NovelToon NovelToon
Seutas Bayang

Seutas Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Konflik etika / Angst
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Flowyynn_

Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.

Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.

Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.

Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Keputusan

Langkah Renjana berhenti tepat di pelataran toko kue sederhana miliknya. Di sana, ada Favian yang berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap di dada, matanya memejam seperti lelah menunggu si empu terlalu lama. Kepalanya pun tertunduk, hingga beberapa helai rambut legam itu jatuh menutupi kening mulusnya.

Renjana meneguk salivanya perlahan. Dengan tarikan napas dalam, ia pun menghampiri pria satu itu. Entah sudah berapa lama Favian ada di sana, dan siapa pula yang menyuruh pria ini ke toko kuenya.

“Mas … Mas Favian,” panggil Renjana lirih, telunjuknya ragu-ragu menyentuh lengan kekar si yang lebih tua.

Suara serak nan guncangan ringan dari Renjana mampu membuat Favian membuka mata. Pandangan pria itu masih buram, tetapi sosok yang menyambut membuat matanya membola.

Di mana wajah Renjana yang sedikit pucat, matanya sembap, bibirnya terlihat kering dan sedikit bergetar. Sorot mata si perempuan juga terlihat kosong. Tidak seperti Renjana yang ia temui terakhir kali, di mana manik sehangat cokelat itu menyapanya.

“Kamu—”

“Kamu ngapain di toko kue aku? Siapa yang nyuruh kamu ke sini?” sentak Renjana sambil melotot. Rupanya tak memberi Favian kesempatan untuk membuka suara lebih dulu.

Favian membuang napas kasar, kemudian menegakkan tubuh. Ia tatap sekali lagi raut Renjana, namun perempuan itu malah membuang muka dan melangkah cepat ke arah pintu toko kuenya.

“Kamu baik-baik saja? Kenapa telepon saya tadi dimatikan begitu saja?” selidiknya sedikit cemas. “Kamu tadi juga menangis ….”

Renjana hanya diam. Tangannya sedikit gemetar kala berusaha memasukkan kunci di lubang pintu itu.

Favian menatap cukup lama, lalu pandangannya turun dan terpaku ke tangan Renjana. Pria itu seperti tak perlu harus diajari, aksinya benar-benar sigap merampas lembut kunci dari genggaman sang calon istri.

Dan Renjana? Ia tak sewot, tak menolak, hanya pasrah yang ia suguhkan. Seolah tenaganya sudah habis untuk sekadar melawan otoritas Favian saat ini.

Begitu pintu terbuka, Favian sempat mengedarkan pandangan. Toko kue itu sederhana, tetapi anehnya membuat Favian seperti pulang ke rumah paling nyaman yang ia punya.

“Kamu tadi bertanya mengapa saya ada di sini, kan?” ucap Favian tenang. Kakinya melangkah seirama bersama Renjana. “Saya diberitahu oleh Pak Prasetya, katanya kamu sering menghabiskan waktumu di toko kue ini bersama kekasihmu.”

“Kamu sudah bertemu dengannya, Nona Renjana?” Si pria bertanya lagi. “Bagaimana? Apakah semua berjalan lancar?”

“Apakah dia alasan yang membuatmu menangis hari ini?”

Sial. Tepat sasaran!

Langkah Renjana langsung berhenti. Alih-alih akan menceritakan bagaimana pertemuannya bersama sang kekasih, ia memutar tubuh menghadap penuh calon suaminya itu.

“Kenapa kamu menuruti untuk mau menikahi aku?” tanyanya sangsi. Mata Renjana mengunci serupa cara mata Favian memandangnya lekat.

Jujur ia benci. Benci sekali pada mata legam Favian itu. Pria satu ini sungguh kontras dengan Raevano, seseorang yang mengisi hidupnya dengan segudang kasih sayang yang manis, namun nyatanya ada sisi yang amat buas bersembunyi dibaliknya.

Dan Favian? Renjana tidak dapat menebak ada apa saja yang bersemayam dalam lautan yang pria itu bangun. Dalam, penuh misteri, tetapi anehnya berhasil menghanyutkan Renjana yang belum mengenal Favian secara penuh.

Tanpa peringatan, si pria merunduk—mensejajarkan tingginya dengan sang calon istri. Kiranya tak menjawab pertanyaan Renjana, ia justru memperkecil jarak hingga aroma parfum mereka bercampur. Ujung jarinya terulur lembut untuk merapikan tali dress Renjana yang melorot.

“Embusan napasmu berat, Nona,” komentar Favian parau. “Hatimu sakit sekali, ya? Apakah kekasihmu mulai menunjukkan sifat aslinya?”

“Jangan sok tahu. Dan kenapa kamu malah mengalihkan topik? Jawab dulu pertanyaanku!”

“Bukankah segala alasan sudah saya jabarkan, Nona? Saat kita bertemu terakhir kali.”

“Memang benar, Mas Favian. Tapi aku belum puas, terlebih untuk pria sepertimu. Aku yakin banyak perempuan di luar sana yang mengantre untuk bisa menjadi istrimu itu.”

Sepasang manik Favian sempat melebar sebelum kembali teduh. Terkejut saja oleh panggilan ‘Mas’ yang Renjana berikan.

Benar-benar tak bisa ditebak bukan, pria satu ini?

“Memangnya Mas Favian nggak punya perempuan yang jadi kekasih? Atau minimal yang Mas Favian sukai?” cecarnya. Kalimat itu terdengar lebih mirip ocehan sebal daripada sekadar bertanya.

Dengan wajah lempengnya itu, si pria menggeleng. Tubuhnya kembali ditegakkan dari posisi merunduk, lalu ditatapnya cukup intens sebagaimana raut wajah Renjana berubah drastis.

“Tidak ada.”

“Bohong.”

“Berbohong pun untuk apa, Nona?” Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Kalaupun ada perempuan di luar sana menyukai saya, apa peduli saya untuk itu?”

“Toh, yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup pun tetap kamu.”

“Jangan berbicara omong kosong. Nggak mungkin kamu nggak menyukai salah satu dari mereka.”

“Tidak ada, Nona Renjana. Adapun, pilihan akan tetap jatuh untukmu.”

“Kenapa? Kenapa harus aku?” Sorot Renjana berubah tajam, dagunya dimajukan angkuh seakan mau menantang. “Kita nggak saling kenal, bukan? Bertemu pun pada awalnya nggak sama sekali. Apa ini hanya karena permintaan mendiang ibuku?”

Favian mengangguk kecil. “Tepat sasaran.”

Senyum sinis tergambar di bibir ranum si perempuan, lalu ia berkata, “Aku nggak cantik. Dan menurutku, aku nggak setara untuk bisa bersanding dengan pria sepertimu, Mas Favian.”

Satu alis tebal Favian terangkat, agaknya ia sangat terusik mendengar pernyataan barusan. Begitu kilat kakinya mengayun ke depan, guna mempersempit ruang gerak sang lawan bicara, sukses membuat Renjana gelagapan.

“Buruk sekali dalam merendahkan diri,” desisnya dingin.

Seolah tak perlu adanya izin, lengan Favian melingkar di pinggang perempuan itu. Menariknya lebih dekat dan menuntunnya entah ke mana.

Renjana terkesiap. Lihat saja bagaimana cara matanya memandang—lebar, heboh, benar-benar tak biasa.

“Ap—apa? Kamu mau apa, Mas?”

Favian mengatupkan bibir, seolah pertanyaan barusan hanyalah dengung asing yang mengusik pendengarannya. Sorot mata teduhnya berganti gelap dan menusuk saat memandang lurus ke depan. Renjana sampai berpikir, ia keliru berbicara, kah?

Begitu keduanya berdiri di sebuah bentangan etalase kue, kaca itu menyambut pantulan mereka di sana.

“Lihat baik-baik. Titik mana yang membuatmu meragukan diri sendiri, hm?” Favian mendesis pelan. “Saya akan mengatakan hal ini kalaupun harus seribu kali untuk bisa membuatmu sadar, Nona”

“Semua perempuan itu cantik, tetapi mereka tentu mempunyai keunikan sendiri. Dan kamu? Kamu juga sama, unik dalam cara memandang, unik dalam berbicara, dan lain sebagainya.”

Seperti terkena sengatan listrik, tubuh Renjana tersentak kecil tatkala jemari Favian menekan tajam pinggang rampingnya.

“Adakah kamu menemukan cacat dan ketidaksempurnaan itu? Jika iya, mungkin cara pandangmu yang bermasalah. Kamu cantik, Nona Renjana,” tandas Favian tenang namun mematikan.

“Dan lagi, setara tidaknya kamu untukku sebagai seorang istri tidak diukur dari seberapa cantiknya kamu,” sambungnya lebih menohok. “Hubungan pernikahan tidak sedangkal itu, Nona.”

Renjana membeku di tempat. Matanya tak berkedip di mana ia menatap refleksi dirinya sendiri di kaca etalase kue. Degup jantungnya menghantam keras, seolah ingin mendobrak keluar dari dalam sana.

Melongo betul Renjana mendengar pria itu berbicara. Jika dilihat-lihat, ia memang cantik. Ah! Tetapi bukan itu poin yang Renjana maksud. Kenapa rasanya ia yang terjebak dalam pertanyaan mautnya sendiri?

Renjana hanya ingin menguji Favian saja. Jika beruntung pun, mungkin perjodohan bisa batal, ia akan dapat pula sisi lain Favian yang tersembunyi rapi layaknya Raevano.

Tetapi apa? Musnah sudah mengetes pria satu itu.

Favian melirik si perempuan yang masih terpaku, bak terkena sihir jadi es batu. Sama sekali tak bergerak. Luluh pun entah berhasil atau tidak.

“Lupakan soal itu. Kamu belum menjawab pertanyaan saya sebelumnya, Nona,” Favian mengalihkan pembicaraan dengan nada rendah yang tajam. “Kenapa kamu menangis dan kenapa mematikan begitu saja panggilan telepon saya?”

Renjana sontak terperanjat. Buru-buru ia merubah raut wajahnya menjadi sendu, lantaran teringat perlakuan mantan kekasihnya yang mengerikan.

“Aku memutuskan hubungan dengannya.”

“Kenapa kalau boleh tahu? Apakah dia—”

“Jangan dibahas lagi, Mas. Intinya aku dan dia sudah selesai,” potong Renjana tegas, tidak mau memperpanjang topik itu lagi.

Kiranya akan marah dan merasa risih karena lengan Favian yang masih singgah di pinggangnya itu, Renjana justru membuat tubuhnya kembali menghadap penuh dalam lingkup calon suaminya bisa memandang.

“Kamu nggak perlu ulur waktu cuma buat bisa saling memahami lebih dalam,” pungkasnya dingin. “Kamu bilang cinta bisa dipelajari, bukan? Kalau gitu saling memahami pun juga bisa kita lakukan ketika sudah menjadi suami istri.”

Mungkin ini keputusan yang tepat? Ia juga tidak tahu, ia benar-benar kalut oleh segala hal yang terus mengujinya akhir-akhir ini.

Apalagi soal Raevano. Renjana benar-benar akan membawa trauma dari orang yang dulu begitu mencintainya, yang dulu juga ia puja, tetapi menorehkan luka sedemikian sakitnya.

“Kalaupun dalam hal komitmen penting berumah tangga aku masih gagal, mungkin aku memang nggak beruntung hidup dengan segala cinta seperti orang lain.”

Perempuan itu melangkah lebih dekat untuk mengikis jarak, cukup untuk merasakan hangatnya napas yang saling berbaur.

“Aku akan menerima kamu menjadi suamiku. Semata-mata demi permintaan mendiang ibuku, Mas Favian.”

1
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk
Fitra Sari
lanjut Thor ..update setiap hari ngpa KK dan 😍
Flowyynn_: Aku usahakan daily up ya, terima kasih lho masih setia ngikutin Renjana dan Favian ini 🥰
total 1 replies
gralsyah
bagussss. tapi up nya lama bettt gengsss
gralsyah
banyakin scene manis gini plss authorrrr. trs up nya jan kelamaan atuhhhh
Fitra Sari
doubel up donk Thor 🙏
Fitra Sari
doubel up donk thorr ....🙏🙏🙏
gralsyah
favian tuh sulit ditebak ya huftt. mirip sama sapa tuh si jana, favian???
gralsyah
kak author kenapa jaranh update ya wehhh. nungguin padahal lohh 😌
Flowyynn_: Maaf, ya Kak. Akhir-akhir ini memang ada kendala di rl, jadi waktu buat nulis terbagi terus, huhu. Tapi aku usahakan akan mulai up setiap hari. Makasih banyak masih setia mengikuti kisah Renjana dan Favian, ya 🥰
total 1 replies
gralsyah
pengen liat tuh manusia tenang bucin sama istrinya gimana yaa
gralsyah
ayo up lagi thorrr. kamu nih suka amat ye ngilang
gralsyah
kok gemes ya 😄 mereka sebenarnya dah jatuh cinta belum sih 🤣
Fitra Sari
doubel up donk thorr🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donk ...doubel up donk 🙏🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donkk thorr doubel up ...nungguin dari kemarin2 😘😘😘
gralsyah
kok belum up lagi thor?
Flowyynn_: Nanti aku up lagi ya, Kak. Ditunggu 🤗
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK
Flowyynn_: Halo, Kak. Terima kasih ya sudah mampir, sehat selalu ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!