Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Suasana perpustakaan SMA Garuda siang itu sangat sunyi, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan gesekan lembaran kertas. Bau buku tua dan kayu jati memberikan kesan tenang, namun bagi Jenny, atmosfer ini terasa mencekam.
Jonathan duduk di meja paling pojok, tempat favoritnya. Ia terlihat sangat fokus dengan buku Kimia tebal di hadapannya. Kemeja putihnya yang disetrika rapi tanpa lipatan sedikit pun mencerminkan kepribadiannya yang teratur dan kaku.
"Hai, Jon," sapa Jenny lembut sambil menarik kursi di sebelah Jonathan. Ia sengaja duduk sangat dekat, hingga bahu mereka bersentuhan.
Jonathan menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang sangat terkontrol. "Hai, Jen. Kamu telat tiga menit dari jadwal. Tapi tidak apa-apa, aku sudah merangkum bab stoikiometri untukmu."
Jenny tidak segera membuka bukunya. Ia justru menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap profil samping wajah Jonathan dengan senyuman manis—senyuman "Golden Girl" yang biasanya tulus, tapi kali ini terasa seperti umpan.
"Makasih ya, kamu emang selalu bisa diandalkan. Oh iya, tadi di kelas aku ngobrol sama Claudia. Dia bilang dia seneng banget acara makan malam kemarin. Dia cantik banget ya pakai dress hitam itu?" pancing Jenny.
Jonathan tetap menulis. Gerakan pulpennya stabil. "Dia terlihat pantas. Tapi fokus kita sekarang adalah olimpiade, bukan gaya busana Claudia."
"Ih, kok kaku banget sih? Aku cuma bangga punya sahabat secantik dia," Jenny terkekeh, suaranya sengaja dibuat ceria namun matanya terus mengamati setiap kedutan di wajah Jonathan. "Tapi tahu nggak, Jon? Claudia itu orangnya rahasia banget ya. Masa dia nggak cerita ke aku kalau kemarin lusa dia sempet bareng kamu di parkiran?"
Tangan Jonathan berhenti bergerak selama satu detik. Hanya satu detik, tapi bagi Jenny yang sedang waspada, itu terasa seperti satu jam.
"Sudah aku jelaskan semalam, Jen. Dia menumpang karena kakinya sakit," jawab Jonathan datar. Ia kembali menulis, tapi kali ini tekanannya pada kertas terlihat lebih kuat.
Jenny mengangguk-angguk pelan. Ia menggeser duduknya lebih dekat lagi, lalu berbisik dengan nada bercanda yang tajam. "Tapi masa sih, Jon? Aku denger dari Romeo tadi pagi... katanya kemarin mobil kamu goyang di parkiran pas aku lagi latihan cheers. Kamu lagi ngapain? Ada kucing masuk ke mobil atau... kamu lagi bantuin Claudia obatin kakinya yang sakit itu?"
Pertanyaan itu seperti bom yang dijatuhkan di tengah perpustakaan yang sepi. Jonathan meletakkan pulpennya. Ia menutup buku Kimianya dengan suara bug yang cukup keras. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Jenny, wajahnya tetap kaku, namun matanya menyorotkan sesuatu yang sulit dibaca.
"Kamu lebih percaya pada kata-kata seorang berandalan seperti Romeo daripada pacarmu sendiri, Jen?" suara Jonathan rendah dan penuh otoritas.
"Bukan nggak percaya, Jon," Jenny tetap tersenyum manis, senyum yang mulai terlihat mengerikan karena tidak mencapai matanya. "Aku cuma bingung aja. Romeo itu emang pengganggu, tapi dia nggak pernah punya alasan buat bohong soal hal receh kayak mobil goyang. Kecuali kalau emang ada 'sesuatu' yang seru di dalem sana, kan?"
Jonathan menghela napas panjang, mencoba mempertahankan topeng kedisiplinannya. "Romeo itu atlet voli yang tidak punya integritas. Dia sengaja memprovokasi kamu karena dia ingin merusak citraku sebagai Ketua OSIS. Mobil itu goyang mungkin karena dia sendiri yang menendangnya atau melempar bola. Gunakan logikamu, Jennifer. Mana mungkin aku melakukan hal tidak senonoh di lingkungan sekolah?"
"Iya juga ya, kamu kan sangat menghargai aturan," Jenny mengelus lengan jas Jonathan. "Tapi Jon, Claudia kok bisa ninggalin gantungan kuncinya di kursi belakang? Kalau dia cuma menumpang sampai gerbang depan, bukannya harusnya dia duduk di kursi depan samping kamu?"
Jonathan terdiam. Logikanya yang biasanya secepat kilat kini seolah menemui jalan buntu.
"Dia... dia menaruh tasnya di belakang. Mungkin jatuh saat dia mengambil tas," jawab Jonathan akhirnya. Jawabannya masih masuk akal, tapi nada suaranya mulai terdengar defensif.
"Oh... gitu ya. Masuk akal sih," Jenny mengangguk puas, tapi dalam hatinya ia berteriak. Bohong. Lo bohong, Jon.
Tanpa mereka sadari, di balik rak buku sejarah yang hanya berjarak dua meter dari meja mereka, Claudia berdiri terpaku. Ia awalnya berniat menyusul ke perpustakaan untuk mengawasi mereka, tapi ia justru mendengar seluruh percakapan itu.
Claudia mengepalkan tangannya. Romeo sialan, umpatnya dalam hati. Ia tidak menyangka Romeo akan bertindak sejauh itu dengan memberitahu Jenny soal kejadian di parkiran.
Ia harus bergerak cepat. Sebelum Jenny mendapatkan bukti lebih banyak, ia harus membuat skenario baru. Claudia segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat kepada Lisa di IPA 1.
Claudia: Lis, kayaknya Romeo beneran naksir Jenny. Sekarang dia lagi nyebarin gosip aneh tentang aku dan Jonathan cuma buat narik perhatian Jenny. Kamu harus jagain cowok kamu.
Claudia tersenyum puas. Ia tahu Lisa yang temperamental akan segera meledak dan membuat keributan yang akan mengalihkan perhatian Jenny dari investigasinya.
Kembali ke meja perpustakaan, Jenny masih menatap Jonathan. Ia menyadari sesuatu yang tidak biasa. Jonathan terus-menerus memperbaiki letak kacamatanya—sebuah tanda bahwa pria kaku itu sedang gugup.
"Kenapa kamu terus membahas Claudia dan Romeo, Jen? Kita di sini untuk belajar," protes Jonathan.
"Maaf ya, sayang. Aku cuma merasa ada yang aneh aja akhir-akhir ini," Jenny membuka bukunya, tapi ia tidak membaca. "Oh iya, nanti sore aku mau ke mal sama Claudia. Mau ikut? Itung-itung kita double date sama orang tua kita lagi?"
"Aku ada rapat evaluasi program kerja OSIS sore ini. Tidak bisa," jawab Jonathan cepat. Terlalu cepat.
"Rapat ya? Sama siapa aja?"
"Sekretaris dan Bendahara."
"Claudia kan Bendahara OSIS, Jon. Berarti dia nggak jadi pergi sama aku?" tanya Jenny dengan nada polos yang mematikan.
Skakmat kedua. Jonathan terpaku. Ia lupa bahwa Claudia adalah bagian dari inti OSIS. "Ah... iya. Maksudku, rapatnya hanya sebentar. Setelah itu dia mungkin bisa menyusulmu."
Jenny menutup bukunya kembali. Ia berdiri, membenarkan letak seragamnya yang rapi. "Nggak usah deh kalau sibuk. Aku bisa pergi sendiri. Atau mungkin... aku minta temenin Romeo aja? Kayaknya dia lagi nggak ada latihan sore ini."
Mendengar nama Romeo, rahang Jonathan mengeras. "Jangan dekat-dekat dengan dia, Jenny. Dia itu red flag. Dia tidak level denganmu."
Jenny hanya tersenyum lebar, senyum yang kali ini terasa penuh kemenangan. "Dia mungkin red flag, Jon. Tapi setidaknya, dia jujur soal siapa dirinya. Nggak kayak orang-orang yang kelihatannya putih bersih tapi ternyata banyak noda tersembunyi."
Jenny melangkah pergi meninggalkan perpustakaan tanpa menoleh lagi. Begitu keluar dari pintu kaca, senyumnya langsung hilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Ia berjalan menuju loker, tapi langkahnya terhenti saat melihat Lisa sudah berdiri di depan lokernya dengan wajah merah padam karena marah.
"Heh, Ketua Cheerleader sok suci!" teriak Lisa hingga menarik perhatian siswa di koridor. "Berhenti manfaatin Romeo buat nyari tahu soal cowok lo! Lo pikir gue nggak tahu lo sengaja deketin Romeo biar dia bantuin lo mata-matai Jonathan?"
Jenny menghela napas. Permainan dimulai, pikirnya. Ia tahu Lisa hanya pion yang digerakkan oleh Claudia.
Di kejauhan, di ujung koridor, Romeo bersandar di tembok sambil melipat tangan di dada. Ia menyaksikan drama yang mulai memanas itu dengan seringai tipis.
"Udah mulai kerasa kan, Jen? Selamat datang di dunia nyata," gumam Romeo pelan.