SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN MAMA SASA
Kontrak kerja di luar negeri telah selesai, dan mama Sasa memutuskan untuk tidak lanjut menjadi TKW. Sudah tua, sedangkan Sasa juga sudah menikah dan punya rumah sendiri, bolehlah kalau sang mama menumpang hidup dengan Sasa.
Sejak kemarin, beliau menghubungi Sasa tak ada balasan sama sekali, memang hubungan mereka tidak dekat, dan belum tentu mereka berkomunikasi intens. "Ke mana dia?" tanya beliau tak sabar, kembali menghubungi Sasa dan tak ada balasan.
Beliau pun nekad untuk pulang ke Indonesia, langsung menuju ke rumah Sasa, beliau masih ingat Sasa pernah memberikan alamat rumah Sakti.
Saat sampai di depan rumah Sasa, pintu tampak sepi, mana di perumahan elit, tak ada yang bisa ditanyai. Beruntung mama Sasa menuju ke pos security, dan ada kabar kalau Bu Sasa sudah lama tidak pulang ke rumah tersebut.
Mama Sasa meminta nomor Sakti, karena mama Sasa mengaku telah menghubungi Sasa tapi tidak ada balasan sama sekali. Begitu mendapat nomor Sakti, mama Sasa langsung menghubungi, dan akan dijemput oleh Sakti secepatnya.
Sakti sendiri tak mau menghindar, ia akan bicara jujur kondisi Sasa karena mau bagaimana pun yang bisa ikhlas merawat Sasa adalah mamanya sendiri. Bu Anggita juga tak bisa sewaktu-waktu merawatnya.
Mama Sasa tersenyum bahagia, karena tak mengira anak yang ditinggalkan sejak bayi berhasil tumbuh menjadi perempuan cantik sampai dinikahi atasannya sendiri. Berbeda dengan ekspresi Sakti, dia tegang, karena bagaimana pun mama Sasa tak tahu kondisi rumah tangga Sakti dan Sasa. Ia belum siap sebenarnya cerita di mana Sasa sekarang.
"Sasa di mana sih, kok dihubungi gak pernah diangkat. Mama juga salah sih, menghubungi Sasa saat butuh, gak pernah tanya kesehariannya, lagian mama pikir ada kamu, pasti dia juga gak kesepian, iya kan?" tanya mama Sasa yang ternyata banyak omong dan sok dekat dengan Sakti.
Sakti hanya tersenyum saja, mama Sasa sedikit bingung karena mobil Sakti mengarah ke pelataran rumah sakit jiwa. Beliau langsung bingung, "Kenapa ke sini?" tanya mama Sasa.
"Mari turun, Ma. Saya jelaskan bersama dokter yang mengobati Sasa," ucap Sakti masih ambigu.
"Jangan bilang Sasa gila dan dirawat di sini?" tanya beliau dengan mata melotot. Wajar beliau kaget. Putri yang dianggap tumbuh menjadi gadis baik, ternyata menjadi pasien di rumah sakit jiwa. "Jangan bercanda Sakti," sentak beliau.
Sakti hanya mengangguk pelan. "Maaf," ucap Sakti. Mama Sasa langsung menangis. Beliau tak rela sang putri menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Ibu di mana pun tak akan tega. Ingin bertemu dan tinggal bersama, malah dihadapkan kenyataan seperti ini.
"Kok bisa anak saya jadi gila, ini hukuman bagi saya kah karena selama ini tak memperhatikan dia dengan baik," ucap mama Sasa menyudutkan Sakti.
Sakti tak mau tambah masalah, dia mendengar saja segala macam tuduhan dari mama Sasa, yang kurang memperhatikan Sasa, sampai ke tuduhan Sakti kemungkinan selingkuh, Sakti tidak menimpali hanya diam, dan sesekali minta maaf. Hingga Sakti menawarkan bertemu dokter dan datang ke kamar Sasa.
Mama Sasa pun menurunkan ego, dia bersama Sakti menuju ke dokter Fandy, kebetulan tidak ada praktik pagi, hanya visit pasien saja. Setelah itu, Sakti mengajak ke ruangan beliau.
Di situlah, dokter Fandy menunjukkan rekam medik kejiwaan Sasa. Trauma Sasa dimulai sejak kecil, dipendam, dan dilupakan, sampai menikah dengan Sakti dia belum bisa menyembuhkan inner childnya, ditumpuk dengan masalah rumah tangga yang mendasari hubungan orang tua Sakti dan Sasa yang tak bisa menyatu, menyebabkan Sasa overthinking secara terus menerus, berakhir dirinya mengalami kecemasan berlebihan sampai melukai orang sekitarnya.
"Kalau dia tidak menikah dengan Sakti bisa jadi gak jadi gila kan, Dok?" tanya mama Sasa, jelas beliau menyalahkan Sakti karena munculnya gangguan mental Sasa saat bersama pria ini.
Dokter Fandy melihat Sakti sekilas, tampak pasrah dan tak ada bantahan meski disalahkan sedemikian rupa. "Belum tentu, Bu. Bakal trauma Sasa sudah terjadi sejak kecil, akhirnya menumpuk. Kita tidak bisa menyalahkan keadaan sekarang, yang penting menangani dengan tepat. Sasa bukan gila atau hilang akal, kami melakukan perawatan untuk menstabilkan emosi dan membesarkan hati Sasa bahwa dirinya berharga."
"Ini semua salah kamu, salah orang tua kamu juga. Kamu harusnya kalau sudah punya istri ya nomor satukan istri kamu, bukan orang tua kamu! Lagian, Sasa tidak punya ayah bukan dia yang salah, tapi saya!"
Mungkin Sakti tidak bisa kalau disinggung orang tuanya, apalagi orang luar sampai menyalahkan orang tua Sakti yang tidak seburuk dipikirkan oleh mama Sasa, "Anda yang melahirkan juga menyumbang trauma Sasa paling besar," dokter Fandy menatap Sakti. Aura bossy mulai keluar. Tatapan mengintimidasi pada mantan mertuanya cukup membuktikan kalau dalam keadaan ini tidak hanya Sakti yang salah, tapi Sasa juga ada salah karena keras kepalanya.
"Berani kamu melimpahkan kesalahan ke saya!" tantang mama Sasa penuh amarah. Dokter Fandy kemudian menghentikan perdebatan itu sebelum mama Sasa juga bersikap anarkis, maklum emak-emak mana mau dilawan, Sakti berdiri.
"Tanggung jawab saya sudah selesai, apalagi dia sudah menjadi mantan istri, segala kewajiban di pengadilan sudah saya selesaikan, begitu juga dengan biaya perawatan Sasa sampai detik ini. Saya dianggap penyumbang utama, nyatanya dari kecil Sasa juga sudah punya trauma, kini giliran penyumbang trauma lain yang membayar perawatan, saya permisi!"
Dokter Fandy mengangguk, tak bisa melarang karena mama Sasa juga main menyalahkan Sakti terus tanpa dirinya introspeksi. Harusnya sebagai orang tua bijak, tak perlu menyalahkan yang dulu, cukup ikuti prosedur pengobatan, mendampingi Sasa dengan kasih sayang sebagai ganti masa kecilnya dulu.
"Kamu benar-benar pria kurang ajar! Harusnya kamu yang membiayai Sasa, bukan saya!" asisten dokter Fandy segera menenangkan mama Sasa, dan asisten lain mengantar Sakti ke ruangan keuangan rumah sakit.
Mama Sasa beruntung mendengarkan apa yang disampaikan dokter Fandy, dan tak lama diantarkan ke Sasa. Saat ini perempuan itu sedang berkebun di area rumah sakit, salah satu terapinya adalah menenangkan diri dengan bersentuhan di alam. Sasa tampak seperti orang sehat, bahkan dia juga mengobrol dengan perawat yang piket dalam pendampingan pasien di kebun.
"Seandainya Sasa pulangkan saja bagaimana, dokter?" tanya mama Sasa karena ia bisa membayangkan biaya perawatan yang tak murah dan berlangsung lama.
"Kami tetap sarankan untuk Sasa melakukan perawatan, Ibu. Dia masuk di rumah sakit karena tidak ada yang mendampingi dalam kesehariannya, apakah ibu sanggup dan bersedia merawat putri ibu dengan baik, menjaga emosinya agar stabil?" tanya dokter Fandy.
Tentu saja mama Sasa tak bisa menjawab langsung, karena memang ia tidak dekat dengan Sasa. Padahal mama Sasa juga berniat menumpang pada Sasa bukan malah menanggung hidup Sasa.
"Nanti saya pertimbangkan dulu, dokter. Memang Sakti yang kurang ajar!" sekali lagi mama Sasa menyalahkan Sakti tanpa mau berterimakasih atas apa yang dilakukan pria itu selama ini. Memang ya, keburukan orang akan selalu tampak besar dibanding kebaikan yang telah mereka lakukan.
eh kok g enak y manggil nya