Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pengejaran yang Berbahaya
Yura mengemudi dengan kecepatan tinggi tangannya mencengkeram setir begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Jantungnya berdegup kencang. Napasnya pendek-pendek.
Matanya terus melirik ke kaca spion
Apakah dia mengikutiku?
Apakah mobil hitam itu masih di belakang?
Jalanan malam ini sepi. Hanya lampu jalan yang menyala redup.
Dan itu membuatnya semakin takut.
Tangannya gemetar saat ia meraih ponsel dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap di setir. Ia menekan nama Adrian panggilan keluar.
Ring… ring…
"Yura!" suara Adrian langsung menjawab napasnya terdengar cepat. "Kau di mana?!"
"Adi..." suara Yura bergetar. "Aku… aku di jalan. Aku baru keluar dari parkiran toko. Dia… dia ada di sana tadi. Arkan. Dia melihatku, Adi. Dia… berdiri di sana dan menatapku."
Adrian terdiam sejenak lalu suaranya berubah serius. "Yura, dengarkan aku. Tenang. Tarik napas. Kau di jalan mana sekarang?"
"Aku… aku menuju " Yura melirik rambu jalan. " menuju Jalan Raya Selatan. Aku tidak tahu harus kemana. Aku cuma… aku harus pergi."
"Oke, dengar," kata Adrian dengan nada menenangkan tapi tegas. "Kau jangan pulang ke apartemenmu. Jangan ke tempat yang biasa kau datangi. Cari tempat ramai mall, SPBU 24 jam, restoran yang ramai tunggu aku di sana. Aku akan ke sana sekarang."
"Tapi Adi..." suara Yura hampir menangis. "Bagaimana kalau dia… mengikutiku?"
"Kalau dia mengikuti, terus mengemudi. Jangan berhenti. Dan hubungi aku terus. Aku akan ke sana secepat mungkin."
Yura menarik napas gemetar. "Oke… oke…"
"Yura," panggil Adrian lagi suaranya lembut. "Kau tidak sendirian. Aku akan melindungimu. Aku janji."
Yura mengangguk meski Adrian tidak bisa melihatnya. "Iya… terima kasih, Adi."
"Tetap di jalur. Aku akan ke sana sekarang."
Sambungan terputus.
Yura meletakkan ponselnya di dashboard dengan tangan gemetar, lalu kembali fokus ke jalan.
Di Mobil Arkan...
Arkan duduk di kursi belakang mobilnya dengan ekspresi tenang terlalu tenang.
Tapi di sudut bibirnya… ada senyum seringai yang mengerikan.
"Ikuti dia," perintahnya pelan tapi nadanya tidak bisa dibantah.
Bagas yang sedang menyetir melirik kaca spion dengan ekspresi bingung campur pusing.
"Pak… maksud Bapak… kita ikuti mobil Nona Yura?"
"Iya," jawab Arkan tanpa ragu. "Ikuti. Jangan terlalu dekat. Tapi jangan sampai hilang."
Bagas menelan ludah, lalu menambah kecepatan mobil.
Tapi pikirannya… kacau.
Ini… apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa Pak Arkan malah mengikuti Nona Yura yang jelas-jelas ketakutan?
Bagas tidak tahan ia akhirnya bicara dengan nada hati-hati.
"Pak… maaf kalau saya lancang… tapi… apa rencana Bapak sebenarnya?"
Arkan menatap keluar jendela menatap mobil kecil Yura yang terlihat beberapa meter di depan.
"Rencana?" Arkan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan… calon istriku aman."
Bagas hampir mengerem mendadak.
"CA-CALON ISTRI?!" Bagas menatap kaca spion dengan mata melebar. "Pak… maksud Bapak… Nona Yura… akan Bapak nikahi?!"
Arkan menatapnya dengan tatapan datar. "Tentu saja. Kenapa kau kaget?"
Bagas menggelengkan kepala cepat pusing. "Pak… Nona Yura… dia lari dari Bapak. Dia takut sama Bapak. Bagaimana bisa Bapak bilang dia calon istri Bapak?!"
Arkan tersenyum lagi kali ini lebih gelap.
"Dia hanya… belum mengerti," jawabnya tenang. "Tapi nanti dia akan mengerti. Kalau dia tidak bisa lepas dariku… kalau dia tidak punya pilihan lain… dia akan menerima."
Bagas menatap bosnya dengan ekspresi tidak percaya.
Ini… ini bukan lagi jatuh cinta.
Ini… obsesi yang benar-benar berbahaya.
"Pak…" Bagas bicara pelan, penuh kekhawatiran. "Kalau Nona Yura dipaksa menikah… itu bukan cinta, Pak. Itu… penjara."
Arkan menatapnya lama tatapannya dingin.
"Aku tidak peduli," jawabnya jujur. "Selama dia ada di sampingku… itu sudah cukup."
Bagas terdiam.
Ia tidak tahu harus bilang apa lagi.
Ia hanya bisa terus mengemudi mengikuti mobil Yura yang semakin cepat.
Di Kantor Polisi Adrian Bersiap..
Adrian berdiri di loker pribadinya, membuka pintu dengan cepat.
Ia meraih senjata service-nya pistol Glock 19 yang selalu ia bawa saat bertugas.
Ia mengecek peluru, memastikan semuanya siap.
Lalu ia memasukkan senjata itu ke holster di pinggangnya, mengenakan jaket untuk menutupinya.
Salah satu rekannya...Inspektur Reza...melihatnya dengan ekspresi bingung. "Adrian? Mau kemana? Jam segini?"
Adrian menutup loker dengan keras. "Ada urusan penting."
Reza mengerutkan dahi. "Urusan penting? Sampai bawa senjata? Kau lagi dalam misi?"
Adrian menatapnya serius. "Bukan misi resmi. Tapi… ini penting."
Reza menatapnya lama, lalu mengangguk. "Hati-hati."
Adrian mengangguk cepat, lalu berlari keluar menuju mobil patroli pribadinya.
Ia menyalakan mesin, lalu langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Di kepalanya, hanya satu pikiran:
Aku harus sampai ke Yura sebelum Arkan melakukan sesuatu.
Di Jalan Raya Yura Semakin Panik
Yura terus mengemudi dengan kecepatan tinggi Tapi saat ia melirik kaca spion lagi
Jantungnya berhenti.
Mobil hitam itu… ada di belakangnya.
Jarak sekitar 50 meter. Tidak terlalu dekat.
Tapi tidak pernah hilang.
Ia melirik kaca spion lagi dan kali ini, ia bisa melihat dengan jelas. Arkan duduk di kursi belakang. Menatapnya. Bahkan dari jarak segitu, tatapannya terasa… menusuk.
Yura merasakan dingin menjalar di seluruh tubuhnya."Kenapa… kenapa dia mengikutiku…" bisiknya gemetar.
Ia mencoba mempercepat lagi tapi jalanan mulai ramai dengan lampu merah. Ia harus berhenti.
Tidak. Tidak. Jangan berhenti.
Tapi lampu merah sudah menyala.
Mobil-mobil lain berhenti.
Yura menekan rem napasnya memburu.
Dan kemudian
Mobil hitam itu berhenti tepat di belakangnya.
Yura menatap kaca spion dengan mata melebar ketakutan.
Arkan… masih duduk di sana.
Menatapnya.
Tidak bergerak.
Hanya… menatap.
Dan senyumnya… mengerikan.
Yura meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mengirim pesan cepat ke Adrian:
Yura:
Adi, dia di belakangku. Dia mengikutiku. Aku di lampu merah Jalan Raya Selatan. Tolong cepat.
Detik berikutnya, ponselnya bergetar Adrian menelepon.
"YURA!" suara Adrian terdengar panik. "Jangan turun dari mobil! Apapun yang terjadi, jangan buka pintu! Aku hampir sampai tunggu aku!"
"Adi, aku takut..." suara Yura bergetar.
"Aku tahu. Tapi kau harus kuat. Lampu merah itu sebentar lagi hijau. Begitu hijau, kau langsung melaju. Jangan peduli apa yang terjadi di belakangmu. Mengerti?!"
"Iya… iya…"
Lampu merah masih menyala.
Yura menatap kaca spion
Dan jantungnya berhenti.
Arkan… turun dari mobil.
Berjalan perlahan… menuju mobilnya.
"ADI! DIA TURUN! DIA JALAN KE SINI!" teriak Yura panik.
"YURA, DENGAR AKU!" suara Adrian keras. "KAU LANGSUNG JALANKAN MOBILMU! SEKARANG! JANGAN TUNGGU LAMPU HIJAU!"
Yura menekan gas.
Tapi terlambat.
Arkan sudah berdiri di samping jendela mobilnya.
Menatapnya.
Dengan tatapan yang… obsesif. Posesif. Gila.
Lalu ia mengetuk kaca jendela pelan.
"Yura," suaranya terdengar meski tertutup kaca. "Buka pintunya."
Yura menggelengkan kepala cepat air matanya mulai jatuh.
Arkan tersenyum tipis dingin.
"Buka pintunya, Yura. Kita harus bicara."
"TIDAK!" teriak Yura. "PERGI! JANGAN DEKATI AKU!"
Arkan tidak bergerak. Ia hanya terus menatap dengan tatapan yang semakin gelap.
Dan kemudian.. LAMPU BERUBAH HIJAU.
Yura langsung menekan gas mobilnya melaju dengan kecepatan penuh, meninggalkan Arkan yang berdiri di tengah jalan. Arkan tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana menatap mobil Yura yang menjauh.
Lalu ia tersenyum lagi. Senyum yang mengerikan. "Lari sebanyak yang kau mau, Yura," bisiknya pelan. "Kau tidak akan bisa lepas dariku."