NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Keesokan harinya, suasana kamp Serigala Perak terasa lebih tenang setelah rencana awal disepakati. Aslan memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak guna menjernihkan pikiran dari berbagai kalkulasi rumit yang terus berputar di kepalanya.

Langkah kaki Aslan membawanya ke arah suara gemuruh air yang jatuh dari kejauhan. Di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang malam itu, ia menemukan sebuah air terjun kecil yang tersembunyi di balik pepohonan lebat.

Di sana, Aslan melihat Elara sedang duduk sendirian di atas batu besar. Pandangan wanita itu tertuju pada air terjun dengan ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan.

"Malam yang cukup terang untuk seorang Jenderal yang seharusnya sedang beristirahat," sapa Aslan dengan suara rendah agar tidak mengejutkan wanita itu.

Elara tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut karena ia sudah menyadari kedatangan Aslan sejak tadi. Ia tetap menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun. "Seorang pemimpin tidak pernah benar-benar bisa beristirahat, Aslan. Kau seharusnya tahu itu lebih baik daripada aku."

Aslan mendekat dan berdiri di samping Elara. Ia tidak langsung bicara lagi, melainkan ikut memandangi pantulan cahaya bulan di permukaan air terjun yang jernih.

[Sistem: Detak jantung Jenderal Elara stabil, namun ada tanda-tanda kelelahan mental yang signifikan. Tingkat kepercayaan saat ini: 65 persen.]

Aslan membaca pemberitahuan dari antarmuka transparan yang hanya bisa dilihat oleh matanya sendiri. Ia tetap menjaga wajahnya tetap datar agar Elara tidak mencurigai sesuatu yang aneh.

"Terkadang beban yang kita pikul terasa jauh lebih berat saat keadaan sedang tenang seperti ini," ucap Aslan pelan sambil menatap riak air.

Elara akhirnya menoleh ke arah Aslan. Ia tersenyum pahit melihat ketenangan pangeran di sampingnya. "Kau berbicara seolah-olah kau sudah hidup selama seratus tahun. Bagaimana kau bisa setenang ini?"

"Pengalamanku di Hutan Grendel memberiku perspektif baru tentang hidup. Kita berdua adalah orang yang dipaksa bertahan hidup dengan cara yang sangat keras," jawab Aslan tanpa menyebutkan peran sistem dalam ketenangannya.

Elara menghela napas panjang dan menepuk tempat kosong di sampingnya. Ia mengisyaratkan Aslan untuk duduk bersamanya. Aslan menerima tawaran itu tanpa ragu.

"Kau tahu kenapa aku begitu keras kepala mempertahankan wilayah utara ini?" tanya Elara tiba-tiba.

"Karena ini adalah satu-satunya tempat di mana Serigala Perak merasa memiliki identitas yang kuat," tebak Aslan dengan nada bicara yang hati-hati.

Elara menggeleng pelan. "Lebih dari sekadar itu. Aku tumbuh besar di sebuah desa kecil yang kini sudah menjadi abu karena keserakahan ayahmu, Raja Elian. Saat itu aku hanyalah seorang gadis yang harus melihat orang tuaku dibantai karena gagal membayar upeti."

Aslan terdiam sejenak mendengar kejujuran tersebut. Informasi mengenai masa lalu Elara ini benar-benar baru bagi Aslan karena sistem tidak menyediakan data latar belakang emosional secara mendalam.

"Aku membenci kerajaan ini. Aku membenci semua orang yang memakai mahkota," lanjut Elara dengan suara yang mulai bergetar karena emosi. "Tapi kemudian aku menyadari bahwa jika aku tidak menjadi kuat, aku hanya akan menjadi debu berikutnya. Serigala Perak adalah kumpulan orang-orang yang tidak memiliki tempat untuk pulang lagi."

Aslan menatap Elara dengan pandangan yang jauh lebih lembut daripada saat mereka pertama kali bertemu. "Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah dilakukan oleh ayahku di masa lalu. Namun aku bisa menjamin bahwa di bawah kepemimpinanku nanti, tidak akan ada lagi desa yang menjadi abu hanya karena tuntutan emas."

Elara menatap mata Aslan dalam waktu yang cukup lama. Ia mencoba mencari jejak kebohongan atau kepura-puraan, namun ia hanya menemukan ketenangan yang sangat jujur di sana.

"Kata-katamu sangat berbahaya, Pangeran. Kata-kata itu membuatku ingin percaya pada sesuatu yang selama ini aku anggap mustahil," bisik Elara dengan suara parau.

"Keyakinan adalah senjata yang paling tajam jika kau tahu cara menggunakannya dengan benar," balas Aslan.

[Sistem: Tingkat kepercayaan Jenderal Elara meningkat menjadi 72 persen. Sinkronisasi emosional terdeteksi.]

Pemberitahuan itu muncul kembali di sudut penglihatan Aslan, namun ia mengabaikannya demi menjaga momen pribadi ini. Elara perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Aslan.

"Jika kau sampai mengkhianatiku, aku sendiri yang akan memastikan pedangku menembus jantungmu," ancam Elara meskipun suaranya terdengar lelah.

"Itu adalah risiko yang sudah bersedia aku ambil sejak awal," jawab Aslan dengan suara yang mantap.

Malam itu, di tengah gemuruh suara air terjun, sebuah aliansi yang lebih dari sekadar kontrak politik resmi mulai terbentuk di antara mereka berdua.

Pagi berikutnya, lapangan latihan di tengah kamp Serigala Perak sudah dikosongkan. Elara berdiri di tengah lapangan dengan pedang latihan di tangannya. Ia menatap Aslan yang baru saja tiba dengan ekspresi yang jauh lebih profesional dibandingkan semalam.

"Aku ingin melihat seberapa tajam taringmu yang sebenarnya," ucap Elara sambil mengangkat pedangnya. "Jangan menahan diri karena aku seorang wanita."

Aslan mencabut pedang latihannya dengan gerakan tenang. Matanya mulai bersinar redup saat antarmuka sistem aktif di pupilnya.

[Sistem: Memulai Analisis Pola Bertarung Subjek Elara. Mengaktifkan Prediksi Taktis Real-Time.]

"Silakan mulai, Jenderal," jawab Aslan singkat.

Elara melesat maju dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia melepaskan serangkaian tebasan diagonal yang sangat cepat. Para prajurit Serigala Perak yang menonton dari pinggir lapangan bersorak melihat kehebatan pemimpin mereka.

Namun, Aslan bergerak dengan sangat minimalis. Ia hanya menggeser kakinya beberapa inci untuk menghindari setiap tebasan Elara. Pedang Elara hanya mengenai udara kosong di sekitar tubuh Aslan.

[Sistem: Beban pada sendi bahu kanan subjek terdeteksi. Tebasan berikutnya adalah serangan horizontal dari arah kiri bawah. Peluang akurasi prediksi: 99 persen.]

Aslan memutar tubuhnya tepat sebelum pedang Elara mencapainya. Dengan satu gerakan halus, ia menangkis bilah pedang Elara dan memutarnya hingga posisi Elara menjadi tidak seimbang.

"Gerakanmu terlalu banyak membuang energi," kritik Aslan dengan nada datar.

Elara menggertakkan giginya. Ia memutar tubuh dan mencoba melakukan tendangan putar yang sangat cepat ke arah kepala Aslan.

[Sistem: Sinkronisasi Saraf 25 persen aktif. Percepatan refleks otot kaki.]

Aslan merunduk dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi mata manusia biasa. Sebelum Elara bisa menarik kakinya kembali, ujung pedang Aslan sudah berada tepat di depan leher Elara. Ujung bilahnya berhenti hanya beberapa milimeter dari kulit Elara.

Seluruh lapangan latihan mendadak sunyi senyap. Para prajurit Serigala Perak terperangah melihat pemimpin mereka terpojok hanya dalam hitungan detik.

"Kau sangat efisien," bisik Elara dengan napas yang sedikit terengah-engah. "Gerakanmu tidak terlihat seperti latihan, tapi seperti mesin yang dirancang untuk membunuh."

"Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menang," sahut Aslan sambil menarik pedangnya kembali.

[Sistem: Efisiensi tempur meningkat. Hubungan taktis dengan subjek Elara diperkuat melalui demonstrasi kekuatan.]

Elara menyarungkan pedangnya dan menatap Aslan dengan rasa hormat yang semakin besar. "Jika kau bisa bertarung seperti itu di medan perang sesungguhnya, Kael tidak akan tahu apa yang menyerangnya."

Aslan hanya mengangguk pelan. Ia menyimpan pedangnya kembali sambil mematikan antarmuka sistem yang mulai terasa panas di sarafnya. Rahasianya tetap aman, sementara kekuatannya baru saja memberikan dampak yang luar biasa pada moral sekutunya.

Beberapa minggu berlalu dengan persiapan yang sangat intens di wilayah utara. Kerja sama antara Aslan dan Elara semakin solid hingga tidak ada lagi keraguan di antara mereka. Kepercayaan Elara telah mencapai puncaknya setelah melihat dedikasi Aslan dalam melindungi rakyat utara.

[Sistem: Tingkat kepercayaan Jenderal Elara telah mencapai 100 persen. Subjek sepenuhnya berkomitmen pada tujuan pengguna.]

Aslan berdiri di depan peta besar yang membentang di meja strategi. Elara berdiri di sampingnya dengan tangan bersilang di depan dada. "Pasukan kita sudah siap, tapi jumlah kita masih kalah jauh jika harus menyerbu ibu kota secara langsung."

"Aku tahu," jawab Aslan sambil menunjuk wilayah timur pada peta. "Itulah sebabnya aku akan pergi ke wilayah timur untuk sementara waktu."

Elara mengerutkan kening karena merasa rencana itu terlalu berisiko. "Wilayah timur adalah tempat yang sangat kacau. Kenapa kau ingin pergi ke sana?"

"Aku butuh lebih banyak orang kuat di sisiku. Kael memiliki jenderal-jenderal yang tangguh, dan Serigala Perak saja tidak akan cukup untuk menahan mereka semua," jelas Aslan dengan tenang.

Aslan telah melakukan riset mendalam melalui sistemnya mengenai turnamen bawah tanah di wilayah timur. Tempat itu dikenal sebagai sarang bagi para petarung terbuang dan tentara bayaran yang tidak memiliki tuan.

"Turnamen bawah tanah itu sangat berbahaya, Aslan. Mereka bertarung sampai mati di sana hanya untuk emas," peringat Elara dengan nada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Itulah tempat terbaik untuk menemukan monster yang kita butuhkan," balas Aslan. "Aku tidak hanya mencari prajurit biasa, aku mencari orang-orang yang bisa membalikkan keadaan dalam sekali serang."

Elara menghela napas panjang karena ia tahu ia tidak bisa menghentikan keputusan pangeran tersebut. "Berapa lama kau akan pergi?"

"Sampai aku mendapatkan apa yang aku cari," kata Aslan sambil mengemas perlengkapannya. "Jaga wilayah utara tetap stabil. Aku akan kembali dengan kekuatan yang akan membuat Kael menyesali hari saat ia mengkhianati ayahku."

Aslan kemudian meninggalkan kamp Serigala Perak saat fajar menyingsing. Ia memacu kudanya menuju wilayah timur dengan tujuan tunggal di kepalanya.

[Sistem: Misi Perekrutan Aktif. Menuju Arena Pertarungan Bawah Tanah Wilayah Timur.]

Tatapan mata Aslan terlihat sangat dingin dan penuh tekad. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan jauh lebih berdarah daripada sebelumnya, namun itu adalah langkah yang harus ia ambil untuk memastikan balas dendamnya berjalan tanpa celah sedikit pun.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!