"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suasana di markas besar Ndoro dan Tapir sore itu awalnya sangat damai. Dira sedang asyik rebahan di sofa sambil menonton video tutorial
'Cara Bicara dengan Tanaman agar Tidak Cepat Layu', sementara Bagas sedang berada di balkon, sibuk mencoba membuat alat penyiram tanaman otomatis dari botol infus bekas yang dia temukan entah di mana.
"Pir, kalau tanaman itu mati karena lo kasih air infus, gue beneran bakal infus lo pake kuah seblak," ancam Dira tanpa menoleh.
"Tenang, Ndoro. Ini namanya inovasi medis untuk flora. Mereka juga butuh nutrisi—"
Ting tong!
Bel pintu berbunyi. Iramanya tidak santai. Ketukannya tegas, berwibawa, dan punya nada "Saya tahu kalian ada di dalam".
Dira dan Bagas saling berpandangan. Insting bertahan hidup mereka langsung menyala merah.
"Jaka kah?" tanya Bagas.
"Enggak. Jaka kalau ngetuk pintu kayak orang mau minjem duit, malu-malu kucing. Ini mah ketukannya kayak... penagih janji suci," bisik Dira.
Dira mengintip lewat lubang kecil di pintu (peep hole). Matanya membelalak. Dira langsung berbalik dan menerjang Bagas dengan kecepatan cahaya.
"PIR! DARURAT MILITER! MAMA LO!"
Bagas hampir terjatuh dari balkon. "Hah? Nyonya Ratna? Bukannya dia lagi ikut pengajian di luar angkasa—maksud gue di luar kota?!"
"Nggak tau! Dia udah di depan, pake kacamata hitam yang harganya mungkin bisa buat beli motor matic! Buruan, beresin ini rumah!"
Seketika, rumah itu berubah jadi adegan film aksi. Bagas melempar botol-botol infus bekas ke bawah sofa.
Dira menyambar daster-daster yang tergantung di sandaran sofa dan memasukkannya paksa ke dalam oven di dapur.
Patung ayam jago di pojok ruangan? Bagas tidak punya waktu memindahkannya, jadi dia hanya menyampirkan taplak meja di atas kepala si ayam agar terlihat seperti meja pajangan aneh.
"Siap?" bisik Bagas sambil ngos-ngosan.
"Siap. Tarik napas, Pir. Jangan panggil gue Ndoro di depan Mama, atau nama lo bakal dihapus dari kartu keluarga," peringat Dira.
Pintu dibuka. Berdirilah Nyonya Ratna, ibu kandung Bagas, wanita yang memegang prinsip bahwa 'Kebersihan adalah sebagian dari harga diri keluarga.' Beliau berdiri dengan anggun, membawa rantang tiga susun dan sebuah bantal besar berbentuk durian yang baunya cukup menyengat.
"Mama! Kok nggak kasih kabar kalau mau datang?" Bagas langsung mencium tangan ibunya, mencoba memasang wajah anak berbakti.
"Kalau Mama kasih kabar, kalian pasti bakal sewa jasa pembersih rumah profesional kan?" sindir Mama Ratna sambil melangkah masuk dengan gaya detektif. Matanya menyisir setiap sudut ruangan.
"Dira, apa kabar sayang? Kamu makin kurus ya? Pasti si Bagas kasih makan kamu makanan nggak bener."
Dira tersenyum manis, senyum paling palsu yang pernah dia miliki. "Enggak kok, Ma. Bagas baik banget, kemarin aja dia bawain Dira... eh, maksudnya kita makan steak wagyu." (Dira sengaja tidak bilang kalau itu hasil panco).
Mama Ratna meletakkan rantangnya di meja.
"Baguslah. Ini Mama bawain rendang jengkol. Tapi jengkolnya khusus, Mama beli di pasar organik dan Mama rendam pake air doa biar baunya nggak 'jahat'. Mama sebut ini Rendang Jengkol Lapis Emas karena harganya emang seharga emas di pasar tadi."
Bagas nyengir. "Wah, makasih Ma. Oh iya, ini bantal durian buat apa?"
"Itu terapi aroma. Biar rumah kalian nggak bau... bau kreativitas Bagas yang suka aneh-aneh," jawab Mama Ratna sambil menatap gundukan taplak meja di pojokan.
"Itu apa, Gas? Kamu beli meja baru bentuknya kok... kok kayak punya paruh?"
Dira menelan ludah. Bagas berkeringat dingin.
"Itu... itu instalasi seni modern, Ma. Judulnya 'Keheningan Unggas'. Itu simbol kalau di rumah ini, kita harus saling mendengarkan tanpa banyak berkokok."
Mama Ratna mendekat, hendak menyentuh patung ayam yang ditutupi taplak itu. Bagas dengan sigap menghalang. "Eh, jangan Ma! Itu seninya sensitif. Kalau disentuh, nanti nilai estetikanya luntur."
Dira segera mengalihkan pembicaraan. "Ma, ayo makan dulu. Dira siapin piringnya ya."
Makan sore itu terasa seperti ujian skripsi bagi Bagas dan Dira. Mama Ratna terus menginterogasi mereka soal cicilan rumah, rencana punya anak (yang langsung membuat Bagas keselek jengkol), sampai soal karier Bagas.
"Gas, kamu itu sudah jadi Creative Lead. Masa penampilan di rumah masih kayak... apa itu istilahnya... Tapir?" tanya Mama Ratna sambil menunjuk kaos dalam Bagas yang sebenarnya sudah ditutup kemeja tapi tetap kelihatan bolongnya di bagian leher.
Bagas tertawa canggung. "Ini gaya grunge Ma, tren terbaru di agensi."
"Grunge itu artinya gembel berkelas ya?" sahut Mama Ratna pedas.
Dira mencoba menahan tawa sampai bahunya bergetar. Dira menatap Bagas yang wajahnya sudah pasrah. Di satu sisi, Dira merasa kasihan, tapi di sisi lain, melihat "Si Tapir" mati kutu di depan "Nyonya Besar" adalah hiburan yang tak ternilai harganya.
Tiba-tiba, suara meong terdengar dari kamar Bagas. Bagas membelalak. Bagas lupa, kucing yang ia selamatkan dari selokan dekat kantornya, kakinya pincang dan menyembunyikannya di kamar.
Mama Ratna berhenti mengunyah. "Suara apa itu? Kalian pelihara kucing? Mama kan sudah bilang, bulu kucing itu nggak bagus buat estetika paru-paru!"
"Bukan kucing, Ma!" seru Bagas panik. "Itu... itu suara Dira! Dira emang suka niruin suara kucing kalau lagi seneng makan jengkol."
Mama Ratna menatap Dira dengan tatapan nanar. Dira, demi menyelamatkan nyawa Bagas, terpaksa melakukan hal terendah dalam hidupnya.
"Meong... iya Ma, enak banget jengkolnya," ujar Dira dengan wajah datar dan suara yang lebih mirip suara kucing depresi daripada kucing seneng.
Mama Ratna terdiam lama, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian berdua memang sudah nggak waras. Kayaknya kalian butuh liburan ke pesantren atau ke kebun binatang sekalian."
Setelah tiga jam yang penuh tekanan, Mama Ratna akhirnya pulang dengan meninggalkan bau durian yang memenuhi ruangan. Begitu pintu tertutup, Bagas dan Dira langsung tumbang di lantai.
"Pir," panggil Dira lemah.
"Ya, Ndoro?"
"Mulai besok, lo jangan pernah ajak gue bohong lagi. Harga diri gue sebagai Social Media Specialist hancur karena harus nge-meong di depan mertua."
Bagas terkekeh sambil memeluk bantal durian pemberian ibunya. "Tapi jengkolnya enak kan, Ndoro? Seenggaknya kita punya stok makanan buat taruhan minggu depan."
Dira hanya bisa melempar sandal jepit rumahannya ke wajah Bagas. Tapi di dalam hati, dia bersyukur. Karena meski diteror mertua, setidaknya Bagas tidak berubah jadi orang lain yang kaku dan membosankan.
Tapi, mampukah mereka menjaga "rahasia" si kucing pincang dan patung ayam jago itu jika Mama Ratna memutuskan untuk menginap nanti?
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍