Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAYA MAIRA, ISTRI MAS FARID
“Assalamualaikum…”
Ucapan salam yang terdengar lembut namun jelas itu membuat dua insan berlainan jenis yang tengah berbicara di ruang tamu seketika menoleh ke arah pintu.
Farid yang duduk bersandar di sofa dengan ekspresi tertahan, menatap ke arah pintu dengan wajah datar.
Emosinya masih mengendap sejak pertengkaran kemarin dengan istrinya. Ia tidak terkejut melihat istrinya datang, namun hatinya belum luluh. Ia hanya mengangguk pelan, tidak menjawab salam dan tidak juga berdiri.
Sementara perempuan di sebelahnya, seorang wanita muda dengan berkerudung cokelat ikut menoleh. Wajahnya terlihat keheranan, tapi cepat-cepat ia menunduk sopan.
Maira berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis yang dipaksakan. Meski baru pertama kali bertemu dengan perempuan itu, hatinya langsung dipenuhi tanda tanya. Siapa dia? Kenapa bisa sedekat itu duduk hanya berdua dengan suaminya di rumah mertuanya?
Ada sedikit kegelisahan yang mengendap di dada Maira. Apalagi melihat raut wajah Farid yang tak menunjukkan sedikit pun rasa hangat saat melihat dirinya datang.
Namun, dengan tenang Maira melangkah mendekat. “Mas..." Sapanya singkat, lalu langsung menyodorkan tangan untuk menyalami suaminya.
Farid sempat ragu sejenak, tapi akhirnya membalas salaman itu dengan singkat tanpa bicara. Tangannya hangat, tapi tidak menggenggam erat seperti biasanya.
Maira menoleh sekilas ke arah perempuan yang duduk di sana. Senyumnya tetap ada, meski kini semakin tipis.
“Saya Maira, istri Mas Farid.” Ucapnya pelan namun cukup tegas, sambil menoleh penuh ke arah wanita itu.
Perempuan itu, yang sejak tadi tampak santai langsung tersenyum sopan walau raut terkejut tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
“Oh iya… Saya Vina, tetangga baru Bu Neni." Ujarnya cepat, nada suaranya sedikit menegang.
Ada jeda singkat. Jeda yang membuat seluruh ruangan seolah berhenti bernafas. Sorot mata Maira tak berubah, tetap menatap dalam—bukan penuh curiga, tapi cukup untuk menyampaikan bahwa ia tahu pasti siapa dirinya dan di mana posisinya.
Tak lama, langkah-langkah terdengar dari arah dapur. Bu Neni muncul membawa nampan berisi tiga gelas teh.
“Nah, ini teh-nya… panas-panas, enak diminum sore-sore begini.” Ucapnya sambil berjalan, tanpa menengok ke arah sofa ruang tamu, terlalu sibuk menyeimbangkan nampan di tangannya.
Namun kalimatnya menggantung ketika matanya akhirnya menangkap sosok Maira yang berdiri di tengah ruang tamu. Wajahnya seketika pias.
“Lho, Maira… tumben ke sini, Nak." Ucapnya kaku. Nada suaranya terdengar canggung, bahkan terlalu dibuat-buat untuk disamarkan.
Maira menoleh perlahan ke arah ibu mertuanya. “Iya, Bu. Soalnya Farid nggak pulang-pulang. Jadi saya pikir, saya saja yang menyusul.” Ucapnya tenang, namun setiap katanya mengandung tekanan halus yang langsung terasa menusuk.
Bu Neni meletakkan teh di meja dengan tangan sedikit gemetar. Tatapannya melirik Farid, tapi sang anak hanya menunduk dan menghela napas.
Maira duduk di salah satu sisi sofa, lalu menatap sekilas ke arah gelas-gelas teh itu—tiga gelas.
Bukan dua. Bukan teh untuk sekadar tamu dan tuan rumah. Tapi tiga, seperti jamuan untuk keluarga. Untuk yang ‘dekat’.
“Kelihatannya Ibu dan Mbak Vina sudah cukup akrab ya? Padahal kayaknya Mbak Vina ini masih tergolong tetangga baru, soalnya baru ini aku lihatnya..." Ujar Maira, senyumnya manis tapi matanya tajam.
Vina tersenyum kaku. “Saya cuma main sebentar, Mbak… itu pun diajak Bu Neni.”
Bu Neni buru-buru menimpali, suaranya terburu-buru. “Iya, tadi Vina lewat depan, yaudah Ibu ajak mampir. Kasihan dia baru pindah, belum banyak kenal orang…”
Kalimat itu menggantung, lalu diakhiri dengan tawa hambar yang tidak ada yang menyambut.
Maira hanya mengangguk pelan. “Wajar, tetangga baru memang harus disambut dengan baik…” Ia menatap Farid sesaat.
”…tapi jangan sampai berlebihan sampai memberi pujian segala."
Farid masih diam, seperti lumpuh di tempat duduknya. Sorot matanya kosong, rahangnya mengeras namun tak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Udara sore yang tadi terasa biasa saja kini berubah pengap dan penuh tekanan. Ketegangan menggantung di setiap sudut ruangan, dan Vina mulai merasa sangat tidak nyaman.
Ia memberanikan diri bangkit dari duduknya, tersenyum canggung sambil melirik jam tangan “Waduh, udah jam segini ya Bu Neni. Saya pulang dulu ya Bu, takut dicariin Ibu di rumah.” Ucapnya cepat, mencoba tetap terdengar ringan.
Lalu pandangannya beralih ke arah Maira dan Farid yang tak bereaksi banyak. “Mari, Mbak Maira, Mas Farid. Saya pamit dulu ya.”
Maira hanya mengangguk kecil, menatap wanita itu tanpa ekspresi. Sementara Farid… bahkan tidak bergeming.
Tanpa menunggu banyak tanggapan, Vina segera berjalan cepat ke arah pintu dengan langkah tergesa.
Sesaat kemudian, ruangan menjadi hening. Sebelum akhirnya kecanggungan semakin tercipta, Maira akhirnya angkat suara meski nada suaranya mulai mengandung bara yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
“Pantas aja nggak ingat buat ngabarin istri atau pulang..." Ucapnya dengan senyum getir “Rupanya ada yang bening ya Mas, di rumah ibu kamu.”
Kalimat itu membuat mata Farid membola.
“Maira…” Gumamnya pelan setengah peringatan, namun Maira tidak menghiraukannya.
Bu Neni yang sedari tadi berdiri mulai tampak gelisah. Wajahnya berubah pucat, tatapannya tak tahu harus diletakkan ke mana. Saat Maira mengalihkan pandangan padanya, wanita paruh baya itu langsung menegakkan tubuhnya, mencoba tersenyum… namun gagal.
“Bu, harusnya ibu nggak ninggalin Mas Farid duduk berdua sama perempuan tadi di ruang tamu, meskipun ibu ada di rumah.”
Bu Neni terperanjat, membuka mulut ingin menjawab, namun tidak jadi.
“Soalnya..." Lanjut Maira dengan nada tetap lembut namun penuh sindiran, “kalau ada warga yang lewat dan ngelihat, pasti jadi prasangka buruk. Walaupun ibu juga ada di rumah, tapi kan ibu di dapur. Yang orang tahu cuma Mas Faris sama perempuan tadi lagi berdua di ruang tamu."
Perkataan itu seperti tamparan untuk Bu Neni.
Wajah Bu Neni langsung memucat. Tatapannya cepat beralih ke Farid, seolah tengah mengadu.
Namun sebelum suasana mereda, Farid akhirnya membuka suara, tajam. “Maira!” Serunya, nada suaranya naik beberapa oktaf. “Yang sopan kamu ngomong sama Ibu!"
Maira menatap suaminya lama, tak gentar.
“Tapi kan aku ngomong benar Mas. Mas sendiri yang ngajarin aku untuk jangan berduaan dengan laki-laki dari lawan jenis. Kata Mas, aku harus ingat kodratku sebagai wanita yang sudah menikah dan jangan menimbulkan fitnah."
Tangan Farid mengepal kuat. Belum reda rasa kesalnya kemarin, kini mendengar ucapan Maira, rasanya darahnya semakin mendidih. Ucapan istrinya itu seolah sedang menguliahinya, mengingatkannya akan nilai-nilai yang dulu justru ia tanamkan sendiri.
“Jangan ajari Mas!” Tunjuknya tepat ke wajah Maira, suaranya meninggi penuh tekanan.
Bu Neni tersentak. Nafasnya tercekat. Pandangannya bolak-balik melihat anak dan menantunya. Namun di sisi lain, ia cukup kesal dengan sikap Maira yang menurutnya terlalu barbar. Meski begitu, sebisa mungkin ia masih berusaha mempertahankan ekspresi sedih seolah tak bersalah.
“Masya Allah, Mai… kamu sekarang udah berani banget ya ngomong sama Mas Farid begitu..." Ucap Bu Neni dengan nada pelan tapi menusuk. Matanya menatap Maira seolah Maira telah menjadi menantu yang kurang ajar.