Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Resepsi Pernikahan Salina
Resepsi pernikahan Arjuna dan Salina tetap digelar, meski tak satu pun doa tulus benar-benar ikut mengalir. Warga Desa Sukamaju datang bukan karena bahagia, melainkan karena penasaran. Semua orang tahu, pesta itu berdiri di atas reruntuhan hati seorang perempuan bernama Jamila.
Yang lebih menyakitkan, resepsi itu adalah resepsi yang sejak awal dirancang Jamila dan Arjuna sendirin
Tenda putih dengan kain menjuntai, kursi berbalut sarung emas pucat, pelaminan kayu ukir dengan bunga melati segar semuanya adalah pilihan Jamila. Ia yang keliling vendor, ia yang menawar harga, ia yang mencatat detail. Dan semua itu sudah dibayar lunas.
Dua puluh juta rupiah.
Uang tabungan Jamila. Uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Dari menjahit, membuat kue, menyisihkan belanja. Haruskah dia merelakan untuk kedua penghianat ini.
Jamila berdiri di teras rumah Engkong Malik, menatap tenda yang mulai dipasang. Wajahnya tenang, tapi dadanya seperti diremas pelan-pelan.
Nyai Yati mendekat.
“Mil… kamu yakin kuat?”
Jamila mengangguk.
“Yang bikin sakit bukan pestanya, Nyai. Tapi cara mereka nganggep uang dan perasaan gue kayak nggak ada nilainya.”
Siang itu, Bude Wati datang. Bukan dengan kepala tertunduk, melainkan dengan wajah tak bersalah.
“Jamila,” katanya santai,
“soal uang resepsi itu… kamu ikhlaskan aja. Anggap sedekah. Toh sekarang Arjuna sudah jadi suami Salina.”
Jamila menatapnya lurus.
“Bude, dua puluh juta itu bukan uang jatuh dari langit.”
“Ah, kamu kan belum nikah. Masih bisa cari lagi. Salina itu janda, anak dua. Dia lebih butuh.”
Kalimat itu mengobrak-abrik sisa kesabaran Jamila.
Ia berdiri. Suaranya tetap rendah, tapi tegas.
“Gue kasih waktu tiga hari. Kalau uang aye tidak kembali, aye sendiri yang datang ke resepsi itu dan merusak semua dekorasi yang aye bayar. Dari bunga sampai pelaminan. Aye nggak peduli malu ”
Bude Wati terdiam. Ancaman itu bukan main-main.
Berita itu sampai ke telinga Salina. Amarahnya meledak.
“Mas! Itu Jamila minta uangnya harus kamu membayarnya!” bentaknya pada Arjuna.
“Jangan sampai dia bikin rusuh!”
Arjuna mengusap wajah, frustasi.
“Uang gue udah habis, Sal.
“Habis ke mana?!”
“Buat beli serah-serahan kemarin sama Mila”
Salina terdiam sesaat, lalu tertawa sinis.
“Serah-serahan apaan? Emang emasnya segudang?”
Jawabannya membuat Salina semakin panas.
Karena kenyataannya, serah-serahan itu sudah diacak total oleh Bu Juni.
Bu Juni, ibunda Arjuna, sejak awal tak pernah merestui pernikahan ini. Baginya, Salina bukan korban. Salina adalah perempuan dewasa yang tahu betul apa yang ia lakukan di gubuk sawah.
Dengan wajah dingin dan hati penuh malu, Bu Juni membawa emas serah-serahan yang semula bernilai cukup besar ke toko emas.
Satu per satu dijual.
“Buat apa emas mahal,” gumam Bu Juni pahit,
“kalau cuma buat janda gatal yang menjebak anak orang sampai nikah karena digerebek.”
Hasil penjualan itu tidak dipakai untuk Salina.
Emas mahal itu ditukar dengan perhiasan yang jauh lebih murah.
Serah-serahan yang sampai ke tangan Salina tinggal simbol.
Hanya menyisakan satu cincin emas satu gram.
Bukan karena tak mampu.
Tapi karena Bu Juni merasa Salina tidak pantas mendapatkan lebih.
“Cukup segini,” kata Bu Juni tegas.
“Nikahnya aja karena aib, bukan kehormatan.”
Saat Salina tahu kebenaran itu, ia mengamuk. Tapi pada siapa? Ia tak berani melawan Bu Juni, dan Arjuna sendiri hanya bisa menunduk.
Tak ada pilihan lain.
Demi menyelamatkan muka keluarga dan menghindari ancaman Jamila, Bude Wati dan Salina terpaksa menjual perhiasan mereka sendiri. Anting, kalung, gelang semuanya dilepas.
Uang dua puluh juta itu akhirnya kembali ke tangan Jamila.
Diserahkan tanpa maaf.
Salina melempar amplop ke meja, yang isinya uang hasil penjualan perhiasannya dan ibu nya.
“Nih! Ambil! Puas sekarang?!”
Jamila menghitung pelan, lalu menutup amplop itu.
“Terima kasih. Dan satu hal jangan pernah lagi bawa nama gue ke hidup kalian.”
“Memang lepas dari Arjuna hidup lo bakal lebih baik?” ejek Salina.
Jamila tersenyum tipis.
“InsyaAllah, pasti, aye bakal dapat suami tampan, sholeh, tajir, bertanggung jawab, yang pasti setia sama gue"
"Orang hitam, bulukan, kerjanya Manjat pohon kayak monyet, mana ada laki-laki yang tertarik. " julid Salina
" Tenang, aye bakal buktikan, tapi janji jangan iri "
" Gak bakalan gue iri sama lo, yang Ada lo iri lihat gue sama mantan lo sama Arjuna, lo lihat malam- malam romantis gue sama Arjuna.. he.. he.. "
" Dasar mak lampir" Jamila meninggalkan Salina.
Hari resepsi akhirnya tiba.
Salina duduk di pelaminan dengan senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Tangannya dingin, menggenggam tangan Arjuna yang kaku tak ada balasan, tak ada kehangatan. Hanya formalitas.
Warga datang sekadarnya, makan, lalu berbisik. Tak ada sorak bahagia, hanya tatapan penuh penilaian dan bisik-bisik yang tak disembunyikan.
Arjuna sesekali melirik ke arah rumah Engkong Malik, pandangannya kosong namun berharap.
Ia tahu, yang hilang bukan sekadar Jamila.
Ia telah kehilangan cinta sejatinya.
Jamila tak datang ke resepsi.
Ia memilih duduk di rumah, menyeduh teh hangat bersama Nyai Yati. Uap tipis dari cangkir menari pelan, seolah menenangkan luka yang belum sembuh.
“Mil,” kata Engkong Malik lirih, suaranya berat namun penuh doa,
“Lo jangan sedih. Engkong bakal doain, semoga lo cepet dapet jodoh yang bener-bener jaga hati lo.”
Jamila hanya tersenyum tipis. Matanya berkaca, tapi ia menahan air mata. Ada luka yang tak perlu dipamerkan.
Sementara itu, pesta resepsi berjalan hambar. Hampir tak ada tamu. Warga desa memboikot pernikahan Arjuna dan Salina. Yang datang hanya tamu-tamu undangan Pak Kades itu pun sekadar formalitas.
Di tengah kegelisahan itu, Rana dan Rini, anak Salina, diam-diam meninggalkan gedung resepsi. Mereka mencari Jamila. Hati mereka dipenuhi rasa bersalah.
Saat akhirnya bertemu, Rana menunduk.
“Kami minta maaf, cing Jamila,” katanya lirih.
“Ibu kami… merebut Mas Arjuna.”
Jamila terdiam. Ia tak menyalahkan siapa pun. Luka ini terlalu dalam untuk ditimpakan pada anak-anak yang tak memilih dilahirkan dalam cerita yang salah.
Ia hanya berkata pelan,
“Yang direbut bukan Arjuna. Arjuna bukan jodoh Cing Mila tapi jodoh ibu kamu.”
ucap Mila agar tak buat Rana dan Rana merasa bersalah karena kelakuan ibu nya.
Di pelaminan, Arjuna duduk sebagai pengantin.
Namun jiwanya tertinggal di rumah Engkong Malik bersama seseorang yang tak pernah lagi bisa ia miliki.
" Mil gue masih sayang sama, Cinta sama elo, andai lo tahu IsI hati gue terdalam, gue nyesal menghianati lo, kenyataannya sakit banget berpisah sama elo, seharusnya hari ini kita menikah, hari ini kita bahagia.. " gumam Arjuna.
Bersambung