NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pengorbanan di Kegelapan Hutan

Bulan sabit tipis menggantung di langit hitam, cahayanya samar-samar menyusup melalui celah daun, cukup untuk menerangi jalan setapak yang semakin sempit dan gelap. Siti Aisyah—Mbak Neneng—berjalan sendirian, langkahnya pelan tapi pasti, tanpa obor, tanpa golok, hanya tasbih kayu jati di tangan kanannya yang digenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Usianya sudah 37 tahun, tapi kecantikannya masih utuh seperti gadis dua puluh tahunan. Kulit kuning langsatnya mulus tanpa cela, berkilau samar di bawah cahaya bulan. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi, beberapa helai lepas menempel di lehernya yang basah oleh embun malam.

Ia mengenakan kebaya merah ketat dan tipis, kain sutra yang menempel sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk payudara montok yang naik turun pelan seiring napasnya yang berat. Jarik batik putih dengan motif coklat melingkar di pinggul, kainnya lembut tapi basah oleh keringat dingin ketakutan.

Setiap langkah membuat jariknya bergesek pelan di paha mulusnya, suara kain itu seperti bisik rahasia yang hanya didengar hutan.

Ia berhenti di depan pohon durian raksasa yang retak—tempat yang sama seperti yang disentuhnya pagi tadi. “Mbah Saroh... aku datang,” panggilnya pelan, suaranya gemetar tapi tegas. “Aku sendirian. Ambil aku. Tukar dengan Lilis... dengan bayi-bayi desa. Ini aku yang kau mau sejak dulu.”

Angin menderu pelan, daun-daun bergoyang seperti tepuk tangan gaib. Kabut naik dari tanah, menyelimuti tubuh Siti Aisyah seperti pelukan dingin. Dan dari kegelapan di antara pohon, sosok Nenek Gerandong muncul—rambut kelabu panjang menjuntai hingga tanah, daster putih kotor compang-camping basah oleh embun, wajah gosong penuh luka bakar, mata merah menyala seperti bara yang tak pernah padam.

“Kau datang juga, anakku,” serak suara Nenek itu, seperti angin melalui rongga tulang. “Kau berani. Tapi... pengorbananmu belum cukup.”

Siti Aisyah menelan ludah, tangannya melepas tasbih. “Apa lagi yang kau mau, Mbah? Aku siap. Ambil nyawaku. Kembalikan Lilis.”

Nenek Gerandong melayang lebih dekat, tangan kurusnya hampir menyentuh pipi Siti Aisyah. “Bukan nyawamu... tapi tubuhmu. Guru ku... jin yang mengajari aku ilmu hitam... dia haus. Dia ingin kau layani dia. Seperti aku dulu layani dia untuk dapat kekuatan. Kalau kau puaskan dia... mungkin aku lepaskan bayi-bayi itu.”

Siti Aisyah membeku. Hatinya berdegup kencang, tapi matanya tak berkedip. “Guru... jin itu... seperti apa?”

Kabut bergolak, dan dari kegelapan muncul sosok lain—tinggi kurus, tubuhnya seperti biawak air raksasa tapi dengan struktur manusia: kulit hijau kehitaman bersisik licin, mata kuning vertikal menyala seperti lampu sulfur, mulut lebar penuh gigi runcing, ekor panjang bergoyang pelan di belakang, tapi tangan dan kakinya seperti manusia, berjari panjang dengan kuku hitam melengkung. Bau amis amis menyengat, seperti air sungai yang busuk bercampur belerang.

“Layani dia,” bisik Nenek Gerandong. “Lepaskan semua pakaianmu. Biarkan dia puas. Kalau tidak... bayi-bayi itu akan tetap milikku.”

Siti Aisyah menutup mata sejenak, air mata jatuh di pipinya. Ia ingat wajah Lilis kecil, ingat doa di masjid, ingat pengampunan yang baru saja dimulai. “Baiklah... demi mereka.”

Tangan gemetarnya melepas kebaya merah ketat itu. Kain sutra tipis meluncur pelan dari bahu, memperlihatkan payudara montok yang putih berkilau di bawah cahaya bulan, putingnya mengeras karena dingin dan ketakutan. Ia membuka sanggul, rambut hitam panjangnya terurai menutupi punggung seperti selendang malam. Jarik batik putih motif coklatnya ia lepaskan, kain itu jatuh ke tanah basah, memperlihatkan pinggul lebar, paha mulus, dan bagian intimnya yang kini telanjang bulat di depan makhluk gaib itu.

Jin biawak itu mendekat, mata kuningnya menyala lebih terang. Tangan bersisiknya menyentuh kulit Siti Aisyah—dingin, licin, tapi membara seperti api tersembunyi. Ia menarik tubuh perempuan itu ke tanah berlumut, mulut lebarnya mendekati leher Siti Aisyah, lidah bercabangnya menjilat pelan kulit kuning langsat itu. Siti Aisyah menggigit bibir, menahan jeritan, tapi ia tak melawan. Tangan jin meremas payudaranya montok, kuku hitamnya meninggalkan goresan merah tipis. Ekor panjangnya melingkar di pinggang Siti Aisyah, menariknya lebih dekat.

Ia melayani—dengan tangan, dengan mulut, dengan tubuhnya yang telanjang—sampai jin itu mengerang puas, suaranya seperti gemuruh air sungai yang bergolak. Setelah itu, jin menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Siti Aisyah terbaring di tanah, tubuhnya basah oleh embun dan air mata, napas tersengal.

Nenek Gerandong muncul lagi, lebih dekat. Matanya merah tak lagi menyala ganas, tapi redup seperti bara yang hampir padam.

“Kau lakukan... kau berani,” bisiknya. “Sekarang dengar rahasiaku, anakku. Aku bukan monster. Aku jiwa tersiksa yang mencari keadilan. Suamiku dibunuh patroli inggris -Belanda, bayiku mati dalam kandungan karena pengusiran warga. Aku belajar ilmu hitam dari jin itu untuk bertahan hidup, bukan untuk jahat. Tapi warga khianati janji, bakar aku hidup-hidup. Aku jadi Nenek Gerandong karena dendam... tapi dendam itu lahir dari penderitaan yang kalian tak pernah pahami.”

Siti Aisyah duduk perlahan, tubuh telanjangnya gemetar. “Mbah... kami salah. Kami minta ampun. Doa di masjid tadi... kami tulus. Kembalikan bayi-bayi itu. Biarkan kau istirahat.”

Nenek Gerandong diam lama. Rambut kelabunya bergoyang pelan. “Kau bayar dengan tubuhmu... dengan kehormatanmu. Mungkin... itu cukup untuk mulai melunakkan hatiku. Tapi keadilan belum selesai. Aku akan kembalikan bayi-bayi itu... tapi kau harus bawa pesan ke desa: ingat penderitaanku. Jangan ulangi kesalahan yang sama pada orang lain.”

Bayang Nenek itu memudar pelan, tapi sebelum lenyap sepenuhnya, ia berbisik: “Lilis... dan bayi-bayi lain... akan kembali malam ini. Tapi ingat... dendamku belum benar-benar padam. Ini baru permulaan pengampunan.”

Kabut surut. Siti Aisyah bangkit perlahan, mengumpulkan pakaiannya yang berserakan, tubuhnya penuh goresan dan lelah. Ia menatap ke arah desa, air mata jatuh lagi—bukan karena malu, tapi karena harapan kecil yang baru lahir.

Malam itu, di desa, bayi-bayi yang hilang mulai menangis pelan di tempat mereka semula—termasuk Lilis di pelukan Sari Wangi yang terbangun dari tidur gelisah.

Tapi Siti Aisyah tahu: perjalanan belum selesai. Pengampunan baru dimulai.

\*\*\*

Siti Aisyah terbaring di tanah berlumut yang dingin dan lembab, tubuh telanjangnya masih gemetar hebat setelah pelayanan yang memalukan itu. Kulit kuning langsatnya penuh goresan merah dari kuku jin, payudara montoknya naik turun tersengal, putingnya yang coklat tua mengeras karena angin malam yang menusuk. Rambut hitam panjangnya yang terurai basah menempel di punggung dan pahanya, bagian intim yang mulus tanpa bulu masih basah oleh cairan jin yang amis dan panas. Napasnya tersengal, antara jijik, malu, dan lega yang aneh—ia telah membayar harga mahal demi bayi-bayi desa. Tapi di hatinya, pertanyaan membara: siapa jin itu sebenarnya? Mengapa Mbah Saroh bergantung padanya?

Nenek Gerandong melayang lebih dekat, bayangannya kini tak lagi ganas seperti sebelumnya. Rambut kelabu panjangnya bergoyang pelan seperti rumput laut di arus sungai, matanya merah yang tadi menyala kini redup seperti bara api yang hampir habis. Ia duduk—atau setidaknya sosoknya membungkuk—di depan Siti Aisyah, suaranya serak tapi kali ini penuh cerita lama, seperti nenek yang menceritakan dongeng sebelum tidur.

“Kau sudah layani dia... guru ku. Kau berani, anakku. Sekarang dengar rahasiaku sepenuhnya. Tapi dulu... ketahuilah latar belakang Raja Biawak—jin itu yang kau puaskan tadi.”

Siti Aisyah duduk perlahan, tak peduli tubuhnya masih telanjang di bawah cahaya bulan sabit. Ia menarik lutut ke dada, payudaranya tertekan, tapi matanya tajam menatap Nenek. “Raja Biawak? Dia... jin macam apa, Mbah? Kenapa wujudnya seperti biawak air raksasa dengan tubuh manusia? Bau amisnya... seperti sungai yang busuk.”

Nenek Gerandong tertawa pelan, suaranya bergema seperti angin di gua dalam hutan. “Dia bukan jin biasa, Nen. Raja Biawak adalah penjaga sungai-sungai purba di hutan Banten ini, makhluk gaib dari zaman kerajaan Sunda dan Banten kesultanan. Dulu, sebelum Belanda datang, dia adalah roh sungai yang suka bantu nelayan dan dukun desa. Wujudnya seperti biawak air raksasa—kulit hijau kehitaman bersisik licin seperti lumut sungai, panjang tubuhnya 3 meter dengan ekor setengahnya lagi, mata kuning vertikal yang bisa lihat dosa manusia di kegelapan, mulut lebar penuh gigi runcing seperti pisau bambu, tapi tangan dan kakinya seperti manusia, jari panjang dengan kuku hitam melengkung untuk meraih jiwa-jiwa lemah. Lidahnya bercabang panjang, bisa jilat rasa nafsu dan ketakutan, bikin korban gemetar kenikmatan sekaligus horor. Bau amisnya dari air sungai purba yang dia tempati, bercampur belerang dari kedalaman bumi—bau yang bikin manusia mabuk, nafsu bangkit tak terkendali.”

Nenek melanjutkan, matanya menatap jauh seperti mengenang masa lalu. “Aku ketemu dia saat diusir warga, sendirian di pinggir sungai hutan ini. Suamiku baru mati, kandunganku gugur karena stres dan kelaparan. Aku nangis di tepi air, minta tolong Tuhan atau siapa pun. Raja Biawak muncul dari kedalaman, tubuhnya licin basah, mata kuningnya menyala. ‘Manusia... kau punya dendam?’ tanyanya, suaranya seperti gemuruh air deras. Aku cerita semuanya—suami dibunuh, bayi hilang, warga tuduh aku pembawa sial karena di Nodai oleh Tentara Asing. Dia tawarkan kekuatan: ilmu hitam, komunikasi jin, pengabulan doa. Tapi harganya... tubuhku, jiwa ku, dan jiwa orang lain sebagai tumbal. Aku setuju, Nen. Malam pertama, dia tarik aku ke air sungai, lepas semua kainku, layani dia seperti kau tadi. Lidahnya jilat seluruh tubuhku,Terongnya yang kasar bersisik masuk dalam, bikin aku jerit campur nikmat. Sejak itu, aku jadi dukun hitam sakti. Dia guru ku, pendamping ku. Setiap ritual besar, aku harus puaskan dia lagi—seperti malam ini kau ambil gantinya.”

Siti Aisyah merinding, ingat sensasi jin tadi: tangan bersisik dingin meremas payudaranya montok, kuku hitam menggores putingnya sampai merah, lidah bercabang panjang menjilat barang intimnya mulus tanpa bulu hingga basah dan berdenyut, ekor melingkar pinggangnya menarik lebih dalam saat terong jin yang panas dan berurat kasar memasuki dirinya, dorongannya ganas seperti arus sungai banjir, membuat orgasmenya meledak bertubi-tubi—gelombang panas dari perut bawah naik ke dada, tubuhnya kejang hebat, cairan keluar deras campur lendir jin. “Mbah... dia... kuat sekali. Aku hampir gila. Tapi kenapa dia haus tubuh wanita? Apa rahasia sebenarnya?”

Nenek Gerandong mengangguk pelan. “Raja Biawak dulu manusia—dukun laki-laki dari suku Banten dalam yang jatuh cinta sama biawak air raja sungai. Dia ritual salah, tubuhnya berubah jadi setengah jin setengah biawak, terperangkap abadi di kedalaman. Dia haus wanita manusia untuk ‘hidupkan’ jiwanya, ambil esensi kesuburan dari rahim kita. Aku... aku kasih dia berkali-kali. Makanya aku bisa panggil jin Ifrit, santet, pelet. Tapi sekarang kau sudah layani dia atas nama ku... dia puas sementara. Dan rahasiaku: aku bukan monster murni. Aku jiwa tersiksa yang cari keadilan. Warga khianati aku setelah aku bantu mereka—janji ingkar, bakar gubukku hidup-hidup. Dendamku lahir dari kehilangan anak, tapi kau... kau tunjukkan hati tulus. Bayi-bayi akan kembali malam ini. Lilis di pelukan Sari, yang lain di rumah masing-masing. Tapi ingat: kalau desa ulangi kesalahan—khianati yang lemah lagi—aku bangkit total.”

Siti Aisyah mengangguk, air mata jatuh lagi. “Terima kasih, Mbah. Kami janji... tak ulangi.”

Nenek Gerandong memudar ke kabut, suaranya echo terakhir: “Pulanglah, anakku. Dan jaga rahasia Raja Biawak... dia masih menunggu di sungai.”

Siti Aisyah bangkit pelan, tubuhnya pegal tapi ringan. Ia kenakan kembali kebaya merah ketat yang basah, jarik batik putih motif coklat menempel di kulit lembab, sanggul rambutnya acak-acakan. Ia berjalan pulang ke desa, langkahnya lebih mantap. Malam itu, tangisan bayi Lilis terdengar dari rumah Sari—kembali selamat, seperti mukjizat.

Tapi Siti Aisyah tahu: Raja Biawak masih mengintai di sungai, dan dendam Mbah Saroh... baru mulai lunak.

\*\*\*

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!