanya Riko panik.
"Mas Juan mau membunuh dirinya sendiri dengan menyayat tangannya" jawab Maya.
Riko langsung merengkuh Maya untuk ia dekap. Tidak peduli jika ada yang melihat dan ia pikir tidak ada yang mengenalinya.
"Jangan peluk aku disini, Ko. Banyak orang" ujar Maya sambil mendorong tubuh Riko.
"Aku khawatir sama kamu. Lebih baik kamu periksa diri juga" sahut Riko.
"Aku gapapa..aku akan ke UGD dulu mengurus suamiku, tunggulah disini ya" minta Maya.
"Baiklah. Jika nanti butuh bantuanku , hubungi aku" ucap Riko dan Maya mengangguk.
Wanita itu pun masuk UGD dan menuju resepsionis menanyakan keadaan suaminya.
Tanpa Maya dan Riko ketahui, ada seseorang yang melihat mereka bersama tadi, berpelukan di parkiran.
"Siapa pria yang bersama Maya?" batin seseorang itu yang juga berniat masuk ke UGD dengan baju jas putih khas profesinya.
Seseorang itu adalah Hania, istri Lingga, yang berarti kakak ipar Maya.
Tidak ingin berpikir macam macam, Hania pun masuk UGD dan mencari ke keberadaan adik dari suaminya.
"Maya" panggil Hania.
Maya yang merasa terpanggil saat di resepsionis langsung menoleh.
Wajahnya jadi gugup.
Hania salah fokus dengan noda darah di pakaian Maya.
"Apa yang terjadi dengan kamu? Bajumu..." ujar Hania.
"Mas Juan terluka, kak" sahut Maya.
"Terluka? Dia terluka kenapa?" tanya Hania penasaran.
Tapi sebelum Maya menjawab, petugas resepsionis memberitahukan bahwa pasien atas nama Juan sudah berada di kamar VVIP untuk perawatan selanjutnya.
"Permisi Bu Maya, pasien atas nama Juan Adi Perwira sudah berada di kamar VVIP blok Kenari nomor 5. Tindakan awal dari dokter sudah dilakukan" jelas petugas tersebut.
"Oh baik, terima kasih" sahut Maya.
"Ayo aku antar ke ruangannya dan kamu harus ceritakan apa yang terjadi sama kakak" ujar Hania. Maya menurut.
Hania benar benar mengantar Maya keruangan suaminya sambil mendengarkan cerita sang adik ipar.
Lalu sebelum masuk ruangan Juan, Hania yang terlalu penasaran dengan pria yang dipeluk Maya saat di parkiran, langsung bertanya.
"Siapa pria yang ada di parkiran tadi, May? Kenapa dia memelukmu dengan sensasi tidak biasa? Aku dari jauh bisa melihat pandangannya memandang mu lebih dari temab" ucap Hania.
Maya menatap sendu wajah kakak iparnya. Hania semakin curiga?
Tapi belum juga Maya menjawab, panggilan dari sound rumah sakit terdengar memanggil Dokter Hania untuk segera masuk ke ruang operasi.
"Kakak tunggu jawabanmu setelah operasi selesai" ujar istri Lingga itu lalu memeluk Maya sesaat.
Maya ditinggal sendiri lalu masuk keruangan Juan.
Terlihat pria yang dulu ia cintai tapi menyakitinya dalam pernikahan, terbaring lemah dengan perban di pergelangan tangan serta infus yang menancap di tangan lainnya.
Ia duduk di samping brankar suaminya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Maya.
"Apakah mungkin mempertahankan pernikahan yang sudah rusak sejak awal?" lanjutnya dalam hati.
Dalam lamunannya, Juan pun membuka mata lalu menoleh kesamping.
"Sa..sayang..kamu disini" lirih pria itu.
Maya langsung menghapus air matanya.
"Kamu gapapa, Mas? Perlu aku panggilin dokter?" tanya Maya dan Juan menggeleng.
"Aku senang kamu disini" jawab Juan sambil meraih tangan istrinya.
Maya tak berkutik.
Pandangan Juan pun teralihkan pada noda darah pada baju wanita itu.
"Maafkan aku, Maya..aku memang adalah pria brengsek dan bajingan untuk mu. Aku suami yang jahat padamu" ujar Juan mendadak melakukan pengakuan dosa.
"Tetaplah bersamaku, okey? Meskipun kini aku bukan direktur perusahaan keluargaku, tapi aku akan menjadi direktur lagi nantinya" lanjut pria itu.
Maya masih diam dan mengamati raut wajah suaminya.
"Bunda ku sangat menyayangimu, dia tidak ingin melihat kita berpisah. Baginya, hanya kamu yang mampu melengkapi hidupku" tambah Juan.
Mendengar hal itu, Maya tak bisa mengelak. Ibu mertuanya memang sangat baik padanya. Meskipun 2x keguguran calon cucunya, ia tidak marah seperti Juan, malah Jayantri ikut merawat Maya.
"Aku tidak ingin kedatangan pria itu di hidup kita sekarang merusak segalanya. Aku akan minta maaf padanya atas apa yang kulakukan 5 tahun lalu" ujar Juan.
Padahal dirinya sakit, tapi Juan banyak omong untuk meyakinkan istrinya jangan pergi.
Deg!
Jantung Maya langsung berdebar saat Juan membahas Riko.
"Kenapa tiba tiba kamu membahas nya, Mas? Istirahat saja , jangan pikirkan yang lain" ucap Maya menyimpan rasa gugupnya.
"Karena aku tau, dari pandangannya kepadamu, ia akan merebutmu dariku dan membalas dendam" sahut Juan.
Maya semakin gelisah dan merasa bersalah dalam waktu bersamaan.
Tring...tring..
Bunyi ponsel Maya berbunyi dan nampak nama ayah mertuanya.
Tadi Maya memberi taukan kondisi Juan kepada Leksono selaku ayah dari sang suami.