NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18# Camp Baru

Dasar jurang yang berpendar biru itu kini menjadi saksi bisu kesibukan para remaja 18 tahunan dan 2 orang dewasa yaitu Harry yang berumur sekitar 50an dan Dokter Luz berumur 30an yang sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan terakhir mereka. Meskipun perkemahan Dasha jauh lebih aman daripada Saka, atmosfer di sana tidak lagi santai. Mereka tahu bahwa tinggal terlalu lama di satu tempat adalah undangan bagi maut. Gabungan kelompok Arlo dan kelompok Dasha menciptakan dinamika baru yang unik; ada pertukaran ilmu, ada persaingan kecil, dan tentu saja, ada tingkah laku konyol yang menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah keputusasaan.

Pagi itu jika waktu di bawah jurang masih bisa disebut pagi Arlo dan Tom membagi tugas. Mereka tidak bisa berangkat jika Selene belum pulih total, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan waktu ini guna memperkuat stamina, mengasah senjata, dan mengumpulkan perbekalan sebanyak mungkin.

Di area lapang yang dipenuhi lumut, Rick dan Tom memimpin latihan tanding. Mereka berdua adalah petarung fisik terkuat. Rick dengan tombak listriknya yang kini telah diisi ulang energinya oleh Naya, dan Tom dengan kapak rakitannya yang berat. Di sisi lain, Zephyr dan Rony melatih para gadis Cicilia, Lily, dan Lira dalam teknik menyerang titik vital monster.

Namun, di antara latihan yang serius itu, selalu ada satu titik gangguan yang membuat semua orang menghela napas: Rayden.

Rayden, yang kini merasa dirinya adalah "Ksatria Panci" setelah insiden di tebing kemarin, sedang berusaha menunjukkan kemampuannya di depan Lira. Ia mengambil sebuah ranting panjang dan mencoba melakukan gerakan memutar seperti yang dilakukan Rick, namun sayangnya, ranting itu justru terlepas dari tangannya dan menghantam pantat Finn yang sedang asyik mengasah belati di dekat sana.

"ADUH! Sialan, Rayden! Kau mau membunuhku atau mau menari balet?" teriak Finn sambil melompat kaget.

Rayden tidak memedulikan Finn. Ia segera memperbaiki posisi berdirinya, menyisir rambutnya yang kotor dengan jari, lalu mendekati Lira yang sedang fokus mengatur napas. "Lira, jangan terlalu dipaksakan. Kecantikanmu bisa luntur kalau kau terlalu banyak berkeringat. Serahkan saja monster-monster itu pada pelindungmu yang gagah ini," ucap Rayden dengan kedipan mata yang sangat canggung, mencoba flirting di tengah situasi maut.

Lira hanya menatap Rayden datar, seolah-olah Rayden adalah seonggok batu yang bisa bicara. Ia mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu kembali mengayunkan belatinya tanpa membalas sepatah kata pun. "Bodo amat, Ray. Pergi sana, bantu Harry cari kayu bakar," sahut Lira dingin.

Finn yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak hingga terguling di atas lumut. "Ditolak lagi! Ray, jujur saja, bahkan monster Argentum Arachne pun mungkin akan menolak cintamu karena wajahmu terlalu penuh dengan ketakutan!" ejek Finn.

"Diam kau, Finn! Ini namanya strategi pengepungan hati! Kau tidak akan mengerti!" balas Rayden sambil membusungkan dadanya, meski sedetik kemudian ia hampir jatuh terpeleset karena menginjak lumut yang licin.

Sore harinya, tugas beralih ke pencarian logistik. Meskipun dunia ini dipenuhi monster mengerikan yang merupakan hasil eksperimen gagal, ada beberapa makhluk yang tampaknya "tersesat" atau memang sengaja dibiarkan berevolusi secara alami sebagai sumber pangan darurat bagi subjek eksperimen. Salah satunya adalah Cervus Argentum, sejenis rusa liar berkulit perak yang dagingnya sangat tebal namun gerakannya sangat cepat.

Arlo, Rick, dan Rony pergi berburu ke bagian utara dasar jurang yang lebih rimbun. Rony terbukti sebagai pemburu yang handal; ia bisa menghilang di balik bayang-bayang pohon tanpa suara sedikit pun.

"Target di arah jam dua," bisik Rony sambil menarik busur panahnya. Sret! Anak panah itu meluncur tepat mengenai leher Cervus Argentum yang sedang minum di genangan air. Makhluk itu tumbang seketika.

"Dagingnya cukup untuk kita semua selama tiga hari," ucap Arlo sambil membantu mengangkat bangkai rusa perak itu. Mereka membawa hasil buruan itu kembali ke kamp untuk segera diolah oleh Becca dan Harry.

Sementara itu, Naya dan Dokter Luz sibuk di sudut tenda, mencoba menyusun bahan bakar dari sisa-sisa kristal energi yang ditemukan Dasha di dasar jurang. Kristal-kristal ini memancarkan panas yang stabil jika dipicu dengan sedikit aliran listrik.

"Jika kita bisa menstabilkan kristal ini, kita tidak perlu lagi membakar kayu. Panasnya bisa bertahan berminggu-minggu," jelas Naya kepada Arlo yang baru kembali dari berburu.

Zephyr, yang biasanya tidak mau membantu urusan teknis, kali ini tampak rajin membantu Naya mengangkat kotak-kotak berat berisi kristal. Meskipun Zephyr tidak banyak bicara, setiap kali Naya terlihat lelah, Zephyr akan segera menyodorkan botol air atau sekadar berdiri di dekatnya untuk memastikan tidak ada yang mengganggu konsentrasi Naya. Chemistry di antara mereka terasa sangat alami, sebuah perlindungan sunyi yang membuat Naya merasa tidak lagi sendirian dalam rasa bersalahnya.

Di sisi lain kamp, Arlo duduk di samping Selene. Luka-luka Selene mulai mengering berkat ramuan dedaunan dari Becca. Selene menatap api unggun kecil yang menyala di tengah mereka. "Kau tahu, Arlo... sejak aku bertemu gadis bernama Dasha itu, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres," bisik Selene.

Arlo menoleh, menatap wajah Selene dengan lembut. "Apa maksudmu?"

"Dia bilang dia sudah sembilan bulan di sini. Tapi cara dia menatap Menara... itu bukan tatapan orang yang ingin kabur. Itu tatapan orang yang sedang menunggu sesuatu," lanjut Selene. Arlo terdiam, ia juga merasakan keganjilan yang sama, namun ia tidak ingin menambah ketegangan di antara dua kelompok yang baru saja bersatu ini.

Malam itu, mereka mengadakan pesta kecil di tengah duka. Daging rusa perak dibakar di atas bara kristal, menyebarkan aroma yang menggoda selera bagi perut-perut yang sudah lama hanya diisi umbi-umbian pahit. Rayden kembali mencoba peruntungannya. Ia mengambil sepotong daging terbaik dan menyodorkannya pada Lira.

"Lira, ambillah ini. Daging ini mengandung protein yang cukup untuk membuatmu jatuh cinta padaku besok pagi," ucap Rayden dengan percaya diri tingkat tinggi.

Lira mengambil daging itu, menggigitnya sedikit, lalu menoleh pada Rayden. "Dagingnya enak. Tapi omonganmu membuat seleraku hilang. Sana, kasih Finn saja."

Finn langsung menyambar daging itu dari tangan Lira sambil tertawa puas. "Terima kasih, Ray! Aku akan mencintaimu lebih dari Lira mencintaimu!"

Suara tawa meledak di perkemahan itu. Untuk sejenak, mereka lupa bahwa mereka adalah kelinci percobaan di dunia yang haus darah. Mereka lupa bahwa ada pengkhianat di luar sana yang sedang mengamati setiap gerak-gerik mereka. Di bawah cahaya lumut biru, semua mereka itu tertidur dengan perut kenyang dan senjata di samping mereka, siap menghadapi rintangan apa pun yang akan muncul saat mereka akhirnya melangkah menuju Menara esok hari.

Namun, di kegelapan luar kamp, Dasha berdiri sendirian, menatap ke arah puncak jurang. Tangannya menyentuh gelangnya yang berkedip pelan dengan cahaya merah yang sangat redup cahaya yang tidak dimiliki oleh gelang Arlo maupun yang lainnya.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!