NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 : Sekat Dinding Tak Kasat Mata

Vema turun dari ojek tepat saat semburat jingga di langit Surabaya mulai meredup. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan deru motor yang menjauh. Bagisnya, matahari terbenam bukan tanda waktu istirahat, melainkan awal dari pengabdian yang sunyi.

​Ia menatap rumahnya. Sebuah bangunan sederhana dengan pagar besi dicat hitam. Di teras samping, terlihat tumpukan kain sintetis dan beberapa mesin jahit industri yang sudah tertutup kain. Itulah dunia ibunya—seorang perajin tas pesanan. Sementara itu, dari dalam ruang tamu, terdengar sayup-sayup suara petikan gitar elektrik tanpa amplifier. Ayahnya, seorang musisi band lokal, sedang berlatih untuk jadwal manggung besok malam.

​Secara kasat mata, keluarga ini adalah potret keluarga pekerja keras yang sangat normal. Namun, Vema tahu kebenaran di balik tembok itu.

"Vema pulang," bisiknya saat membuka pintu.

Suasana rumah terasa lembap. Ibunya muncul dari arah dapur, jemarinya yang kapalan kini memegang sebuah nampan kecil berisi gelas kopi pahit.

"Terlambat lima menit," ucap ibunya datar. "Kenapa tadi kamu berdiri lama di depan gerbang sekolah? Ibu lihat dari jauh saat lewat."

Vema tersentak. Padahal lokasi gedung TKJ-nya berada jauh di area belakang sekolah, terpisah jarak yang cukup jauh dari gedung Akuntansi tempat Rendra berada. Ia pikir ia sudah cukup aman saat berpamitan singkat dengan Rendra tadi di dekat parkiran.

"Tadi cuma pamit sama teman, Bu," jawab Vema lirih.

"Cepat ganti bajumu. Bantu Ibu menyelesaikan jahitan ritsleting tas pesanan, lalu bersihkan kamar belakang. 'Tamu' kakekmu akan datang lebih awal malam ini."

Vema mengangguk kaku. Ia segera masuk ke kamarnya, melepas seragam putih-abu-abunya. Di dalam keheningan kamar, pikirannya melayang kembali ke Gedung Akuntansi yang bercat krem di bagian depan sekolah. Jauh sekali dari Lab TKJ-nya yang penuh dengan aroma kabel dan komputer di sudut belakang sekolah.

Ia teringat Sarendra. Sosok bungkuk yang rela berjalan jauh dari gedungnya hanya untuk menemuinya di bawah pohon kersen atau sekadar menyapa di gerbang. Ada rasa haru yang aneh; bagi Vema yang sering merasa "terasing" di sekolahnya sendiri karena sibuk membantu orang lain, perhatian Rendra terasa sangat nyata.

Namun, Vema segera mematikan ponselnya dan menyimpannya di laci, sesuai perintah ibunya. Di rumah ini, komunikasi dengan dunia luar adalah ancaman.

Sambil duduk di depan mesin jahit, Vema mulai menginjak pedal. Suara deru mesin itu beradu dengan suara petikan gitar ayahnya yang mendadak berubah temponya menjadi aneh—cepat dan tidak beraturan. Vema tahu, itu pertanda suasana rumah mulai "berubah".

Ia melirik ke arah kamar belakang yang tertutup rapat. Di sana, di antara gulungan kain tas ibunya, bau dupa mulai mengalahkan aroma kopi ayahnya. Vema terus menjahit, mencoba fokus pada benang-benang di depannya, sambil diam-diam berharap besok pagi matahari cepat terbit supaya ia bisa kembali ke sekolah—tempat di mana ia bisa melihat sosok Rendra dari kejauhan, di antara riuhnya perbedaan gedung mereka.

...****************...

Suasana di meja makan malam itu sunyi, hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring keramik. Ayah Vema sudah berganti pakaian rapi, mengenakan jaket kulit favoritnya karena sebentar lagi ia harus berangkat check sound di sebuah kafe. Wajahnya yang tadi terlihat tegang saat berlatih gitar kini sedikit lebih cerah, namun matanya tetap enggan menatap Vema.

"Vem, itu tas pesanan Bu RT sudah selesai dijahit?" tanya Ibunya sambil menyeka bibir dengan serbet.

"Sudah, Bu. Tinggal dipasang tali bahunya besok pagi," jawab Vema patuh.

"Bagus. Jangan sampai telat antar ke depan. Reputasi itu penting, jangan sampai orang berpikir kita keluarga yang tidak disiplin," sambung Ibunya lagi.

Vema mengangguk. Ia selalu merasa ironis. Orang tuanya sangat peduli pada "citra" di mata orang lain. Ibunya ingin dikenal sebagai penjahit tas yang cekatan, dan ayahnya ingin dikenal sebagai gitaris band yang karismatik. Namun, di dalam rumah, mereka berdua adalah orang yang berbeda. Mereka adalah penjaga tradisi yang gelap, yang memaksa anak tunggal mereka untuk ikut memikul beban yang tidak masuk akal.

Setelah Ayahnya berangkat, suasana rumah justru terasa semakin menekan. Ibunya mulai mematikan lampu ruang tamu, hanya menyisakan satu lampu kecil berwarna kuning temaram di sudut.

"Vema, masuk ke kamar belakang. Bantu Ibu 'membuka jalan'," perintah Ibunya dengan suara yang mendadak berubah berat.

Vema merasakan perutnya mulas. Ia membenci ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan gulungan kain tas, namun di tengahnya terdapat sebuah meja altar kecil. Vema duduk bersila di lantai yang dingin, di depan sebuah cermin besar yang ditutup kain hitam. Tugasnya sederhana namun melelahkan secara mental: ia harus duduk diam, memejamkan mata, dan menjadi "wadah" untuk menyerap energi negatif dari tamu yang datang malam itu agar tidak mengganggu ritual ibunya.

Selama hampir dua jam, Vema terjebak dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri di balik kelopak matanya. Dalam diamnya, ia sering berfantasi. Ia membayangkan dirinya sedang berada di lab TKJ, sedang sibuk mengonfigurasi router atau sekadar bercanda dengan Nadin. Ia membayangkan aroma kabel yang terbakar, yang baginya jauh lebih jujur daripada aroma kemenyan ini.

Dan di tengah lamunannya, wajah Sarendra muncul. Vema membayangkan cowok itu sedang duduk di meja akuntansinya, berkutat dengan angka-angka. Vema merasa bersalah karena telah memberikan harapan pada Rendra lewat selembar nomor telepon, padahal ia tahu dunianya terlalu kotor untuk disentuh oleh seseorang sebersih Rendra.

"Sudah, keluar," suara Ibunya memecah konsentrasi Vema.

Vema berdiri dengan kaki yang kesemutan. Kepalanya terasa pening, seolah ada beban tak terlihat yang menempel di pundaknya. Saat ia berjalan keluar menuju kamarnya, ia melewati mesin jahit ibunya. Ia melihat sehelai benang merah yang terjepit di antara roda mesin. Ia teringat pepatah yang pernah ia baca dalam buku bahasa Inggris di sekolah: The red string of fate.

Apakah benang merahku juga terjerat di mesin jahit ini selamanya? batin Vema getir.

Ia masuk ke kamar, tidak sanggup lagi menggambar. Ia hanya ingin tidur dan berharap besok adalah hari yang panjang di sekolah. Di sana, meski ia harus menjadi orang yang selalu menuruti kemauan teman-temannya, setidaknya ia tidak perlu berurusan dengan sesuatu yang tidak memiliki raga.

Sebelum terlelap, Vema sempat membuka laci dan meraba ponselnya yang mati. Ia tidak menyalakannya, hanya menyentuh layarnya yang dingin, seolah sedang menyentuh tangan seseorang yang jauh di gedung seberang sekolah sana.

Vema baru saja hendak memejamkan mata saat pintu kamarnya berderit terbuka tanpa ketukan. Ibunya berdiri di sana, siluetnya memanjang di lantai karena cahaya lampu koridor yang remang. Di tangannya, sang ibu membawa sebuah tas kecil hasil jahitan mereka tadi sore—tas selempang kain kanvas hitam yang terlihat sangat biasa.

"Besok, antarkan tas ini ke alamat yang sudah Ibu selipkan di dalam ritsletingnya," ucap Ibunya pelan.

"Pakai waktu istirahatmu. Jangan sampai orang lain melihat saat kamu memberikannya."

Vema bangkit dari tempat tidur, menerima tas itu dengan tangan sedikit gemetar. "Ini... pesanan tas biasa kan, Bu?"

Ibunya tidak menjawab. Beliau hanya menatap Vema dengan pandangan yang sulit dibaca—setengah kasih sayang, setengah tuntutan mutlak. "Di dalamnya ada sesuatu yang perlu 'diantarkan' pulang.

Kamu hanya perantaranya. Ingat, Vema, kamu punya kelebihan yang tidak dimiliki anak-anak lain di sekolah Pamasta itu. Jangan disia-siakan hanya untuk bermain-main."

Setelah Ibunya pergi, Vema membuka ritsleting tas itu. Di dalamnya, selain nota pembelian formal, ada sebuah bungkusan kain putih kecil yang diikat benang hitam. Bau anyir samar tercium, beradu dengan aroma kain baru. Vema langsung menutupnya kembali dengan perasaan mual.

Ia tahu ini bukan sekadar urusan dagang. Ini adalah alasan mengapa ia selalu merasa berat setiap kali melangkah ke gerbang sekolah. Di sekolah, ia berusaha menjadi Vema si people pleaser yang ceria dan serba bisa. Namun, di balik tas sekolahnya, ia sering kali membawa "titipan-titipan" gelap dari rumahnya untuk orang-orang tertentu di luar sana.

Vema terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada kaki tempat tidur. Ia merasa seperti sebuah jembatan yang dipaksa menghubungkan dua tepian yang seharusnya tidak pernah bertemu: dunia sekolah yang terang dan dunia rumah yang kelam.

Ia mengambil buku sketsanya lagi. Dengan gerakan impulsif, ia menggoreskan pensilnya di halaman baru. Kali ini bukan gambar makhluk hitam, melainkan gambar sebuah ritsleting tas yang terbuka, dan dari dalamnya keluar ribuan sayap kupu-kupu yang mencoba terbang ke arah sebuah gedung tinggi yang ia labeli di pojok kertas: Gedung Akuntansi.

"Dra..." gumamnya lirih.

Vema membayangkan betapa kontrasnya hidup Sarendra. Rendra mungkin sedang sibuk mengerjakan PR neraca saldo atau sedang bercanda dengan Bagas lewat telepon. Sementara dirinya? Dirinya sedang memeluk tas berisi "barang titipan" yang membuatnya merasa kotor.

Vema mematikan lampu kamarnya. Dalam kegelapan, ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Alasan ia selalu membantu orang lain di sekolah bukan hanya karena ia tidak bisa menolak, tapi karena ia merasa perlu melakukan "kebaikan" sebanyak mungkin untuk menebus semua "kegelapan" yang ia bawa dari rumahnya setiap hari.

Malam itu, Vema tidur dengan tas hitam itu di samping bantalnya. Ia bermimpi tentang sebuah lorong panjang yang memisahkan Gedung TKJ dan Gedung Akuntansi. Di tengah lorong itu, Sarendra berdiri membelakanginya. Vema ingin memanggil, tapi suaranya hilang ditelan aroma kemenyan yang mendadak muncul di mimpinya.

Besok adalah hari Selasa. Hari di mana ia harus menjalankan misi dari Ibunya, sekaligus hari di mana ia berharap bisa melihat sosok Rendra, meski hanya dari kejauhan di antara kerumunan seragam putih-abu-abu.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!