"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Sumpah di Bawah Langit Kelabu
Hawa dingin dermaga menembus pori-pori kulit Tian yang lecet, namun panas di dadanya tidak kunjung padam. Di gubuk Paman Hasan, bau amis laut dan oli mesin menjadi saksi bisu transformasi seorang lelaki yang dulu begitu memuja kedamaian. Tian menatap layar ponselnya yang retak, melihat foto profil Mega yang sedang tersenyum senyum yang kini disandera oleh kemewahan palsu Adrian.
"Kau ingin menyelamatkannya dengan tangan kosong?" suara Paman Hasan memecah kesunyian. Ia melemparkan sebuah jaket kulit tua ke arah Tian. "Adrian itu bukan sekadar pengusaha. Dia punya jaringan. Dia menggunakan hukum seperti memakai baju tidur. Jika kau datang ke rumah sakit sekarang, kau hanya akan memberikan dirimu secara gratis ke jeruji besi."
Tian meremas jaket itu. "Lalu aku harus diam saja sementara dia menyentuh rambut istriku? Sementara dia berpura-pura menjadi pahlawan dengan uang yang seharusnya tidak pernah dia gunakan untuk membeli Mega?"
Paman Hasan mendekat, matanya yang hanya tinggal satu berfungsi menatap tajam. "Jangan jadi bodoh karena cinta. Cinta tanpa strategi itu bunuh diri. Kau butuh 'kartu mati' Adrian. Dan aku tahu di mana dia menyimpannya."
Tian mendongak. Harapan kecil itu kembali membuncah, namun kali ini terasa lebih tajam. "Apa maksudmu, Paman?"
"Adrian punya bisnis gelap di pelabuhan utara. Penyelundupan barang mewah. Jika kau bisa mendapatkan bukti manifest aslinya, kau punya daya tawar. Kau bisa memaksanya mencabut laporan polisi dan membiarkanmu membawa Mega pergi. Tapi risikonya..." Hasan menggantung kalimatnya, "...kau harus kembali menjadi 'Macan' yang dulu aku kenal. Dingin, tak tersentuh, dan tanpa ampun."
Tian berdiri. Rasa sakit di kakinya seolah menghilang, digantikan oleh adrenalin yang membakar saraf. "Aku sudah mati saat melihat Mega berhenti bernapas tadi malam, Paman. Sekarang yang tersisa hanyalah bayangan yang akan mengejar Adrian sampai ke lubang kubur."
Malam itu juga, dengan panduan Hasan, Tian bergerak menuju kawasan pergudangan utara. Ia tidak lagi berlari dengan panik seperti di rumah sakit. Ia bergerak senyap, menyatu dengan kegelapan. Setiap langkahnya adalah doa untuk kesembuhan Mega, dan setiap tarikan napasnya adalah kutukan untuk Adrian.
Saat ia berhasil menyusup ke kantor pusat logistik milik Adrian, Tian menemukan sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar penyelundupan. Di dalam laci meja kerja yang terkunci, ia menemukan sebuah map medis. Bukan milik Adrian, tapi milik Mega.
Tangannya gemetar saat membaca isinya. Tanggal diagnosa pada dokumen itu tertulis enam bulan yang lalu. Artinya, Mega sudah tahu tentang penyakit ginjalnya sejak lama. Dan yang lebih mengejutkan, ada catatan pembayaran premi asuransi kesehatan dalam jumlah besar yang ditandatangani oleh... Adrian.
Dunia Tian seolah bergetar. Selama enam bulan ini, Adrian secara diam-diam membiayai obat-obatan Mega tanpa sepengetahuan Tian. Adrian telah 'memelihara' penyakit itu agar pada saat yang tepat, ia bisa muncul sebagai penyelamat saat Tian benar-benar jatuh.
"Jadi ini rencanamu?" bisik Tian dengan suara parau. "Kau membiarkan istriku menderita agar kau bisa terlihat seperti dewa?"
Air mata kemarahan menetes di atas dokumen itu. Tian merasa sangat terhina. Mega, istrinya yang suci, dijadikan pion dalam permainan ego seorang pria kaya. Ia ingin menghancurkan ruangan itu, namun suara langkah kaki mendekat di luar pintu.
Tian segera menyembunyikan map itu di balik jaketnya. Ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan Adrian mendapatkan kepuasan itu. Jika Adrian ingin bermain di wilayah abu-abu, maka Tian akan membawa kegelapan yang lebih pekat.
Pintu kantor terbuka. Sinar lampu senter menyapu ruangan. Tian bersembunyi di balik lemari besi besar. Ia mendengar suara yang sangat ia kenali. "Pastikan semua bukti medis itu dimusnahkan malam ini. Aku tidak mau Mega tahu bahwa akulah yang membiarkan kondisinya memburuk agar dia terpaksa meninggalkan suaminya yang miskin itu," ucap suara Adrian dengan nada dingin. Di balik lemari, Tian menggenggam sebuah pisau lipat kecil. Satu gerakan salah, dan ia akan kehilangan segalanya atau justru mengakhiri hidup Adrian di sana.
Hening mencekam menyelimuti ruangan itu. Tian menahan napasnya hingga dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya mendadak hilang. Setiap kata yang keluar dari mulut Adrian adalah belati yang menyayat harga dirinya. Ternyata, penderitaan Mega selama ini bukan sekadar takdir yang kejam, melainkan skenario yang disusun rapi oleh iblis berbaju manusia ini.
Adrian melangkah mendekati meja kerja, bayangannya memanjang di lantai, nyaris menyentuh kaki Tian yang tersembunyi. Tian bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya yang masih cedera. Amarah yang membara di nadinya membuat jarinya yang memegang pisau lipat bergetar hebat. Ia ingin melompat keluar, menghujamkan kemarahan itu tepat ke jantung Adrian, dan mengakhiri semua sandiwara ini.
Namun, bayangan wajah Mega di ruang ICU menghentikannya. “Jika aku membunuhnya sekarang, aku akan mendekam di penjara selamanya, dan Mega akan tetap di bawah kendali keluarganya yang serakah,” pikir Tian. Ia harus bermain lebih cantik. Ia harus menjadi predator yang sabar.
"Sudah selesai, Tuan? Mobil sudah siap," suara seorang pengawal terdengar dari ambang pintu.
"Ya. Bakar semua dokumen di laci itu. Jangan sisakan satu helai kertas pun yang bisa menghubungkan aku dengan klinik ilegal yang memberikan obat-obatan palsu pada Mega," perintah Adrian sebelum melangkah keluar dengan angkuh.
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki menjauh, seorang anak buah Adrian mulai menyiramkan cairan pemantik ke atas meja. Tian tahu ia hanya punya waktu beberapa detik. Sebelum api dinyalakan, Tian bergerak seperti kilat. Dengan satu pukulan telak di tengkuk, ia menjatuhkan si anak buah sebelum pria itu sempat bereaksi.
Tian menyambar sisa dokumen yang belum sempat disiram cairan, memasukkannya ke dalam tas, lalu keluar melalui jendela sebelum api mulai menjilat gorden ruangan tersebut.
Ia kembali ke dermaga dengan tubuh penuh jelaga dan luka baru. Paman Hasan menyambutnya dengan tatapan takjub. Tian melemparkan map itu ke meja.
"Dia sengaja meracuni istriku dengan obat-obatan palsu agar ginjalnya cepat rusak, Paman. Dia ingin Mega bergantung padanya untuk cuci darah seumur hidup," suara Tian bergetar karena emosi yang meluap. "Dia bukan ingin menyelamatkan Mega, dia ingin memiliki Mega sebagai boneka yang tidak bisa lari."
Paman Hasan terdiam, wajahnya mengeras. "Ini bukan lagi soal uang, Tian. Ini perang nyawa."
"Benar," sahut Tian sambil menatap langit malam yang mulai memucat. "Dan aku akan memastikan Adrian merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya saat dia merasa berada di puncak dunia."
Kini, Tian memiliki bukti. Namun, ia tahu Adrian memiliki koneksi polisi yang kuat. Bukti ini tidak akan berguna jika ia berikan ke kantor polisi biasa. Ia butuh seseorang yang lebih tinggi, atau ia harus menggunakan bukti ini untuk memeras balik sang penguasa.
Di rumah sakit, Mega perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat bukan Tian, melainkan wajah ibunya yang tersenyum palsu dan Adrian yang menggenggam tangannya.
"Di mana... di mana Mas Tian?" bisik Mega lemah.
"Suamimu itu sudah lari, Mega. Dia mengambil uang dari pria ini lalu menghilang. Dia bahkan tidak peduli saat kau kritis," dusta sang ibu dengan lancar.
Mega memejamkan mata, setetes air mata jatuh di pipinya. Namun di dalam hati, ia menolak percaya. Ia tahu suaminya. Ia tahu perjuangan Tian. Di suatu tempat di luar sana, ia yakin Tian sedang melakukan sesuatu untuknya.
Ponsel milik Adrian yang tergeletak di atas meja samping ranjang Mega bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia. Adrian membukanya dan wajahnya seketika pucat pasi. Pesan itu berisi foto dokumen asuransi yang seharusnya sudah hangus terbakar, disertai teks singkat: "Permainan baru saja dimulai, Iblis. Berikan istriku kembali, atau dunia akan melihat wajah aslimu." Adrian melirik Mega yang sedang menatapnya curiga, sementara di luar sana, Tian sedang mempersiapkan langkah penghancuran total.