Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Satu Juta Nyawa
Darah hangat mengalir melewati mata kanan Maya, memberikan warna merah pada pandangannya. Rasa perih yang tajam menyengat keningnya saat gerigi logam itu mulai mengikis lapisan epidermis. Suara deru gergaji itu—ngiiiiiiiiiiing—terasa bergetar hingga ke dalam tulang tengkoraknya.
Bab 26: Satu Juta Nyawa
"Tolong... share... saya mohon!" teriak Maya ke arah kamera. Suaranya serak, nyaris habis karena histeria.
Di layar, angka penonton seperti angka di mesin judi yang berputar gila-gilaan. 850.000... 890.000...
Setiap detik terasa seperti satu jam. Penonton di seluruh Indonesia terpaku pada layar mereka. Beberapa orang melempar HP karena tak sanggup melihat, namun rasa penasaran yang morbid membuat mereka kembali memungutnya. Inilah sifat dasar manusia yang dikuasai @anatomi_maut: ketakutan yang bercampur dengan candu akan kekerasan.
@anatomi_maut: Dua menit lagi, Maya. Sepertinya mereka lebih suka melihatmu terbuka daripada mendengarmu bicara.
"Kalian dengar itu?" Maya menatap tajam ke kamera, mencoba memancing empati atau kemarahan penonton. "Kalian cuma angka buat dia! Dia nunggu kalian bosan supaya dia punya alasan buat bunuh saya! Jangan cuma nonton, keluar dari aplikasi ini sekarang setelah angka sejuta tercapai! Hapus akun kalian!"
Tiba-tiba, kolom komentar meledak dengan kiriman stiker Universe dan Lion—stiker-stiker termahal di platform itu. Cahaya animasi singa emas raksasa memenuhi layar HP Maya, memberikan penerangan aneh di tengah kegelapan apartemennya.
950.000... 980.000...
Sosok di belakang Maya berhenti menekan gergajinya. Ia memiringkan kepalanya, seolah sedang mendengarkan transmisi data yang masuk ke dalam masker gasnya.
999.999... 1.000.000!
Angka itu menyala keemasan. Seketika, gergaji elektrik itu mati. Suara sunyi yang mendadak terasa lebih menakutkan daripada deru mesin tadi.
Sosok bermasker gas itu menarik kembali alatnya. Ia menatap ke kamera HP Maya selama beberapa detik, seolah sedang menatap jutaan pasang mata di balik layar sana secara bersamaan.
@anatomi_maut: Kamu selamat, Maya. Untuk saat ini. Tapi ingat, satu juta orang ini sekarang adalah saksi. Dan saksi adalah bagian dari kontrak.
Pria itu mundur selangkah ke dalam bayangan dapur, dan sekejap kemudian, ia menghilang seolah-olah menyatu dengan kegelapan. Lampu apartemen kembali menyala dengan sentakan keras, membuat Maya silau dan jatuh terduduk di lantai, terisak hebat.
Maya mengira ini sudah berakhir. Dia meraih HP-nya dengan tangan gemetar untuk mematikan live. Namun, tombol "End Live" itu terkunci.
Di layar, sebuah pesan sistem muncul bagi seluruh satu juta penonton tersebut:
"Target Tercapai. Bonus Terbuka: Lokasi Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) - Ruang Server Utama. Memulai Live dari Kamera Internal Kepolisian dalam 3... 2... 1..."
Layar Maya mendadak berubah. Bukan lagi wajahnya yang terluka, melainkan sebuah rekaman CCTV dari sebuah ruangan server yang dingin dan dipenuhi rak-rak komputer. Di sana, seorang polisi ahli IT sedang duduk membelakangi kamera, tampak panik mengetik di keyboard.
"Komandan! Kita nggak bisa matiin servernya! Sistem @anatomi_maut sudah merayap ke database nasional!" teriak polisi itu di dalam video.
Penonton di rumah berteriak dalam ketakutan. Jika @anatomi_maut bisa masuk ke server kepolisian, maka tidak ada tempat persembunyian lagi. Alamat rumah, nomor KTP, hingga data keluarga setiap warga negara kini berada di tangan algojo digital ini.
Di layar CCTV itu, muncul sosok @anatomi_maut—bukan pria bermasker tadi, melainkan sebuah visualisasi digital yang muncul langsung di semua monitor ruang server.
@anatomi_maut: Kalian mencoba melacakku dengan hukum manusia? Mari kita lihat bagaimana hukum anatomi bekerja pada sistem kalian.
Seketika, kabel-kabel besar di ruang server itu mulai bergerak seperti ular piton. Mereka melilit kursi sang polisi ahli IT, menariknya ke dalam jajaran rak server yang panas. Suara teriakan sang polisi bergema, bercampur dengan suara percikan listrik.
Maya menonton itu dari apartemennya dengan mata terbelalak. Dia sadar, dia bukan baru saja menyelamatkan nyawanya. Dia baru saja membantu @anatomi_maut mengumpulkan satu juta "sumber daya" untuk melakukan serangan yang lebih besar.
Tiba-tiba, pintu apartemen Maya digedor dari luar. Bukan oleh sosok bermasker, tapi oleh suara-suara tetangganya yang berteriak histeris.
"Maya! Buka! HP gue nggak bisa mati! Ada muka lo di sini, tapi sekarang ada muka gue juga di sampingnya! Apa yang lo lakuin?!"
Maya melihat layar HP-nya lagi. Benar saja. Di samping videonya, muncul jutaan jendela kecil (multiguest) yang menampilkan wajah para penontonnya yang sedang ketakutan di kamar masing-masing.
Permainan ini baru saja berubah menjadi Battle Royale secara global.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan