NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata dan Penjelasan

Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon di halaman rumah, menciptakan siluet yang tenang di dalam kamar. Namun, ketenangan itu terusik oleh getaran ponsel di atas nakas yang berdengung membelah sunyi. Liam, yang sudah terbangun sejak sebelum Subuh dan baru saja selesai membaca dzikir paginya, mengernyitkan dahi. Di layar ponselnya tertera nama "dr. Asena".

Awalnya Liam ragu, mengira ada keadaan darurat medis atau pasien bedah saraf yang memburuk. Ia mengangkat telepon itu dengan suara rendah, berusaha tidak membangunkan Ameera yang masih terlelap dalam balutan selimut hangatnya.

"Halo, ada apa Asena? Apakah ada pasien yang darurat?" tanya Liam langsung pada inti masalah.

Namun, di seberang sana, suara Asena terdengar sangat santai, bahkan terlalu lembut untuk ukuran rekan kerja di pagi hari.

"Halo, Liam... Maaf ya mengganggu sepagi ini. Tidak ada keadaan darurat kok. Aku hanya... ingin memastikan apakah kau sudah bangun? Jakarta pagi ini cukup dingin, bukan?"

Liam tertegun. Ia menjauhkan ponselnya sejenak, menatap layar dengan heran. "Asena, jika tidak ada urusan rumah sakit, saya rasa tidak perlu..."

"Oh, ayolah Liam, jangan terlalu kaku," potong Asena dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan. "Aku hanya ingin tahu, apakah kau sudah sarapan? Tadi malam operasimu sangat berat, tidurnya nyenyak? Aku khawatir staminamu turun hari ini karena jadwal kita sangat padat."

Liam menghela napas, wajahnya berubah datar. Sebagai pria yang selama ini menjaga jarak dengan sangat hati-hati, ia segera menangkap getaran yang tidak wajar dari nada bicara Asena. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan lagi pertanyaan rekan sejawat, melainkan perhatian yang melampaui batas profesionalitas.

Tepat saat itu, Ameera menggeliat. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Liam sedang memegang ponsel dengan ekspresi tegang. Kesadaran Ameera segera pulih saat mendengar sayup-sayup suara wanita dari balik speaker ponsel suaminya.

Liam yang menyadari istrinya terbangun, langsung memutus pembicaraan dengan tegas. "Saya rasa pembicaraan ini sudah tidak pada tempatnya, Asena. Saya harus mengakhiri telepon ini sekarang. Istri saya sudah bangun, dan saya harus melayaninya. Assalamualaikum."

Klik.

Liam mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali di atas nakas dengan gerakan cepat, seolah-olah benda itu baru saja menyengatnya. Ia berbalik untuk tersenyum pada Ameera, namun senyuman itu membeku saat melihat tatapan mata istrinya.

Ameera tidak bangun dengan senyum manis seperti biasanya. Ia bangkit dari baringannya, duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan terlipat di depan perutnya yang mulai membuncit. Matanya yang jernih kini menatap Liam dengan tajam, ada kilat api yang tidak bisa disembunyikan.

"Siapa, Mas?" tanya Ameera, suaranya tenang namun mengandung getaran yang membuat Liam merasa lebih gugup daripada saat menghadapi operasi tersulitnya.

"Itu... dr. Asena, rekan baru di bedah saraf yang pernah Mas ceritakan," jawab Liam jujur, mencoba tetap tenang.

"Sepagi ini? Menanyakan sudah bangun atau belum? Menanyakan sudah makan atau belum?" Ameera mengulangi kata-kata yang sempat ia dengar. "Kenapa Mas langsung mematikan teleponnya begitu aku bangun? Apa ada yang perlu disembunyikan?"

"Astagfirullah, Ameera... Tidak ada yang disembunyikan," Liam mencoba meraih tangan istrinya, namun Ameera menariknya pelan. "Justru Mas mematikan telepon itu karena Mas merasa dia sudah melewati batas. Mas tidak ingin dia mengganggu ketenangan kita. Mas ingin dia tahu bahwa fokus Mas adalah kau, bukan dia."

Ameera memalingkan wajahnya. "Tapi kenapa dia merasa punya hak untuk bertanya seperti itu, Mas? Apakah di rumah sakit Mas memberinya ruang? Apakah cara Mas menunduk selama ini tidak cukup membuatnya sadar bahwa Mas sudah beristri?"

Hati Ameera terasa perih. Sejak hamil, hormon dan rasa sensitifnya meningkat berkali-kali lipat. Bayangan seorang dokter wanita cantik, lulusan Jerman, yang memiliki akses setiap hari untuk melihat suaminya bekerja, membuat rasa cemburu itu meledak-ledak di dadanya.

"Ameera, dengarkan Mas," Liam kini berlutut di samping ranjang agar posisinya lebih rendah dari Ameera, sebuah sikap tunduk dan hormat. "Mas tidak pernah memberinya ruang. Mas tidak pernah menatapnya lebih dari yang diperlukan untuk urusan medis. Mas mematikan telepon itu justru untuk menjagamu, untuk menjaga hati kita."

Air mata mulai mengalir di pipi Ameera. "Aku tahu Mas Liam orang baik. Tapi aku juga wanita, Mas. Aku tahu bagaimana cara wanita lain memandang pria seperti Mas. Dan kenyataan bahwa dia berani menelponmu di jam privat kita... itu membuatku merasa... tidak aman."

Liam merasakan sesak di dadanya melihat air mata itu. Ia berdiri dan tanpa ragu membawa Ameera ke dalam pelukannya. Kali ini, Ameera tidak menolak, ia justru membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menangis sesenggukan.

"Maafkan Mas kalau Mas kurang tegas di matanya hingga dia berani melakukan itu," bisik Liam sambil mengelus punggung Ameera. "Hari ini, Mas akan bicara lebih keras di rumah sakit. Mas akan tegaskan bahwa komunikasi antara kami hanya sebatas urusan pasien dan hanya di jam kerja. Mas tidak akan membiarkan ada satu pun kuman yang menginfeksi kebahagiaan kita."

Liam melepaskan pelukannya sebentar, lalu menangkup wajah Ameera, menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jarinya.

"Ingat setahun lalu? Mas bahkan tidak berani menatapmu karena Mas sangat takut jatuh pada dosa. Sekarang, setelah Allah menghalalkanmu bagiku, mana mungkin Mas menyia-nyiakan cahaya ini hanya untuk debu di luar sana? Kau adalah Alif-ku, Ameera. Dan anak ini..." Liam mengelus perut Ameera, "...adalah saksi bahwa cintaku sudah berlabuh sepenuhnya."

Ameera menatap mata Liam, mencari kejujuran di sana, dan ia menemukannya. Kejujuran yang sama yang dulu membuatnya jatuh cinta di pesantren. Rasa cemburu itu masih ada, namun kini terbalut oleh rasa percaya.

"Jangan pernah sembunyikan apa pun dariku, Mas. Meskipun itu menyakitkan, aku lebih suka tahu daripada harus menduga-duga," ucap Ameera pelan.

"Janji," jawab Liam singkat namun pasti.

Pagi itu, yang seharusnya dimulai dengan tawa, justru dimulai dengan air mata yang membasuh hati. Namun, kejadian itu justru mempererat ikatan mereka. Ameera memutuskan satu hal: hari ini, ia akan mengirimkan bekal makan siang paling spesial ke rumah sakit, bukan untuk pamer, tapi untuk memberikan tanda yang jelas pada siapa pun di sana, termasuk Asena, bahwa dr. Liam Al-Gazhi telah memiliki pelabuhan yang paling indah.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!