Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Akar yang Memeluk Langit
Suasana di dalam semesta saku itu mendadak jadi neraka yang sangat cantik. Bayangin aja, di satu sisi ada jutaan jiwa manusia yang bentuknya kayak kunang-kunang biru lagi histeris kesedot lubang hitam di bawah, sementara di langit, langit yang tadinya damai itu sekarang robek kayak kain perca yang dipaksa buka sama tangan-tangan perak raksasa.
Adrian ada di tengah-tengah itu semua. Dia nggak lagi kelihatan kayak manusia biasa. Badannya melayang, zirahnya udah retak-retak nampilin cahaya emas yang meluap dari dalem kulitnya. Dia bener-bener jadi jembatan hidup. Tangan kirinya nembakin rantai cahaya buat nangkep jutaan jiwa yang hampir jatuh ke portal pembuangan, sementara tangan kanannya terus ngalirin energi ke langit buat nahan invasi The Architect.
"Adrian! Lu nggak bakal kuat nahan beban sebanyak itu sendirian!" Sekar teriak dari balkon bunker, suaranya parau gara-gara angin kenceng yang mulai nyedot apa aja di sekitarnya.
Adrian nggak nengok. Mukanya udah penuh urat-urat cahaya yang nyala terang. "Gua harus kuat, Kar! Kalau gua lepas satu aja, rantainya bakal putus semua! Jaga Jantung Emas itu! Jangan biarin Pak Wijaya masuk lewat celah frekuensi!"
Sekar lari masuk ke dalem ruang kendali. Di sana, Aris lagi sibuk banget sama kabel-kabel yang percikan apinya udah kayak kembang api gagal. Jantung Emas di tengah ruangan itu mendadak berubah warna jadi merah darah dan ngeluarin suara tawa digital yang bikin merinding. Itu suara Pak Wijaya.
"Terima kasih, Sekar... terima kasih sudah membawa kunci ini ke pusat memori Adrian. Sekarang, saya nggak butuh raga lagi. Saya akan jadi virus yang menghapus kalian dari dalem!"
"Ris! Pak Wijaya masuk!" Sekar nyoba meluk Jantung Emas itu buat nahan getarannya, tapi rasanya panas banget, kayak megang knalpot motor yang baru jalan seribu kilo.
"Gua tahu, Kar! Dia lagi nyoba ngebajak sistem pertahanan bunker buat nembak Adrian dari belakang!" Aris keringetan dingin, tangan mekaniknya sampe ngeluarin asap hitam. "Gua butuh lu buat masuk ke mode Deep Sync. Lu harus 'nindih' kesadaran Pak Wijaya pake memori lu tentang Adrian!"
"Gimana caranya?!"
"Pegang jantung itu, tutup mata lu, dan bayangin semua hal yang bikin Adrian jadi 'Adrian', bukan 'The Shark'! Lu harus ingetin jantung ini siapa pemilik aslinya!"
Sementara itu, di luar sana, Adrian bener-bener lagi di ambang batas. The Architect mulai masukin pasukan Cleaners lewat celah di langit. Ribuan robot perak itu meluncur jatuh kayak hujan meteor, tujuannya cuma satu: mutusin rantai cahaya yang dipegang Adrian.
DUM! DUM! DUM!
Robot-robot itu nabrak punggung Adrian, nembakin laser-laser dingin yang ngebakar kulit zirahnya. Tapi Adrian nggak ngelepasin rantai itu. Dia ngerasa rasa sakit yang luar biasa, tiap laser yang kena badannya rasanya kayak disayat sembilu. Tapi tiap kali dia ngerasa mau nyerah, dia denger detak jantung Sekar lewat koneksi mental mereka.
"Gua bukan lagi Adrian yang lu kenal, Architect!" Adrian menggelegar, suaranya bikin getaran hebat yang ngehancurin ratusan Cleaners di sekitarnya. "Gua adalah akumulasi dari setiap harapan orang-orang yang udah lu hapus! Gua adalah Malabar yang nggak bakal bisa lu tebang!"
Adrian narik napas panjang. Dia mutusin buat ngelakuin sesuatu yang gila. Dia nggak lagi nahan portal itu, tapi dia justru 'memakan' energi portal pembuangan itu masuk ke dalem badannya. Dia jadi semacam filter raksasa. Energi hitam dari portal itu masuk ke tangan kirinya, diolah di jantungnya, dan dikeluarin jadi energi emas murni lewat tangan kanannya buat nutup celah langit.
Badannya Adrian mulai retak-retak lebih parah. Cahaya emas keluar dari sela-sela retakan itu. Dia bener-bener lagi ngebakar eksistensinya sendiri. Dia tahu, kalau dia terus begini, dia bakal ilang, lebur jadi partikel semesta. Tapi di matanya nggak ada ketakutan. Cuma ada ketangguhan seorang pelindung.
"Ini buat setiap pohon teh yang lu hancurin..." Adrian geram, dia narik rantai cahayanya dengan sekuat tenaga, narik jutaan jiwa itu balik ke area aman di bawah pohon teh raksasa. "Dan ini buat masa depan yang mau lu curi!"
Di dalem bunker, Sekar lagi berjuang di alam bawah sadar. Dia masuk ke dalem ruang gelap yang isinya cuma kode-kode merah milik Pak Wijaya. Di tengah ruangan itu, dia liat bayangan Pak Wijaya yang lagi tertawa sombong.
"Lu cuma cewek kebun, Sekar. Lu nggak punya power di dunia digital ini," ejek Pak Wijaya.
Sekar nggak ngejawab pake kata-kata. Dia merem, dia manggil memori pas Adrian pertama kali ngerasa gagal jadi CEO dan milih buat nanem teh bareng dia. Dia manggil rasa hangat tangan Adrian pas mereka lagi neduh dari hujan. Memori itu muncul kayak gelombang air jernih yang langsung nyapu kode-kode merah Pak Wijaya.
"Adrian bukan harta yang bisa lu miliki, Pak Wijaya," bisik Sekar. "Dia adalah akar. Dan akar itu nggak bisa lu bajak!"
Seketika, Jantung Emas itu meledak dalam cahaya biru bening. Kesadaran Pak Wijaya langsung terlempar keluar, hancur berkeping-keping karena nggak kuat nahan murninya memori Sekar.
"Ris! Sekarang! Alirin semua energi bunker ke Adrian!" teriak Sekar pas dia ngebuka matanya.
Aris langsung neken tombol Overdrive. "Siap, Nona Besar! Adrian, lu denger gua?! Makan nih energi tambahan dari Malabar!"
Satu pilar cahaya biru raksasa melesat dari bunker, langsung nembak ke arah dada Adrian. Begitu dapet tambahan energi itu, Adrian ngerasa kekuatannya balik berkali-kali lipat. Dia nggak cuma nutup celah langit, tapi dia narik tangan perak The Architect itu masuk ke dalem dimensinya.
"Sini lu! Masuk ke rumah gua!" Adrian narik tangan raksasa itu seolah-olah dia lagi narik tali tambang.
The Architectkaget. Dia nggak nyangka kalau "anomali" ini punya kekuatan buat narik entitas dimensi tinggi sepertinya. Langit semesta saku itu bergetar hebat. Bintang-bintang di sana mulai muter kayak pusaran air.
Pertempuran itu bener-bener nggak masuk akal. Adrian, yang sekarang badannya udah hampir seluruhnya jadi cahaya, beradu langsung sama manifestasi The Architect. Tiap pukulan mereka bikin realitas di sekitar mereka pecah-pecah. Sekar dan Aris cuma bisa ngelihat dari kejauhan gimana Adrian dengan gagahnya nahan serangan-serangan yang bisa ngebelah planet.
"Adrian, jangan paksain!" Sekar nangis, dia liat raga Adrian mulai pudar di bagian kakinya. "Lu bakal ilang kalau lu terus pake mode itu!"
Adrian nengok sebentar ke arah bunker. Dia senyum, senyum yang paling tulus yang pernah Sekar liat. Senyum orang yang udah nemuin tujuan hidupnya yang paling sejati.
"Kar... kalau gua ilang, jaga Malabar ya. Jaga setiap tunas tehnya. Karena di tiap tunas itu, ada bagian dari gua," suara Adrian bergema lembut di dalem kepala Sekar.
"Enggak! Lu harus balik! Lu janji mau makan mie instan bareng gua!"
Adrian nggak jawab lagi. Dia fokus ke The Architect. Dia ngumpulin semua sisa tenaganya, semua memori cintanya, dan semua amarahnya jadi satu titik di telapak tangannya.
"Lu mau tahu kenapa manusia itu spesial?" Adrian nanya ke arah wajah raksasa di balik celah langit. "Karena kita tahu caranya berkorban demi sesuatu yang lebih gede dari diri kita sendiri. Sesuatu yang nggak bakal pernah lu ngerti!"
Adrian meledakkan dirinya dalam cahaya putih yang sangat menyilaukan. Bukan ledakan kehancuran, tapi ledakan "Format Ulang". Cahaya itu nyapu semua pasukan Cleaners, nutup celah langit secara permanen, dan yang paling penting, cahaya itu ngerubah semua jiwa-jiwa manusia yang tadinya cuma kunang-kunang biru jadi raga-raga cahaya yang stabil.
Dunia pohon teh raksasa itu perlahan mulai stabil lagi. Portal pembuangan di bawah tertutup rapat. Semuanya jadi sunyi lagi. Adem.
Tapi Adrian nggak ada.
Meja kayu tempat mereka ngeteh tadi kosong. Zirah hitam-emasnya jatuh ke lantai bunker dalam keadaan hancur total dan nggak ada isinya.
Sekar lari keluar dari bunker, dia loncat ke akar cahaya tempat tadi Adrian berdiri. Dia nyari ke mana-mana, tapi cuma ada sisa-sisa partikel emas yang melayang pelan ditiup angin semesta.
"Adrian? Adrian!!!" teriak Sekar, suaranya pecah di tengah angkasa yang luas itu.
Aris nyamperin dengan lemas, dia megang bahu Sekar. "Dia... dia ngelakuinnya, Kar. Dia bener-bener ngerubah dirinya jadi energi buat nyelametin semua jiwa ini. Dia... dia udah nyatu sama dimensi ini."
Sekar jatuh terduduk, dia meluk Jantung Emas yang sekarang udah tenang dan balik jadi warna emas jernih. Tapi tiba-tiba, Jantung Emas itu berdenyut lagi. Bukan denyut mesin, tapi denyut yang sangat pelan... deg... deg...
Dan di atas permukaan Jantung Emas itu, muncul sebuah tulisan kecil yang diukir pake cahaya: “Liat ke bawah.”
Sekar dan Aris langsung ngelihat ke bawah, ke arah "lantai" semesta saku mereka. Di sana, di antara ribuan akar cahaya, ada satu tunas teh kecil yang warnanya beda sendiri. Tunas itu bukan warna hijau atau emas, tapi punya warna pelangi yang sangat indah.
Tunas itu mulai tumbuh dengan sangat cepat, ngebentuk sebuah raga kecil yang meringkuk kayak janin. Dan di dahi raga itu, ada simbol matahari yang sama kayak milik Adrian.
Tapi tiba-tiba, suasana yang tenang itu dirusak sama sebuah getaran frekuensi rendah yang sangat asing. Dari arah kegelapan di luar semesta saku mereka, muncul ribuan titik cahaya merah baru yang ukurannya jauh lebih gede dari The Architect.
Sebuah suara berat, jauh lebih tua dan lebih purba dari apa pun yang pernah mereka denger, menggema dari segala penjuru:
"Eksperimen 17.4 telah mencapai tahap Transendensi. Mulai Protokol 'Penuaian Galaksi'. Jika benih tidak bisa diambil, maka seluruh semesta saku ini harus dipadamkan."
Tiba-tiba, pohon-pohon teh raksasa yang jadi pelindung mereka mulai layu satu per satu. Daun-daunnya berubah jadi abu hitam. Gravitasi di semesta itu mendadak jadi nggak stabil lagi, bikin bunker mereka mulai terguling-guling ke arah jurang dimensi yang nggak berujung.
Siapakah entitas purba yang baru saja muncul dan menyebut Adrian sebagai "Eksperimen 17.4"? Apakah perjuangan Adrian selama ini hanyalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan?
Di saat raga baru Adrian masih berupa janin tunas yang rapuh, mampukah Sekar dan Aris melindunginya dari kehancuran semesta saku mereka sendiri? Dan yang paling penting, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "Penuaian Galaksi" yang bisa menghapus seluruh keberadaan manusia dalam sekejap mata?
semangat update terus tor..