Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANTI RUGI GEDUNG YANG DIBAYAR PAKAI GIGI BABI
"Waduh... sepertinya turnamen ini tidak semudah lomba makan kerupuk," keluh Feng sambil mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.
Dia menelan ludah, menatap Buntel yang baru saja bersendawa logam dengan wajah tanpa dosa. Janji makan gratis di Kantin VIP Puncak Utama memang terdengar seperti melodi surga, tapi ancaman kepalanya dijadikan hiasan gerbang sekte jelas bukan bagian dari brosur pendaftaran yang dia inginkan.
Di sudut matanya, Feng melihat kabut hitam yang merayap dari arah reruntuhan paviliun mulai bergerak semakin liar. Udara di sekitarnya menjadi sedingin es.
Tetua Agung Yue mendengus pelan. Wanita anggun itu mengibaskan lengan jubah sutra putihnya. Sebuah gelombang energi suci menyapu tanah, memaksa kabut hitam pekat itu mundur dan tertahan di balik sebuah dinding cahaya transparan yang baru saja ia ciptakan.
"Aku bisa menahan sisa aura Iblis Teratai Hitam ini sementara waktu," ucap Tetua Agung Yue dengan nada serius, menatap tajam ke arah mata Feng. "Tapi perlindunganku tidak berlaku untuk urusan administrasi sekte. Sebelum kau bermimpi tentang meja makan VIP, kau harus menyelesaikan urusan ganti rugi gedung ini. Aturan adalah aturan, bahkan Patriark pun tidak bisa meniadakan utang material."
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, kerumunan murid yang sejak tadi membeku karena ketakutan mulai membelah jalan. Seorang pria tua bertubuh kurus kering dengan jubah emas berlambang koin tembaga berjalan tergopoh-gopoh mendekati area reruntuhan. Di tangannya, dia memegang sebuah sempoa emas yang manik-maniknya bergemeretak nyaring setiap kali dia melangkah.
Itu adalah Tetua Hu, Kepala Perbendaharaan Sekte Pedang Langit. Orang yang konon lebih menakutkan dari malaikat pencabut nyawa jika sudah menyangkut soal uang sekte.
Tetua Hu berdiri di tepi lapangan yang kini sudah rata dengan tanah berkat perut Buntel. Matanya yang sipit melebar hingga nyaris robek. Sempoa emas di tangannya bergetar hebat.
"A-Atap baja spiritual... Pilar penyangga anti-gempa... Gerbang Baja Hitam Absolut... Ke mana semuanya?!" jerit Tetua Hu histeris, menatap sekeliling mencari sisa puing yang sayangnya sudah berubah menjadi kalori di dalam tubuh naga perak di sebelah Feng. "Ini gila! Bahkan debunya pun hilang!"
Ketua Balai Penegak Hukum, yang masih terkapar lemah namun dijaga oleh beberapa eksekutor, tertawa serak penuh kebencian. Bekas merah berbentuk sandal jepit masih tercetak jelas di pipinya.
"Hitung semuanya, Tetua Hu!" raung Ketua Balai dengan sisa tenaganya. "Bebankan setiap keping tembaga pada bocah sampah itu! Jika dia tidak bisa membayar tunai hari ini juga, haknya untuk ikut turnamen akan dicabut, dan Balai Penegak Hukum punya hak mutlak untuk memenggalnya di tempat!"
Tetua Hu menelan ludah, lalu jemarinya mulai menari di atas sempoa emas dengan kecepatan cahaya. Suara *clack-clack-clack* menggema di alun-alun yang sunyi senyap. Hanya dalam sepuluh detik, pria tua itu berhenti dan mengangkat gulungan perkamen panjang.
"Berdasarkan nilai material, biaya konstruksi, dan hilangnya aset pusaka di dalam gedung... total kerugian yang harus ditanggung oleh Murid Luar bernama Feng adalah..." Tetua Hu menarik napas panjang. "Satu juta dua ratus ribu koin emas murni!"
Gedebuk!
Beberapa murid luar yang mendengar angka itu langsung pingsan di tempat. Satu juta dua ratus ribu koin emas! Bagi murid biasa, mengumpulkan seribu koin saja butuh waktu bertahun-tahun melakukan misi mematikan. Angka itu setara dengan pendapatan satu kota kecil selama satu dekade.
Feng mematung. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan.
"Sistem," panggil Feng di dalam kepalanya dengan nada datar. "Berapa total kekayaan kita sekarang?"
SISTEM MUNCUL DENGAN NOTIFIKASI KUNING: SALDO SAAT INI ADALAH TIGA RIBU DELAPAN RATUS KOIN EMAS. DEFISIT KEUANGAN TUAN MENCAPAI 99,6%.
SARAN: JANGAN MENCOBA MENJUAL GINJAL. HARGA ORGAN TUAN TIDAK AKAN MENUTUPI BIAYA BUNGA KETERLAMBATAN SATU HARI PUN.
"Terima kasih atas sarannya yang sangat tidak membantu," balas Feng jengkel.
"Bagaimana, Bocah?!" ejek Tetua Hu, menyipitkan matanya meremehkan. "Kau mau bayar pakai apa? Pakai nyawamu yang tidak berharga itu? Serahkan nagamu sekarang sebagai jaminan awal!"
Feng menghela napas panjang, lalu memutar bahunya yang terasa kaku. Dia menatap Tetua Hu dengan tatapan kasihan.
"Kek, saya kasih tahu ya," ucap Feng santai, sama sekali tidak terlihat tertekan. "Saya ini paling benci ditagih utang saat perut sedang lapar. Apalagi nominalnya tidak masuk akal. Lagipula, gedung kalian itu fondasinya sudah keropos, wajar saja gampang runtuh."
"JANGAN BANYAK ALASAN!" bentak Ketua Balai dari kejauhan. "EKSEKUTOR! TANGKAP DIA!"
"Tunggu dulu," sela Feng sambil mengangkat satu tangannya. Dia melirik ke arah naga perak sebesar anak lembu di sampingnya. "Buntel, kau ingat waktu kita piknik di Hutan Kematian kemarin? Barang yang kau simpan di perut elastismu itu, keluarkan sedikit. Bos-bos ini mau lihat uang jaminan."
"Kyuk?" Buntel memiringkan kepalanya, mata peraknya mengerjap polos.
Naga purba itu lalu membuka rahangnya lebar-lebar. Bukannya menyemburkan api, dia justru memuntahkan sesuatu dengan suara *hoeeek* yang cukup keras.
BUM! BUM! BUM! BUM!
Empat benda raksasa jatuh menghantam tanah dengan suara dentuman berat, membuat alun-alun bergetar. Asap putih tipis yang mengandung energi spiritual tingkat tinggi langsung mengepul dari benda-benda tersebut.
Semua mata tertuju ke tanah. Mata Tetua Hu nyaris copot dari rongganya. Sempoa emasnya jatuh tergelincir dari tangannya.
Di depan Feng, tergeletak empat buah benda melengkung berwarna putih tulang dengan ujung runcing yang dilapisi aura baja hitam. Benda itu masing-masing sebesar paha pria dewasa dan sekeras berlian spiritual.
"I-Itu..." Suara Tetua Agung Yue ikut bergetar. Dia melangkah maju tanpa sadar. "Itu bukan taring monster biasa..."
"Taring Raja Babi Besi Kuno!" jerit Tetua Hu histeris, suaranya melengking seperti dicekik. Pria tua spesialis keuangan itu langsung menjatuhkan diri ke tanah, memeluk salah satu taring tersebut seolah memeluk kekasihnya yang lama hilang. "Astaga Dewa! Tingkat kepadatannya... Aura purbanya... Ini adalah material pusaka Tingkat Daulat Puncak! Satu taring ini saja bernilai minimal empat ratus ribu koin emas di pelelangan ibu kota!"
Hening kembali menyelimuti Puncak Utama. Namun kali ini, bukan karena ketakutan, melainkan karena syok yang menghancurkan nalar.
Monster Raja Babi Besi Kuno di Hutan Kematian adalah legenda horor. Bahkan tim elit gabungan dari faksi dalam sekte pun akan lari terbirit-birit jika mendengar dengusannya. Namun, murid Level Nol ini baru saja melemparkan *empat* taring utama monster itu seolah sedang membuang tulang ikan sisa makan malam.
Feng mengorek kupingnya santai. "Empat ratus ribu dikali empat berarti satu juta enam ratus ribu koin emas. Utang saya satu juta dua ratus ribu. Masih ada sisa kembalian empat ratus ribu, kan?"
Feng menunduk menatap Tetua Hu yang masih menangis terharu memeluk taring babi.
"Kek, kembaliannya tolong cash ya. Saya tidak terima kuitansi cicilan," tagih Feng.
Ketua Balai Penegak Hukum yang melihat pemandangan itu kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Rencananya untuk mengeksekusi Feng hancur berantakan karena hal yang paling tidak masuk akal: seorang murid luar membayar ganti rugi miliaran dengan gigi babi.
"T-Tidak mungkin! Pasti dia mencurinya! Sampah level nol tidak mungkin bisa membunuh Raja Babi Besi!" teriak salah satu murid inti dari faksi Pedang Bersilang yang tidak terima.
Feng menoleh perlahan ke arah murid yang berteriak itu. Matanya menyipit, memancarkan aura bahaya. "Mas, mau saya tunjukkan cara mencabut gigi babi tanpa anastesi? Kebetulan gigi Mas kelihatannya kurang rapi."
Murid itu langsung mundur tiga langkah dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Tetua Hu buru-buru berdiri, membersihkan debu dari jubahnya, dan menatap Feng dengan pandangan yang kini penuh hormat—pandangan khas seorang pedagang kepada sultan kaya raya.
"Tentu saja! Tentu saja, Tuan Muda Feng!" ucap Tetua Hu dengan nada semanis madu. Dia merogoh lengan jubahnya dan mengeluarkan sebuah medali emas tebal berukir naga. "Ini adalah Medali Emas Tanpa Batas dari Perbendaharaan Sekte! Nilainya setara dengan lima ratus ribu koin emas! Anggap saja seratus ribunya adalah kompensasi keterkejutan Anda hari ini!"
Feng menerima medali itu dan menimbangnya. Senyum jenaka kembali menghiasi wajahnya.
"Sistem, kita kaya mendadak. Malam ini kita makan daging kerbau langit."
SISTEM MENGELUARKAN NOTIFIKASI HIJAU: TRANSAKSI BERHASIL. KESTABILAN MENTAL TUAN TERJAGA.
PERINGATAN TAMBAHAN: RADIASI ENERGI DARI TARING BABI KUNO BARU SAJA MEMANCARKAN GELOMBANG KE LUAR SEKTE.
Tepat saat Feng hendak memasukkan medali itu ke dalam saku jubahnya, langit sore di atas Sekte Pedang Langit mendadak berubah warna menjadi emas kemerahan. Angin berhenti berhembus total. Atmosfer menjadi sangat berat, membuat napas semua orang yang berada di bawah tingkat Master langsung sesak.
Dari balik awan kemerahan itu, sebuah tekanan pedang yang sangat menindas, puluhan kali lipat lebih kuat dari milik Ketua Balai, turun bagaikan air terjun raksasa.
Buntel langsung mengembangkan sayap peraknya, mengeluarkan geraman peringatan yang sangat dalam. Dia memposisikan dirinya di depan Feng, merasakan ancaman mutlak dari langit.
"Tekanan ini..." Wajah Tetua Agung Yue menjadi sangat pucat. Dia langsung berlutut dengan satu kaki. "Patriark telah keluar dari meditasinya!"
Sosok pria berjubah emas yang tadi hanya muncul sekelebat untuk memberikan perintah, kini turun perlahan dari langit. Patriark Sekte Pedang Langit, sang Kaisar Pedang sejati, melayang beberapa meter di atas tanah. Matanya yang berwarna emas tajam menatap tumpukan taring babi di tanah, lalu beralih menatap Buntel, dan terakhir mengunci pandangannya pada Feng.
"Murid luar Feng," suara Patriark menggema langsung di dalam kepala semua orang yang ada di sana, membuat gendang telinga berdengung. "Taring babi kuno yang kau bawa... apakah kau tahu bahwa monster itu adalah makhluk yang gagal kutaklukkan seratus tahun yang lalu?"
Suasana menjadi tegang ke titik maksimal. Semua orang menahan napas. Jika Patriark gagal menaklukkannya, lalu bagaimana Feng bisa mendapatkan taring itu? Apakah Patriark merasa terhina?
Feng menatap Kaisar Pedang di udara. Alih-alih gemetar atau sujud minta ampun seperti murid lainnya, Feng justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, pantesan babinya agak emosian, ternyata punya dendam masa lalu sama Bapak," jawab Feng jujur dengan wajah datar. "Lain kali kalau Bapak gagal bunuh monster, tolong dikasih plang peringatan ya. Biar naga saya tidak makan sembarangan."
Tetua Agung Yue nyaris pingsan mendengar jawaban Feng. Sementara itu, awan emas di langit bergemuruh dahsyat, seolah bersiap menimpakan murka Kaisar ke atas kepala pemuda yang berani melontarkan lelucon picisan di hadapan penguasa tertinggi sekte.