Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Duri di Dalam Sangkar
Pagi pertama di mansion Valerius tidak membawa ketenangan bagi Aruna. Meskipun ia terbangun di atas kasur yang jauh lebih empuk daripada gabungan sepuluh kasur di rumah lamanya, dadanya tetap terasa sesak. Di luar jendela, taman-taman yang diselimuti kabut tipis tampak seperti lukisan mati. Tidak ada suara burung yang berkicau riang; yang ada hanyalah suara derap sepatu bot para penjaga yang melakukan pergantian shift setiap dua jam sekali.
Aruna membantu Bumi mengenakan pakaian barunya—sebuah kaus polo biru yang lembut dan celana katun yang sangat nyaman. Bumi tampak bingung dengan kemewahan ini, namun kepolosan anak-anak membuatnya lebih cepat beradaptasi. Bagi Bumi, ini hanyalah petualangan di rumah baru yang sangat besar.
"Ibu, apakah kita boleh jalan-jalan ke taman itu?" tanya Bumi sambil menunjuk ke arah air mancur besar di tengah halaman.
Aruna ragu sejenak. "Kita tanya Paman Enzo dulu ya, Sayang?"
Saat mereka melangkah keluar dari sayap timur menuju ruang makan utama, Aruna merasakan tatapan-tatapan yang tidak bersahabat. Di lorong yang luas, ia berpapasan dengan beberapa pria dan wanita berpakaian taktis yang sedang berbincang serius. Percakapan mereka terhenti seketika saat melihat Aruna lewat. Tatapan mereka tidak penuh hormat seperti pada Dante; itu adalah tatapan penuh kecurigaan, seolah-olah Aruna adalah virus yang menyusup ke dalam sistem mereka yang sempurna.
Di ruang makan yang panjang, Enzo sedang duduk sambil membaca tumpukan laporan di tabletnya. Ia mendongak saat Aruna masuk.
"Selamat pagi, Nyonya Aruna. Tidur Anda nyenyak?" tanya Enzo dengan nada formal yang selalu sama.
"Saya ingin membawa Bumi ke taman. Apakah diperbolehkan?" Aruna bertanya langsung, mengabaikan keramahan basa-basi Enzo.
Enzo terdiam sejenak, lalu memberikan instruksi lewat earpiece-nya. "Taman sektor utara sudah dikosongkan. Kalian boleh ke sana. Tapi ingat, jangan mendekati pagar pembatas atau gerbang belakang. Penjaga akan mengawasi dari jarak jauh."
"Terima kasih," jawab Aruna singkat.
Saat Aruna hendak berbalik, pintu ruang makan terbuka dengan kasar. Seorang wanita masuk dengan langkah yang penuh amarah. Wanita itu mengenakan setelan jas merah menyala yang sangat pas di tubuhnya, rambut hitamnya dipotong pendek dengan gaya yang sangat modern. Wajahnya cantik, namun kecantikannya terasa tajam dan berbahaya.
"Jadi, ini 'beban' yang membuat Dante hampir terbunuh?" wanita itu bertanya dengan suara yang penuh penghinaan.
Aruna berhenti. Ia merasakan aura permusuhan yang sangat kuat dari wanita ini. "Saya tidak tahu siapa Anda, tapi saya tidak meminta untuk dibawa ke sini."
Wanita itu tertawa sinis, ia mendekati Aruna hingga jarak mereka sangat dekat. Ia lebih tinggi dari Aruna karena sepatu hak tingginya. "Namaku Bianca. Aku adalah kepala intelijen Valerius, orang yang selama ini memastikan Dante tidak melakukan kesalahan bodoh. Sampai dia bertemu denganmu."
Bianca menatap Aruna dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kau hanya seorang janda miskin dari gang kumuh. Apa yang kau berikan padanya? Seks? Atau kau menggunakan anak ini untuk memancing belas kasihannya?"
Plak!
Suara tamparan itu menggema di ruang makan yang luas. Enzo sampai berdiri dari kursinya dengan mata terbelalak. Aruna tidak bergetar; tangannya yang tadi melayang ke pipi Bianca kini mengepal kuat di samping tubuhnya.
"Jangan pernah bawa-bawa anak saya dalam mulut kotor Anda," desis Aruna. Matanya menyala karena kemarahan seorang ibu. "Saya menyelamatkan nyawanya saat kalian semua gagal melindunginya. Jika Anda merasa saya adalah beban, salahkan kegagalan pasukan Anda, bukan saya."
Bianca memegang pipinya yang memerah. Matanya memancarkan kilat pembunuh. Ia hendak melangkah maju untuk membalas, namun suara dingin dari arah pintu menghentikan segalanya.
"Cukup, Bianca."
Dante berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu. Ia masih mengenakan kemeja pasien yang tertutup jubah sutra hitam. Wajahnya masih sangat pucat, dan ia memegang perutnya dengan satu tangan, namun otoritas yang terpancar darinya tetap mampu membekukan ruangan itu.
"Tuan Valerius, Anda harusnya masih di tempat tidur," ucap Enzo dengan nada khawatir.
Dante mengabaikan Enzo. Ia menatap Bianca dengan tatapan yang sangat dingin. "Kau menyentuh tamuku lagi, dan kau akan tahu bagaimana rasanya dibuang ke pelabuhan tanpa tangan dan kaki. Apakah aku sudah cukup jelas?"
Bianca menundukkan kepalanya, namun tangannya mengepal sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih. "Jelas, Tuan. Maafkan saya." Ia segera berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat.
Dante kemudian mengalihkan pandangannya pada Aruna. Ada sedikit rasa kagum yang tersembunyi di matanya. Belum pernah ada yang berani menampar Bianca, apalagi seorang wanita sipil yang terlihat lembut seperti Aruna.
"Paman Robot!" Bumi berlari ke arah Dante.
Dante berlutut dengan susah payah agar bisa sejajar dengan tinggi Bumi. Rasa nyeri di perutnya jelas terlihat dari kerutan di keningnya, namun ia menahannya. "Kau sudah sarapan, Jagoan?"
"Belum. Ibu bilang harus tanya Paman dulu," jawab Bumi polos.
Dante melirik ke arah meja makan yang kosong. Ia menatap Enzo. "Siapkan sarapan terbaik. Dan pastikan ada susu cokelat untuk bocah ini."
"Baik, Tuan."
Setelah Enzo pergi, Dante berdiri kembali dengan dibantu oleh salah satu pelayan. Ia menatap Aruna yang masih tampak tegang. "Jangan hiraukan Bianca. Dia hanya anjing penjaga yang terlalu setia. Dia merasa posisinya terancam."
"Saya tidak peduli dengan posisinya," balas Aruna. "Saya hanya ingin hidup tenang. Keberadaan saya di sini hanya menciptakan musuh baru bagi saya, Dante. Apakah Anda tidak menyadarinya?"
Dante melangkah mendekat, mengisyaratkan pelayan untuk pergi. Ia menatap Aruna dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. "Musuhmu sudah ada sejak kau menarikku masuk ke rumahmu, Aruna. Di sini, setidaknya aku punya senjata untuk melawan mereka. Di luar sana, kau hanya akan menjadi sasaran empuk."
Dante mengambil sesuatu dari saku jubahnya. Itu adalah kotak beludru hitam yang semalam dikembalikan oleh Aruna melalui Martha. Ia membukanya, mengambil kalung berlian hitam itu, dan melangkah ke belakang Aruna.
"Jangan ditolak," bisik Dante saat Aruna hendak menghindar. "Ini bukan hanya perhiasan. Ini adalah perintah dariku kepada semua orang di rumah ini bahwa kau tidak tersentuh. Pakailah, demi keselamatan Bumi."
Tangan Dante yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Aruna saat ia memasangkan kalung itu. Aruna merinding, bukan karena dingin, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di tulang belakangnya. Pria ini begitu berbahaya, begitu gelap, namun di saat yang sama, ia merasakan rasa aman yang belum pernah ia rasakan bahkan saat suaminya masih hidup.
"Bagus," gumam Dante saat liontin itu jatuh tepat di tulang selangka Aruna. "Sekarang, makanlah. Aku punya urusan yang harus diselesaikan."
"Urusan apa? Anda bahkan belum bisa berdiri tegak," protes Aruna.
"Urusan tentang siapa yang mencoba membakarmu hidup-hidup di Jalan Kenanga," jawab Dante dingin sebelum ia berbalik dan pergi dengan dikawal ketat.
Sepanjang sarapan, Aruna tidak bisa berhenti menyentuh liontin itu. Ia menyadari bahwa di mansion ini, ia berada di tengah-tengah sarang ular. Bianca hanyalah satu dari sekian banyak orang yang membencinya. Dante mungkin bisa melindunginya secara fisik, tapi ia tahu bahwa di dunia mafia, pengkhianatan seringkali datang dari orang-orang terdekat.
Sore harinya, saat Aruna sedang menemani Bumi bermain di taman utara, ia melihat Enzo sedang berbicara dengan beberapa pria di kejauhan. Wajah mereka tampak sangat serius. Tak lama kemudian, Enzo menghampiri Aruna.
"Ada apa, Enzo?" tanya Aruna penuh firasat buruk.
"Tuan Valerius telah menemukan siapa pengkhianat di pelabuhan. Dan sepertinya... ini ada hubungannya dengan masa lalu Anda, Nyonya Aruna," ucap Enzo dengan nada yang sangat hati-hati.
Darah Aruna seolah membeku. "Masa lalu saya? Maksudmu mendiang suami saya?"
Enzo mengangguk pelan. "Suami Anda, Satria Kirana, tidak meninggal karena tabrak lari biasa. Dia memiliki sesuatu yang diinginkan oleh Marco. Dan Dante... Dante sedang menginterogasi orang yang menabrak suami Anda sekarang."
Aruna terjatuh di kursi taman. Rahasia yang selama ini ia kubur rapat-rapat, alasan mengapa ia selalu merasa diawasi selama dua tahun terakhir, kini mulai terkuak. Dunianya dan dunia Dante ternyata sudah bersinggungan jauh sebelum mereka bertemu di gang sempit itu.
"Bawa saya menemui Dante," tuntut Aruna dengan suara yang sangat kuat. "Sekarang!"
"Tuan sedang di ruang bawah tanah, Nyonya. Tempat itu tidak cocok untuk Anda," cegah Enzo.
"Saya tidak peduli! Itu adalah nyawa suami saya!"
Aruna berlari menuju bangunan utama, meninggalkan Bumi di bawah pengawasan ketat penjaga taman. Ia harus tahu kebenarannya. Ia harus tahu apakah keputusannya menyelamatkan Dante adalah sebuah takdir yang kejam atau justru jalan menuju keadilan yang selama ini ia cari.
Namun, saat ia sampai di depan pintu ruang bawah tanah yang dijaga ketat, suara teriakan kesakitan terdengar dari dalam, disusul oleh suara Dante yang dingin dan tanpa ampun. Aruna menyadari, pria yang semalam makan bubur buatannya dengan tenang, kini kembali menjadi monster yang sesungguhnya.